Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Berusaha berdamai


__ADS_3

Aisyah bangun begitu pagi, melaksanakan aktivitas hariannya. Ia memasak, membersihkan rumah lalu membangunkan suaminya.


''Kak ... Bangun.''


Set.


Kenan menarik Aisyah lalu memeluknya dari belakang.


''Saya sudah masak, Kakak bangun sholat, gih.''


''Aisyah udah sholat? Kalau gak kita sholat bareng.''


''Aisyah udah sholat.''


Degh.


Sejak saat itu Aisyah terasa jauh meski selalu bersamanya. Semua kembali seperti semula, tapi Aisyah tak lagi banyak menuntutnya. Meski mereka saling bercanda selalu ada jarak diantara mereka.


Melihat Kenan melamun Aisyah menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan pelukan Kenan.


Aisyah melangkah pergi tanpa mengatakan apapun. Aisyah masuk kedalam kamar sebelah, disana ada buku-buku pelajaran kuliah Aisyah. Ia memindahkan buku mapelnya sejak pulang dari Al-Hasan. Beberapa barang Aisyah telah ada disana, ia juga lebih sering disana dibanding kamarnya dengan Kenan. Kamar itu bagaikan kamar tidur saja untuknya.


Kenan turun setelah bersiap untuk kekantor. Aisyah duduk dimeja makan lalu menyantap makanan lebih dulu.


Aisyah tetap melakukan tugasnya dengan baik. Ia belajar banyak hal untuk menjadi istri yang sempurna, termasuk memasangkan dasi untuk suaminya.


''Makasih, sayang.''


Aisyah tersenyum mendengarnya lalu kembali duduk menyantap makanannya.


Berbagai perhatian Kenan curahkan. Tapi respon Aisyah hanya ala kadarnya, ia tak lagi membalas perkataan sayang ataupun cintanya.


'Istri dengan status saja ... Itulah aku saat ini.'


Aisyah bergegas membereskan piringnya lalu berangkat kuliah. Perpisahan pagi yang Aisyah lakukan yaitu menyalami tangan suaminya tak lagi ia lakukan.


Aisyah menatap keluar jendela kaca mobil, hiruk pagi yang masih sepi membuat Aisyah kembali teringat segalanya seperti sebuah filem yang berputar-putar dalam ingatannya.


'Aisyah gagal naik tingkatan lagi ....'


Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Padahal ia sudah benar-benar bersiap untuk berbaikan, tapi tadi ia pergi tanpa mengucapkan apapun pada suaminya.


'Betapa berdosanya Aisyah ... Ais adalah istri yang durhaka.'


Sejahat apapun suaminya, ia tetap suaminya dan Aisyah harus patuh padanya. Bila surga ada ditelapak kaki ibu, maka surganya istri ditelapak kaki suami.


'Apa Kenan akan sakit hati dengan sikapnya ....'


Ia akan dilaknat bila Kenan benar-benar tersinggung dengan perbuatannya.


''Nona kita sudah sampai.''


Aisyah tersadar, ia tersenyum lalu turun dari mobil. Aisyah memandang kampusnya yang memilik gedung tinggi.


Apa ia mengalami semua ini karna ia meminta Kenan untuk membiarkannya kuliah. Apa Kenan merasa kesepian karna ia sibuk belajar ... Jadi Kenan mencari perempuan lain yang akan selalu bersamanya.

__ADS_1


Puk.


''Aisyah ... '' sapa ringan Hafsah.


Sepertinya yang berubah bukan cuma Aisyah tapi Hafsah terlihat lebih kalem juga dewasa. Hafsah tak bertanya apapun saat Aisyah masuk. Ia hanya tersenyum lalu memeluknya sejenak setelah itu menariknya ke kelas.


Mereka berbincang ringan mengenai mapel kuliah mereka. Umar tidak banyak berubah, ia tetap tidak bisa melupakan masa lalu.


...


''Ratna apa yang kau pikirkan?'' tanya Raina melihat Ratna mencari bukti-bukti perselingkuhan suami Aisyah juga mencari pengacara yang hebat.


''Rai ... Kau pikir mudah untuk berkompromi dengan selingkuhan? Cepat atau lambat, atau bahkan tidak sama sekali ... Aku bersiap mendukung Aisyah dari belakang.''


''Apa tak bisa mereka hidup rukun?''


Ratna menatap adiknya yang antara bodoh atau polos.


''Raina ... Bodoh dan polos itu cuma beda tipis.''


...


Aisyah duduk ditaman menunggu sopirnya.


Umar duduk dikursi yang agak jauh memandangi Aisyah dengan senyum kecil diwajahnya. Kali ini ia menjaga batasannya, meskin hatinya menginginkan sang kekasih tapi bila ia bahagia dengan yang lain ia harus mundur.


Aisyah tak dapat mengatakan apapun, bibirnya terlalu keu saat menyadari siapa yang menjemputnya.


''Ais mau makan malam?''


Kenan datang membawa sebuket bunga untuknya. Aisyah memaksakan senyumnya lalu menerima bunga tersebut.


Aisyah sedikit tersentuh melihat bunga yang begitu indah berada dipangkuanya. Senyum Kenan ikut mengambang melihat Aisyah berulang kali menciumi bunga yang ia berikan.


Aisyah mengusap perutnya pelan dan tanpa sadar mengatakan, "Ibu bahagia, Nak."


"Apa yang kau katakan Ais?"


Degh.


"M-maksudnya bila mama tau, mama juga akan bahagia liat kita harmonis."


Kenan menatap curiga, Aisyah langsung berekspresi dengan santai. Dalam situasi genting ia dapat menyembunyikan-nya dengan sempurna dan pada saat seperti ini akting Aisyah selalu yang terbaik.


Mobil mereka berhenti disebuah restorant kesal atas bingang lima yang bernuansakan kerajaan kuno.


Aisyah duduk berhadapan dengan Kenan. Kenan sudah menyiapkan segalanya hingga mereka dapat menyantap makanannya begitu sampai kesana.


"Aisyah suka?"


Aisyah mengangguk pelan lalu melanjutkan makannya, situasi mereka menjadi canggung. Semakin hari, semakin sulit berkomunikasi satu sama lain.


"Aisyah mau pesan lagi," tanya Kenan yang hanya ditanggapi gelengan kepala oleh Aisyah.


"Saya ke toilet sebentar."

__ADS_1


Aisyah mengangguk lalu melanjutkan makannya. Perutnya terasa digelitik dengan masakan yang penuh cita rasa. Aisyah jadi penasaran dengan resepnya yang membuat makanannya terasa penuh rasa.


Drtt, drtt.


Aisyah melihat handphonenya, namun bukan miliknya yang berbunyi.


Aisyah melirik handphone Kenan yang memang asal suaranya dari sana.


Aisyah pura-pura tidak melihat saat matanya samar melihat nama kontak 'Hadijah.'


Kenan datang lalu mengambik handphonenya dengan cepat. Ia melirik Aisyah sejenak sebelum pergi keluar.


Aisyah memperlihat senyum terbaiknya seolah ia tak tau apa-apa.


Aisyah mengusap dadanya lalu memperingatkan dirinya.


''Ais ... Kamu harus lebih dewasa, kamu gak boleh egois. Ais harus berdamai dengan takdir, bila memang ini ketentuannya.''


Kenan datang dengan wajah khawatir, ia terus berdiri tanpa ada perasaan ingin duduk.


Aisyah melihat handphonenya yang masih tersambung tersenyum paksa.


''Gak apa-apa ... Kakak bisa pergi.''


Karna Kenan tak ingin duduk maka ia pasti ingin pergi.


''Maaf, Aisyah. Nanti Kakak jelaskan.''


Kenan benar-benar pergi meninggalkannya tanpa berbalik sedikitpun padanya.


Tes.


''Ais kenapa menangis ... Aish-kan sudah janji akan jadi lebih dewasa dan berdamai dengan takdir.''


Aisyah mengusap air matanya yang kian turun dengan deras. Suami sempurna dalam bayangannya hancur berkeping-keping. Sulit baginya menata hatinya.


Aisyah kembali bertanya-tanya ... Apakah pilihannya ini yang palin tepat.


Aisyah merasakan nyeri diperutnya. Ia buru-buru menghapus air matanya lalu tersenyum.


''Nak, ibu tidak apa ... Lihat ibu tersenyumkan? Jangan khawatirkan ibu ... tumbuhlah dengan baik.''


Aisyah menghabiskan makanannya dengan perlahan. Ia butuh banyak makan agar bayinya tidak kekurangan gizi ataupun berat badan untuk bertumbuh.


Jresss.


Aisyah menatap langit yang menurunkan hujan. Tak ada panggilan apapun dari Kenan, Aisyah menjadi mempertanyakan hati Kenan. Ia ditinggalkan ditempat yang ia tak kenali dimalam hari tanpa supir yang akan mengantarnya pulang.


Aisyah menunggu taksi tapi yang datang adalah hujan yang membuat jalanan semakin sepi oleh hujan.


Aisyah menelpon ratna untuk mengirimkannya sebuah supir yang akan mengantarnya pulang.


Aisyah tak menunggu begitu lama hingga penjemputnya datang.


Saat memasuki rumah, sepi dan hening yang menantinya. Sepertinya ia akan sendirian dirumah yang besar untuk dihuni oleh seorang diri.

__ADS_1


Aisyah masuk kedalam kamar sebelah kamar mereka dimana terdapat buku-buku dan beberapa barang Aisyah. Aisyah tidur disana untuk belajar melupakan bahwa suaminya mengkhianatinya, setiap Aisyah bangun ia teringat akan kejadian tengah malam Kenan pergi dari rumah menemui perempuan lain.


''Kuharap ini pilihan terbaik.''


__ADS_2