
Aisyah berjalan dengan perlahan memasuki rumahnya takut ketahuan.
''Aisyah dari mana saja?'' tanya Seseorang dengan suara berat.
Aisyah tersentak dan berbalik dengan perlahan. Aisyah menelan salivanya melihat Abbinya menatapnya dengan tajam.
''A ... aisyah ... Aduhhh, perut Aisyah sakit!!!'' ucap Aisyah berakting memegang perutnya dan memejamkan mata seolah perutnya sangat sakit. Perut Aisyah memang sakit tapi masih bisa ditahannya.
''A ... bi Aisyah kekamar dulu, perut Aisyah sakit sekali,'' ucap Aisyah membuka sebelah matanya melirik Abbinya.
Abbi Aisyah menatap Aisyah dan menghela napas.
''Hah. Baiklah, Aisyah jangan lupa istirahat,'' ucap Abbi Aisyah berbalik pergi.
Aisyah menghela napas dan memegang dadanya. 'Syukurlah.' Aisyah dengan cepat berlari menaiki tangga memasuki kamarnya.
Brak.
''Untung aja Aisyah cepet dapat ide,'' ucap Aisyah berjalan kekasur dan merebahkan tubuhnya. Tak berapa lama kemudian mata Aisyah tertutup dan Ia tertidur dengan lelap.
…
Keesokkan harinya.
Tok,tok,tok.
Aisyah mengucek matanya dan membuka pintu.
'' Hm, Umi? ada apa Umi,'' ucap Aisyah dengan malas.
''Abbi ada proyek di bali. Umi sama Abbi gak bakal ada dirumah untuk beberapa hari, jadi Aisyah tinggal dulu dirumah umi fatimah, yah?'' ucap Ummi Aisyah menjelaskan.
Aisyah menutup pintu kemudian berjalan kekasurnya dengan malas dan mengambil tasnya membereskan barang-barangnya. Setelah selesai Aisyah merebahkan tubuhnya lagi dikasur, rasa ngantuk masih terlihat jelas diwajah Aisyah.
Tiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnn.
Aisyah membuka matanya dengan cepat dan berdecak sebal.
''Cih.'' Aisyah segera mengambil tasnya dan menuruni anak tangga.
Tiiiiiiiiinnnnnnn.
Bunyi klakson mobil yang kencang membuat Aisyah menutup kupingnya dan mempercepat langkah kakinya.
''Iya, iya, ini Aisyah datang,'' ucap Aisyah keluar dari rumahnya dan membuka pintu mobil.
Puk, brak.
Aisyah melempar tasnya dan menutup pintu mobil dengan keras. Aisyah duduk dengan melipat kedua tangannya kesal. Abbi Aisyah menghela napas melihat kelakuaan Aisyah kemudian menjalankan mobilnya.
…
''Aisyah bangun, Nak'' ucap Umi Aisyah menggoyang-ngoyangkan bahu Aisyah.
Aisyah mengucek matanya dan merengangkan tubuhnya.
''Sudah sampai ... ,'' ucap Aisyah mengambil tasnya lalu turun dari mobil.
Aisyah melihat kekiri dan kekanan, namun suasana rumah umi fatimah tampak sepi.
''Kok sepi ,yah?''
__ADS_1
''Aisyah jangan disitu lagi, masuk rumah Umi!!!'' ucap Umi Fatimah memanggil-manggil Aisyah dari dekat pintu rumahnya.
Aisyah segera kesan dan menghampiri Umi Fatimah.
Jdarrr.
Aisyah terkejut hingga menjatuhkan tasnya.
''Untung belum turun hujan tadi,'' ucap Umi Fatimah memegang dadanya.
''Aisyah, Fatimah, Aku gak mampir dulu, ngejer penerbangan,'' ucap Umi Aisyah agak keras karna angin bertiup dengan kencang takutnya suaranya tidak terdengar.
''Iya, hati-hati anginnya kencang, takutnya badai hujan ... ,'' ucap Umi Fatimah khawatir dengan sahabatnya. Umi Aisyah tampak tersenyum dan menjawabnya, ''iya, terima kasih.''
Umi Aisyah menutup kaca mobilnya dan tak lama setelahnya mobil mereka melaju dengan cepat.
Jdarr.
Suara gemuruh hujan yang kencang tak lama diselangi hujan yang deras.
''Aisyah, mari masuk, Nak,'' ucap Umi Fatimah memegang bahu Aisyah dan menatapnya dengan lembut.
Aisyah mengambil tasnya dan tersenyum lembut. ''iya, Umi.''
…
Huuuussss.
Aisyah memandang keluar jendela melihat hujan yang deras, Pikirannya menerawang jauh, memikirkan berbagai hal.
Jdarrr.
Aisyah tersentak dan segera sadar dari lamunannya. Keringat Aisyah menetes tepat dibukunya. Aisyah menutup bukunya dan menatap handphonenya. Aisyah tidak membayangkan masa depannya benar-benar diluar jalur keinginannya. Dia akan menikah dengan orang yang baru ditemuinya dan yang membuat hati Aisyah terhenyut adalah orang yang dijodohkan dengannya adalah anak dari seseorang yang sudah dianggap sebagai ibu penggantinya.
Aisyah menutup tirai jendela dan menghapus air matanya. Emosi Aisyah memang sulit dikontrol saat ini. Dia bisa menangis dan marah hanya karna hal sepele. Aisyah duduk dikasur kemudian merebahkan tubuhnya mencoba menerima keadaannya.
Drttt, drttt, drttt.
Aisyah melihat handphonenya dan melihat siapa yang menelponnya.
'Nomor baru?? Siapa?' pikir Aisyah. Lama Aisyah berpikir hingga batas panggilan berhenti.
'Mungkin salah sambung ... ,' pikir Aisyah, namun handphone Aisyah kembali bergetar.
Drtt,drttt,drtt.
'Sepertinya nomor yang tadi ... .'
Aisyah menekan tombol hijau dan menggesernya.
''Assalamualaikum, Aisyah,'' ucapnya terdengar seperti suara laki-laki.
''Waalaikumussalam, ini siapa?'' tanya Aisyah terkejut yang menelponnya tahu namanya.
''Ana Umar, temen Anti ... ,'' ucapnya dengan ramah. Aisyah langsung teringat tentangnya.
''Ah, Afwan Umar, Aisyah gak simpen nomor Antum,'' ucap Aisyah kikuk.
''Na'am. Ana mau tanya Aisyah masih tinggal dirumah Aisyah yang dulu?''
''Iya, ada Apa?''
__ADS_1
''Saya ... mau ajak Aisyah ketemu ... ,'' ucap Umar terdengar ragu.
''Na'am, Aisyah besok luang, bisa ketemu kok,'' ucap Aisyah tersenyum kecil.
''Alhamdulillah ... nanti Ana kirim alamatnya,'' ucap Umar terlihat senang.
''Na'am, na'am,'' ucap Aisyah menjadwalkannya didalam kalender handphonenya.
''Antum dapat nomor Aisyah dari mana?'' tanya Aisyah penesaran.
''Dari rendy.''
''Yaudah, Aisyah tutup dulu. Assalamualaikum,'' ucap Aisyah mengakhiri panggilannya sesudah mendengar balasannya.
''Waalaikumussalam.''
Tut.
Aisyah tersenyum, namun senyumnya bukan karna bahagia melainkan menyayangkan sesuatu.
…
Aisyah terbangun dari tidurnya karna merasa haus. Aisyah turun kedapur untuk mengambil air.
Glek.
''Alhamdulillah ... .''
Aisyah menggusap bibirnya dan memandang gelas yang sudah kosong. Aisyah melihat sekitaran dapur yang sunyi. Aisyah teringat ketika bertemu kenan saat malam hujan deras. Senyum Aisyah merekah dibibirnya, mungkin kenan tidaklah terlalu buruk.
Ckerk.
Aisyah membalikkan tubuhnya dengan cepat seolah berharap akan sesuatu.
''Bibi ... ,'' ucap Aisyah tedengar kecewa.
''Aisyah ngapain didapur, Nak?'' tanya bibi melihat Aisyah dari tadi berdiri didapur termenung.
''Ah, Aisyah haus, Bi,'' ucap Aisyah memperlihatkan gelasnya.
''Owh,'' ucap Bibi singkat kemudian membuka kulkas.
''Bibi, mau masak dulu ... ,'' ucap Bibi terlihat sibuk mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas.
''Kenapa cepet sekali, Bi?'' tanya Aisyah membantu Bibi membereskan bahan-bahannya diatas meja.
''Umi, mungkin nanti ada tamunya umi,'' ucap Bibi menjekaskan dan tersenyum kepada Aisyah.
''Owh, baiklah. Aisyah bantu, Bi,'' ucap Aisyah menggulung lengan bajunya dan terlihat bersemangat.
''Ehh, gak usah Aisyah ... nanti Aisyah luka ... ,'' ucap Bibi khawatir.
''Bibi tenang saja, Aisyah tidak akan terluka. Kalaupun terluka bukankah itu hal biasa ... ,'' ucap Aisyah menenangkan Bibi dan mengambil sayur-sayuran.
''Hufttt, baiklah, tapi jangan lakukan yang susah-susah, Biar Bibi yang lakukan yang sulit,'' ucap Bibi tersenyum. Aisyah benar-benar gadis yang baik, jarang dia menemukan gadis seperti Aisyah, mungkin ini takdir mereka dipertemukan. Saat Bibi ingin berhenti bekerja sebab kehilangan putrinya, dia bertemu Aisyah. Aisyah menjadi obat untuknya setelah kehilangan putrinya dan hingga kini dia belum dikaruniai seorang anak.
''Heheh, Aisyah cuci dulu sayurnya,'' ucap Aisyah membersihkan sayur-sayur itu dengan ceketan.
waktu tidak terasa berlalu, mereka sibuk didapur hingga tidak menyadari sepasang mata menghampirinya.
Umi Fatimah terbangun seperti dijam biasanya. Saat keluar dari kamarnya, Umi Fatimah mendengar suara tawa dari dapur. Umi Fatimah pergi kedapur dan memeriksannya. Sebuah pemandangan langka dia bisa melihat Bibi tersenyum bahagia bersama Aisyah. Mereka benar-benar terlihat akrab.
__ADS_1
Umi Fatimah bersyukur Aisyah hadir dikeluarga mereka yang awalnya jarang terjadi komunikasi sebab kesibukan masing-masing. Karna kehadiran Aisyah rumahnya menjadi terasa hangat. Dia di antara pembantunya sudah seperti keluarga, padahal sebelum Aisyah datang akan selalu ada jarak di diantara pembantunya yaitu tuan dan bawahan. Suaminya sering sibuk keluar daerah mengurus perusahaannya, anaknya Kenan sibuk menimba ilma hingga keluar negeri dan pada akhirnya dia menyibukkan dirinya dengan menjadi guru dipesantren.
Kedatangan Aisyah secara perlahan menarik dia dan suaminya untuk berkomunikasi, seperti Aisyah adalah anak mereka. Hal itu menyebabkan Umi Fatimah begitu senang Aisyah dijodohkan dengan anaknya, mungkin ini akan menjadi jalan anaknya menjadi sering pulang kerumahnya dan mendekatkannya kembali kepada anaknya.