
''Aisyah?"
Aisyah menengok lalu tersenyum pada Mamanya yang ada diambang pintu kamarnya.
''Mah, masuk saja.''
Hamara masuk dengan membawa nampan berisi gelas susu coklat.
''Mama buatin susu.''
''Mama repot-repot saja.''
''Gak apa.''
Aisyah mengambil gelas-nya lalu meminumnya hingga tandas.
''Mah, kok rasanya beda?''
Hamara tersenyum sendu lalu melirik perut Aisyah.
Degh.
''Mama kenapa liat perut Aisyah?''
''Aisyah jangan berpikir Mama tidak tau.''
Saat Aisyah muntah-muntah, Hamara teringat dirinya yang juga benci opor ayam saat hamil.
''Mah ... Mama tidak mengatakannya pada Abby-kan?''
''Aisyah tenang saja ... Mama tidak ingin menambah masalahmu.''
Aisyah mengangguk pelan lalu memeluk mamanya.
''Mah ... Mama akan menemani Aisyah-kan? Aisyah ... Takut akan meninggalkan kalian.''
''Aisyah ... Melahirkan memang pertarungan nyawa, tapi percayalah itu adalah harga kehormatan seorang ibu.''
Aisyah menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, dulu ibunya mempertaruhkan nyawanya melahirkannya. Pasti ibunya juga merasakan yang ia rasakan kini, gelisah, takut, khawatir juga senang.
''Kapan Mama dan Papah akan pulang?''
Aisyah menatap manik mata Mamahnya yang kini terlihat gelisah.
''Mah? Ada apa?''
''Aisyah maafkan Mama ... Papamu akan mengurus penceraianmu.''
Degh.
''Mama gak bercanda-kan?''
Hamara menggeleng pelan lalu menunduk dalam. Ia tak bisa melakukan apapun dengan keputusan chandra yang sudah bulat.
''Aisyah Kenan juga gak baik buat kamu dan anakmu.'' Mama Aisyah memegang pundak putrinya lalu berusaha meyakinkan putrinya.
''Mah ... Aisyah gak bisa Mah. Kenan juga punya sisi baiknya.'' Aisyah menatap Mamahnya dengan tidak percaya, sudut matanya telah berair oleh air mata.
''Katakan pada Mama apa kelebihannya? Semua itu bohong Aisyah! Ia akan membawa perempuan itu dirumah ini!!!'' ucap Mamanya dengan emosi putrinya seperti dibutakan oleh cinta.
Aisyah terdiam ia tidak dapat mengatakan apapun.
''Aisyah!! Apa kau sanggup berbagi suami dengan orang lain? Setiap hari kau melihatnya bercanda dan tertawa seperti yang kau lakukan!!! Lebih baik bercerai!!!''
__ADS_1
''MAH!!''
Napas Aisyah tersenggal-senggal menahan emosi. Aisyah menutup wajahnya menahan tangis.
Mamah Aisyah mengigit bibir bawahnya, siapa yang menginginkan perpisahan? Tidak seorang perempuan mana pun yang ingin bercerai, memiliki rumah tangga yang buruk. Semua perempuan mengidam-ngidamkan pernikahan yang indah tapi mereka lupa menikah bukan masalah bahagia tapi persatuan dua manusia yang berbeda. Terkadang mereka yang cocok dikala belum menikah akan mudah bercerai saat menikah, lantaran ekspektasi yang tinggi menjatuhkannya.
''Aisyah ... Mama tidak berharap kamu menjadi istri yang baik ... Karna ini sudah kelewatan, Nak. Sampai kapan kamu mau mentolerinya? Sampai perempuan itu menginjakmu?''
''Enggak, Mah. Aisyah berharap dengan ikhlasnya Aisyah ... Aisyah semakin dengannya, derajat Aisyah semakin tinggi. Mama tau-kan istri yang mengizinkan suaminya menikah lagi akan mendapatkan surga dan posisi mulia dimatanya karna kesabarannya.'' Aisyah tersenyum hingga menampilkan deretan giginya.
''Apa Aisyah bahagia? Jangan bohong, Nak!!!''
''Mah ... Aisyah bahagia banget. Mama tidak tau Kenans sangat baik sama Aisyah, makanya Aisyah ikhlas. Aisyah sayang banget dengan kenan makanya Aisyah bahagia banget.''
'Bohong, Saya tidak bahagia ... Setiap melihatnya Aisyah teringat dengan perlakuannya yang mengkhianati Aisyah.'
''Aisyah tidak selamanya yang kamu bilang akan selalu terjadi!!!''
''Mah ... Aisyah akan bahagia, Mah.''
Senyum Aisyah membuat Hamara terasa tertusuk, dadanya terasa sesak senyum yang dipaksakan untuk menyembunyikan luka yang membara.
''Mama tidak perlu khawatir.''
'Karna Aisyah akan bahagia melihat anak-anak Aisyah juga bahagia.'
''Mama tidak bisa merubah keputusan kalian ... Kalian memang ayah dan anak sama-sama keras kepala.''
Hamara mengambil gelas bekas Aisyah lalu membawanya keluar dari kamar.
Sreeett.
Bahu Aisyah langsung merosot turun, mendengar kata persidangan dan pernceraian membuatnya bergetar ketakutan. Ia tidak mau melakukannya. Bila yang ia mimpikan akan jadi kenyataan, anaknya akan menderita dan Aisyah tidak menginginkannya. Naluri keibuannya tak sanggup melihat tangis anaknya, kecemburuan dengan keluarga yang sempurna. Aisyah juga tidak memiliki kekuatan untuk memulai hubungan lagi, kepercayaannya telah hancur ketitik terendah.
...
''Abby akan usahakan membujuk chandra ... Kau perbaiki dulu hubunganmu dengan Aisyah.''
Kenan mengangguk lalu ia keluar untuk menelpon Aisyah.
Drtt, drtt.
''Assalamualaikum,'' salam Aisyah.
''Waalaikumussalam.''
''Kenan akhirnya menelpon Aisyah. Aisyah terus menunggu.''
Tes.
Aisyah segera menghapus air matanya lalu tersenyum kecil. Ia berdiri dibalkon kamar mereka memandang bulan yang terang.
''Aisyah gak apa-apa kok.''
''Aisyah aku bisa jelaskan semuanya. H-''
''Beneran gak apa-apa kok. Aisyah ikhlas ... Kenan gak perlu sembunyi lagi. Aisyah yang akan tanyakan pada Papah.''
''Apa maksud Aisyah?''
''Aisyah iklas Kenan menikah lagi. Aisyah gak apa-apa dipoligami.''
''Gak!! Aisyah jangan berbicara sembarangan.''
__ADS_1
''Apa maksud Kenan? Hadijah tak mungkin kamu bohongi juga-kan? Kalian sudah tunangan juga ... Kenan gak boleh menyakiti hati seorang perempuan.''
Tes.
Aisyah berusaha keras menahan tubuhnya yang terasa akan ambruk. Ia adalah pembohong terbaik, mulutnnya begitu lancar mengatakan kata-kata itu seolah tak ada makna tertentu didalamnya
'Bohong! Aisyah jangan bohong padaku!!! Kamu juga tersakiti, dirimu juga perempuan Aisyah. Kenapa kamu masih saja berbohong?!!!' Kenan meremas dadanya yang sesak mendengar perkataan istrinya.
''Setelah Aisyah bujuk papah, ajak Aisyah juga untuk jalan-jalan sama kalian.'' Aisyah tersenyum miris mendengar kalimat yang ia katakan.
''Aisyah dengarkan aku dulu.''
''Maaf, Kak. Aisyah udah capek, Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam ....''
Tut.
Tak ada yang bisa ia perbaiki.
Aisyah capek.
Itu kenyataan yang Kenan tau, aisyah pasti capek dengan masalah yang menimpanya. Terlalu sering aisyah mengatakannya hingga Kenan tak mungkin tak tahu bahwa aisyah sungguh lelah dengan semuanya.
...
''Pah ....''
Aisyah masuk kekamar tamu yang digunakan orang tuanya. Papah Aisyah duduk ditepi ranjang menggunakan kacamata membaca sebuah lembaran putih dengan tintah hitam diatasnya.
''Aisyah ... Ada apa, Nak?'' tanya Papahnya melirik putrinya.
''Papah sedang apa?''
''Menyiapkan dokumen penceraianmu,'' ucap Papah Aisyah dengab tegas.
Degh.
''Pah ... Aisyah tidak ingin berpisah.''
Chandra menghela napas panjang, melihat sekeliling kamar sejenak baru melihat putrinya.
''Kenapa? Apa Aisyah akan mempertahankan pernikahan yang membuatmu menderita?''
''Pah ... Aisyah bahagia, Pah.''
'Bohong.'
''Papah tidak akan berubah pikiran.''
''PAH! Jangan merusak kebahagian Aisyah ... Papah tidak mau-kan Aisyah membenci Papah ... Aisyah sudah bahagia dengan apa yang Aisyah miliki. Papah akan menghancurkan kebahagian putri Papah? Papah tega pada Aisyah?''
Aisyah tersenyum pilu dengan mata memerah menahan tangis yang akan segera pecah.
''Aisyah ... Papah ....''
'Papah akan setuju-kan? Putri Papah akan menderita bila bercerai.'
''Papah tidak akan merubah keputusan Papah. Kebahagian Aisyah saat ini hanya akan bertahan sebentar, ditengah-tengah hubungan kalian dengan perempuan lain yang juga bersamanya. Papah tak akan membiarkan Aisyah memilih jalan bodoh yang akan menghancurkan putri Papah.''
''Pah ... Aisyah ikhlas, Pah.''
''Jangan berbohong Aisyah. Papah tau kamu sendiri tidak sanggup mengatakannya.''
__ADS_1
Aisyah terdiam, ia menunduk dalam menyembunyikan wajah yang kini basah oleh air mata. Aisyah bergegas pergi sebab tak ada gunanya ia disana lama-lama, dikarenakan Papahnya tak akan mengubah keputusannya apapun yang terjadi.