
Pagi telah menjemput para manusia untuk terbangun. Memaksa mereka untuk beraktivitas meski menolak karna rasa kemalasan.
Aisyah sudah terbangun bahkan ketika matahari itu belum terbit. Ia menunggu didepan rumah Celsie mobil pesanannya yang akan mengantarnya kekampusnya.
Aisyah pergi tanpa membangunkan Celsie karna terlihat gadis itu tertidur begitu lelap. Saat mobil pesanannya sampai, Aisyah bergegas masuk.
Butuh waktu sekitar 45 menit untuk sampai dikampusnya. dilorong menuju kelasnya masih sepi hanya beberapa orang yang baru datang. Aisyah datang begitu pagi karna ia tidak tau jarak dari rumah Celsie dengan kampusnya, ia tidak mau terlambat. Meski ia belum menata hatinya dengan benar, ia masih harus mengejar mimpinya.
Aisyah terkejut ketika melihat mejanya penuh dengan bunga mawar. Siapa yang begitu pagi mengirimkannya bunga.
Degh.
Aisyah aku akan selalu menunggumu.
Degh.
Aisyah mengambil semua bunga tersebut lalu membuangnya ke tong sampah. Aisyah menggelap mejanya dengan kasar seolah bunga itu begitu bernoda.
Tes.
Aisyah mengusap air matanya. Bila bunga itu dari suaminya mungkin ia akan menerimanya, tapi apa yang ia harapkan. Suami yabg tinggal dirumah perempuan lain? Suami yang baik tapi selingkuh. Kini Aisyah mempertanyakan cinta yang Kenan berikan padanya.
''Ais ... Pagi!'' sapa Hafsah.
''Ini ... Semoga moodmu jadi lebih baik.''
Hafsah memberikan sebuah coklat besar pada Aisyah.
''Setelah ku searching katanya coklat dapat meningkatkan rasa bahagia,'' Hafsah cegigiran. Pandangannya langsung tertuju pada meja Aisyah.
''Kenapa mejamu kau lap?''
Hafsah mendekat kearah meja Aisyah. Tidak terlihat ada bekas noda disana tapi Aisyah membersihkannya dengan keras.
''Tadi kotor, sekarang sudah bersih.''
Hafsah mengangguk lalu duduk disebelah Aisyah. Ia tidak tau harus membicarakan apa lagi, rasanya canggung. Dulu ia selalu ceplas-ceplos tapi sekarang ia takut ceplas-ceplosnya membuat hati Aisyah semakin sedih.
''Mau nonton?'' tanya Hafsah memecah keheningan mereka.
''Filem apa?'' tanya Aisyah. Ia masih memakai kacamata untuk menyembunyikan matanya yang sembab.
''Istri kedua.''
Degh!
''Ah-ahhhh!!! Sorrry Aish!! mulutku gak bisa direm!!!'' ucap Hafsah merasa bersalah sekali.
Aisyah melihat Hafsah lalu terkekeh pelan.
''Tidak apa. Mari kita nonton, mungkin saja moodku bisa membaik.''
...
Sepulang dari kampus Aisyah langsung ikut dengan Hafsah. Filem yang mengharukan, pengorbanan istri kedua juga istri pertama demi suami dan anak mereka. Tapi Aisyah tak tersentuh sama sekali. Hatinya seolah mati saat menyaksikan istri keduanya meninggal untuk istri pertama.
''Aisy?''
Sepertinya pilihan Hafsah salah besar. Terlihat Aisyah malah semakin sedih. Ia merutuki kebodohannya. Sekarang ia berusaha berpikir keras agar ia bisa membuat Aisyah tersenyum.
Degh!
Aisyah mengenggam tangan Hafsah dengan kencang. Apa yang ia lihat adalah sebuah pisau yang menusuk hatinya. Kenan keluar dari bioskop dengan hadijah.
Mereka keluar dengan tersenyum lebar.
''Kita ikuti mereka.''
Hafsah menurut saja. Mereka membuntuti Kenan dan selingkuhannya. Matahari telah terbenam, kenan mengantar hadijah dirumahnya. Kenan terlihat berdiri disana cukup lama.
Ting.
Aisy, Saya ada rapat hingga tengah malam. Jadi, saya gak pulang, tidur duluan saja.
__ADS_1
''Hugh ... Cintamu palsu,'' ucap Aisyah pelan dengan air mata yang menetes.
''Antar aku kerumah Celsie.''
Hafsah mengantarnya kesana. Hafsah memeluk Aisyah sebelum pergi meninggalkannya.
Tin ton.
''Bentar!''
Celsie keluar dari rumah. Ia tampak terkejut melihat penampilan Aisyah yang berantakan. Aisyah memeluk Celsie erat, ia menceritakan segalanya tanpa terkecuali.
''Aisy ... Bila sulit, relakan-lah.''
Aisyah menggeleng, ia belum bisa merelakan pernikahannya.
...----------------...
Hafsah banyak diam hari ini. Ia menjadi kalem dan lebih dewasa lagi, mungkin ia tidak ingin menambah beban temannya.
''Aisyah mau kuantar pulang kerumah Celsie?''
Aisyah tersenyum lalu menggeleng pelan.
''Aku mau pulang kerumah.''
Mendengar kata rumah, Hafsah menjadi khawatir.
''Aku tidak apa-apa.''
Akhirnya Hafsah mengangguk lalu pulang kerumahnya.
Aisyah duduk sejenak ditaman depan kampusnya. Dulu saat baru ia masuk kuliah. ia duduk disana menunggu suaminya menjemputnya. Aisyah juga sekarang tidak terlalu aktif lagi di ekstrakurikulernya.
Syut.
Sebuah bunga mawar tiba-tiba menempel dipipi Aisyah.
''Aisyah ... '' Umar berucap pelan lalu duduk disamping Aisyah.
''Aisy beri aku kesempatan!! Aku bisa menjadi lebih baik, Aku tidak akan membuatmu terluka!"
Aisyah memalingkan wajahnya karna secara tidak langsung Umar mengatakan suaminya telah melukainya yang memang benar adanya.
"Aisyah aku mencintaimu dari dulu dan tak pernah berubah. Menikahlah denganku."
Plak.
Kenan menampar wajah Umar, napasnya tersenggal-senggal. Istrinya dilamar didepan matanya, bagaimana ia bisa tidak marah.
Set.
Kenan langsung menarik tangan Aisyah masuk kedalam mobilnya.
''Sakit!!!''
Kenan tidak peduli. Ia menjalankan mobilnya dengan ugal-ugalan menuju rumah.
BRAK!
Kenan menabrakkan mobilnya didepan pagar.
Kenan turun dari mobil lalu membantingnya.
''Sakit!!'' pekik Aisyah.
Tangannya ditarik begitu kasar saat mereka sampai dirumah. Aisyah ketakutan juga marah.
''Lepas!"
"LEPAS!!"
Kenan melepaskan genggamannya dan berbalik melirik Aisyah.
__ADS_1
"Senang? Kau senang dilamar oleh orang kau suka?"
"Apa maksudmu?"
"BERANINYA KAU SELINGKUH DIBELAKANGKU!!!"
Degh!
"Selingkuh?"
Amarah Aisyah memuncak hingga keubun-ubunnya.
"KAMU YANG SELINGKUH!!"
Degh.
Kenan terkejut mendengar perkataan Aisyah.
"Aku bisa je-"
"AKU TIDAK MAU DENGAR APAPUN!!! CINTAMU BOHONG, SEMUANYA DUSTA!!"
Degh!
"LALU KAMU APA!! KAMU JUGA SELINGKUH!"
"KAMU MENGAKUINYA?!! DASAR LAKI-LAKI BRENGSEK!"
PRAK!
"IYA AKU BRENGSEK!!! TAPI ITU ALASANMU SELINGKUH!"
PRANG!
Aisyah menjatuhkan jam besar yang ada diruang tamu.
"AKU TIDAK SELINGKUH!!"
"LALU APA YANG KULIHAT!! PEREMPUAN MURAHAN!"
"KALAU BEGITU PERGI DENGAN SELINGKUHANMU YANG MAHAL!!!"
Aisyah berbalik pergi dengan cepat. Tak pernah Aisyah bayangkan akan dihina dengan perkataan perempuan murahan oleh suaminya.
Degh.
Kenan tersadar apa yang baru saja ia katakan.
''Aisyah!!''
Kenan berusaha mengejar Aisyah tapi ia terlambat, Aisyah sudah naik taksi meninggalkan rumahnya.
Didalam taksi Aisyah menangis dalam diam, berusaha untuk tegar. Berulang kali ia menghapus air mata yang turun. Ia berusaha tetap tegar agar dirinya tidak semakin jatuh.
Perempuan murahan!!!
Aisyah terkekeh pelan dengan air mata. Selama ini ia menjaga kehormatannya untuk tak berintraksi dengan laki-laki lain tapi ia dihina oleh suami yang paling dihormatinya.
''Nona kita akan kemana?''
Aisyah terdiam cukup lama. Kemana ia akan pergi, kerumah orang tuanya? Ia takut melihat wajah kecewa mereka. Kerumah kakaknya? Kakaknya akan mengkhawatirkannya.
'Yaa Allah cobaan apa ini.'
Mobil berhenti disebuah taman. Sopir taksi itu singgah diwarung sebentar, ia menyerahkan tissu juga sebotok air minum. Aisyah mengucapkan terima kasih yang begitu besar.
Aisyah turun dari mobil lalu memberikan lembaran uang merah pada sopir taksi.
Tes.
Jresss.
Hujan turun membasahi Aisyah. Aisyah terus berjalan tanpa tau ia akan kemana.
__ADS_1
''Aisyah?''