
'' Re ... ndy.'' Aisyah cukup terkejut melihat mereka berada disana. Bagaimana bisa mereka hadir diacara-nya ini.
''Ka ...mu sudah menikah ... ,'' ucapan Rendy membuat suasana mereka menjadi runyam.
Kenan menatap kedua laki-laki yang berbicara dengan Aisyah. Kenan kenal satu diantaranya, dia yang ada dipernikahannya tadi.
''Ka ... lian ke-kenapa kemari?'' tanya Aisyah.
Rasa takut mulai menjalar ditubuh Aisyah dan tanpa dia sadari, dia memegang lengan baju Kenan.
Kenan menatap tangan Aisyah yang memegang lengan bajunya, tangan-nya gemetaran. Pandangan Kenan beralih kearah mereka, entah apa masalahnya, Aisyah tidak boleh tersakiti.
''Maaf menganggu, kami ada urusan,'' ucap Kenan menarik Aisyah pergi.
Aisyah melihat tangan Kenan yang menariknya. sebuah ketenangan menghampirinya, seutas senyum merekah di wajah Aisyah tanpa disadarinya.
Umar menatap mereka, pandangannya beralih kearah tangan Kenan yang manarik Aisyah.
Deg.
'Seharusnya ... .'
''Aisyah ... ,'' panggilan lembut Umar membuat Aisyah berhenti.
Jantung Aisyah berdetak kencang, bukan karna hal spesial dari Umar, tapi perbuatannya yang sudah kelewatan. Dia menarik kerudung Aisyah, seperti saat itu.
Kenan memberhentikan langkahnya dan berbalik.
Bughh.
Sebuah pukulan mendarat diwajah Umar, Umar terhempas dan wajahnya berdarah.
''Umar!!! Kau gak apa-apa?'' tanya Rendy khawatir.
Kenan terlihat marah, dia mencoba mengatur napasnya. Saat mendengar gosip tentang Aisyah, hatinya terasa panas. Dia percaya, sosok yang mungil dan polos itu mana mungkin tau cara berbuat kotor dan keji seperti itu.
''Hosh ... hosh.'' Kenan menggempalkan tangannya erat, dia tau asal gosip itu dan pelakunya ada didepannya.
Sret.
''K-kak Kenan ... ,'' Aisyah menarik baju Kenan dan berucap dengan ketakutan.
Kenan berbalik dan memeluk Aisyah erat. Dia kehilangan kontrol akan dirinya sendiri. Kesabarannya selalu diuji didekat Aisyah.
Drap.
Drap.
Azka segera menghampiri Kenan saat mendengar keributan.
''Astagfirullah!!! Kenan apaan-apaan kau ini!!!'' ucap Azka mengusap wajahnya kasar.
Azka segera menenangkan tamu-tamu yang melihat kejadian itu.
''Maafkan Kenan ... dia sedikit emosi,'' ucap Azka membantu Umar berdiri dan menuntun-nya duduk.
''Cih,'' Kenan berdecak kesal, melihat Azka yang terlihat tenang saja. Padahal dia tau persis masalahnya. Azka yang membantu Umar menyelidiki masalah tentang gosip Aisyah hari saat dia tidak ada. Kenan memang tau asalnya tapi tidak mengetahui siapa laki-laki yang ditemui Aisyah.
''Lepas.''
Kenan mengarahkan pandangannya ke Aisyah yang dipeluknya.
Kenan malah semakin mengeratkan pelukannya dan mencium pipi Aisyah.
__ADS_1
''Aku bilang lepas!!!'' teriak Aisyah berusaha mendorong Kenan tapi sia-sia. Aisyah malu dipeluk didepan umum.
''Oiii Kenan!!!'' sinis Azka.
Kenan segera melepaskan pelukannya dan menghampiri Azka. Azka terlihat marah kepada Kenan, entah apa yang dia ucapkan, Kenan terlihat menunduk.
Aisyah menghampiri Umar dan dia meminta maaf.
''Maafkan aku,'' ucap Aisyah merasa bersalah.
Umar diam, dia menatap Aisyah lekat-lakat. Walau Aisyah menutup wajahnya, dia tetap akan mengenali orang yang dia cintai.
''Kami juga minta maaf,'' ucap Rendy menatap Aisyah sendu.
Kenan menghampiri meraka dan mengulurkan tangan.
''Saya minta maaf,'' tulus Kenan. Azka habis menceramahinya habis-habisan.
Umar menatap laki-laki yang didepannya, berbagai aspek dapat membuatnya dikritik habis-habisan. Namun, Umar tau dia bukan orang buruk. Mereka sama-sama laki-laki, memiliki insting tajam satu sama lain.
Umar berdiri dan menjabat tangan Kenan.
''Aku memaafkanmu ... Dan aku juga minta maaf,'' ucap Umar dengan wajah memelas.
Dia tidak mungkin dimaafkan dengan mudah, oleh seorang berstatus suami oleh orang yang hampir dia permalukan.
''Iya,'' singkat Kenan.
Kenan dan Umar melepas jabat tangan mereka. Ekspresi Umar terlihat begitu sedih.
''Aku mohon padamu ... jaga dia, dia ... tidak tau apa-apa ... hidupnya berat, tangan kecilnya harus menerima hal sulit.'' Umar memberhentikan ucapannya, kilatan cahaya terlihat dimatanya.
Puk.
''Aku ... awalnya datang kemari lagi untuk melihat ... Aku tidak ada niatan mengacaukannya. Aku harap Kau bahagia ... Aisyah,'' ucap Umar tersenyum.
Aisyah menatap Umar, mungkin ... jika hari itu Umar datang, dia akan menikahinya. Tapi itu bukan takdir mereka.
''Te-terima kasih,'' ucap Aisyah menunduk.
Dugh.
Umar memukul dada Kenan pelan. Dia tidak mungkin merusak kebahagiaan orang yang dicintainya, Umar melihatnya jelas. Kenan dan Aisyah sama-sama mencintai, mereka sudah ditakdirkan.
''Jangan membuatnya menangis, Aku akan mengambilnya jika kau membuatnya menangis,'' ucap Umar, kemudian pergi dengan sebuah hadiah diletakkan dimeja itu.
'Tidak akan ... dia tidak akan menangis selama bersamaku,' ucap Kenan dalam hati.
Azka tersenyum dan menyenggol Kenan.
''Lain kali gak usah emosi ... benerkan apa kubilang ... Uhhhh biasanya aku yang diceramahi,'' ejek Azka. Kenan tersenyum dan menghampiri Aisyah yang membuka hadiah Umar. Sebuah foto mereka yang tidak disengaja difoto oleh Rendy. Saat itu Umar dan kakaknya bertengkar karna hal sepele dan Aisyah berusaha menenangkan mereka.
''Maaf ... ,'' ucap Aisyah pelan.
''Untuk apa?'' tanya Kenan.
''Aku tidak tahu,'' ucap Aisyah, dia hanya merasa butuh minta maaf.
''Sudah, tidak apa-apa.'' Kenan mengusap kepala Aisyah lembut.
''Jangan bermesraan dulu!!! Nih masalah bagaimana? Kasih tau bundamu?'' tanya Azka melipat kedua tangannya.
''Lebih baik tidak kan?'' ucap Kenan bertanya balik.
__ADS_1
''Iya,iya ... aku pergi dulu,'' ucap Azka segera pergi meninggalkan pengantin baru itu.
''Kau suka apel?'' tanya Kenan mengambil buah untuk Aisyah.
''Suka!!!'' antusias Aisyah.
Acara mereka berjalan lancar tanpa diketahui oleh keluarga mereka tentang kejadian tadi.
....
Disisi Umar.
''Kau tidak apa-apa?''tanya Rendy.
Umar berdiri dibalkon rumah Rendy, memandang kelangit.
''Kita tidak ditakdirkan ... lagi pula aku pantas mendapatkannya,'' ucap Umar mengusap wajahnya yang habis dipukul kenan.
''Yah ... Jangan terlalu bersedih, masih banyak perempuan yang suka denganmu kan,'' ucap Rendy merangkul Umar. Mereka sama-sama melihat ke langit.
Umar menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.
''Kau benar ... Aisyah berbeda,'' ucap Rendy tersenyum mengingat awal pertemuan mereka.
''Kau tidak pulang?'' tanya Rendy.
''Iya ... ini aku pulang,'' ucap Umar segera pergi.
''Assalamualaikum.''
''Waalaikimussalam,'' ucap Rendy tersenyum lebar. Umar sudah kembali tenang, mengingat saat dia kemari dengan sebuat teriakan bukan salam masih teringat dikepalanya.
''Assalamualaikum,'' Umar berucap pelan dan membuka pintu rumahnya hati-hati.
''Kau sudah pulang, Nak!!!''
Bunda Umar langsung berlari memeluk putranya.
''Kau tidak terluka?'' Bunda Umar memeriksa kondisi Umar dan menemukan sebuah memar diwajahnya.
''Nak ini sakit yah?'' panik Bundanya.
Umar terdiam, dibalik sakit hatinya. Ada seseorang yang akan menyambutnya dengan ramah, sebesar apapun kesalahannya. Dia ibunya, yang melahirkannya,merawat dan membesarkannya dengan tulus tanpa meminta imbalan apapun.
Puk.
Umar memeluk ibunya itu, walau terlihat sudah tidak muda lagi, ibunya masih aktif dirumahnya, menceramahi-nya, memasak untuknya, membangunkannya saat tertidur lelap.
Tes.
Bunda Umar merasa bahunya basah.
''Nak sakit sekali yah?'' tanya Bundanya membalas pelukan umar.
''Iya ... sakit sekali ,Bu,'' ucap Umar melepas pelukannya menatap ibunya.
Bundanya menuntunnya mengobati luka diwajahnya. Tanpa Umar sadari, dia tertidur dipangkuan bundanya.
''Nak ... ibu tau ... sakitnya bukan diwajah tapi dihati,'' ucap pelan bunda-nya mengusap kepala umar, menepikan rambutnya yang menghalangi.
...----------------...
__ADS_1