
Kamar Aisyah.
Aisyah tengah berkutik dengan laptopnya. Aisyah tampak cukup serius menatap laptopnya hingga jarang berkedip.
''Owh, iya Aku harus menelponnya. Akukan mau nolongin sih penjual siomay ... ,'' ucap Aisyah menghentikan aktivitasnya dan menelpon seseorang.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam, ada apa Aisyah menelponku?''
''Aku cuma mau menyuruhmu mencari rumah, dan datang ke daerah Rumah sakit pagilan disana ada tukang siomay yang ciri-cirinya ... .''
…
''Hah, baiklah. Kapan Kau mau datang kesini, hanya memberiku perintah, Apa kau tidak penasaran??'' tanyanya dengan malas.
''Engak, lagi pula inikan Aku lakukan karna hobi saja ... ,'' ucap Aisyah menyandarkan tubuhnya dikursi.
''Hobimu memang aneh tapi menguntungkan!!! Kau sudah menelpon raina yang tinggal dijakarta? Katanya dia mau mencekik lehermu setiap hari ... telpon dia, biar dia gak marah-marah mulu denganku ... ,'' ucapnya frustasi mengingat raina yang setiap hari menelponnya dan mengeluh kepadanya yang saharusnya menjadi tempatnya mengeluh adalah Aisyah.
''Ahk, sebaiknya Aku tidak menelponya,'' ucap Aisyah tersenyum kikuk membayangkan berama lama dia harus mendengar serocosan raina.
''Baiklah, Aku matikan telponnya. Aku sibuk sekali menjelang tahun baru ... .''
Tut.
Aisyah memandang handphonenya yang terdapat sebuah nama yang mengingatkannya akan masa lalu. Aisyah membuka laci yang selalu dikuncinya dan menatap foto yang terlihat mereka sangat bahagia. Di foto itu terdapat lima Seorang wanita yang saling merangkul dan tiga seorang laki-laki yang tampak saling bermusuhan. Namun senyum Aisyah tiba-tiba luntur kenangan buruk menghampirinya.
''Kau itu perempuan, jaga diri!!!"
"Kenapa kau tidak dengarkan Aku!!!"
"Apa yang kau lakukan!!!"
"Sok suci!!"
"Memalukan!!!"
"Najis!!!"
Aisyah menaruh foto itu lagi menguncinya dalam-dalam, mengubur kenangan yang tidak ingin diingatnya.
__ADS_1
''Apa yang harus kulakukan ... jika dia disituasiku apa yang akan dia lakukan ... ,'' ucap Aisyah mengingat tentangnya, namun karna sudah terlalu lama Aisyah sudah tidak ingat dengan jelas wajahnya.
…
Keesokkan harinya.
Aisyah bangun dan segera kekamar mandi membersihkan diri. Aisyah membuka lemarinya dan melihat kerudung rancangannya yang begitu besar hingga dapat menyentuh lantai jika Aisyah menunduk. Aisyah memakai gaun biru kesukaannya dan kerudung biru itu. Aisyah menatap pantulan dirinya dicermin dan cekikikan.
''Hihihih, Aisyah tampak lucu memakainya,'' ucap Aisyah berputar-putar dan berpose.
Lama Aisyah bergaya dicermin hingga capek. Aisyah terduduk menselonjorkan kakinya dengan keringat yang membasahinya. Aisyah mengipas-ngipas dengan kerudungnya sejenak kemudian berdiri. Aisyah keluar dari kamarnya dan mendengar samar-samar suara seseorang tengah bercakap-cakap.
Aisyah menuruni tangga dan tersentak melihat Kenan yang keluar dari arah dapur atau mungkin dari kamar mandi.
''Kau ngapain dirumahku?'' tanya Aisyah bingung dan menatap Kenan dari atas hingga kebawah.
Kenan terlihat seperti suami idaman kaum hawa dengan memakai songko hitam, baju koko putih dan sarung hitum.
''Umi mau datang untuk mencari tanggal baik'' ucap Kenan sedikit malu ditatapi oleh Aisyah begitu lama.
''Hah?!!!''
Aisyah mengigit kuku jarinya, Aisyah benar-benar melupakan pernikahanya. Aisyah melihat kekiri dan kekanan memperhatikan sekitarnya, merasa tidak ada yang memperhatikannya. Aisyah melangkahkan kakinya kedapur dan membuka pintu keluar taman.
''Mana ... mana ada, Aisyah ... cuma mau ketaman ... ,'' ucap Aisyah gugup karna berbohong.
''Kenapa gugup? mau kabur beneran, kan?'' ucap Kenan melipat kedua tangannya dan terseyum menyeringai. Tampak Kenan sekarang seperti kakak kelas senior yang sombong dan suka menindas juniornya.
''Diam!!!'' ucap Aisyah menggempalkan tangannya kesal. Aisyah benar-benar ingin memukul Kenan, tak bisakah Kenan membiarkannya saja pergi.
''Kau mau kemana?'' tanya Kenan.
''Bukan urusanmu!!'' ucap Aisyah berbalik pergi.
Aisyah menengok kebelakang melihat apa Kenan mengikutinya. Namun Aisyah tidak melihat tanda-tanda Kenan mengikutinya.
Hati Aisyah sedikit kecewa, namun Aisyah tidak ingin mengakuinya.
''Huh, baguslah dia tidak mengikutiku!!!'' ucap Aisyah melangkahkan kakinya pergi dari rumahnya.
…
__ADS_1
"Ergh~''
Aisyah menaruh kepalanya diatas meja sudah setengah hari dia disana memesan makanan apa saja sesuka hatinya, Namun tidak menampakkan Aisyah ingin pulang. Aisyah merasa frustasi, belum selesai dia bermain dan membangun mimpinya disaat usia remajanya ini, namun dia sudah harus mengorbankan hidupnya menikah dengan Kenan yang notubennya sudah seperti omnya.
''Yaa Allah, Aisyah pusing, tapi gak bisa kemasjid ... ingin es krim tapi sakit perut, ingin makan pedas pun sakit perut, minum kopipun sakit perut, Akhirnya hanya bisa minum teh hangat dari tadi ... hik,'' keluh Aisyah memegang perutnya yang terasa nyeri.
Aisyah memutar-mutar tangannya diatas meja membuat lingkaran. Karna terburu-buru Aisyah lupa membawa handphonenya dan tidak membawa apapun selain diri dan untungnya Aisyah menemukan uang 300 ribu dikantong bajunya.
''Aisyah bosan ... tapi gak mau pulang, ada orang yang akan membuat Aisyah hidup susah,''ucap Aisyah menyembunyikan wajahnya dibalik lengan tangannya.
''Kau disini ternyata ... ,'' ucap seseorang berdiri depan Aisyah kemudian duduk didepannya.
Aisyah berdecak sebal melihat orang tersebut ternyata Kenan, namun didalam hatinya terasa hangat dan tenang, padahal dari tadi hatinya tidak tenang dan terus gudah.
''Cih, kenapa Kau selalu saja menemukan, Ku!!'' ucap Aisyah menaruh wajahnya diatas lengan.
Kenan memalingkan wajahnya. Wajah Aisyah terlihat begitu imut memakai kerudung tersebut, kerudung itu membuat pipi chubby Aisyah terlihat jelas.
''Mungkin Kita memang berjodoh,'' gumam Kenan, akan tetapi tidak terdengar oleh Aisyah.
''Apa?? apa yang Kau katakan? Aisyah tidak dengar ... ,'' ucap Aisyah duduk dengan tegak.
Kenan melirik Aisyah, Wajah Aisyah terlihat semakin cantik memakai kerudung besar jika diperhatikan dengan seksama, padahal mereka sudah bertemu tadi, tetapi Kenan baru menyadarinya setelah bertemu lagi.
''Mudah menemukanmu, hanya Aisyah yang memakai kerudung sebesar itu,'' ucap Kenan berusaha menetralkan ekspresinya dan berusaha fokus kearah lainnya.
''Owh yah, umi, abbi dan orang tua Aisyah sudah netapin tanggal, Kita menikah bulan depan ... ,'' ucap Kenan membuat Aisyah tersentak dan terlihat murung.
'Apa aku salah bicara?' pikir Kenan melihat ekspresi wajah Aisyah yang terlihat tidak senang.
''Owh,'' ucap Aisyah singkat. Suasana mereka menjadi cangung.
''Aku akan pergi beberapa hari kedepan, mungkin kita tidak akan bertemu ... ,'' ucap Kenan membuat Aisyah mengangkat alisnya.
''Hah?? Buat apa Kau memberitahuku!!!'' ucap Aisyah ketus.
''Tidak apa-apa, sih'' ucap Kenan menggaruk tenguknya yang tak gatal.
Aisyah segera berdiri dan pergi meninggalkan Kenan. Kenan segera berdiri ingin mengikuti Aisyah. Aisyah memberhentikan langkahnya dan melirik Kenan dengan tajam.
''Jangan ikuti Aku terus. Apa untungnya Kau mengikutiku!?!'' ucap Aisyah penuh penekanan, setelah itu Aisyah melangkahkan kakinya pergi dengan cepat. Emosinya benar-benar naik turun, Akan tetapi entah mengapa ada yang salah dengan hatinya, Aisyah merasa seolah telah melakukan kesalahan besar.
__ADS_1
Kenan terdiam, Kenan kembali duduk dan mengusap wajahnya. Dia juga tidak tau kenapa mengikuti Aisyah kemari, namun entah mengapa dia merasa harus mencari Aisyah. Kenan rasa dia sudah gila, dia sering melakukan hal-hal yang bukan kebiasaannya, pikirannya juga sering memikirkan tentang Aisyah dan jantungnya sering berdetak dengan cepat. Mungkin dia sakit dan butuh kedokter. Entah sakit apa dirinya, mungkin sakitnya cukup parah karna rasanya Kenan bisa membenturkan kepalanya setiap saat bertemu Aisyah.