
Aisyah menatap kearah meja yang kosong. Kena tidak datang dipersidangan kedua mereka.
Aisyah menunduk lemah, mungkin selama ini ia hanya memiliki bunga mimpi. Apa yang ia lakukan dan rasakan atas perlakuan Kenan semuanya adalah bohong.
''Dengan ini saya nyatakan bahwa Annisa Aisyah Putri bin Albiy Chandara dengan Muhammad Kenan Irsyad bin Adnan Hasan tidak akan bercerai."
Tung.
Degh.
Aisyah menatap sang hakim. Hakim tersebut tersenyum, ia melepas topinya membuat rambutnya berjatuhan. Aisyah ingat sekarang, ia salah satu tamu diacara pernikahannya dengan Kenan.
Aisyah meneteskan air mata, haruskah ia bersyukur atau marah.
...
''Terima kasih.''
Hakim itu berbalik lalu tersenyum pada Aisyah.
''Tidak perlu berterima kasih. Kalian memang tidak pantas bercerai, ini surat cerai suamimu.''
Aisyah mengambilnya penuh tanda tanya.
''Tanda tangannya palsu, jadi semua itu tidak berlaku. Kalian juga selalu menatap dengan tatapan sedih tak ingin berpisah.''
''Semoga pernikahan kalian selalu diberkahi dan kita tidak akan bertemu lagi dipersidangan.''
Aisyah mengangguk lalu membiarkannya pergi.
''Senang?'' tanya Ratna. Aisyah langsung memeluk Ratna dengan rasa haru.
Hadijah keluar dari persidangan dengan menggempalkan tangannya.
'Kenapa! Apa mereka tidak tau bahwa seharusnya posisinya itu milikku!! Tidak akan kubiarkan kalian bersatu. Kalian tidak boleh bahagia atas penderitaanku.'
Dugh.
Hadijah menabrak Muslim yang akan menghampiri adiknya.
''Maaf.''
Hadijah menatao sinis lalu melangkah pergi. Muslim menghela napas menatap punggung yang berjalan tegergesa-gesa.
'Apa perempuan itu baik-baik saja? Wajahnya terlihat tidak baik.'
''Kak!''
Muslim menegok lalu terseyum pada Aisyah.
''Syukurlah.''
''Aisyah ayo pulang!'' ajak Papahnya, ia memandang sinis putranya lalu pergi. Papannya terlihat kesal dan tidak setuju dengan keputusan hakim. Bagaimanapun ia tidak bisa mentolerinya. Apa sebaiknya ia kirim Aisyah keluar negeri dirumah kerabat jauhnya.
...
Cklek.
Hadijah masuk kadalam rumahnya, berjalan tergesa-gesa menuju gudang.
Degh.
Pintu gudang terbuka lebar. Hadijh bergegas kesana.
''T-tidak!!! Kemana Kenan pergi!!''
BRAK!
Hadijah menendang barang-barang yang ada digudang melampiaskan kemarahannya.
''Kenapa semua-nya tidak ada yang berjalan lancar.''
...
''Nona, tuan sudah menunggu Anda.''
Sebuah mobil berhenti didepan Aisyah, mereka membuka pintu untuk mempersilahkan Aisyah masuk kedalam mobil.
'Kenan?'
''Boleh tau siapa yang menungguku.''
''I-''
''Aisyah! Kamu pulang naik mobil itu?" tanya Ratna. Setelah dipersidangan Muslim langsung pulang dan Aisyah akan diantar oleh Ratna.
''Hnm ....''
__ADS_1
Aisyah mengangguk pelan, Ratna tersenyum lalu memgode Aisyah untuk menelponnya bila ada apa-apa. Aisyah mengangguk, mobil Ratna melaju cepat membentangi jalan raya.
Aisyah masuk kedalam mobil. Disana sudah ada bunga mawar dengan cincin juga secarcik kertas.
Maaf membuatmu lama menunggu.
Aisyah tersenyum membaca pesan itu. Ia jadi merasa bersalah telah berpikiran buruk pada Kenan.
Aisyah turun dari mobil saat mobil terhenti. Tempat itu sudah dipesan khusus sehingga tidak ada pelanggan lain disana. Jalanan ditaburi bunga mawar juga kata-kata indah yang romantis. Sepanjang Aisyah melangkah bunga-bunga berguguran dari atasnya, bunga-bunga ada disamping kiri dan kanannya. Aisyah merasa sekarang ia ada didunia penuh bunga yang indah.
''Aisyah aku mencintaimu.''
Aisyah menatap kenan yang membawa bunga menutupi wajahnya saking besarnya bunga tersebut.
''Aku juga mencintaimu.''
''Selamat telah bebas.''
Degh.
Aisyah menarik bunga yang menghalangi wajahnya.
''Umar?!''
''Iya.''
Aisyah membuang bunga tersebut, ia melangkah lebar meninggalkan Umar. Langkah Aisyah terhenti saat ia mengingat sesuatu. Aisyah berbalik memberikan cincin yang tadi ia ambil dimobil
''Aku tidak mencintaimu. Aku dan suamiku tidak bercerai, hasil sidangnya kami tidak akan bercerai.''
''Aisyah ... Besok aku akan ke Kenegara timur. Hari ini hari terakhirku. Ak-''
''Baguslah. Terima kasih telah memberiku kenangan indah saat dulu. Dulu, tidak sekarang.''
Umar menjatuhkan cincinnya. Ia telah banyak melakukan hal tapi sepertinya sia-sia. Ia tidak sembarangan kenegara timur. Ayahnya mengirimnya untuk intropeksi diri setelah mengetahui apa yang ia lakukan karna cepat atau lambat penyebar skandal perusahaan besar pasti akan terungkap. Haruskah ia bersyukur yang pertama kali mengetahuinya adalah ayahnya sendiri.
...
''Kenan!!'' pekik kedua orang tuanya melihat putranya pulang dengan kondisi yang kacau.
''Gak apa, Umi.''
Umi Fatimah melihat lengan putranya yang terus dipegangnya.
''Yaa Allah ini kenapa, Nak?!! Lebam banget, kamu dari mana aja selama ini?!!''
''Kenan disekap.''
Kenan tak menjawab, ia menghela napas berat sebelum mengatakannya.
''Hadijah.''
''Astagfirullah! Kamu gak diapa-apainkan?!''
Kenan menggeleng pelan lalu memeluk Uminya.
''Gak diapa-apain, Umi.''
''Syukurlah putra Umi gak apa-apa!'' Umi Fatimah memeluk putranya
''Umi ... Hasi sidangnya?''
Abby menepuk pundak Kenan membuatnya khawatir. Gelengan pelan dari Abbynya membuat Kenan kehilangan keseimbangan.
''Kenan!''
Umi Fatimah membantu putranya berdiri dengan benar.
''Hasil sidangnya, penceraian kalian gak diterima.''
Degh.
''Beneran, Umi!!'' Kenan langsung pulih seketika.
''Iya.''
Kenan menatap Abbnya yang menggeleng.
''Abbymu iseng. Jangan dengerin.''
Kenan semakin memeluk Uminya dengan erat. Abby ikut memeluk putranya.
...
''Kenan mau kemana?'' tanya Uminya melihat putranya begitu rapi.
''Ketemu istri.'' Kenan langsu pergi secepat kilat.
__ADS_1
''Makan dulu!!!''
''Kenan mau makan masakan Aisyah!!!'' teriaknya.
Umi Fatimah terkekeh pelan. Ia menghidangkan kopi juga nasi goreng buatannya pada suaminya.
''Hah ... Jadi sepi lagi deh.''
''Mau nambah satu?'' tanya Abby.
''Abby mau kopi lagi?''
''Enggak. Umi mau punya anak satu lagi?''
Plak.
''Gak! Umi udah terlalu tua, mending nunggu cucu.''
Abby mengusap kepalanya yang dipukul dengan nampan, ia terkekeh pelan lalu menyesap kopinya.
'Cucu ....'
Abby teringat saat menjenguk aisyah dirumah sakit. Benarkah ia salah dengar.
...
Tok, tok, tok.
Cklek.
''Ngapain kamu?'' tanya Papah Aisyah.
''Assalamualaikum, Pah.''
''Waalaikumussalam.''
''Aisyah gak ada.''
''Siapa, Pah?'' tanya Aisyah datang.
''Cih.''
Papah menyingkir membiarkan putrinya bertemu dengan orang yang sangat dicintainya.
''Aisyah ....''
Greb.
Kenan langsung memeluk Aisyah tanpa pikir panjang.
Blush.
''Kak!! malu dilihatin orang.''
Mama Aisyah yang melihatnya hanya terkekeh pelan. Melihat istrinya terkekeh membuat Papah semakin cemberut.
Bugh.
Hadijah memukul stir mobilnya, saat akan pergi kerumah kenan untuk mengeceknya apa ia pulang kesana. Hadijah melihat mobil kenan keluar dari vilanya, hadijah mengikutinya dan tidak menduga kenan pergi kerumah Aisyah.
''Akhhh!! Kenapa! Kenapa!!! Kamu milikku!! Sepuluh tahun bukan waktu singkat!! Kukorbankan sepuluh tahun masa mudaku untukmu!!''
Hadijah memutar mobilnya, ia harus memikirkan cara agar ia bisa mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki.
''Mau makan?'' tanya Aisyah.
''Mau.''
Aisyah mengandeng Kenan masuk kedalam rumah.
Tak.
Perhatian langsung tertuju pada Papah yang duduk dimeja makan dengan masam. Ia meletakkan gelas kopinya dengan kasar.
''Ekhm,'' deheman istrinya.
Kenan duduk dimeja makan bersebelahan dengan Aisyah.
''Jangan berpikir saya akan menerima kamu.''
''I-ya, Pah,'' canggung Kenan
Aisyah tersenyum lalu mengisi piring Kenan dengan nasi goreng juga telur dadar juga ikan gemulai.
''Makasih.''
Aisyah mengangguk lalu mengisi piringnya.
__ADS_1
''Cih.''
Hawa menyeramkan selalu keluar dari Papah Aisyah. Ia makan dengan ganas sambil menatap menantunya.