Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Jangan!! Nanti Aisyah jadi Janda.


__ADS_3

''Assalamualaikum''


Kenan membuka pintu, ia menghampiri Aisyah dengan sepiring nasi dan gelas berisi air. Aisyah tampak fokus pada dirinya, ia tidak menyadari kehadiran Kenan.


Kenan menepuk bahu Aisyah pelan, menyadarkan gadis yang melamun itu. Aisyah diam cukup lama menatap Kenan, tak lama ia membuka mulut membiarkan Kenan menyuapinya. Hening, hanya terdengar suara sendok. Keduanya diam, enggan berbicara dan bertengkar.


...


Kenan melihat ruang keluarga yang sepi. Azka telah pulang dan membersihkan sampahnya, temennya itu SD juga (sadar diri).


Kenan mencuci piring itu dan naik kembali ke atas. Kenan berjalan ke kamar mandi dengan cepat untuk mengambil air wudhu. Aisyah menatap dari kejauhan, ia beranjak dari duduknya dan ikut mengambil air wudhu.


Kenan melabarkan sajadahnya diikuti Aisyah dibelakangnya yang telah siap jadi makmum.


Aisyah terkagum-kagum saat mendengar Kenan mengumandangkan adzan sudut bibirnya melengkung dengan sempurna.


Dalam shalat mereka, yang dihiasi dengan diamnya mengikat mereka bahwa terkadang diam itu lebih baik untuk menyelesaikan masalah.


Setelah berdoa, Aisyah maju dihadapan Kenan mengulurkan tangannya. Ia mencium tangan Kenan dengan senyum terus mereka dibibirnya.


''Saya minta maaf,'' ucap Kenan mengusap kepala Aisyah.


Aisyah menggeleng-ngeleng dan menghambur memeluk Kenan. Kenan tersenyum simpul dan mengusap-usap punggung Aisyah.


Aku bersyukur laki-laki didepanku bukanlah orang yang jahat. Mungkin ia tidak sempurna tapi aku Aisyah detik ini... Jatuh hati dengannya laki-laki yang menjadi imam untukku.


......................


Setelah Kenan pergi dari rumah, Aisyah merasa bosan. Sejuta ribu hal ia malas memikirkannya.


'Kakak gak ada, bosan banget'.


Jujur aku sangat bergantung padanya. Pada laki-laki yang menikahiku, meski kami bertemu melalui perjodohan.


Ting.


...Aisyah melihat sebuah pesan dari temannya...


Ai, besok hari perayaan perusahaan kita... Mau ikut ngerayain gak?


Mata Aisyah langsung terbuka, ia bangkit dari tidurnya dan siap untuk memasak makanan.


Aisyah asik terus memasak, makanan demi makanan gadis itu masak. Padahal tangannya yang mungil mungkin bisa teriris pisau, tapi Aisyah dengan lincahnya ia momotong wortel, bawang bombai dan sayuran lainnya.


Aisyah bagaikan remaja yang sedang puber, ia tampak sangat bahagia. Sesekali Aisyah bersenandung menyanyikan lagu shalawat.


''Tuhan maha besar... ''


''Nah, tinggal dituang deh aya... ,'' Aisyah mematung cukup lama. Tiba-tiba gadis itu menurunkan pancinya dan mengambil sebuah pisau dapur.


''KAKAK KENAPA DIMAKAN!!!'' teriak Aisyah berlari ke arah Kenan.


Kenan terkejut setengah mati melihat Aisyah berlari ke arahnya membawa pisau sambil memarahinya. Kenan buru-buru berdiri dan berlari menjauh agar ia tidak terluka karna Aisyah benar-benar ingin menerkamnya.


''Aisyah capek-capek masak, kok. Kakak ngapain dimakan''.


Kenan bersembunyi dibalik sofa sambil menutup mukanya dengan bantal.


''Kukira buat kakak, makanya dimakan. Masakan Aisyah enak, kok'' ucap Kenan siap siaga Aisyah menghunuskan pisau dapur itu.

__ADS_1


''Tapikan bukan buat kakak!!!'' geram Aisyah. Ia mengambil bantal Kenan dan siap memukul laki-laki itu.


''Astagfirullah!!!'' pekik Kenan dan langsung berlari keluar menuju halaman.


Aisyah berlari dengan mengangkat gamisnya sambil meneriaki Kenan.


''Sini gak!!! Kuncincang jadi opor ayam!!!''


''Jangan!! Nanti Aisyah jadi Janda!'' ucap Kenan dengan nada meledek membuat Aisyah semakin geram.


''KENAN!!!'' Aisyah semakin melajukan larinya mengejar Kenan. Namun seberapa berusaha Aisyah ia tetap tidak bisa menang dari suaminya itu yang memiliki kaki yang panjang.


Aisyah berhenti berlari, ia menunduk mengatur napasnya yang gos-gosan.


''Heheh, Maaf...'' ucap Kenan menyembulkan kepalanya disamping Aisyah.


Melihat Kenan disebelahnya, tanpa pikir panjang tangannya terangkat siap memukulnya.


Hap.


''Mau ngapain?'' tanya Kenan dengan terkekeh. Dimatanya Aisyah yang sedang marah-marah terlihat lucu.


Aisyah berusaha melepaskan tangannya tapi pegangan Kenan terlalu kuat.


''Ahhh, kakak!!!'' rengekan Aisyah membuat senyum Kenan semakin mengambang.


''Aisyah pintar masak?''


''Menurut Kakak!!!'' ketus Aisyah.


Kenan menaik turunkan Alisnya dan mendekatkan wajahnya membisikkan sesuatu ditelinga Aisyah.


''Ah, itu .... Anu ... Itu... ''


Cup!


Sebuah ciuman mendarat dipipi mulus Aisyah. Sontak Aisyah memegang pipinya karna Kenan sudah melepasnya dan pergi meninggalkannya.


''KAKAK!!!'' teriak Aisyah, ia berlari masuk kerumah dengan wajah memerah.


saat diruang tamu ia bertemu Kenan yang duduk sambil menampilkan senyumnya.


''Aisyah sudah makan obat?'' tanya Kenan menghitung kapsul obat Aisyah.


Glek.


Aisyah menelan ludahnya dengan kasar.


'Yaa Allah tolong Aisyah, kalau nanti Aisyah selamat. Aisyah janji akan rajin minum obat'


''Vitaminnya gak dimakan tiga kali, obat pereda nyerinya gak diminum satu kali, penambah nafsu makannya cuma dimakan satu kali. Aisyah mau dihukum bagaimana?'' tanya Kenan tersenyum simpul, namun senyumnya menandakan Aisyah tak akan selamat.


''G-ga-gak u-us-usah k-ka-kak'' gugup Aisyah.


''Gak bisa dong, sayang!''


Kenan bangkit dari duduknya ia menghampiri Aisyah dan menariknya duduk dipangkuanya.


''Kenapa gak dimakan?'' tanya Kenan sambil memeluknya dari belakang.

__ADS_1


''Pahit kak!''


Jujur aku gak suka minum obat, karna sulit ditelan, pahit pula dan baunya yang lain-lain dicium.


''Yah,kan. Kalau mau sehat harus begitu... ,'' ucap Kenan mengusap kepalanya.


''Gak usah dihukum yah,kak?'' ucap Aisyah mengangkat kepalanya menatap Kenan karna Kenan begitu tinggi bahkan ketika ia duduk.


Kenan tersenyum kemudian menyuruh Aisyah duduk disampingnya. Aisyah menuruti kemauan Kenan dengan wajah cemberut.


25 menit berlalu.


''Kakak!!! Sudah!! Capek!!! Pegel!!!'' ucap Aisyah merengek.


''Gak!! Sekarang bagian kepala, dipijit yang bener!!'' ucap Kenan menyuruh Aisyah memijitnya dari tadi.


''Hiks, Kakak!! Aisyah capek!!'' ucap Aisyah bangun dan menghentak-hentakkan kakinya.


''5 menit lagi!'' ucap Kenan enggan.


''satu!!''.


''lima!!''.


''Satu aja kak, please'' bujuk Aisyah.


''Gak!''.


Mau tidak mau ia tetap memijit kepala suaminya itu. Setelah selesai dengan cepat Aisyah bangun dan memukul kepala suaminya karna kesal.


''Aisyah!'' ancam Kenan dengan nada yang lembut.


''Kakak yang mulai!!'' ucap Aisyah mengembungkan pipinya.


Kenan menghela napas, ia mendekati Aisyah dan memegang kedua tangannya.


''Gak boleh, sayang. Nanti Aisyah berdosa, Aisyah gak boleh durhaka sama suami. Surganya istri itu ada ditelapak kaki suaminya'' ucap Kenan membuat Aisyah menunduk dalam diam. Sedetik kemudian sebuah bulir terjatuh dari mata Aisyah.


''Aisyah gak mau masuk neraka. Aisyah minta maaf, Kak."


Kenan menghela napas sejenak kemudian mengangkat wajah gadis yang kini berstatus istrinya.


''Jangan ulangi!''


Aisyah mengangguk kemudian menyandarkan kepalanya didada suaminya.


Kenan memeluk Aisyah, ia mengusap puncuk kepala Aisyah.


''Aisyah masih capek?'' tanya Kenan melepas pelukannya.


Aisyah mengangguk-angguk dan memperlihatkan tangannya yang merah-merah.


''Iya, iya, iya. Ini tangan yang capek mijitin Kakak. Insyaallah akan terhindar dari api neraka'' ucap Kenan mengenggam tangan Aisyah dan mengusapnya dengan lembut.


Senyum Aisyah merekah, ia menatap laki-laki didepannya. Kenan mengusap tangan itu kemudian menciumnya.


''Udah... Gak sakit lagi, sudah Kakak obati,'' ucap Kenan mengusap puncuk kepala Aisyah.


Sebuah guratan merah terlihat diwajah Aisyah, ia mendekati Kenan dan sedikit berjijit. Ia mencium pipi Kenan singkat kemudian berlari menuju kekamarnya dengan cepat, wajahnya begitu merah.

__ADS_1


__ADS_2