
Kenan menatap keduanya dengan sinis.
Syut!.
Degh.
Kenan pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.
"Kak!" pekik Aisyah berusaha mengejar Kenan.
Syut.
Pada saat yang bersamaan Rendy lewat tanpa melihat keberadaan Kenan.
"Aisyah mau kemana?"
Langkah Aisyah seketika berhenti, ia menatap Rendy juga bayangan Kenan yang telah hilang.
"Aku ... ," Aisyah berucap pelan. Ia memandang kejauhan dan memilih memendam perasaannya.
Aisyah kembali duduk dengan senyum terpaksa diwajahnya. Keheningan terjadi antara Aisyah dan Bilal membuat Rendy keheranan.
"M-mari kita coba makanannya!" ucap Rendy memecah keheningan yang ada.
Bilal mencoba topik baru, ia berterima kasih akan kebaikan Aisyah. Jalan yang ia tempuh tak akan terasa berwarna seperti ini tanpanya.
"Yah, semoga saya bisa melihat kesuksesan kamu sampai generasi selanjutnya," ucap Aisyah membuat Bilal dna Rendy tersenyum.
...----------------...
"Assalamualaikum."
Tak ada sautan, rumah yang kosong dan sepi. 'Sepertinya Kenan belum pulang.'
Aisyah berjalan menuju dapur, memasakan makanan terbaik untuk meminta maaf. Ia tetap pulang dengan sopir yang dipekerjakan Kenan. Padahal Aisyah pikir ia akan pulang naik taksi.
Aisyah menatanya dengan rapi dimeja makan.
Aisyah melihat tubuhnya yang berkeringat sehabis makan, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
Untuk pertama kalinya Aisyah berusaha keras merias wajahnya lebih, lebih cantik dari sebelumnya. Permintaan maafnya akankah diterima? Apakah Kenan akan mau mendengarkan penjelasannya.
Aisyah menggeleng pelan, ia menatap pantulan dirinya didepan cermin meja riasnya, ia rasa sudah cukup. Kemudian Aisyah memilih pakaian yang paling disukai oleh Kenan. Seingatnya Kenan suka gamisnya yang biru.
Aisyah melihat jam ditangannya.
20:33
Sebentar lagi Kenan akan pulang. Aisyah tersenyum sumringan, ia turun dari tangga setengah berlari. Aisyah duduk disofa ruang tamu sambil menanti kedatangan suaminya.
Menit berganti jam, Aisyah mulai resah. Makanan yang ia masak sudah tiga kali ia panaskan karna dingin.
22:55
Tes.
Aisyah buru-buru menghapus air matanya. Ia mulai lelah dan mengatuk, baru saja ia memanaskan makanan yang ia buat. Aisyah membuka cermin kecil kemudian memperbaiki riasannya.
'Kenan tak akan pulang ... '
Terbesit dihatinya kata-kata tersebut. Aisyah menutup cerminnya dan mulai merenung. Ia mulai merangkai kata dalam hatinya bila nanti Kenan telah pulang.
00:07
Cklek.
Pintu rumah terbuka. Wajah Kenan tampak lelah, namun sorot matanya terlihat berapi-api.
Satu pandangannya akhirnya mengarah pada Aisyah yang tertidur menunggunya. Kenan terdiam cukup lama memperhatikan istrinya.
Tanpa Kenan sadari ia sudah berada didepan Aisyah memegang wajah istrinya dengan lembut.
__ADS_1
Terlihat jelas Aisyah memakai riasan, pakaian yang paling Kenan suka. Mata Kenan tertuju pada meja makan yang penuh makanan.
Terbesit penyesalan dihatinya membuat istrinya menunghu da menunggu.
"Maaf, Kakak cemburuan."
Set.
Kenan menggendong Aisyah membawanya naik kekamar mereka.
Kenan meletakkan Aisyah dengan begitu hati-hati takut Aisyah terbangun.
Kenan menatap mata yang terpejam itu cukup lama hingga rasanya ia tidak akan bisa tidur karna terus menatapnya.
Malam telah berganti pagi, Kenan berangkat begitu pagi bahkan ketika matahari belum terbit ia sudah pergi meninggalkan rumah.
Set.
Aisyah membalikkan posisinya, tidurnya terasa nyenyak.
Ting.
Aisyah bangub seketika, ia melihat sekelilingnya. Ia berada dikamar, namun ingatan terakhirnya ia ada di sofa ruang tamu menunggu Kenan.
Aisyah melirik jam yabg terletak diatas meja.
05:46.
"Aisyah kesiangan!"
Aisyah buru-buru kekamar mandi mengambil air wudhu.
...
Aisyah menatap pantulan dirinya dicermin. Riasan yang ia buat hancur menciptakan wajah bangun tidur yang bermuka bantal.
'Kakak marah.'
Aisyah segera bersiap-siap, ia berencana menemui celsie hari ini.
Aisyah berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, perhatiannya langsubg tercuri oleh meja yang kosong.
Aisyah memandang meja makan yang bersih. Hatinya sedikit menghangat.
Seperti sebuah pepatah yang mengatakan berharap terlalu tinggi akan menjatuhkanmu hingga hancur.
Baru saja ia senang karna berpikir Kenan memakan makanan yang ia masak. Namun ia harus menelan harapan tersebut, makanan yang ia masak tidak dimakan sama sekali oleh Kenan.
Kenapa Aisyah mengetahuinya? Ia melihat semuanya berada disebuah tempat yang berbalutkan plastik diujung dapur dengan nama 'Tong Sampah.'
Aisyah memaksakan senyumnya. Ia tidak boleh membuat moodnya memburuk diawal hari yang harus disambut dengan senyuman.
Aisyah memandang langit yang cerah.
Jdar!
Ah, Ia sepertinya salah. Langitpun mendung tak tersenyum melihatnya.
"Sabar, Syah. Pokoknya kita harus baikan! Oke?" ucap Aisyah seolah kenan ada didepannya.
"Kamu gak boleh marah! Soalnya dia bukan siapa-siapa saya. Dihati saya cuma ada suami saya tercinta," ucap Aisyah pada tong sampah yang ada didepannya seolah melihat sang suami.
"Eh, kok Aya samain dengan tong sampah sih!" ucap Aisyah mulai tersadar.
Aisyah segera pergi untuk menyiapkan bekal makan yang akan dibawanya.
...----------------...
Sejak dibuka, tempat itu telah penuh pengunjung. Mereka sibuk mengantri dan berebutan makanan.
'Haruskah aku terobos?' pikir Aisyah.
__ADS_1
Namun melihat lautan antrian yang akan ia terobos bisa-bisa ia kena amukan masal.
Setelah berpikir sambil melihat-lihat akhirnya Aisyah memutuskan untuk lewat pintu belakang.
"Loh Aisyah?!" kejut Celsie melihat Aisyah ada dibelakang.
Pertemuan mereka tepat sekali Aisyah ingin membuka pintu.
"Halo," sapa Aisyah pelan.
"Aduh jangan sekarang, aku sibuk!" ucap Celsie cepat.
Tanpa dapat mengatakan apapun Celsie sudah menghilang. Sepertinya ia memang sangat sibuk.
Aisyah melihat jam ditangannya. Bila menunggu tutup tokohnya akan sangat lama. Apa ia kekampus saja meski tidak ada mata kuliahnya.
Seingat Aisyah ada ekstrakurikuler yang baru saja diadakan dan ia dapat undangan. Mungkin hanya ia yang begitu lowong dan belum mengikuti kegiatan apapun.
...----------------...
Aisyah memandang brosur yang diberikan padanya. Banyak hal yang sepertinya bisa ia coba. Mungkin pecinta kuliner bagus, tapi fotografi juga bagus.
Aisyah melirik tawaran bela diri yang ada disebelahnya. Haruskah ia masuk kesana, ia cukup tertarik dengan atribut yang mereka tawarkan dan properti yang mereka miliki begitu diluar dugaannya.
akhirnya Aisyah memilih pilihan yang paling disenanginya.
''Senang bertemu denganmu lagi,'' sapanya membuat Aisyah cukup berpikir keras.
"Ja'far," ucapnya memperkenalkan diri untuk kedua kalinya.
"Kamu bisa bela diri?"
Aisyah tersenyum singkat, apakah harus dites dulu. Ia sebenarnya malas tapi ia ingin coba memanah. Demi keinginannya tidak apa bersikap keras sedikit.
"Saya yang akan mengetesmu, cukup tahan tendanganku."
Ja'far mengambil kuda-kuda bersiap dengan matang, melihat kedepan tepat dimata Aisyah.
Set.
Ja'far mengayungkan kakinya saat tubuhnya telah berputar 180 derajat kearah Aisyah.
Bugh.
Set.
"Akhh!"
Tanpa Aisyah sadari Ia menangkap kaki Ja'far dan membantingnya ketanah.
"Ups! Maaf Aku gak segaja!" ucap Aisyah cepat.
Tanpa sadar karna sudah kebiasaan ia jadi lupa.
"Tidak apa! Ternyata kamu hebat juga!" seru Ja'far segera berdiri.
Aisyah mengikuti langkah Ja'far menuju ruang latihan.
"Kau ingin mempelajari apa? semua bisa kau pelajari karna jadwalnya tidak akan tabrakan."
Jelas ia ingin belajar memanah juga berkuda. Tapi latihan berpedang yang ada didepannya menarik perhatiannya.
"Sekarang jadwalnya belajar berpedang, kau mau ikut?"
"Aisyah mengangguk antusias. Ias segar menganti pakaiannya dengan seragam serba hitam."
Sabuk awalnya adalah hitam, dab tiap keahlian yang dikuasai memiliki warna sabuk tersendiri.
Aisyah cukup tegang mengikut gerakan mereka. Tapi Aisyah cepat belajat dan memahaminya.
Harinya akan terasa menyenangkan. Itulah yang dipikirkan Aisyah.
__ADS_1