
"Aisyah ...."
Aisyah berbalik menatap Hafsah. Ia baru saja diantar pulang oleh Hafsah.
''Kau benar-benar tak ingin bercerai?''
Aisyah mengangguk sambil tesenyum.
''Bagaimana kalau suamimu yang ingin bercarai? Bagaimana kalau yang melakukannya adalah suamimu?''
Degh.
Aisyah memegang dadanya yang terasa sesak, ia sebisa mungkin tersenyum.
''Aisyah percaya suami Aisyah tidak akan melakukannya.''
'Atas dasar apa kau mempercayai-nya Aisyah? Kesetiaanmu ia khianati, apalagi yang harus kau percayai,' Hafsah berucap dalam hati lalu tersenyum pada Aisyah.
Brummm.
Aisyah melihat mobik Hafsah yang kiab menjauh, Aisyah masuk kedalam rumah yang gelap juga sunyi. Ia pulang larut malam untuk menghindari para media.
''Aisyah percaya lantaran Aisyah akan semakin hancur bila tak meyakini-nya.''
Aisyah duduk dikasur yang terasa dingin. Biasanya kenan akan memeluknya sambil tidur. Aisyah tidak suka dingin dan Kenan tak bisa panas. AC yang terus menyala dengan tinggi membuat Aisyah mengigil tiap malam. Sedangkan Kenan tak bisa bila AC-nya mati, ia akan kepanasan. AC-nya terus menyala bila Aisyah kedinginan kenan akan memeluknya agar tubuhnya terasa hangat. Kini kamar mereka tak lagi ber-AC, Aisyah tak pernah menyalakannya. Setiap malam ia sering terbangun karna dingin, membuat perasaannya semakin kacau.
Aisyah dingin? Sini biar gak dingin.
Aisyah sering teringat setiap ia kedinginan. Rasanya sepi, ia kesepian.
Tes.
Aisyah menghapus air matanya. Aisyah mengusap perutnya dengan air mata yang terus turun bagaikan tetesan hujan.
''Nak kamu juga rindu papa? Mama rindu ... Rindu hingga rasanya kaki mama akan berlari dengan sendirinya untuk menamuinya.''
''Nak, kuatkan Mama untuk memberimu keluarga yang utuh.''
...
''Aisyah tanda tangani.''
Aisyah menatap Papahnya lalu membuka sebuah map coklat tersebut.
Surat Cerai.
Deg.
''Aisyah tidak akan melakukannya! Aisyah tidak akan pernah menandatangani-nya. Lebih baik Aisyah berpisah karna pergi dari muka bumi ini''
''AISYAH!!!''
Aisyah menutup kupingnya lalu berlari menuju kamarnya. Aisyah memeluk bantal sambil memandang foto kenan.
''Kak ... Kamu tidak akan menandatanganinya-kan? Aisyah sudah ikhlas meski harus berbagi. Jadi, jangan ceraikan Aisyah.''
Hiks.
'Yaa Allah lindungi keluargaku agar kami tidak berpisah. Aisyah mohon jangan pisahkan kami. Bila itu takdir Aisyah, Aisyah mohon ubahlah takdir Aisyah.'
...
Cklek.
Degh.
''Sedang apa kau disini?'' tanya Umi Fatimah.
__ADS_1
''Assalamualaikum, Umi.'' Senyum Hadijah.
''Waalaikumussalam. Maaf kami ga terima tamu.''
''Tapi Dijah bukan tamu. Hadijah tunangan Kenan, berarti menantu Umi.''
Umi Fatimah menahan rasa kesal juga emosinya. Ia berjalan menuju kamarnya tidak peduli dengan Hadijah.
Hadijah langsung masuk lalu duduk diruang tamu. Hadijah melihat sebuah map coklat dengan rasa penasaran ia membukanya.
...
Muslim menatap keluar jendela perusahaannya. Sampai saat ini ia masih diam tak bergeral melakukan apapun, ia menunggu aisyah menghubunginya. Muslim akan setia menunggu sampai kapanpun.
Drtt.
Muslim mengangkat handphonenya yang dari tadi ia pegang. Ia terseyum kecewa saat melihat panggilan yang masuk.
''Assalamualaikum,'' salamnya. ''Waalaikumussalam,'' balas Muslim.
''Muslim aku butuh bantuanmu.''
''Kenapa Ratna?''
''Aisyah tidak ingin bercerai, bantu aku membuat perusahaan papamu sibuk. Baru-baru ini kami melakukan kerjasama, aku tidak bisa melakukannya. Lalu sebisa mungkin buat pernyataan yang akan mendukung aisyah dan suaminya untuk tak bercerai. Kamu pasti bisakan? Kamu-kan Kakaknya.''
Muslim menghela napas panjang, malah sepertinya Ratna memindah tugaskan tugasnya. Bukan hal mudah melawan perusahaan yang sudah berdiri selama berabad-abad. Pernyataaan bukan sekedar ucapan, apa yang kita katakan bisa direspon positif juga negetif, dampaknya bisa keperusahaannya.
''Aku juga akan membantu membuat peryataan dan mencoba mencari cara agar terlihat mereka tak ingin bercerai.''
''Apa kalau memberitahukan Aisyah hamil dapat membuat mereka tidak bercerai?'' tanya Muslim.
''Bisa! tapi kita butuh waktu dan persiapan. Ada baiknya juga kalau Kenan tak menginginkannya semua akan jadi mudah.''
...
Hadijah buru-buru menyembunyikan map coklat tersebut.
''Sedang ... Menunggu tunangan dijah,'' ucap Hadijah tersenyum lebar lalu mendekati Kenan.
''Kamu mau kekantor, yah?'' tanya Hadijah.
''Iya.''
''Kalau gitu antar aku sekalian.''
Kenan menghela napas panjang lalu menatap Hadijah.
'Kali ini aku harus bisa menolaknya.'
'M-''
''Baiklah, makasih. Ken, memang yang terbaik!!''
Hadijah melewati Kenan lalu naik kemobilnya dengan senyum yang tak luntur diwajahnya.
...
''Aisyah!! Tunggu!!!''
Umar mengejar Aisyah yang mempercepat langkahnya.
Greb.
Umar menahan tangan Aisyah yang membuatnya berhasil menghentikan langkahnya.
Plak.
__ADS_1
Aisyah menepis tangan Umar. Ia menatap laki-laki yang dulu begitu ia kagumi, kini rasa kagum itu hilang dengan kekecewaan. Aisyah bahkan berpikir bagaimana bisa ia mencintai laki-laki seperti ini saat itu. Laki-laki yang tidak tahu malu masih mengejar perempuan beristri.
Sruk.
Umar memberikan bunga pada Aisyah.
''Bunga ini ... Kuharap Aisyah tidak sedih. Percayalah bahwa masih banyak yang menyayangi Aisyah.''
'Salah satunya adalah diriku. Dan selamat, semoga kalian cepat bercerai.'
Aisyah mengambil bunga tersebut lalu menjatuhkannya. Aisyah menginjak bunganya hingga hancur.
'Kuharap dengan ini kau berhenti mencintaiku. Carilah perempuan yang juga jodohmu. Maafkan aku Umar, aku tidak punya pilihan lain untuk membuatmu menyerah.'
''Bunganya jelek? Nanti kubawakan yang lebih bagus.''
Aisyah tidak dapat mengatakan apapun. Keheningan datang namun mereka tak juga berkutik.
Aisyah melangkah pergi meninggalkan Umar.
Umar memunggut bunga yang Aisyah injak.
'Aisyah kamu tidak berubah, hatimu masih saja lemah. Bagaimana aku bisa membencimu, sedangkan aku sudah jatuh terlalu dalam hingga tergila-gila padamu. Lebih baik kamu menginjaknya tanpa ekspresi dari pada kamu menginjaknya dengan tatapan sendu.'
...
''Aisyah kapan kamu akan menandatanganinya?'' tanya Papahnya.
''Pah! Aisyah sudah katakan tak akan menandatangani-nya.''
''Aisyah! Lebih baik menandatangani-nya dari sekarang dari pada kamu menyesal nanti.''
''Pah ... Aisyah tidak akan berubah pikiran.''
''Papah juga tidak akan berubah pikiran.''
Dua manusia yang saling keras kepala, siapa yang akan menyerah atau mengakhiri konflik ini.
''Aisyah! Chandra! Ayo makan!'' ucap Hamara menghentikan pertengkaran ayah dan anak itu.
''Hmp!'' Aisyah memalingkan wajahnya lalu menghampiri Mamanya.
Setelah selesai makan Aisyah duduk diruang tamu dengan ditemani segelas susu.
''Aisyah sering minum susu Papah lihat.''
Degh.
Aisyah menghabiskan susunya dengan secepat kilat, ia hendak segera pergi namun ditahan oleh Papahnya.
''Aisyah tidak akan menandatanganinya!''
''Aisyah tidak ingin bercerai, tapi Kenan belum tentu tidak ingin bercerai.''
''Apa maksud Papah?''
Papahnya menyerahkan map coklat pada Aisyah. Aisyah langsung membukanya lalu melihatnya secara detail.
''Gak!! gak mungkin kenan yang menandatanginnya!!''
''Aisyah!!! jangan bodoh!!! itu tanda tangan KENAN!!!!''
Aisyah menutup kupingnya menggeleng dengan kuat.
Air matanya turun dengan deras.
'Bohong, gak mungkin kenan akan ninggalin Aisyah. Semalam ia janji tidak akan meninggalkan Aisyah.'
__ADS_1
Aisyah tenang saja. Kita tidak akan berpisah, aku janji padamu. Aku mencintaimu.