Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Perjalanan Bisnis.


__ADS_3

Setelah Ayah Aisyah sembuh, ia kembali pulang kerumahnya.


Aisyah kembali beraktivitas seperti biasanya. Hanya Kenan yang terlihat berbeda, ia sering melamun hingga terjatuh dari tangga terjunggkal saat akan masuk wc terciprat air teh.


"Jadi kita ngajak kamu buat perjalanan bisnis!'' seru Ratna dan diangguki oleh Raina.


''Syah? Aisyah?! AISYAH?!!'' panggil mereka. Aisyah tampak sibuk dengan lamunannya.


Aisyah menggeleng pelan lalu tersenyum pada mereka.


''Ya?''


''Ngomong, Jes,'' sodor Ratna yang sudah kesal.


''Ekhm, jadi gini Syah. Kita ada perjalanan bisnis ke paris. Tau sendirilah mau buka cabang disana, jadi sekalian kita perjalanan bisnis kesana. Gw mau ada acara disana kaya syuting gitu deh tapi bukan syuting. Nah kamu sebagai investor ikutlah kami kesana.''


''Engak, deh.''


''Sing nyebelin banget, padahal Gw mau kekota peris foto-foto buat brand kita gitu,'' ucap Celsie sebel.


''Ayolah Syah. Gak lama satu minggu doang!! Mari ikutlah, masa investor kita gak ikut,'' ucap Raina membujuk sambil mengoyangkan tangan Aisyah.


''Kenapa kalian gak cari investor lain? perusahaan kalian akan lebih berjaya dengan lebih banyak investor.''


Ratna dan Raina saling memandang, Celsie merlirik mereka kemudian saling mengangguk.


''Investor kita hanya akan ada satu. Jatuh bangun tetap dengan kita, Kami gak butuh investor yang hanya mencari keuntungan pergi ketika bangkrut datang ketika sukses.''


Raina dan Celsie mengangguk setujuh. Aisyah melihat sahabatnya, padahal dalam bisnis itu mencari keuntungan.


''Syah, kita berbisnis buat hidup. Kesuksesan tinggi itu cuma bonus,'' jelas Raina lalu diangguki oleh Celsie.


''Syah, mimpi kita tinggi tapi sebenarnya apa yang kita miliki sudah lebih dari cukup. Saat pertama kali melihat uang yang kita hasilkan, hatiku berbunga-bunga. Tapi aku gak mau serakah hingga terjerumus, kita juga bukan egois karna gak menerima investor lain, Kerjasama yang akan kami tawarkan. Investor kita hanya kamu yang jatuh bangun dengan kita. Mereka juga akan jatuh bila kita jatuh karna mereka rekan kerjasama bukan investor. Juga kalau seluruh investor menarik dana tiba-tiba kita pasti bakal bangkrut.''


Ratna dan Raina mengacungkan jempolnya. baru kali ini Celsie berkata bijak.


''Yakin gak mau ke paris?'' tanya Jessica.


Aisyah tampak ragu bila pengen ia pasti mengangguk dan bila tidak ia bisa menggeleng atau menolak. Lama Aisyah menjawab Jessica tersenyum.


''Beneran gak mau ikut? Padahal kita sudah lama gak jalan bareng karna sibuk,'' goda Jessica.


''A-aku ....''


''Yah sayang banget, Aisyah gak mau ikut padahal kita sudah rencana makan sama belanja bareng, liat bintang dilangit digedung tinggi menara eiffel.''


Raina, Ratna dan Celsie terkikik melihat Aisyah yang terlihat kepingin pergi namun tidak bisa mengatakannya.


''Kaliankan tau Ais sudah menikah.''


JRENG!!!


Para sahabatnya langsung terkikuk mendengar jawaban Aisyah. Bagaimana mereka bisa lupa.


''Coba tanya dulu gih, perusahaan suamimu-kan besar bisa jadi ada perusahaan cabang yang butuh peninjauan meski bukan harus dia, tapi kamu bisa gunakan kesempatan itu.''


Raina, Celsie juga Jessica mengangguk setuju.


...----------------...


"Wah! paris!" seru Aisyah.


"Mau istirahat dulu?" tanya Kenan.


Aisyah mengangguk pelan. Awalnya ia ragu tapi ujung-ujungnya ia tetap mau pergi. Aisyah pikir akan sulit untuknya mengajak Kenan tapi Kenan langsung mengiyakannya.


"Nih."


Kenan memakaikan topi putih pada Aisyah menutup wajahnya yang terpapar matahari.


''Makasih.''


Mereka tiba di hotel yang dekat dengan kantor Kenan juga tempat terindah lantaran dekat oleh menara eiffel.


Kenan berpamitan sebab ia masih harus pergi kekantornya.


''Hati-hati.''


Setelah memastikan Kenan benar-benat pergi Aisyah langusng sumringan.


''Horeee!!!''

__ADS_1


Aisyah sibuk memilih gaun dan tampilan yang akan digunakannya.


Drt.


Aisyah langsung mengangkatnya secepat kilat.


''Syah, masih lama gah?''


''Gak kok.''


Aisyah bersiap sambil bercerita lewat telpon. Setelah selesai ia bergegas keluar menuju tempat yang telah ia setujui.


...


''Aisyah!!'' girang Raina.


Mereka saling memeluk seperti tidak pernah bertemu selama berabad-abad tahun.


"Gak gw duga suami lo izinin kemari!"


Aisyah melapaskan pelukan Raina dan terkekeh kecil.


"Dia gak tau ini perjalanan bisnisku, taunya aku mau jalan ke paris."


Raina tertawa canggung lalu menghela napas panjang.


"Kapan kau akan cerita?"


"Kalau sudah ada waktu yang tepat."


"Aisy, ini saran dariku. Lebih baik jujur pada keluargamu agar tidak terjadi masalah," saran Ratna.


Aisyah mengangguk tapi ia tidak punya alasan kuat untuk memberitahu mereka juga waktu yang tepat.


"Hah ... Mau ikut rapat?" tanya Ratna membuat semua pasang mata meliriknya.


Aisyah tersenyum kikuk lalu mengangguk pelan.


...


Ketika mereka membahas bisnis Aisyah hanya dapat menutup wajahnya dengan topi hitamnya yang lebar. Ia sama sekali tidak paham apa yang mereka katakan. Sepertinya ia harus ambil les bahasa prancis.


Ratna tiba-tiba melihat Aisyah dan tersenyum. Beberapa dari mereka terlihat terkekeh sambil mensenyumi Aisyah.


Setelah rapat selesai tinggal-lah Ratna dan Aisyah.


''Ais gak perlu maksain buat belajar bahasa prancis. Mereka maklum kok, mereka juga bilang Ais luar biasa. Mereka yang akan belajar bahasa kita untuk bisa mengobrol dengan investor hebat sepertimu.''


Ratna tersenyum lalu duduk didepan Aisyah.


''Kesanmu luar biasa sekali dalam dunia bisnis, lagi Ais gak suka ketemu orang. Jadi, mereka menganggap pertemuan ini berharga.''


''Karna sudah selesai mari jalan.''


...


''Ken, tumben lo mau melakukan perjalanan bisnis.''


''Hnm.''


''Mau bulan madu, yah?''


Jleb.


''Ekhm.''


''Loh! Bener!''


''Tapi istrimu tau?''


''Enggak.''


''Hah?''


Kenan meninggalkan Azka sebelum ia bertanya macam-macam.


''Kalau gitu aku juga mau libur!''


Kenan mengernyitkan dahinya mendengar penuturan Azka.


''Mau cari istri.''

__ADS_1


''Diparis?''


''Kenapa? Mungkin jodohku disini makanya gw gak ketemu dinegeri sendiri.''


''Terserah.''


'Yes!'


''Ken, tunggu!''


Azka mengejar Kenan dengan riang.


...


''Aisyah!''


Raina menarik tangan Aisyah yang duduk dibangku taman untuk berfoto.


''Gak ajak!'' sindir Celsie.


Jessica menarik tangab Ratna dan Celsie untuk ikut bergabung.


''Satu ... dua, tiga!''


Ckrek.


''Hahah, Ayuk makan!'' ajak Ratna menarik tangan sahabatnya.


Mereka saling berpegangan tangan menuju sebuah restorant. Banyak yang mereka ceritakan selama makan disana.


''Tempat kuliahku ada seorang teman yang baik banget,'' ucap Aisyah menarik perhatian sahabatnya.


''Ais, kuliah?''


Aisyah mengangguk dan tersenyum lebar.


''Wahhh selamat!!!'' riang mereka.


keempat perempuan itu memeluk Aisyah erat, mereka sangat bahagia sahabatnya juga dapat meraih mimpinya.


''Dimana kamu kuliah?'' tanya Celsie.


''Universitas Asahadah.''


''Kita satu kampus!!!" seru Celsie.


"Aku jurusan manajemen!"


"Keagamaan."


"Wah! Aisyah memang pengen jadi ustdzah!"


"Heheh, gak juga sih. Tapi mirip-miriplah."


"Jessica kuliah dimana" tanya Ratna.


Ratna dan Raina mereka sudah lulus kuliah tahun lalu.


"Gak jauh kok dari kampus Aisyah."


"Ohh. Jurusan apa?"


"Sastra sosial."


"Woah," kagum Raina.


"Kalian maba semangat," dukung Ratna.


"Makasih, senior," ucap mereka bertiga pada Raina dan Ratna.


Mereka terkekeh kecil, setelah dari tempat makan mereka mengelilingi kota sambil bercanda dan mencoba berbagai makanan yang mereka tak pernah temui.


"Syah, itu daging babi," ucap Jessica menunjuk makanan yang dimakan Aisyah.


"Hah!!"


Plak.


Ratna menjitak kepala Jessica kemudian tersenyum dan mengatakan,"Enggak itu daging sapi yang digiling baru dipanggang. Jangan dengarkan kata Jessica."


"Pfftt, hahah."

__ADS_1


Aisyah tertawa pelan diikuti oleh tawa para sahabatnya.


__ADS_2