Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Selingkuhannya suamiku.


__ADS_3

Hafsah melirik Aisyah yang terus melamun. Setelah dosennya itu menyatakan perasaannya, Aisyah langsung berdiri dan pergi dari sana. Hafsah jadi merasa bersalah, namun ia tidak dapat melakukan apapun.


Setelah kelas selesai, Hafsah melirik Aisyah yang membereskan bukunya sambik melamun.


''Bagaimana kakau kita cek apakah bener ia selingkuhannya.''


Aisyah melirik Hafsah dengan mata yang akan segera hujan.


'Ups! Hafsah mulutmu ini kenapa bodoh sekali!'


''Baiklah ....''


Aisyah tersenyum sendu memandang temannya itu. Mulutnya memang ceplas-ceplos tapi sarannya ada benarnya. Dari pada ia terus merasakan sakit dan merenung, lebih baik ia memastikannya sendiri. Walau Aisyah mempertanyakan apakah yang ia pastikan adalah kepahitannya sendiri bahwa suaminya memang menyelingkuhinya.


''A-ayo!''


Aisyah berjalan diikuti oleh Hafsah dibelakangnya. Mereka pergi menggunakan mobil Hafsah.


''Kemana cantik?'' tanya Hafsah sambil bercanda agar temannya tidak terlalu sedih.


''Keperusahaan HK groub.''


Degh.


'Itukan perusahan besar internasional. Gila kalau dunia tau terjadi perselingkuhan dalam perusahaan itu pasti bakal heboh.'


''Suamimu apa jabatannya?''


''Presdir.''


Ckit.


Hafsah refleks mengerem secara mendadak.


''E-eh ... Sorry,'' ucap Hafsah pelan lalu melanjutkan perjalannya.


'Bisa heboh dunia kalau tau hal ini. Ah, bukan hanya dunia. Seingatku perusahaan itu juga memiliki hubungan dengan sebuah pesentren besar. Poligami yah? Haduh yang paham agama saja bisa selingkuh apalagi remahan yang ada dibumi ini.'


''Hafsah?''


''Yah?'' kejut Hafsah.


''Berhenti.''


Hafsah berhenti disebuah restorant kue manis super mani dan manis-manis yang sedang ramai dibicarakan.


Hugh!


Aisyah memagang dadanya sesak. Hafsah melirik arah pandang Aisyah, terlihat seseorang tengah menyuapi seorang wanita dalam resteront tersebut.


'Tidak bisakah kau tidak menyakitiku segitu dalam ... Terlebih kamu membawa ketempatku.'


Drttt.


Aisyah melihat panggilan dari Celsie. Aisyah ragu haruskah ia mengangkatnya.


''Ais ... K-kamu gak apa-apa?'' terdengar suaranya sangat khawatir.


''Aisy tau kok. Celsi sedang disana yah? Aku baik-baik saja kok.''


Celsie menelan salivanya susah payah. Kenapa ia harus dapat jadwal pemeriksaan disaat ini. Celsie tersadar setelah beberapa saat dari perkataan Aisyah.


''Kamu disini?''


''Yah, aku didepan.''


''Aku kesana!''


Celsie buru-buru keluar dan mencari sahabatnya. Saat melihat kaca mobil yang terbuka memperlihatkan keberadaan sahabatanya Celsie langsung berlari masuk.

__ADS_1


''Aisyah!!''


Celsie memeluk Aisyah erat.


''Hiks ... Aisy gak nyangka akan jadi seperti ini.''


Hafsah melihat mereka yang saling menangis seolah saling merasakan sakit. Ia sedikit iri karna selama ini ia selalu bersama Aisyah, namun kedekatan mereka hanya sekedar seorang teman dekat.


Celsie melirik Hafsah yang mengemudikan mobil melirik mereka dengan tatapan sedih.


''Celsie,'' ucapnya mengulurkan tangan pada Hafsha.


Hafsah berbalik dan menerima uluran tangan tersebut.


''Hafsah.''


''Tadi aku sempat liat menunya ... Ais tidak apa kukatakan?'' tanya Celsie khawatir.


Aisyah mengangguk pelan, ia tidak mau menutup mata seperti orang bodoh.


''Cake couple big apple.''


Aisyah tersenyum lalu menepuk bahu Celsie dan mengucapkan, ''Terima kasih.''


Kenan membayar tangihannya lalu naik kemobilnya.


Mobil Hafsah mengikuti mobil Kenan agak jauh agar tidak katahuan. Semakin lama mereka semakin masuk kedalam perumahan elit.


Kenan turun dengan hadijah, terlihat hadijah mengenggam tangan Kenan dengan begitu erat hingga didepan sebuah rumah yang mereka yakini rumah selingkuhan suami Aisyah.


Cup!


Degh!


Aisyah meremas gamisnya. tangisnya tak bisa ia bendung lagi, ia terisak seseguk-kan.


Celsie menggenggam tangan Aisyah, meremasnya saat melihat perempuan itu mengambil handphone Kenan dan terkikik.


Celsie melihat pesan yang Aisyah kirimkan untuk suaminya yang hanya diread saja.


''Aish ... ceraikan saja suamimu!'' ucap Celsie penuh amarah saat melihat Kenan masuk dengan ditarik oleh perempuan itu.


Aisyah menggeleng pelan dengan derai air mata. Ia belum siap untuk berpisah, ia yakin masih ada jalan dalam hubungan mereka.


''K-kita pulang.''


Celsie mengangguk, ia terus melihat rumah mewah itu.


''Tunggu!''


Hafsah menghentikan mobilnya dan melirik Celsie.


''Aku mau lihat Kenan akan pergi atau tinggal.''


Mereka melihat secara seksama Kenan masuk kedalam mobilnya.


Nyuttt!


Aisyah meremas dadanya melihat Kenan memarkir mobilnya dirumah perempuan tersebut.


''Cel ... Aku kerumahmu yah?''


Celsie memeluk Aisyah lalu mengangguk.


''Rumahku selalu terbuka untukmu.''


''Aisyah ... Apapun keputusanmu aku akan mendukungnya,'' ucap Hafsah tersenyum.


Mobil Hafsah membelah jalan yang kini ramai akan kepadatan orang-orang yang pulang dari kerja. Matahari terbenam dengan kejinggaan. Celsie mengarahkan arah rumahnya pada Aisyah.

__ADS_1


Aisyah tertidur dengan mata sembab bersandar pada bahu Celsie.


''Makasih, Hafsah. Aku bersyukur ada kamu yang menemani Aisyah.''


Celsie menggoyangkan bahu Aisyah pelan. Aisyah bangun dan turun dari mobil. Rumah Celsie bisa dikatakan minimalis untuknya, ia tinggal dirumah bertingkat dua yang memiliki halaman juga garasi mobil. Rumahnya terletak diujung kota hingga tempat itu sunyi dan tak terlalu padat.


''Aisyah banyak yang menyayangimu. Jadi, jangan putus asa.''


Aisyah tersenyum lalu mengangguk pada Hafsah. Celsie juga Aisyah menatap mobil Hafsah yang telah menjauh.


Greb.


Celsie mengenggam tangan Aisyah dan tersenyum padanya.


''Ayo masuk.''


...


Aisyah terbangun tengah malam, ia pergi kedapur untuk mengambil segelas air. Aisyah keluar ketaman minimalis Celsie, langit begitu terang. Aisyah duduk diteras rumah sambil menatap langit, Aisyah melirik gelas airnya yang sudah kosong.


Tes.


Kini gelas itu ditetesi air matanya. Aisyah bertanya-tanya kapan semua ini dimulai, apakah ia tidak cukup baik? apa yang telah membuatnya menjadi seperti ini.


Bintang-bintang tampak indah membuat Aisyah tersenyum dengan air mata.


'Benar yang dikatakan Hafsah. Masih banyak yang menyayangiku, kenapa aku harus sedih.'


'Apa yang harus kukatakan pada kekuargaku bila kami berpisah.'


''Aisy?''


Aisyah menengok. Ia melihat Celsie menatapnya dengan khawatir. Aisyah buru-buru menghapus air matanya.


''Kamu memikirkannya?''


''Bohong kalau aku bilang tidak.''


Celsie menghela napas lalu mengalihkan pandangannya sejenak. Ia berjalan menghampiri Aisyah lalu duduk disebelahnya.


''Kau liat gelasmu kosongkan?''


''Nih.''


Celsie mengisi gelas Aisyah dengan air yang ada digelasnya hingga setengah.


''Hati seperti gelas. Bila kosong, akan kubagi-kan apa yang ada dihatiku.''


Celsie tersenyum lebar lalu menyandarkan kepalanya dibahu Aisyah.


''Tapi gelas yang pecah tak akan bisa kembali untuk diisi dengan air.''


Degh.


Celsie langsung mengangkat kepalanya, ia melihat manik mata Aisyah yang memperlihatkan luka.


''Gelas yang bahkan disatukan agar bisa menerima air akan tetap memiliki bekas retakan ... Hatiku juga.''


Celsie memeluk Aisyah erat, pasti begitu berat bagi Aisyah menerima kenyataan yang ada. Apalagi pernikahannya sebentar lagi menginjak satu tahun.


Tes.


Air mata Aisyah jatuh, ia membalas pelukan Celsie.


''Tapi aku tau ... Hidupku akan terus berputar meski harus masuk kedalam tungku bara api untuk memulihkan gelas pecah mejadi gelas yang baru.''


Celsie melepaskan pelukannya lalu tersenyum.


''Dan biarkan aku menjadi pengrajin gelas yang merasakan panasnya bara api untuk menjadikanmu gelas yang cantik.''

__ADS_1


__ADS_2