Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Raina


__ADS_3

Malam itu...


Aisyah menangis sejadi-jadinya, hatinya hancur dan terluka. Ia masih menaruh harapan pada mimpinya, ia meminta izin dari suaminya untuk kembali bersekolah. Namun penolakan Kenan membuat Aisyah teramat kecewa.


Samar-samar Aisyah mendengar suara merdu sedang melantungkan ayat suci Al-Qur'an. Aisyah melirik jam disebelahnya.


02:29.


Perlahan air matanya kembali jatuh, ketika ayat yang dibaca berulang kali itu diucapkan oleh Kenan, dadanya terasa sesak, napasnya menjadi kacau. Surah ar-Rahman, surah yang sangat dicintainya.


Setelah selesai Kenan menutup Al-Qur'an-nya ia melirik Aisyah. Aisyah buru-buru berbalik, ia sangat enggan Kenan melihatnya dalam keadaan sekacau itu.


''Aisyah...,'' panggil Kenan.


Aisyah enggan untuk berbalik, beberapa kali Kenan memanggilnya tapi Aisyah tak kunjung berbalik. Kenan akhirnya diam, diamnya malah membuat Aisyah berbalik.


''Maaf, bila Saya menyakiti perasaanmu''.


Aisyah menutup matanya dengan tangannya ia tidak mau Kenan melihat air matanya yang turun bagaikan air hujan.


"Saya takut Aisyah kenapa-kenapa... ''.


''Kak... Aisyah cuma kuliah,'' ucapnya pelan.


''Gak... Diluar berbahaya, kuliah juga banyak kerjanya. Nanti Aisyah cepek, lelah, stres. Kuliah tidak seindah yang Aisyah pikirkan''.


''Tapi, Kak. Aisyah bisa jaga diri Aisyah,'' ucap Aisyah bangun untuk melanjutkan obrolan semalam yang berakhir hancur.


''Aisyah... Kita tidak tahu orang lain seperti apa, terlalu banyak orang jah-''


''Kak! Tidak semua orang jahat!!'' Tanpa sadar Aisyah meninggikan suaranya, ia benci kalimat itu... Ia seolah menghakimi mereka yang bahkan ia tak kenal. Bila mereka jahat, pasti ada alasannya, tiada kejahatan tanpa alasan.


Lama mereka berdebat, hingga tanpa terasa waktu berjalan lambat. Kenan akhirnya lelah dan dia akhirnya setujuh.


''Makasih Kak!!!''


Kenan menghela napas dan tersenyum kecil.


''Kita shalat tahajjud... mumpung waktu shubuh belum datang,'' ucap Kenan kemudian berdiri.

__ADS_1


Dengan antusias ia mengikuti Kenan. Mungkin yang dikatakan suaminya benar, tapi baginya belajar dan meraih mimpi lebih penting dari sebuah ketakutan tak berarti. Ia tak akan pernah tahu kalau tak mencoba. Tak ada gunanya baginya terus belajar kalau tak mencoba, mengambil langkah awal yang takut dilalui semua orang.


....


Disebuah gedung mewah bertingkat empat itu, terlihat didepannya seorang gadis dengan bagaikan elang menatap dengan senyuman yang begitu memesona.


Gadis itu memakai pakaian yang cukup mewah dengan hak tinggi dan topi berenda yang menutupi wajahnya.


Kring.


Bunyi lonceng yang menandakan sesorang telah memasuki tokoh tersebut, perhatian para pelayan menjadi teralihkan. Mereka terdiam beberapa detik melihat pemandangan didepannya. Mereka segera berlari setelah tersadar terdapat seorang 'tamu' memasuki tokohnya.


''SELAMAT DATANG DITOKO AR!!''


Aisyah membuka kacamatanya, ia melemparkannya pada pelayan disampingnya. Dengan santainya ia berjalan kesofa dan duduk dengan melipat kedua kakinya.


''Bawakan saya pakaian yang paling baru dan mahal... Serta ELENGAN!''


Para pelayan menjadi sibuk melayani 'tamu' yang bagaikan anak konglomert ternama itu.


''Nona bagaimana dengan Ini?'' tanya pelayan tokoh dengan memperlihat pakaian yang melambungkan bawahannya hingga kelantai dengan warna biru malam, serta bintang yang mencorak dihiasan pinggangnya.


Pelayan tokoh itu menjadi gugup kemudian ia mengangguk. Gadis iti menggelengkan kepalanya, ia mengambil teh yang ada disampingnya. Teh yang baru dituang itu masih panas, membakar lidah yang meminumnya.


''Uhuk!!! Panas banget!!! Ganti!!'' dengan mendominasi iya memerintah.


Semua sibuk, sibuk melayani seorang 'tamu' yang bagaikan ratu dari kerajaan ternama.


Kondisi heboh itu, terlihat dari atas lantai kantor direktur. Ia memerhatikan cukup lama, hingga ia memutuskan untuk turun.


''Anda mencari model seperti apa?'' Ia membungkuk sedikit kemudian menatap orang yang didepannya. Ia menyeringai, ia senang direkturnya datang. Senyumnya bahkan ia tak bisa tahan hingga menampilkan sedikit wajahnya dari topi renda.


Deg!!


Direkturnya dengan kesal hingga wajahnya memerah, ia sekuat tenaga menahan emosinya.


Tak lama ia mengambil bantal dan siap menerjang 'Tamu'. Mungkin bisa kita ganti menjadi Ceo mereka... Atau lebih tepat kalau kita bilang investor, karna ia jarang terjun kesana. Tapi ia mengambil peran dalam bisnis, karna sebagian produk dan tata usaha mereka adalah idenya meskipun bukan dia yang menjalankannya.


''Buset, Galak amat raina!!'' Ia terkejut hingga meloncat naik kesofa.

__ADS_1


''A.I.S.Y.A.H!! Kemari Kau!!!'' Raina dengan siap siaga menerkamnya. Ia berlari mengejar Aisyah, karna Aisyah sudah lari sebelum ia mengkapnya.


''Gak mau!! Blekk!!,'' ucap Aisyah berlari mengitari tokoh itu, yang membuatnya berantakan.


Mereka terus saling mengejar, saling melempar, saling mengatai hingga mereka lelah. Aisyah berhenti berlari begitu juga Raina, ia lelah. Wajah mereka kini tampak berantakan, topi renda Aisyah entah ia lemper kemana, Kemeja Raina kini berantakan. Mereka saling memandang kemudian tertawa.


''Lama tak bertemu, Raina,'' ucap Aisyah mengulurlkan tanganya.


Dengan senyum jahilnya, Raina menggeplak tangan Aisyah sebelum menjabatnya. Kesal dengan Raina, Aisyah meremas tangannya. Mereka saling memandang dengan kesal.


''Pfttt, Hahahah,'' lagi-lagi mereka tertawa, mungkin teringat akan masa lalu.


Raina tiba-tiba merangkul Aisyah membuat mereka terjatuh kelantai. Raina menaikkan tangannya menunjuk ke arah atas.


''Suatu hari nanti, tokoh ini akan jadi tokoh yang digemari hingga keluar negeri, semua orang akan memakai rancangan kita ke acara-acara berharga,'' ucap Raina memandang Aisyah disebelahnya.


''Tentu saja!! Kita akan jadi wanita pendiri kerajaan bisnis terbesar didunia,'' ucap Aisyah yakin.


Mereka kembali saling memandang dan tersenyum hangat sama lain. Rasanya nostalgia, ketika ia dulu masih dipenjara suci. Mereka memandang langit sambil tiduran dan bermimpi akan masa depan. Kini semuanya menjadi kenyataan satu persatu.


''Anu... No-na, Kita harus beres-beres karna... Takutnya ada pelanggan nanti,'' ucap maneger Raina.


Aisyah dan Raina langsung kembali ke kenyataan mereka. Yah, sepertinya acara nostalgianya harus berhenti, karna yang di ucapkan manegernya ada benarnya. Bisa-bisa reputasi tokohnya jatuh, jika ada yang melihat seberapa kacaunya tempat ini.


''Baiklah, mau ke atas,'' tanya Raina dan diangguki oleh Aisyah.


Mereka berjalan beriringa tanpa beban, padahal mereka tidak melihat berapa banyak yang harus pengawainya bereskan akan ulah mereka.


''Orang banyak uang memang seenaknya,'' ucap Manegernya memberesi masalag yang dibuat kedua perempuan itu.


''Sudahlah... Nanti kita tinggal minta bonus, lagian kalau mereka bukan orang kaya, apa mereka mampu menggaji kita dengan gaji yang memuasakan,''ucap temannya dan diangguki oleh yang lainnya.


Yah, sepertinya memang uang selalu berkuasa. Namun uang juga bukan alasan untuk menyakiti dan semena-mena.


"..."


Raina menatap Aisyah yang kini tertidur dikasurnya, dikamar yang ia tinggali bila ia lembur dengan begitu nyenyak.


''Numpang tidur?'' ucap Raina, namun tak ada sautan dari sang empu, karna memang dia sudah tidur.

__ADS_1


''PULANG TIDUR KERUMAH MU SANA!!'' Teriak Raina, tapi sepertinya gadis itu tidur bagaikan putri tidur. Mau tak mau Raina harus membiarkan Aisyah tidur.


__ADS_2