Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Aisyah kecil.


__ADS_3

Seorang gadis kecil sedang liburan dirumah umi fatimah. para perempuan sedang mencarinya kemana-mana. Mereka tidak tau Aisyah bersembunyi dibawah meja dengan setoples gula yang dijilatinya.


Dhuk.


Kepalanya membentur meja saat akan berdiri.


Seorang laki-laki yang menggunakan meja makan untuk belajar menundukkan kepalanya melihat apa yang ada dibawahnya.


Tuing.


Sebuah kepala kecil keluar dari balik meja, gadis itu menengok melihat Kenan. Senyumnya mengambang membuat Kenan menjadi gemes.


Aisyah keluar dari bawah meja dengan toples gulanya ia melihat apa yang dilakukan Kenan sambil memakan gula.


''Kalau suka makan-makanan manis nanti ompong, kalau ompong gak bisa makan manis lagi ... Jadi berikan gula itu padaku.''


Jangankan gula, Aisyah bahkan belum mengerti ucapannya.


''Camu mwuc gwlac?''


Kenan menatapnya dengan tidak paham. Ia menarik gula yang ada dipelukan Aisyah.


''Ahhh gwlac ayaya!!!''


Aisyah merengek dengan berusaha mengambil gulanya dari Kenan.


Aisyah bahkan melompat-lompat, tapi apa daya. Ia kalah dengan Kenan yang lebih besar.


''Hik, Huaaa Gwlac ayaay!''


''Eh?!! Ini permen!!''


Kenan menyimpan gula pasir tersebut lalu membuka bungkus permen kemudian memberikan-nya pada Aisyah.


Saat pertama kali makan permen mint wajah Aisyah terlihat tidak suka dengan rasa pedasnya. Aisyah mengeluarkan permennya lalu membuangnya.


Aisyah merentangkan tangannya meminta.


''Ganti rugi!''


Kenan tersenyum kikuk. Perkataan ganti ruginya begitu jelas seperti telah sering ia ucapkan.


Kenan melihat permen yang ada diatas meja. Tinggal kopi susu yang manis. Kenan memberikannya pada Aisyah. Saat pertama kali memakannya Aisyah tersenyum begitu lebar.


''Rwsnyc lumrc.''


Kenan tersenyum kecil mendengar suara cadel dari anak kecil yang sangat imut itu. Umurnya sekitaran tiga sampai empat tahun.


''Camu nyapain?''


Aisyah berusaha duduk dimeja tapi tak bisa-bisa hingga pantatnya membentur lantai.


''Huaaaa!!!''


Karna panik Kenan langsung mengangkatnya.


''Hehe,'' kekehan Aisyah membuat Kenan menjadi kikuk. Ia menaruh Aisyah dimeja agar ia bisa melihatnya lebih jelas kalau mau terjatuh.


''Kamu duduk baik-baik.''


Aisyah duduk dengan tenang beberapa menit awal namun tidak sampai sepuluh menit Aisyah telah menganggu Kenan mulai dari mengambil pulpennya, menarik bukunya bahkan hampir mengigit tangan Kenan.


''Kamu bisa diam gak?"


Aisyah yang siap mengigit tangan Kenan lagi menjauhkan giginya lalu tersenyum polos.


Kenan menghela napas berat, ia membereskan bukunya lalu menurunkan Aisyah dari meja.


Kenan melangkah pergi menuju kamarnya.


"Yaaaaa!!"


Sebuah tangan kecil menarik baju Kena sekuat tenaga. Kenan berbalik melihat Aisyah yang melihatnya dengan mata berkaca-kaca.


''Saya mau belajar!''


''Hiks, Huaaaaaa!!!!''


''Kenan!!!"


Umi Fatimah yang mendengar tangis Aisyah segera pergi kesana. Hamara dengan cepat menenangkan anaknya.


Umi Fatimah menjewer telinga putranya.

__ADS_1


''Kamu apain Aisyah, Hah?!''


''Kagak tau Umi!''


''Ayo ngaku!!!'' Umi Fatimah semakin mengencangkan jewerannya.


''Adduhhhh kagak tau Umi beneran gak bohong! Gak ada gunanya bohong kalau udah dijewer kaya gini!''


aumi Fatimah melepas jewerannya lalu menenangkan anak sahabatnya.


Setelah tenang, mereka mengajak Aisyah main ditempat lain tapi Aisyah malah berbalik memeluk kaki Kenan yang berada diambang pintu kamarnya.


''Aisyah?!!'' pekik mereka.


''Aya main cama ia.''


Hamara menatap Kenan, ia jadi tak enak hati melihat Kenan yang memegang buku dan sepertinya sedang belajar.


''Aisyah ayo main sama Umi, yah?'' bujuk mereka.


''Da maw!!!''


Aisyah semakin mengeratkan pelukannya membuat sang empu menghela napas panjang.


''Gak apa Umi, biar Aisyah mainnya sama Kenan.''


''Beneran gak apa-apa?''


''Iya gak apa. Kenan juga udah belajar kok.''


Umi Fatimah memandang Hamara, Mama Aisyah mengangguk lalu mereka mengiyakannya.


Cklek.


Aisyah melepas pelukannya dari kaki Kenan saat pintu kamar telah tertutup. Kenan mangambil napas panjang lalu membuangnya dengan berat.


''Kamu mau main apa?''


''Main tuan putri!!''


''Yaudah saya jadi pang-''


''Kuda!''


''Kamuc, kudah!!!''


Kenan menelan salivanya, dari pada anak kecil itu menangis Kenan lebih baik mengalah. Ia menunduk lalu Aisyah naik kepunggungnya.


''Jalan!!''


''Hiaayyyyyaaattttt.''


Kenan menjatuhkan tubuhnya lelah, ia melirik Aisyah yang tertawa dengan senang. Kenan melihat tawa Aisyah sedikit mengurangi rasa lelahnya telah menjadi kudanya.


...----------------...


Aisyah menutup mulutnya menatap suaminya tak percaya.


"Kakak pasti capek," ucap Aisyah kasihan.


Kenan menceritakan masa kecil Aisyah yang tidak diingatnya. Aisyah jadi teringat tentang Azka saat mereka diparis.


"Kak mau nanya boleh gak?"


"Apa? Yang penting jangan suruh aku jadi kudamu."


"Pfft, gak bakal." Aisyah mencubit lengan Kenan pelan.


"Kakak dulu pernah nenangin anak kecil yang nabrak kakak lalu menangis kejer terus dibelikan es krim banyak?"


Kenan memeluk Aisyah lalu memikirkannya. Ia mengucup pipi Aisyah, tatapan penasaran Aisyah sekarang terlihat menggoda dimata Kenan dengan lampu tidur yang menerangi mereka membuat Kenan jadi gemes.


"Pernah kayanya dulu deh. Terus ia dijemput gak tau sama papah atau kakaknya itu."


"Aisyah seneng banget!!"


Aisyah memeluk Kenan dengan erat. Cinta pertamanya ternyata suaminya sendiri.


"Jangan-jangan, anak kecil itu Aisyah?"


Aisyah mengangkat wajahnya cengigiran.


Kenan terkekeh pelan lalu mencubit hidung Aisyah.

__ADS_1


"Kamu doyan banget es krim."


Aisyah terkiki geli lalu menyandarkan kepalanya didada suaminya.


"Kak, anak kita kayanya kembar deh."


"Hah?! Kembar? Kamu pergi kedokter cek kandungan? Kenapa tidak mengajakku? Mereka bilang apa? Anak kita sehatkan? Mereka tidak kurang gizi-kan?" tuding Kenan dengan berturut-turut.


Aisyah terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya.


''Firasat Aisyah bilang begitu, Aisyah-kan ibunya.''


Aisyah memeluk perutnya lalu menatap suaminya. ''Perut Aisyah makin gede.''


Kenan mengangguk, ia memeluk Aisyah erat lalu membalikkan tubuhnya menjadi Aisyah menimpanya.


''Kak!'' pekik Aisyah merasa canggung dengan posisi mereka sekarang.


''Aisyah memang gendut. Tapi saya malah makin sayang.''


Kenan mengucup bibir Aisyah sekilas membuat sang empu memerah hingga keujung kakinya.


Kenan menurunkan Aisyah lalu memeluknya lagi.


''Kak ... Aisyah mau jujur.''


Kenan menatap istrinya dengan tanda tanya.


''Sebenarnya ... Aisyah investor Arsie dan Sahabat Aisyah Ratna yang memimpin perusahaannya.''


Kenan menatap Aisyah lalu menghela napas lega.


Kucupan hangat mendarat dikening Aisyah.


''Kakak pikir kamu kenapa-napa. Apapun yang Aisyah lakukan, saya akan mendukungnya.'


Mendengar tanggapan Kenan, Aisyah tersenyum senang.


''Kak, besok kamu yang antarin Aisyah kekampus.''


''Permintaan sih bayi?''


''Bukan. Aisyah yang pengen.''


Kenan mengangguk lalu menepuk-nepuk kepala Aisyah.


''Udah larut, ayo tidur.''


...


Pagi harinya Kenan mengantar Aisyah kekampus, Aisyah menyalami tangan suaminya lalu masuk kedalam kampusny. Melihat punggung Hafsah, Aisyah segera menghampirinya.


''Hafsah!!''


Hafsah menengok lalu tersenyum lebar melihat Aisyah.


''Aisyah gendutan, yah.'' ucap Hafsah melihat Aisyah dari atas hingga kebawah.


''Hheheh, Aisyah memang gendutan karna banyak makan. Soalnya Aisyah udah gak sendiri.''


Hafsah menghentikan langkahnya menatap Aisyah tak percaya.


''Suamimu beneran nikah lagi?!''


Aisyah malah terkejut dengan isi pikirabmn Hafsah.


''E-eh! Engakk! Kenan gak nikah lagi. Maksudnya Aisyah Hamil.''


''Ohh kamu hamil. Jadi sekarang perutmu ada bayi?''


''Iya.''


''Hnm? AISYAH HAMIL!!!'' pekik Hafsah setelah paham sepenuhnya.


Aisyah menyumpal mulut Hafsah yang terlalu berisik.


''Maaf, maaf.''


Hafsah melihat Aisyah lalu memeluknya erat.


''Selamat telah jadi ibu!''


Aisyah tersenyum senang lalu membalas pelukan Hafsah.

__ADS_1


__ADS_2