
Aisyah turun dari mobil, ia tak berhenti tersenyum. Hari ini adalah hari ia pertama kali masuk kuliah.
''Hati-hati, jangan nakal... Kakak sudah atur semuanya,'' ucap Kenan menasehati.
Aisyah mengangguk dengan senyumnya yang begitu lebar.
Dengan semangat Aisyah sudah akan pergi.
Greb!
Aisyah berbalik menatap Kenan bingung. Kenapa ia menahan tangannya.
''Kamu belum salim,'' ucap kenan mengacungkan tangannya didepana wajah sang istri.
Aisyah dengan cepat menggapai tangan tersebut dan berlari menuju gedung perkuliahannya.
Aisyah berjalan dengan senyum lebar, jantungnya berdebar menanti saat pertama kali merasakan perkuliahan.
Asiyah masuk keruangan yang dikatakan oleh kenan tadi. Disana sudah menunggu profesor yang akan membimbingnya.
''Aisyah?''
Aisyah mengangguk dan menatapnya dari atas hingga kebawah. Umurnya sepertinya tak jauh berbeda dengan ayahnya.
''Mari ikut saya.''
Aisyah mengikuti langkah cepat sang profesor banyak ruangan yang mereka lewati hingga keruangan yang diambang pintunya saja sudah terlihat mewah. Aisyah semakin tidak sabar menanti pelajarannya. Jurusan keagamaan yang ia cintai, dan diangguki oleh sang suami.
''Assalamualaikum.''
''Waaalaikumussalam!'' ucap para mahasiswa-mahasiswi serempak.
Semua pandangan langsung tertuju pada Aisyah. Aisyah sedikit gugup ia masuk dengan perlahan. Berbagai macam orang terlihat dengan gaya yang berbeda pula.
''Perkenalkan ini Aisyah mahasiswi baru difakultas kita,'' ucap Sang Profesor yang memiliki nama Ahmad Hasan Basri.
''Silahkan duduk ditempat yang kamu suka.''
Aisyah melihat seisi ruangan. Dia paling suka duduk didepan dan pilihannya jatuh pada tempat paling depan dekat dengan seorang mahasiswi yang sedang fokus membaca catatan dibanding melihatnya.
Aisyah duduk disebelahnya dengan senyum mengambang.
''Kelas kita mulai!''
''Hafsah,'' singkatnya tanpa melihat Aisyah.
Aisyah mengangguk dan memperhatikan kelas.
....
Saat pulang Aisyah tidak ingat jalan pulang.
''Kesasar?'' tanya gadis berjilbab panjang dengan stelan baju celana yang yang memiliki satu warna saja yaitu coklat susu.
''Iya, jalan keluar kearah mana?''
''Ikut aku! Aku juga mau keluar,'' ucapnya tersenyum.
Aisyah mengikuti langkahnya dan keluar dari gedung besar tersebut.
''Makasih,'' ucap Aisyah namun sang pelaku telah hilang.
'Siapa namanya?'
Aisyah menunggu cukup lama tapi tak kunjung mendapat tumpangan. Akhirnya ia menyerah dan menyebrang jalan kearah taman didepan kampusnya. Ia menyalakan handphonenya kemudian mengirimi Kenan pesan untuk menjemputnya.
''Tamannya indah yah?'' seorang laki-laki tiba-tiba duduk disebelah Aisyah.
Aisyah refleks bergeser menjauh hingga keujung kursi.
''Aku ja'far,'' ucapnya tersenyun kepada Aisyah.
Kenapa ia tiba-tiba mendekatinya? Aisyah berpikir apakah ada yang salah dengan pakaiannya. Pakaiannya bagus kok, pakaiaan mewah yang jarang ditemukan dimana-mana yang dibelikan oleh suaminya.
''Nunggu tumpangan?''
Aisyah mengangguk pelan. Ia tidak berani mengeluarkan suaranya.
'Apa penculikan?'
__ADS_1
''Aku duduk dibangku belakang, jurusan keagamaan juga. Tadi perkenalan kenapa senyum terus?'' tanyanya.
Mungkin ia hanya penasaran melihat seorang mahasiswi yang tersenyum begitu lebar.
''Say-''
Tiiiiinnnnnn.
Suara klakson mobil terdengar disebrang jalan. Aisyah berbalik, matanya berbinar dengan senyum terangkat. Ia buru-buru berdiri berlari kearah mobil tersebut.
''Makasih ajak saya ngobrol!'' ucap Aisyah sebelum benar-benar pergi.
Aisyah masuk kemobil. Terlihat Kenan masih menggunakan jas kantornya.
''Kamu senang?''
''Iyah!!! Seru kak!! Aisyah sudah buat pilihan tepat kok!! Profesornya juga baik, penjelasannya juga mudah dimengerti dan lagi kak.... '' Aisyah berucap panjang lebar.
''Hmmm,'' Kenan hanya bergumam pelan. Sepertinya suasana rumah akan berubah.
...
Saat sampai rumah Aisyah masuk dengan riang meninggalkan Kenan dibelakang.
Saat sampai dapur langkahnya terhenti, senyumnya luntur. Aisyah berbalik dengan mesam-mesam sambil menatap Kenan.
''Saya lapar.''
''Hmm... ''
''Kok hmm doang?!!'' sengut Aisyah.
''Yaudah kamu masak.''
''Kakak yang masak,'' ucap Aisyah tersenyum.
''Gak! Kamu masak! Punya kaki tangan aja gak bersyukur,'' ucap Kenan menyindir Aisyah pemalas.
''Ish!'' Aisyah menghentak-hentakkan kakinya kesal.
Trangg!!!
Dari dapur terdengar barang pecah.
''IYAH!'' balas Aisyah tak kalah kencang.
Kenan menghela napas panjang kemudian masuk kedapur. Dapur telah menjadi kapal pecah oleh sang istri.
''Huffttt... kita makan diluar saja. Mau?'' tanya Kenan membuat Aisyah sumringan.
Puk!
Aisyah membuang pisau ditangannya kemudian melompat memeluk sang suami.
''Sayang banget deh!!''
Kenan berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia langsung menangkap Aisyah agar tidak terjatuh mencium lantai.
''Kita makan seafood yuk?'' ajak Aisyah mendapati tatapan tajam dari Kenan.
''Kamu mau sakit?!''
Aisyah menjadi cemberut.
''Saya minum obat kok!''
''Gak! kita makan yang lain saja!'' putus Kenan tanpa mau dibantah.
Aisyah turun dan berbalik sambil melipat tangannya.
''Aisy marah.''
''Gak jadi makan deh. Lagi pula istri saya marah,'' ucap Kenan berbalik naik ketangga.
''Ih gak boleh?!!'' ucap Aisyah setengah berteriak sambil berbalik menatap kepergian sang suami.
''Gak dengar!''
''Bohong!'' teriak Aisyah mengejar Kenan.
__ADS_1
''Ayok makan!'' ucap Aisyah mendesak.
''Gak!'' kekeh Kenan gak berubah.
''Kalau gitu kakak tidur diluar!'' ucap Aisyah berhenti mengejar Kenan untuk melihat reaksinya.
Kenan berbalik sambik tersenyum.
''Mau durhaka? nanti saya laknat kamu?''
''Ahhhh!!!'' Aisyah menjadi cemberut hingga duduk dilantai protes.
''Saya tanya Umi!!''
''Saya tanya Abby?''
''KENAN!!''
''Aisyah?!''
Aisyah berdiri dengan kesal, ia berucap sambil menggembungkan pipinya,''Saya gak mau makan lagi, saya marah!''
Aisyah berbalik sambil menuruni anak tangga. Biarlah ia kelaparan lalu jatuh sakit, kalau gitu yang susah juga nanti suaminya itu.
''Aisy... masih mau kuliah?''
Aisyah berhenti dengan ekspresi yang marah. Kenan sudah setuju ia tidak bisa seenaknya.
''Turuti saya atau saya juga tidak akan menuruti kamu!'' Kenan mengangkat alisnya melihat ekspresi sang istri.
''Aisy... .''
Tes.
Air matanya jatuh. Ia paling ingin kuliah, merasa dirinya terancam perasaan sedih didadanya memuncak.
Deg.
Kenan tertegun. Dirinya menghela napas panjang kemudian mengusap kepalanya. Ia berjalan menghampiri sang istri yang berdiri ditangga.
Dirinya yang tinggi dengan berdiri ditangga membuatnya melihat sang istri lebih dekat dari atas.
Aisyah mendongkak sambil menatap manik mata suami yang tegas.
''Mau seafood?'' Tanya Kenan mengalah.
Aisyah menggeleng, ia sudah tidak ingin makan seafood lagi.
''Kita makan seafood yah. Saya gak marah, kangen pasti makan seafood. Saya juga pegen makan,'' ucap Kenan pelan mengusap kepala sang istri.
Akhirnya Aisyah mengangguk sambil mengusap air matanya yang turun.
''Maaf, Aisyah nyusain kamu mulu,'' ucap Aisyah menunduk dalam sambil menganggam salah satu tangan suaminya.
Kenan mengangkat tubuh sang istri sambil tersenyum.
''Istriku gak nyusain, Aku malah sayang sama dia yang cerewet.''
Aisyah tersenyum dan mengucup pipi sang suami dengan wajah memerah.
''Saya juga sayang sama Asyad,'' ucap Aisyah membuat kenimg kenan berkerut.
''Siapa?''
''Kenan irsyad jadi Asyad.''
Kenan menurunkan Aisyah kemudian mengangguk sambil menggandeng tangan sang istri untuk keluar makan.
Brak.
Hantaman dipunggung Kenan membuatnya refleks menahan tubuh Aisyah. Istrinya itu lagi-lagi melompat untuk digendong. Kenan sudah terbiasa lagi pula tubuh Aisyah tidak berat sama sekali.
''Hati-hati nanti kamu nyeludup kedepan, kan kasian jidat mulusnya,'' ucap Kenan berbalik melihat wajah sang istri yang sumringan.
''Kakak ledek jidatku kelebaran?!''
Kenan terkekeh sambil menggeleng pelan.
''Negatif thingking gak baik juga, Syah.''
__ADS_1
Aisyah hanya tersenyum dibalik punggung Kenan dengan rona pipi.
'Bau Kenan menenangkan.'