
''Aisyah, Bibi.''
Aisyah dan Bibi menenggokkan kepalanya bersamaan.
''Umi ... ,'' ucap Aisyah kemudian senyum merekah dibibirnya.
''Lihat, Aisyah bikin ini sama Bibi,'' ucap Aisyah memperlihatkan sebuah kue ringan yang terlihat cantik.
''Masyaallah, kuenya cantik ... seperti Aisyah,''ucap Umi Fatimah mengusap kepala Aisyah lembut.
''Hihihi.'' Aisyah tersenyum dengan lebar menampakkan giginya yang putih.
Suasana disana terasa begitu hangat, siapapun yang melihat akan tau bahwa mereka saling menyayangi.
''Aisyah pergi mandi dulu sana, ini udah mau selesai juga ... ,'' ucap Umi Fatimah melihat apa saja yang udah jadi.
''Siap Umi!!!'' Aisyah memberi hormat seperti seorang polisi menghormati atasannya. Umi Fatimah dan Bibi terkekeh dan segera mendorong Aisyah untuk pergi.
''Iya,iya,iya. Sudah sana pergi mandi!!!'' ucap Umi Fatimah melepas celemek Aisyah.
''Aish. Baiklah Aisyah pergi mandi,'' ucap Aisyah sedikit kecewa dan bergegas kekamarnya.
…
Tin.
Aisyah yang tengah menyisir rambut mendengar pesan yang masuk segera memberhentikan aktivitasnya.
''Eh, umar ... ,'' ucap Aisyah membuka pesan yang dikirim umar.
''alamat tempat ketemuannya agak jauh ... ,'' ucap Aisyah melihat pesan lokasi mereka akan bertemu.
''Aisyah ingat!!! gak boleh deket laki-laki''
Deg
Aisyah tiba-tiba teringat kata abbinya dan berpikir akan membatalkannya. Namun Aisyah merasa tidak enak.
''Sebaiknya Aisyah tanya dulu ada keperluan apa ... ,'' ucap Aisyah mengirimi pesan kepada umar dan berharap itu hal penting sehingga mereka harus bertemu.
Aisyah menunggu balasan umar cukup lama. Namun tidak ada tanda-tanda umar akan aktif.
Aisyah melempar handphonenya dan merebahkan tubuhnya.
''Sudah berapa tahun yah ... ?'' Aisyah berucap sambil memandang langit-langit kamarnya.
Umar dan Aisyah pernah satu pondok tapi beda wilayah. Karna Aisyah putri dan umar putra. Mereka dipertemukan disaat lomba kesenian semester pertama. Karna rasa penasaran, umar sering bolos dan pergi ke wilayah santri putri. Aisyah terkekeh mengingat masa-masa itu. Hanya karna rasa penasarannya, umar hampir dikeluarkan dari sekolah karna ketahuan sering mengunjungi wilayan santri putri.
'Tapi ... dulu dia penasaran kenapa yah?' pikir Aisyah dan tidak dapat menemukan jawabannya.
__ADS_1
''Hah, sudahlah Aisyah tidak tau,'' ucap Aisyah menghela napas dan memandang handphonenya yang masih terlihat sunyi tidak ada balasan dari umar.
Aisyah akhirnya memutuskan untuk turun kebawah melakukan sarapan pagi. Samar-samar Aisyah mendengar suara riak-riuk orang berbicara dari ruang tamu. Semakin Aisyah menuruni tangga suara berisik itu semakin keras.
''Ehhhh ... .'' Aisyah memberhentikan langkahnya dianak tangga terakhir. Aisyah melihat Umi Fatimah yang tengah mengobrol dengan asik dengan beberapa wanita seusianya.
Aisyah merasa tidak enak sama sekali. Aisyah segera membalikkan tubuhnya dan melengkahkan kakinya naik kekamarnya. Namun sebelum Aisyah sampai atas, Umi Fatimah memanggilnya, ''Aisyah!''
Aisyah memberhentikan langkahnya dan berbalik tersenyum kaku. ''Iya, Umi ... ,'' ucap Aisyah manatap Umi Fatimah.
Deg.
Jantung Aisyah memompa dengan cepat. Dia tengah menjadi pusat perhatian teman-teman Umi Fatimah. Ini membuat Aisyah teringat tentang kenangan buruknya ketika kejadian dia tidak sengaja mendorong zen.
Aisyah menundukkan kepalanya dan meremas tangannya dibalik punggungnya. Umi Fatimah menghampiri Aisyah dan mengulurkan tangan.
Aisyah menggapai tangan Umi Fatimah dan turun secara perlahan.
''Kalian kenalin,nih. Calon mantuku!!! Cantik, kan?'' ucap Umi Fatimah memperkenalkan Aisyah dan memegang bahu Aisyah.
Deg,deg,deg.
Aisyah menundukkan kepalanya takut mereka akan seperti teman-temannya yang tidak bisa menerimanya.
''Masyaallah, Iya cantik!!!''
''Sayang sekali anakku masih belum mau nikah.''
Aisyah terkejut mendengar respon mereka. Ini benar-benar diluar bayangannya, sontak Aisyah mengangkat wajahnya.
''Heheh, susah loh dapat Mantu kaya Aisyah,'' ucap Umi Fatimah terlihat senang.
Umi Fatimah menarik Aisyah untuk duduk bersama mereka.
''Namamu Aisyah. Perkenalkan saya Alia, Aisyah bisa panggil Bu Alia ... atau gak tante Alia, Umi Alia juga bisa ... ,'' ucap seseorang yang terlihat agak muda dari Umi Fatimah duduk didekat Aisyah tersenyum dengan ramah.
''U-Umi A-Alia ... ,'' ucap Aisyah canggung dan tersenyum kaku.
''Aisyah umur berapa?'' tanya Umi Alia.
''Aisyah 18 tahun, sudah mau 19 tahun ,Umi.''
''Wah, Aisyah masih muda sekali!!!'' ucap Seseorang menghampiri Aisyah dengan menggunakan kacamata bulat. Dia terlihat lebih tua dibanding teman-teman Umi Fatimah.
''Panggil aja Umi Rahma atau biar singkat, Umi Ama.'' ucapnya mengusap kepala Aisyah
''Aisyah beneran mau nikah sama anak Umi Fatimah ... ?'' tanya Umi Ama membuat Umi Alia terkejut dan juga Umi Fatimah yang tidak sengaja mendengarnya.
Deg.
__ADS_1
'Aisyah jawab apa ... .'
Aisyah berucap dengan memaksakan senyum diwajahnya. ''Iya, A-Aisyah sendiri terima kok, Umi. Lagian Kenankan juga ustadz dan imam yang baik. Dia bisa bimbing Aisyah jadi lebih baik. Walau perbedaan umur kami yang jauh, Aisyah percaya jika dia jodoh Aisyah. Maka itu pasti yang terbaik buat Aisyah,'' kata-kata Aisyah membuat Umi Fatimah tersenyum sekaligus merasa lega. Umi Fatimah sadar bahwa Aisyah berada diposisi sulit antara menuruti atau menolak.
Umi Ama tersenyum dan mencubit pipi Aisyah.
''Kamu Anak yang baik, Aisyah. Saya dulu guru kenan. Saya tidak menyangka kenan akan mendapat istri sebaik, Aisyah,'' ucap Umi Ama menatap Aisyah dengan terharu.
''Kak Ama ... ,'' ucap Umi Alia menatap Umi Ama dengan mendelik tajam. Umi Ama tersenyum dan menyipitkan matanya sebelah.
''Kalau gitu Aisyah suka apa dari kenan ...?'' ucap Umi Ama menatap Aisyah dan tersenyum lembut. Namun senyumnya bukan karna hal bagus. Umi Rahma ingin tau seberapa jauh Aisyah bisa sabar dan bertahan dalam hubungannya nanti dengan orang yang tidak dikenalnya. Mereka semua tau bahwa Aisyah dan kenan dijodohkan oleh keluarga mereka.
''Rahma!!! Ki-kita minum teh yuk ... ,'' ucap Umi Fatimah berusaha mengalihkan topik.
Umi Rahma menaikan tangannya menahan Umi Fatimah. ''Jadi Aisyah ... ??''
Umi Fatimah menatap Aisyah yang diam seolah tidak dapat menjawab pertanyaan Umi Rahma.
''Aisyah suka dengan kebaikkannya. Kenan orang penyayang dan peduli. Aisyah suka sikapnya itu,'' ucap Aisyah tersenyum tulus.
Umi Fatimah duduk dekat Umi Rahma dengan lemas. Entah jawaban Aisyah hanya karangan atau memang itu perasaan asli Aisyah. Umi Rahma menepuk bahu Umi Fatimah dan tersenyum lebar.
''Kau dapat menantu yang bagus fatmah!!'' ucap Umi Rahma mengajukan jempol
Umi Fatimah tampak kesal. Umi Rahma hampir saja merusak acaranya.
''Baiklah, saya lupa kasih tau Aisyah. Saya juga sahabat Fatmah ini,'' ucap Umi Rahma dan memanggil Umi Fatimah dengan nama khusus untuknya.
Aisyah melihat mereka secara bergantian dan memang mereka terlihat begitu akrab.
''Nah, Aisyah mau Umi ajarin gak? Cara nyenengin suami!!!'' ucap Umi Alia tersenyum jahil.
''Alia!!!!'' ucap Umi Fatimah menatap tajam Umi Alia
''Pfttt, loh kok marah Umi, inikan juga perlu dipelajari ... ,'' ucap Umi Rahma menambahi.
''Aisyah, jangan dengarkan mereka!!!'' ucap Umi Fatimah segera menutup kuping Aisyah.
Aisyah sama sekali tidak dapat mendengar pembicaraan mereka. Umi Rahma dan Umi Alia tampak senang membuat Umi Fatimah kesal. Aisyah merasa tidak enak berada disituasi ini.
Drtt,drtt, drtt.
Aisyah merasakan getaran disaku bajunya. Aisyah mengambil Handphonenya dan melihat siapa yang menelpon.
Aisyah sontak berdiri dan baru mengingat dia ada janji dengan umar. Umi Rahma dan Umi alia menatap Aisyah penuh tanda tanya.
''Ahh, maaf Umi, dan semuanya. Aisyah ada urusan dulu ... ,'' ucap Aisyah membungkuk dan tersenyum kaku.
''Baiklah kalau Aisyah ada urusan ... ,'' ucap Umi Fatimah.
__ADS_1