
Kenan duduk dikursi kebesarannya, menatap foto sang istri yang hilang. Sudah lebih tiga hari, ia tak melihat wajah istrinya, Ia sudah mencari kemana-mana namun hasilnya nihil tak ada yang pernah melihatnya. Kenan juga sudah menghubungi polisi dan meminta bawahannya mencari aisyah.
....
''Ais... Makan...,'' ucap Muslim kepada adiknya itu.
Sudah berhari-hari Aisyah hanya duduk memeluk lututnya dan menangis, makan pun ia enggan seolah ia kehilangan saparuh hidupnya.
''Kak.. Aya gak lapar..''.
Lagi-lagi itu yang dikatakan olehnya. Muslim menghela napas, ia duduk disamping Aisyah menyandarkan kepalanya.
''Kakak antar pulang?'' tanya Muslim.
Aisyah diam, seolah tak dapat menemukan alasan ataupun jawaban.
''Hik... ''
Perlahan Muslim kembali mendengar suara isak tangis. Apa yang di inginkan adiknya, ia paham. Tapi mungkin adiknya masih sakit hati ditinggal seorang diri, dengan hujan yang mengguyur begitu deras yang dinginnya menusuk. Padahal Aisyah gadis itu paling anti dingin. Syukurlah ia singgah sebentar dijalan, jadi ia dapat melihat sosok mungil didepan pintu restoran menunduk dan berdiam diri.
''Kakak masakin sesuatu? Adiknya Kakak mau makan apa?'' tanya muslim menanggup kedua pipi adiknya itu.
Bukannya menjawab gadis itu lagi-lagi menangis dan semakin deras. Muslim menghela napas, ia mengusap kepala Aisyah kemudian pergi meninggalkannya dengan semangkuk bubur disampingnya.
...
Ting!
Melihat sosok yang datang dengan kharismanya membuat HK Groub kacar-kacir.
Ia menatap jam ditangannya tak lama para karyawan telah berbaris menyambutnya.
''SELAMAT DATANG DI HK GROUB PRESDIR AM GROUB!!!"
Ia hanya tersenyum sejenak sebelum senyumnya luntur melihat presdir HK Groub.
''Apa yang membuat Anda datang kemari?'' tanya Sekertaris HK Groub.
''Saya punya tawaran menarik.... ,'' ucapnya menyunggingkan senyumnya.
Kenan menatap sosok laki-laki didepannya, laki-laki yang menghantam dunia bisnis. Jiwa muda yang dielukan, membangun bisnis dengan tangannya sendiri. Terkenal dengan ketelitian, ketegasan dan pengamatannya bagai cakrawala.
''Silahkan ikut keruangan saya,'' ucap Kenan mempersilahkannya.
...
''Kudengar proyekmu butuh dana dan pencerahan materi yang baru? Aku bisa menawarimu tawaran yang cukup menarik... Tapi apa yang akan kau berikan padaku?'' tanya Muslim tajam.
Kenan diam sejenak, sebelum senyumnya terangkat.
''Apa yang diinginkan AM Groub dari HK Groub?''
''Sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa... Aku ingin sahammu 7% untuk adikku... Dan perjanjian akan hasilnya kita bagi rata? Atau kau mau sesuatu?"
Kenan mengerutkan keningnya ia akan rugi bila bagi rata, apalagi ia harus menyerahkan sahamnya.
''20%"
Bukan Kenan yang menawar tapi Muslim.
__ADS_1
''15%'' ucap Kenan dengan wajah datar.
''Hahahah!!!'' tawa Muslim.
''Wah... Kau mau memerasku?! Saya yang mengeluarkan dana... Saya pula yang keluar materi tapi 15%? Kau yakin menawariku segitu?''
Kenan tersenyum simpul.
''Bukankah ini kerjasama jangka panjang yang tidak ada habisnya?"
Muslim terdiam cukup lama menimbang-nimbang.
''18% ... 3% Akan keberikan pada adikku... Setuju? Saya tidak mau menawar lagi, kau yang urus saja!!!'' ucap Muslim menyandarkan bahunya.
''Saya harap kerjasama ini bukan karna hal lain... ,'' ucap Kenan menggeluarkan secarcik kertas.
Muslim segera duduk tegak dengan ekspresi mengancamnya.
''Kalau iya? Apa kau akan membatalkannya K.E.N.A.N?''
Kenan terdiam cukup lama sebelum ia memandang dengan permusuhan orang didepannya.
''Kau sedang mencari ini-kan?'' ucap Muslim memperlihatkan Foto Aisyah yang sempat tersenyum ketika bersamanya, itu pun sangat langka, karna Aisyah selalu bersedih.
''Kau.. Kau siapa?'' tanya Kenan tajam.
''Apa yang kau tanya, Identitas? Atau hubunganku?'' tanya Muslim menaikkan alisnya.
''Dimana Aisyah?''
''Ia aman, hanya kurang sehat.. ,'' ucap Muslim sendu.
''Aku tidak mengambilnya, tuh,'' ucap Muslim acuh tak acuh.
''Sepertinya kau kurang mengerti... Bila saja adikku itu tak terus murung, aku tak akan Menemuimu,'' ucap Muslim dengan suara pelan.
''Adik?!!''
Muslim tersenyum.
''Perkenalkan... Saya Kakak aisyah yang paling disayanganya dan Kakak satu-satunya. Aku datang menawarimu untuk adikku... ''.
Ekspresi Muslim tiba-tiba berubah.
''Beraninya kau meninggalkan adikku dikegelapan dengan guyuran hujan!!!''
Kenan ia diam, Muslim memiliki alasan untuk memarahinya. Karna memang hal itu adalah kesalahannya, meninggalkan sang istri dan melupakannya.
Muslim menghela napas, ia menatap foto aisyah yang sedikit tersenyum dengan mata yang sembab.
''saham aisyah jadi 10%... Ingatlah ini AM Groub adalah pendukung aisyah.. ,'' ucap Muslim kemudian melangkah pergi.
''Jemput aisyah dirumahku... Jika kau membuatnya menangis lagi aku akan membawanya pergi jauh,'' ucap muslim sebelum benar-benar menghilang.
...
''Ais... Tidak mau peluk Kakak?'' tany muslim.
Aisyah terdiam cukup lama sebelun merentangkan tangannya.
__ADS_1
''Kak... Aisyah egois yah? Padahal Ais gak perlu marah... ,'' ucap Aisyah dengan air mata yang merderai.
Muslim tersenyum ia mengusap kepala adiknya itu dan mengataka ,'' tidak... Aisyah, adiknya Kakak layak marah...''.
''Kak apa yang akan terjadi jika Ais tidak pernah kembali?'' tanya Aisyah membuat muslim terdiam.
...Bila saja aku dapat mengatakan itu bukan hal buruk... terkadang perpisahan tidaklah buruk dari pada hidup dalam penderitaan. Melepaskan memang berat tapi disitulah akan ada kebebasan....
''kak..?''
Muslim tersenyum ia mengusap kepala adiknya kemudian pergi. Ia tak sanggup menjawabnya, karna hal yang ingin didengar adiknya berbeda dengan yang ingin dikatakannya.
....
Dengan ragu Kenan memencet bel pintu rumah muslim.
Cklek.
Muslim menatap laki-laki yang datang, ia terus memperhatikan dengan wajah datar. Jujur bila ia boleh egois, ia tak ingin melihat wajah Kenan, wajah yang menyakiti adiknya.
Muslim menggeser tubuhnya membiarkan Kenan lewat.
''Aisyah ada dilantai dua dikamar yang gantungannya pelangi,'' ucap muslim kemudian pergi.
Kenan berjalan menaiki tangga melewati beberapa kamar hingga menemukan kamar yang pintunya terdapat gantungan pelangi.
Tok, tok.
''Pintunya tidak dikunci, Kak,'' ucap Aisyah dari dalam.
Aisyah masih memeluk lututnya menangis, sudah tak terkira berapa banyak air matanya yang jatuh.
Ckelk.
Kenan menatap tubuh mungil yang kini terlihat lusuh dan sakit itu. Baru beberapa hari Aisyah menjadi lebih kurus.
''Aisyah,'' panggil Kenan pelan kemudian meletakkan seikat bunga didepan gadis itu.
Aisyah melirik laki-laki yang ada disebelahnya dari sela-sela lengannya. Melihat yang datang bukan Kakaknya membuat Aisyah perlahan mengangkat kepalanya, menatap sosok yang dari kemarin ia tangisi.
''Hik... Kakak jahat,'' ucap Aisyah kembali menangis memeluk lututnya.
Kenan diam cukup lama. Kemudian ia mengusap kepala Aisyah.
''Maaf... Kakak gak akan tinggalin Aisyah lagi,'' ucap Kenan menyandarkan kepalanya pada Aisyah.
Aisyah terdiam cukup lama, menangis seseuguk-segukkan. Kemudian ia mengangkat kepalanya menjulurkan jari kelingkingnya. Kenan menautkan jarinya dan memeluk Aisyah dengan erat.
''Kakak kangen... Aisyah maafin Kakak, yah?''
Aisyah mengangguk pela kemudian membalas pelukan suaminya itu.
Dari balik pintu Muslim melihat mereka dengan mata yang tajam. Kini ia akan ditinggal sang adik. Untuk seorang Kakak yang mencintai adiknya, melihatnya bersama laki-laki lain meskipun suaminya, itu cukup menyakitkan.
''Kak... Aisy mau pulang... ,'' ucap Aisyah menyadarkan lamunan Muslim.
''Ahk, Baiklah hati-hati... Sering-seringlah kemari,'' ucap Muslim kemudian mengusap kepala adiknya.
Kenan tersenyum hormat kemudian menggadeng istrinya untuk pulang. Pemandangan yang didepannya membuat muslim sedikit terhenyut dalam diam. Ia mengusap rambutnya pela dan tersenyum ringan.
__ADS_1
''Sudahlah yang penting adikku bahagia''.