
Aisyah berhenti ditengah-tengah jalan. Pikirannya berkecamuk, sejuta pertanyaan dan kemungkinan terlewat dipikirannya.
Puk
Aisyah tersentak dan segera berbalik.
''Asytoge bener Aisyah!!'' girangnya.
''Lah!! Jessica!!!'' ucap Aisyah menutup mulutnya terkejut.
''Wah kangen!!'' ucap Jessica memeluk Aisyah cepat.
''Kok lo berubah banget!!'' ucap Aisyah menutup mulutnya.
''Apanya?'' tanyanya bingung.
''Lihat penampilan loh jes!! Mana sahabat Gw yang pecicilan!!'' ucap Aisyah mencubit pipinya gemas.
''Gw insyfah,hehheh'' ucapnya dengan bercanda.
''Yakin?'' Ucap Aisyah menaikkan alisnya.
Jessica terkekeh dan segera menarik Aisyah menuju suatu tempat.
''HELLO GUYS INI AISYAH!!! SURPRISE'' teriak jessica yang membuat mereka menjadi pusat perhatian.
''Hah? Lo yakin?'' tanya temannya.
''Kenapa?'' tanya Jessica menyipitkan matanya.
''Gak sih ... ,'' ucapannya menggantung dengan tatapan yang membuat Jessica sangat kesal.
''Aisyah!!'' seseorang menghampiri Aisyah dengan balutan pakaian yang terlihat polos dan cantik.
''Aminah...'' ucap Aisyah pelan dan menghampirinya.
''Wah.... ,'' ucapnya panjang dan tidak mengatakan apa-apa lagi.
''Btw kita adain-nya bareng putranya loh,'' ucap mereka menunjuk kearah sebelah tempat mereka.
Terlihat para laki-laki tengah mengobrol dengan asik dan ada juga yang bermain kartu, sibuk dengan handphone atau laptopnya.
''Owh, yah dulu kau kenal dengan kak umarkan?'' tanya temannya.
''Iya kenal kok, Handa sendiri bukannya kenal banyak orang atau putra?'' tanya Jessica.
''Haha... Itu sih dulu dan hanya sebatas itu saja,'' ucap Handa menyunggingkan senyumnya.
Aisyah memilih duduk dipojokan risih dengan mereka, dia tetap tidak bisa terbiasa dengan hal-hal seperti ini.
''Kau sedang apa?'' tanya seseorang membuat Aisyah menengok.
''Tidak ada,'' singkat Aisyah membuat lawan didepannya tersenyum.
''Lo masih suka bobakan?'' tanyanya menyodorkan segelas minuman kepada Aisyah.
Aisyah tersenyum simpul dan meminumnya.
''Kau masih suka makan itu?''tanya Aisyah menujuk makanan yang dimakannya.
Dia tersenyum simpul dan mengatakan,'' tentu saja inikan kau yang ajarin''.
''Humairah!! Kau gak mau main?!'' tanya temannya setengah berteriak.
''Engak!!'' ucapnya cepat.
''Eh, Gw ke wc bentar yah. Jangan kemana-mana ada yang mau Gw bahas!'' ucap Humaira pergi dengan terburu-buru.
Setelah kepergian Humaira seseorang duduk disamping dan didepannya. Mereka asik mengobrol. Salah seorang temannya melirik Aisyah dan menanyakan kabarnya.
''Lo Aisyah kan?''
__ADS_1
''Iya, Saya Aisyah,'' ucap Aisyah tersenyum ramah.
''Ku dengar kau bertengkar dengan, kana. Apa itu benar?'' tanya temannya.
Aisyah terdiam cukup lama sebelum mengiyakannya.
''Itu benar''.
''Kenapa kau tidak memukulnya sampai babak belur?'' sambung temannya dan mereka tertawa bersama membuat Aisyah menjadi risih.
Aisyah memilih diam dan menunduk memainkan HP-nya. Merasa diabaikan temannya berbisik.
''Sok suci bangets sih, lihat deh gayanya pura-pura lagi. Padahal dia sama ajakan dengannya,'' bisiknya. Namun terdengar oleh Aisyah.
''Ngomong-ngomong kau kuliah dimana?'' tanya temannya dengan senyum remeh.
Aisyah meremas tangannya, dia tidak bisa menjawab, wajahnya pucat takut akan wajah yang mereka keluarkan.
''Jangan bilang kau gak kuliah yah?'' tanya temannya.
''Serius? Tapi kenapa kau bisa sekolah disekolah dulu?''
''Kau anak beasiswa?''
Mereka bertanya bertubi-tubi seolah tidak ingin Aisyah menjawab apapun.
''Pffft, kenapa diam? Yang kami bilang jangan-jangan benar, yah? Atau Kau BISU?''
Aisyah semakin menunduk pandangannya terasa menggelap, telinganya kembali menuli. Aisyah hanya dapat melihat gerakan bibir mereka dengan senyuman yang meremehkan dari mereka.
Bhuk!
''KALIAN BERISIK SEKALI!!'' bentak Jessica membuat mereka terkejut.
''Wah, ini Angrai, Ariqah dan ... ,'' ucap Jessica menggantung sambil berpikir.
''Ah, tidak penting. Kalian manusia atau hewan? Hanya tau mengerumuni yang wangi tanpa sadar diri sendiri bau busuk! Hah! Sudah berapa tahun lo dapat ceramah tapi gak berubah-berubah! Gak sadar! Lo sekolah di PESANTREN!!! Malu-maluin nama pondok aja lu semua!!'' ucap Jessica, kemudian menarik Aisyah segera pergi tanpa mendengarkan ucapan mereka.
''Mereka mau kemana?'' tanya Humaira bingung.
''Kau kenal mereka?'' tanya shalsah salah seorang dari mereka yang tadi menyudutkan Aisyah.
''Kenal, dong! Dia tuh temanku yang ingin kukenalkan dengan kalian!!'' ucap Humaira tersenyum lebar tanpa menyadari situasinya.
....
''Aisyah maaf, yah. Aku mengajakmu kesana dan malah... ,'' ucap Jessica pelan dan mengenggam tangan Aisyah.
Aisyah mengangguk dan tersenyum
'' Aku gak apa-apa kok,'' ucapnya memeluk Jessica.
''Sudah yah, Aku mau pergi dulu!!'' ucap Aisyah melepaskan pelukannya dan bergegas pergi.
''Iya, hati-hati!!''
Aisyah yang berjalan cepat perlahan berjalan begitu lambat dan berhenti tepat ditempat penyebrangan jalan.
Tes.
Jrsss.
Orang-orang berlari dengan cepat mencari tempat berteduh. Akan tetapi Aisyah tidak bergeming, dia menunduk menatap bagian bawah pakaiannya.
Tes.
Hujan deras itu seolah mewakili perasaan Aisyah. Yah, mereka benar. Aisyah tidak kuliah, jika dia kuliah mungkin sekarang dia adalah MABA. Pendaftrannya sudah tutup tepat sehari sebelum dia menikah. Bahkan dibenak Aisyah menikah karna perjodohan tidak pernah ada.
''Ais...ssyah... ,'' Aisyah berucap pelan kemudian menyeka air matanya, menutup mulutnya agar tidak mengatakan kata-kata yang dapat membuatnya semakin hancur.
Syutt.
__ADS_1
Aisyah menatap payung yang ada diatasnya.
''Kau tidak apa-apa?'' tanyanya dengan khawatir.
''Aku tidak apa-apa, makasih Kak sudah khawatir,'' ucap Aisyah pelan dan berjalan menyebrangi jalan, meninggalkan payung dan orang yang berbaik hati tersebut.
''Umar!! Kau ngapain!! Pakaianmu basah!'' ucap Rendy meneriaki umar yang buru-buru keluar mobil tadi, dan kejadian tadi dilihat oleh Rendy dengan jelas. Umar menurunkan payungnya, membiarkan hujan juga membasahinya. Hatinya kembali merasakan perasaan terhadap Aisyah dan melihat Aisyah yang seolah hancur membuatnya tersakiti lagi dan lagi. Umar menatap Aisyah yang pergi dengan senyum kecut.
''Lihatlah, Aku bahkan tidak menahan dirimu agar tidak tertimpa hujan. Ini seperti kita satu tahun yang lalu ... Andai Aku menahanmu, mungkin yang disisimu saat ini adalah Aku''.
Lama Aisyah berjalan hingga tanpa sadar kakinya melangkah kembali ketempat kakaknya berada.
Aisyah memandang gedung tinggi yang menjulang itu. Seutas senyum merekah diwajahnya saat melihat kakaknya dari kejauhan sedang sibuk dan sesekali terlihat berdebat dengan sekertarisnya.
Aisyah ingin menggapainya dengan melangkah semakin dekat. Namun sebuah mobil lewat didepan Aisyah dan mengagetkannya. Tubuhnya basah kuyup dan tersadar dia ditengah jalan. Saat melihat kembali kakaknya sudah hilang.
Aisyah menelan salivanya pahit. Yang dia butuhkan sekarang teman bercerita tentang keinginannya.
Tiiin, tttinnnn.
Aisyah segera melangkahkan kakinya perlahan berjalan kedepan agar dirinya tidak terus diklakson oleh pengendara yang lewat. Melihat dirinya tanpa harapan, Aisyah hanya melangkah dan terus melangkah tanpa arah, telinganya terasa tuli, bibirnya kelu, pandangannya yang buram hanya dapat melihat ujung kakinya.
'A... Aku S.. siapa?'
'Apa yang kulakukan?'
'dimana aku akan pergi?'
'Kemanapun tak masalah...'
''Aisyah''.
Panggilan yang lembut dan menggetarkan jiwanya membuat Aisyah langsung tersadar kembali.
''Aisyah gak apa-apa?'' tanya-nya khawatir dengan mengusap kedua pipi Aisyah.
Azka memayungi mereka dari belakang, tanpa payung untuk dirinya.
Phuk.
Aisyah memeluk Kenan erat dan terdengar suara isak tangis Aisyah. Kenan segera menepuk kepala Aisyah lembut.
''Sudah, sudah, sudah. Gak apa-apa,'' ucap Kenan memberikan pelukan hangat untuk istrinya.
Kenan menatap gedung yang menjulang tinggi itu, ternyata gedung kantor Kenan dan kakak Aisyah tidak-lah terlalu jauh. Aisyah berjalan tanpa arah tepat mengarah ke HK groub.
''Kita, pulang yuk, sayang?'' ucap Kenan lembut, menenangkan hati Aisyah.
Aisyah mengangguk kecil. Kenan segera menarik Aisyah menuju mobil, sebelum Azka juga semakin kehujanan.
Didalam mobil Aisyah bersandar dipundak Kenan, dia tidak menyangka yang dia temui disaat terpuruknya sekarang bukan kakaknya tapi suaminya.
Tes.
Air mata Aisyah kembali menetes secara perlahan dan semakin deras. Kenan yang melihat Aisyah sangat terpuruk menghapus air matanya.
''Mata istriku yang cantik akan bengkak jika menangis terus... Berhentilah menangis,'' ucap Kenan menatap mata Aisyah. Bukannya berhenti, air mata Aisyah semakin turun dengan deras.
'Apa yang harus kulakukan dengan suami yang didepanku ini, suami yang begitu baik untuk-ku. Namun dia-lah satu alasan aku menjadi seperti ini!!'
'ki-kita sudah sampai,'' ucap Azka pelan tidak enak menganggu sepasang suami istri itu yang terlihat mesra.
Kenan melepaskan tangannya dari wajah Aisyah kemudian mengelus kepalanya pelan.
Syutyy.
Kenan melepas jasnya dan menutupi kepala Aisyah. Kenan menggendong Aisyah turun dari mobil dan membiarkan Azka begitu saja.
''Cih, kaya nyamuk gw dah,'' umpat Azka melihat Kenan seolah melupakan kehadirannya sebagai supir dan juga tukang payungnya Tuan Kenan.
Aisyah memilih diam saat Kenan memperlakukannya dengan perhatian, dia tidak marah ataupun benci hanya tersakiti dan semakin tersakiti. Namun sakitnya tak bisa ia pungkiri dia egois, dia merasa bahagia disatu sisi dan sisi lainnya semakin tidak ingin melihat wajah Kenan.
__ADS_1