Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Kita ... keluarga.


__ADS_3

''Sedang bicara dengan ... ,'' ucap Aisyah tergantung.


Tutt.


''Siapa?'' tanya Kenan pensaran.


Aisyah melihat handphonenya, panggilan telah berakhir. Aisyah dengan cepat mengalihkan topik.


''Dari mana saja? katanya mau makan dibawah?'' tanya Aisyah ketus.


''Owh, tadi ada Azka. Dia tanya dokumen proyek kutaruh mana,'' kata Kenan menjelaskan.


''Yang nelpon tadi siapa?'' tanya Kenan lagi.


''Eh, udah jam tujuh. Buruan turun kebawah, nanti ditunggu, Mama.'' Aisyah menarik Kenan pergi dengan cepat. Dia tidak mau membahas kakaknya. Kenan hanya menuruti Aisyah, dia melihat tangan mereka yang bersentuhan.


'Siapa yah? keliatannya Aisyah bahagia banget' pikir Kenan bertanya-tanya.


 


...----------------...


''Pengantin baru udah datang, nih,'' goda Umi Fatimah.


''Heheehe,'' Cengir Aisyah.


''Yaudah, makan sini,'' ucap Abbi Aisyah.


Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai makan, Azka datang.


''Eh udah pada makan,'' canggung Azka.


''Azka mau makan?'' tanya Umi Fatimah.


''Heheh, pengennya makan bareng juga. Tapi kelamaan ngecek dokumen,'' kikuk Azka.


''Yaudah Azka makan bareng mereka aja,'' tunjuk Azka kearah meja yang terlihat sedang menyantap makanan.


''Kalau sudah. Nanti kabari aku,'' ucap Kenan agak keras karna Azka sudah duluan.


Azka memang suka makan bareng orang lain. Mungkin kebiasaannya memang seperti itu, dia mudah akrab dengan orang lain. Mereka bukan tanpa hubungan, hanya kerabat yang sudah sangat jauh.


''Assalamualaikum, Om,'' sapa Azka.


''Waalaikumussalam, Azka.''


''Pagi Zaza,'' sapa Azka.


''Zainab ... Ngapain lo disini!'' sinisnya.


''Zainab jan gitu. Azka kan juga keluarga kita,'' ucap Abbinya, kyai Hamzah.''


''Nyenye,'' sebel Zainab.


''Aisyah?'' panggil Umi Fatimah. Aisyah dari tadi manatap Azka yang mengobrol dengan keluarga Zainab.


''Ahk, iya Umi.'' Aisyah tersenyum canggung, tidak enak dengan keluarganya.


''Kamu beneran mau ikut?'' tanya Umi Fatimah dengan sedih.


''Ikut? kemana?'' tanya Aisyah bingung.


Umi Fatimah menatap mereka dengan sedih.


''Kenan beneran mau pergi kejakarta setelah dari sini? Tidak tinggal dulu,'' tanya Umi Aisyah ikut sedih.


''Rencananya mau tinggal satu minggu dulu. Tapi kleinnya mau ketemu langsung,'' jelas Kenan.


Setelah ini, mereka akan langsung kejakarta. Rumah yang disuruh Abbinya bangun ternyata untuknya tinggal setelah menikah. Dia juga akan menjalankan perusahaan Abbinya yang dipusatkan dijakarta.


''Tapikan ... ,'' Umi Fatimah tampak semakin gusar.


Abbi Kenan mengenggam tangannya dan menenangkannya.


''Abbi yang suruh. Perusahaan gak bisa dipegang orang lain terus.''


Selama ini Abbi Kenan sering bolak-balik kerjakarta untuk mengeceknya, karna dia memegang perusahaan cabang yang lebih dekat dengan rumahnya. Kenan awalnya dipekerjakan diluar negeri, mengurus perusahaannya yang baru dibuka. Tapi kini Kenan yang akan meneruskannya, dia menunggaskan Kenan menjabat dipusatnya.


''Biaklah ... Kapan-kapan kalian pulang kerumah,'' ucap Umi Fatimah berbesar hati.


''Aisyah juga pulang kerumah, Yah?'' pelan Uminya.


Aisyah tersenyum dan mengangguk. Akhirnya dengan berat hati, mereka membereskan barang-barangnya.

__ADS_1


 ...


Tok, tok ,tok.


Aisyah buru-buru membuka pintu.


''Umi??''


''Umi boleh masuk?''


Aisyah mengangguk dan mempersilahkan ibunya masuk. Kenan tidak ada saat ini, cuma Aisyah yang membereskan barang-barangnya. Setelah makan, dia segera menemui Azka.


Uminya melihat kamar putrinya yang tampak rapi. Matanya tertuju pada tong sampah yang penuh dengan hiasan kamar yang dibuang.


''Eh ... Kok dibuang, Nak?'' tanya Uminya. Dia juga melihat pakaian yang harusnya dikenakan putrinya berada disana.


''Habisnya menganggu, Umi,'' jawab Aisyah cemberut.


Flasback On.


''Aisyah masuk duluan,'' ucap Kenan berlalu dengan cepat.


Aisyah masuk kamarnya dan menatap sekitarnya.


''Aya mau Buka kado dari kakak,'' ucap Aisyah dengan senang.


Dia melihat tumpukan kado itu dan mencari cari. Dia secara khusus membawa kado tersebut dari rumah Umi Fatimah.


Srakk.


Aisyah merobek kertas kadonya dengan cepat, dia penasaran apa isinya.


''Wahhh, ini apa? kok keren banget!! Ada telinganya lagi,'' ucap Aisyah dengan girang. Tanpa menunggu lama dia segera memakainya.


Aisyah menatap pantulan dirinya dicermin. Dia bergaya seperti hewan kelinci yang melompat, kucing menjilat tangan dan kura-kura yang berjalan lambat.


''Capek,'' singkat Aisyah.


Dia berjalan dengan lemas kearah kasur hingga kakinya menginjak renda ranjang kasurnya dan terpeleset ke ranjang.


''Uhk, nyebelin banget sih,'' umpat Aisyah.


dia berusaha bangkit, namun kakinya terlilit renda tersebut hingga ia kembali terjungkal kelantai.


BRAK.


Aisyah berusaha melepaskan renda tersebut. Namun semakin lama semakin melilit kaki Aisyah.


''Grrr ... .''


Srakk.


Dengan kesal Aisyah merobeknya, ia juga menyingkirkan seluruh hiasan diruangan tersebut yang menganggu matanya.


''Hahh ... ,'' hela panjang Aisyah.


Dia segera merebahkan tubuhnya ke kasur dan menarik selimutnya.


Flashback Of.


''Yaudah kalau gitu, Aisyah sudah beres-beres?''


''Sudah Umi.''


Mereka berdua saling menatap dalam diam. Uminya memeluknya dengan erat dan Aisyah segera membalasnya.


''Nak jaga dirimu. Turuti kata suamimu ... mulai sekarang kalau ada apa-apa tanya dia ya?'' ucap Umi Aisyah lembut.


Aisyah mengangguk dan mengiyakannya.


''Umi, lihat aku dikasih kartu sama Kak Kenan,'' riang Aisyah.


Uminya melihat kertu itu dan tersenyum, dia mengusap lembut kepala Aisyah.


''Jangan boros, yah?''


Aisyah menggelengkan kepalanya dan memeluk Uminya erat.


Mereka berpelukan cukup lama. Umi Aisyah melepas pelukannya dan mencium pipi Aisyah.


''Umi pergi dulu.'' Umi Aisyah melangkah dengan pelan.


"Hamara ... ," suara yang terdengar rendah itu menghampirinya.

__ADS_1


"Abbi ... ," ucapnya pelan.


Abbi Aisyah memeluk istrinya pelan. Mungkin yang bisa dia berikan selama ini cuma kehangatan saja.


....


''Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam,'' jawabnya.


Aisyah tengah menelpon kakaknya dengan senyum merekah dibibirnya.


"Aisyah bakal KEJAKARTA!!!" seru Aisyah.


"Apa? Gak boleh!!!" ucap Muslim memijit keningnya.


"Apasih ... orang aku bakal tinggal dijakarta," sebel Aisyah.


"Maksudnya???"


"A-I-SYAH ... bakal hidup dijakarta!!!!" seru lagi Aisyah.


Bukannya mengerti, Muslim malah semakin bingung.


"Aisyahkan tinggal sama suami sekarang!!!'' jelas Muslim, menasehati adiknya.


''Iya!! Dia bakal kejakarta untuk jalanin perusahaan Abbinya!!'' Aisyah tampak kesal, Muslim seperti orang bodoh saja tidak paham-paham maksudnya.


''Hah? coba ulang!"


''Aisyah bakal kejakarta ... sebab suami Aisyah bakal tinggal dijakarta,'' ucap Aisyah pelan.


''Hah? kurang jelas!''


''SUAMI AISYAH TINGGAL DIJAKARTA!!!'' teriak Aisyah menggelengar.


Muslim segera menjauhkan handphonenya dari telinganya.


''Puas?'' tanya Aisyah dengan kesal.


''Ekhm. Ngerti-ngerti,'' ucap Muslim berdehem.


''Yaudah Assalamualaikum.''


''Wa-''


Tut.


Muslim menatap handphonenya dan menghela napas. Sepertinya Aisyah marah dengannya.


''Ish dasar kakak resek,'' umpat Aisyah.


''Ah!!''


Aisyah membalikkan tubuhnya. Dia melihat Kenan yang tengah menarik koper yang dibereskan Aisyah. Kenan tersenyum canggung, dia tidak sengaja mendengar Aisyah mengumpat.


''Aisyah ... marah?'' tanya Kenan.


Aisyah yang kesal jadi tambah kesal mendengar pertanyaan Kenan.


''Gak!!''


Aisyah dengan cepat pergi melewati Kenan yang menarik koper mereka.


Kenan menghela napas panjang dan mengejar Aisyah.


''Aisyah tunggu dulu!!'' ucap Kenan berusaha mengejar Aisyah.


Melihat Kenan yang mengejarnya membuat Aisyah semakin kesal. Aisyah pun mempercepat langkahnya mempersulit Kenan yang menarik tiga koper mereka.


Tiin.


Pintu lift terbuka. Aisyah dengan cepat keluar hotel. Dirinya terkekeh saat mengingat tadi Kenan yang berusaha mengejarnya naik lift. Pasti sekarang dia kesal sekali.


Dhuk.


Aisyah menengok dan melihat Kenan menatapnya dengan tatapan aneh.


''Jangan lari-lari. Kalau jatuh, nanti sakit,'' ucap Kenan dan menarik Aisyah, sementara satu tangannya menarik koper.


Aisyah melihat tangan mereka yang bersentuhan. Entah mengapa Aisyah tersenyum sangat lebar.


Aisyah melihat Kenan yang menarik ketiga kopernya. Dia terkekeh melihat Kenan yang cukup cerdas. Kenan mengikat kopernya sehingga dia hanya perlu menarik satu koper.

__ADS_1


''Kenapa?'' tanya Kenan dengan senyum menawan.


''Eh ... engak,'' malu Aisyah.


__ADS_2