Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Kecewa.


__ADS_3

''Mama sama papah pergi dulu.''


''Iya hati, Mah, Pah.''


Aisyah menutup pintu lalu duduk diruang tamu membaca buku mapel kuliahnya.


Tin ton.


''Mama lupa sesuatu?''


Aisyah beranjak dari duduknya lalu membuka pintu.


Degh


''Ka-kakak!''


''Aisyah ... Katakan padaku sejujurnya!''


''Apa maksud Kakak? Aisyah tidak paham.'' Aisyah menunduk lalu melihat kearah lain.


''Jangan berbohong! Kakak tau kebiasaanmu ketika berbohong!''


Aisyah semakin menunduk meremas jari-jemarinya.


''Kenapa gak cerita? Kamu pikir Kakak akan marah? menyuruhmu pisah?''


'Tentu saja,' ucap Muslim dalam hati.


''Ini tidak seperti yang Kakak pikirkan.''


Bugh.


Muslim memukul tembok lalu menatap adiknya.


''Aisyah sampai kapan kau akan berbohong!''


''Kak ... Kakak gak perlu khawatir Aisyah bisa menanganinya sediri.''


'Bohong! Itu semua bohong, Kak.''


''Cih! Ayok ikut aku!''


''K-kemana?''


''Menampar wajahmu kenyataan tentang suamimu.''


''Tidak!!!''


''Kenapa? Kakak benar-kan?''


Aisyah meremas tangannya dengan kuat, dulu ia paling takut berbohong sekarang ia paling takut untuk jujur.


''Maaf Kak ....''


Muslim menghela napas panjang lalu menatap adiknya sendu.


''Katakan padaku bahwa Aisyah membencinya, Aisyah terluka, Aisyah kecewa, sedih, marah ... Katakan pada Kakak kau ingin berpisah dengannya.''


Aisyah diam, ia tidak bisa melakukannya.


''Aisyah!!!''


Aisyah diam terisak dengan menutup mulutnya.


''Aisyah ... Kenapa kau seperti ini ... Dia telah menyakitimu!!! Kenapa kau masih ingin bertahan!!!''


Aisyah mengusap perutnya lalu menunduk, senyumnya mengambang dengan mata yang masih berair.


''Saya akan jadi seorang ibu.''


Degh.


''K-kenapa?!!! Kenapa kau mengatakannya?!!! Aisyah pikir Muslim akan berubah pikiran?''


Aisyah mengangguk pelan lalu memegang bahu Kakaknya yang naik turun sebab emosinya yang meledak.

__ADS_1


''Kakak akan selalu memilih jalan yang membuat Aisyah bahagia.''


Tes.


Muslim jatuh terduduk, ia memeluk Aisyah dengan erat.


''Kakak gak bisa ... Kakak beneran gak bisa membiarkan ia menyakiti Aisyah! Tapi Kakak juga gak bisa membiarkan ia tanpa seorang ayah.''


''Kakak jadi cengeng.''


Muslim menatap Aisyah lalu berdiri memeluknya erat.


''Berjanjilah Aisyah akan menghubungi Kakak untuk pertama kali saat Aisyah dalam masalah. Jangan ragu untuk menelponku apapun keadaannya.''


''Meski Aisyah tidak kenapa-napa?''


Muslim mengangguk lalu tersenyum. Senyumnya tiba-tiba luntur.


''Apa suamimu tau?''


Aisyah menggeleng pelan lalu cengigiran pada Muslim.


''Hanya Kakak dan sahabat Aisyah yang tau, selebihnya Aisyah belum beritahukan.''


''Sampai kapan kau akan menyembunyikan-nya?''


''Sampai mereka menyadari-nya.''


''K-kenapa Aisyah memberitahuku?''


''Kakak tidak akan melakukan hal yang membuat Aisyah kecewa.''


Muslim tersenyum lalu menarik tangan Aisyah untuk keluar dari rumah.


''Kakak mau bawa Aisyah kemana?''


''Kasih makan bumil.''


Aisyah terkekeh pelan lalu berjalan agak cepat.


...


''Bener kok Ayah mertua.''


Bugh


Kenan memukul meja lalu menatap Hadijah sinis.


''Diam! Bukan kamu yang ditanya!'' bentak Kenan.


Hadijah berdecak sebal lalu tersenyum pada Adnan.


''Kenan gak boleh bentak, Dijah. Nanti dijah marah loh!''


Kenan memalingkan wajahnya dengan menggempalkan tangannya.


Mereka berenam duduk dimeja bundar, disana ada Mama, Papah Aisyah juga Abby dan Umi Kenan, serta Kenan dan hadijah.


''Halo tante, om saya Hadijah tunangan Kenan. Saya harap kalian segera membawa anak kalian pergi, karna tempat-nya itu milik Hadijah,'' ucapnya pada kedua orang tua Aisyah.


Degh.


Hamara memegang dadanya yang terasa sakit mendengarnya.


''Kenan! Kamu keterlaluan!!! Jadi begini sikapmu pada aisyah!!! Hamara ayok pulang, kita tidak perlu mendengar apapun lagi dari mantan menantu yang kurang ajar,'' ucap Chandra menarik istrinya keluar dari sana.


''Ayah t-''


Langkah Chandra terhenti, ia berbalik lalu menunjuk Kenan dan Hadijah. ''Semoga pernikahan kalian langgeng ... Sampai bertemu lagi dipersidangan.''


Setelah pergi tinggal mereka berempat. Hadijah tersenyum cengigiran lalu menatap Umi Fatimah.


''Ibu mertua jangan khawatir, dijah akan melahirkan cucu yang cantik dan juga ganteng buat ibu mertua.''


''K-kenan?!!'' Uminya menatapnya dengan penuh tanda tanya, terlihat dimatanya kekecewaan yang sangat dalam.

__ADS_1


Abby Kenan memijit pelepisnya lantaran kepalanya terasa mau pecah.


Kenan masih syok mendengar apa yang baru saja ia dengar. Persidangan ... Berarti ia akan bercerai dengan Aisyah. Pertahanan Kenan hancur, ia tak bisa lagi menanggung bebab dipundaknya yang berat.


Tes.


Kedua orang tuanya terkejut melihat Kenan yang menangis.


''J-jangan ... A-aisyah,'' suaranya tercekat dengan rasa perih. Ia baru pulang dengan perasaan rindu tapi yang menantinya adalah perpisahan dari sang istri.


''Kenan tak ingin Dijah sakit? Dijah akan baik-baik saja melahirkan beberapa anak.''


Hadijah tersenyum sumringan yang membuat kedua orang tua Kenan membencinya begitu dalam.


''K-keluar ....''


''Hnm?'' Hadijah memiringkan kepalanya untuk mendengar apa yang diucapkan Kenan karna tidak terlalu jelas.


''KELUAR DIJAH!!!''


Kenan berdiri lalu mengusir Hadijah.


''A-ap-''


''KELUAR!!!''


Hadijah tersenyum paksa lalu keluar dari ruangan sana. Hadijah berdiri dibelakang pintu yang tertutup.


''Ken ... Kenapa kau membentakku? Kau-kan sudah janji ... Padahal aku terus menunggumu ... Melawan penyakit yang menyiksa setiap hari bukan hal mudah. Aku bisa bertahan karna percaya akan janjimu ... Kenapa ini semua terjadi ... Bukankah cinta itu adalah anugrah? Kenapa takdir kita begini? Apa seharusnya setelah lulus aku mendesakmu menikahiku?''


Dhuk.


Kenan terjatuh berlutut memegang kaki kedua orang tuannya.


''Kenan!!! bangun, Nak!!'' Umi Fatimah langsung berdiri berusaha membangunkan Kenan.


''Tidak, Umi. Biarkan Kenan,'' ucap Abbynya.


''Kenan tidak melakukannya tanpa alasan.''


Adnan yang mendengar penuturan putranya melemparkan gelas yang ia pegang.


''APA ALASANMU SEHINGGA MENYAKITI HATI SEORANG PEREMPUAN!!!!''


''KENAN TIDAK BISA MELIHATNYA MATI!!!!!''


Degh.


''A-apa maksudmu?'' tanya Uminya.


''Hadijah punya penyakit jantung dari lahir ... Kini penyakitkan berubah jadi kanker ... Bila kondisinya mentalnya drob ia akan jatuh sakit dan nyawanya dapat melayang.''


''Apa hubungannya denganmu?''


''Hadijah mencintai Kenan sejak melihat Kenan di kampus kairo yaitu di mesir. Ia mendambakan cinta yang indah tapi kenyataannya Kenan tidak mencintainya. Hingga ia kecewa, tersakiti lalu jatuh didepan Kenan. Kenan menyaksikan sendiri bagaimana ia hampir kehilangan nyawanya.''


Abby membantu putrannya berdiri lalu menyuruhnya duduk didekat mereka.


''Orang tua hadijah berharap aku mau merawatnya yang sakit karna hadijah menolak segala bantuan medis. Mereka memohon begitu keras hingga Kenan terpaksa melakukannya. Hadijah pikir aku jatuh hati dengannya. Orang tuanya kembali memintaky berpura-pura sampai anaknya keluar rumah sakit.''


Kenan mengusap air matanya lalu memandang kedua orang tuanya.


''Lama-kelamaan Dijah terlalu bergantung dan tidak bisa hidup tanpaku. Kenan tak bisa menolak dan hanya dapat mengiyakan setiap orang tuanya memohon pada Kenan.''


''Tapi Kenan tidak bisa menikah dengan perempuan yang Kenan tak cintai. Abby menelpon Kenan disaat mereka benar-benar mendesak Kenan menikahi putrinya. Pertunangan yang tak nyata perlahan dianggap kenyataan oleh kedua orang tua hadijah. 'Kenan juga belum punya pasangan, dijah tidak buruk-buruk juga untuk jadi istri umur kalian juga tidak muda lagi, dija masih cinta banget sama Kenan' mereka mengatakan hal itu pada Kenan. Tapi takdir Kenan bukan hadijah ... Kenan mencintai aisyah ... Jangan pisahkan kami, Abby, Umi.''


Umi Fatimah menatap Adnan lalu memeluk putranya erat.


''Lalu kalau kami tidak memisahkanmu kamu benar-benar akan menikahinya?''


''Tidak Abby. Kenan sudah menyuruh Azka ke mesir mencari orang tua hadijah untuk membawa hadijah pulang.''


''Kalau tidak berhasil?''


''Kenan akan mengatakannya secara langsung pada hadijah baru memulangkannya.''

__ADS_1


Adnan menatap manik putranya yang terlihat lelah juga terluka. Selama ini ia menanggung beban sendirian, Aisyah juga kekeh mempertahankan harkat suaminya. Mereka memang ditakdirkan.


''Jangan terlalu berharap karna chandra tak pernah main-main dalam perkataannya. Sebaiknya pertahankan hubunganmu dengan Aisyah. Chandra tak bisa berbuat apa-apa kalau Aisyah tak ingin berpisah.''


__ADS_2