Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Dosen sementara


__ADS_3

''Aisy... Bangun,'' ucap Kenan menggoyangkan bahu Aisyah pelan.


Tak mendapat respon Kenan kembali menggoncang tubuhnya dengan kuat.


''Hm... ''


Aisyah hanya mengubah posisi tubuhnya untuk melanjutkan tidurnya. Kenan menghela napas kemudian berjalan pergi.


Eeerr.


Merasa sesuatu yang dingin menimpa wajahnya. Aisyah membuka matanya.


Kenan memandangnya dengan wajah datar, ditangannya terdapat sebuah gelas berisi air.


''Shalat shubuh dulu sana,'' ucap Kenan acuh melihat wajah jengkel Aisyah.


'Aku disiram?!'


Aisyah bangun dengan berjalan pelan menuju kamar mandi. Ia kesiangan sekali, ia sholat sendiri dan makan sendiri. Untunglah Kenan bangun cepat dan juga memasak untuk mereka. Makan apa nanti Aisyah kalau pergi kuliah gak makan.


...


''Nih, jangan bikin masalah. Belajar yang bener.'' Kenan memberikan lembaran merah kepada Aisyah sambil mengulurkan tangannya.


Aisyah mengenggam tangan Kenan kemudian menciumnya. Ia mengambil lembaran tersebut kemudian memasukkannya kedalam tasnya.


Aisyah membuka pintu mobil lalu masuk kedalam gedung kampusnya. Kenan memandang kejauhan. Suasana rumah tidak lagi sama dengan yang dulu. Lebih tenang dan terkadang menjadi berisik.


Drttt.


Kenan mengalihkan pandangannya kearah handphonenya yang berbunyi. Ia segera melajukan mobilnya sambil mengangkat sambungan telpon.


...


Kita selalu dipertemukan... Namun dijalan yang berbeda, kita bertemu bukan karna berjodoh.


''Hari ini kita kedatangan seorang mahasiswa dari luar negeri yang akan berbagi ilmu untuk anda semua, Saat ini dia adalah dosen sementara kalian'' ucap Profesor Basri.


Semua beretepuk tangan tapi tidak untuk Rahmi. Ia tidak bia berbuat banyak tersenyumpun rasanya sulit. Ia memandang Aisyah yang menatapnya.


Kita bertemu lagi... Akankah ada hari aku bertemu denganmu dengan statusmu seorang diri juga?


Umar menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak boleh berharap rumah tangga wanita yang ia cintai kandas hingga berujung penceraian.


''Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,'' salamnya dengan suara yang membuat semua orang terpukau.


Aisyah menunduk sambil mencoret-coret buku catatannya. Ia menjadi tidak tertarik dengan kelasnya ini hari. Dan entah sejak kapan profesor basri telah pergi dari tadi.


''Baiklah pembahasan kita hari ini adalah... ''


...


''Semua orang tampak antusias banget tadi.''


Aisyah hanya mengaduk-aduk pentol yang dibelinya dengan garpu. Ia tidak bida terfokus dari tadi.


''Syah? Hello? Aisyah disini?'' ucap Hafsah melambaikan tangan didepan wajah Aisyah.

__ADS_1


Aisyah akhirnya tersadar, ia tersenyum sambik menatap temannya itu.


''Kenapa Hafsah?''


''Enggak, maksudku toh mereka kenapa antusias banget gitu? Gak pernah liat dosen mudakah?'' ucap Hafsah mengidikkan bahunya.


''Kamu kesal?'' tanya Aisyah membuat tawa hafsah meledak.


''Gak!"


''Aku sih malah risih liatnya. Tadi juga memang perasaan aku aja atau memang dia curi pandang sama kamu Aisyah?''


Aisyah hanya tersenyum simpul sambil memasukkan makanannya kedalam mulutnya.


''Assalamualaikum,'' suara sapaaan yang tak bisa Aisyah lupakan setelah belasan tahun berteman.


''Kak Umar kenapa disini? atau saya harus panggil dosen muda? dosen baru?'' ucap Hafsah menaikkan alisnya dengan wajah songgongnya. Sepertinya ia kurang suka dengan Umar, suatu kejadian langka ada yang tidak suka dengan Umar hanya karna beberapa kata.


''Kenapa?'' Aisyah berbalik sambil menatap mata laki-laki yang masih belum bisa melupakannya.


''Saya cuma berharap kita dapat berteman kembali,'' ucapnya tersenyum pilu.


Situasi apa ini? Kenapa kau ingin berteman? tidakkah hubungan kita saja sudah tidak bisa dijelaskan lagi. Tolong jangan menambah masalahku.


Aisyah mengangguk pelan sambil menunggu kelanjutan ucapannya.


''Sekarang kita guru dan murid... Kedepannya juga akan begitu. Atau kau tidak enak karna temanmu kini telah berubah setelah lama kita berteman suasananya menjadi berubah?''


Hafsah memperhatikan keduanya. Sepertinya ia sudah menangkap beberapa hal dari ucapan mereka.


Ucapan Aisyah membungkam bibir Umar. Tanpa sadar ia sudah melangkah menghampiri Aisyah sama seperti dulu, ia tak pernah berpikir sedikitpun akan menghampirinya atau tidak, kakinya berjalan dengan sendirinya.


Hafsah terkejut hingga mengeluarkan suara.


''Hah? Kamu makan ditempat lain saja, saya gak mau jadi bahan gosip!''


Aisyah berbalik menatap temannya yang kebingungan dengan situasinya.


''Maaf kalau begitu,'' ucap Umar pergi begitu merasa ia sudah melanggar.


Aisyah menatap Hafsah yang melanjutkan makannya, suasana mereka menjadi tidak enak. Mungkin tujuannya hanya untuk melihatnya bahagia atau tidak.


''Kau tidak bertanya,'' ucap Aisyah membuat Hafsah tersenyum sendu.


''Suatu hari nanti aku juga akan tau. Lagi pula kau akan cerita bila ingin. Terus katanya kalau banyak tahu itu mengundang keburukan.''


Aisyah mengangguk pelan kemudian menghambiskan makanannya.


...


Langit tampak mendung tidak mendukung sama sekali. Handphone Aisyah juga mati, kampus telah sepi karna ia singgah sebentar diperpus dan saat keluar langit telah menurunkan rezekinya bagi tanaman yang kekeringan.


Jdar.


Aisyah menunduk menutup kupingnya. Kilatan petir yang kencang membuat jantungnya berdebar-debar. Dari kajauhan terlihat mobil datang kearahnya dengan menyilaukan matanya.


Aisyah tersenyum kecil berpikir Kenan yang menjemputnya. Samar-samar ditengah hujan, terlihat seseorang keluar dari mobil dengan menggunakan payung hitam.

__ADS_1


''Aisyah hujannya lebat, pulang bareng saya aja, yah?'' ucap Umar khawatir. Wajahnya basah terciprat air hujan.


Aisyah mematung sambil mundur kebelakang.


Jdar!


Petir menyambar dengan kilatan keputihan dilangit gelap. Aisyah refleks menutup kepalanya dengan tangannya.


''Aisyah ... ''


''Gak! Saya tunggu didalam saja,'' ucap Aisyah memutuskan masuk kedalam kampusnya. Suasana lorong sepi yang dingin dengan suara hujan yang menulikan telinga.


''AISYAH!!!''


Umar menatap dirinya yang basah. Rasanya hatinya ikut jatuh ketanah kemudian berhamburan seperti hujan. Haruskah ia pergi atau menunggu Aisyah.


Dengan tangan yang gemetaran karna dinginnya hujan, Umar menelpon muslim.


Setelah berbicara beberapa kata, Umar naik kemobilnya kemudian menunggu hingga muslim bener-benar datang.


Terlihat Muslim berlari kedalam gedung tersebut dan mencari adiknya disepanjang lorong.


''Aya?!''


Aisyah menengok, matanya berkaca-kaca melihat sang kakak. Muslim langsung berlari memeluk sang adik.


''Petirnya menakutkan?'' tanya Muslim mengusap pipi adiknya.


Aisyah tak menjawab, ia memilih untuk segera pulang dari sana.


Didalam mobik Aisyah tidak banyak bicara. Terlihat ia tengah memikirkan sesuatu.


''Siapa yang menelpon Kakak?''


''Umar.''


Aisyah tersenyum kecut, apa yang ia pikirkan. Siapa lagi kalau bukan Umar?


''Kak Kenan tidak ada cari Aisyah?'' ucap Aisyah membuat muslim mengerutkan dahinya.


''Kamu gak bawa mobil sendiri?''


Aisyah menggeleng. Muslim kembali bertanya dengan wajah datar, '' Kenan gak jemput kamu?''


Aisyah menggeleng pelan, ia menatap handphonenya kenudian memberitahu kakaknya, ''hpku mati.''


''Mau menelponnya?''


Aisyah menggeleng membuat Muslim menghela napas panjang.


''Mau kemana? Kerumahku? Atau kita keliling kota?'' tanya Muslim kemudian memberikan jasnya yang tidak basah kepada sang adik.


Aisyah tampak memandang lurus kearah jalanan, rasanya hangat dan menenangkan merasakan keberadaan Muslim didekatnya.


Aisyah mengambil jas Muslim dan memakainya untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan. Hujan mereda dengan perlahan-lahan memperlihatkan langit dengan matahari yang akan terbenam


''Kita keliling kota dulu, Kak. Nanti baru antar Aisyah pulang,'' ucap Aisyah tersenyum lembut kepada sang Kakak.

__ADS_1


Muslim mengangguk, ia memilih jalan yang tidak akan mengalami kemacetan memperlihatkan suasana kota dengan gedung pencakar langit.


__ADS_2