Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Malaikat.


__ADS_3

''Rendy?''


Aisyah menghapus air matanya ternyata tanpa sadar ai berjalan kearah kantor Rendy.


Rendy bergegas kearah Aisyah untuk memayunginya.


''Aisyah ... Kau gak apa-apa?''


Aisyah memberikan senyuman terbaiknya.


''Saya gak apa-apa kok. Makasih,'' ucap Aisyah lalu melangkah pergi. Tubuhnya kembali diguyuri hujan.


Rendy hanya dapat mematung melihat apa yang terjadi didepannya. Haruskah ia menahannya? padahal Aisyah sudah menolak dengan lembut.


''Aisyah! Bahaya! sudah malam.''


Aisyah berbalik lalu tersenyum. Aisyah kembali melangkahkan kakinya, sepertinya sekarang ia tau harus kemana.


Gedung itu menjulang tinggi, tanah yang luas tapi tak memiliki gedung ataupun ornamen disana.


Aisyah membuka pintu yang tertutup. Gelap gulita hingga membuat dirinya mengigil ketakutan.


Aisyah terus naik hingga lantai paling tinggi.


Tok, tok.


Cklek.


''AGKHH!''


Ratna terkejut melihat penampakan Aisyah.


''Ai-Aisyah!!''


Ratna mempersilahkan Aisyah masuk. Setelah berganti pakaian, Ratna menyediakan susu hangat.


''Ais ... Kenapa?''


''Kami bertengkar ... Di-dia selingkuh.''


Greb.


Ratna langsung memeluk Aisyah erat. Pasti berat bagi Aisyah melalui ini semua.


''Apa yang akan kau lakukan sekarang?''


''Aku akan ambil cuti kuliah dan menata ulang hatiku.''


''Kalau begitu tinggal-lah disini.''


Aisyah menggeleng pelan. Ia menatap jendela besar yang memperlihatkan kota yang megah.


''Aish mau kerumah kakek, nenek. Aish mau menyiapkan hati untuk memilih antara berpisah atau bertahan.''


''Tapi ....''


''Iya, Aish tau kita tidak akan bertemu bila Aish kesana.''


Ratna memeluk Aisyah erat. Bila benar Aisyah akan pergi, maka ia benar-benar akan jauh karna berbeda pulau.


''Kau akan meninggalkan segalanya? orang tua, teman, sahabat juga ....''


''Ratna ... karna kamu paling tua. Kamu pasti juga mengerti. Anggaplah ini pelarianku, karna aku tidak setegar yang kamu kira.''


Ratna mengangguk. Malam itu mereka tidur dikantor Ratna juga rumah bagi Ratna. Pagi datang Aisyah sudah dibandara menunggu penerbangannya.


''Aish kamu gak apa-apa? Wajahmu pucat!''


Aisyah tersenyum untuk mengatakan dia baik-baik saja.


''Kau yakin? Penerbangannya sekitar enam sampai delapan jam.''


''Gak apa, Rat. Cuma lemes dikit kok.''


Ratna ikut naik pesawat untuk mengantar Aisyah sampai tujuan mereka.


Saat keluar dari bandara Aisyah tampak linglung.

__ADS_1


''Aish ... kamu beneran gak apa-apakan?''


Aisyah mengangguk pelan.


Nyuttt.


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan untuk menghilangkan rasa nyeri dikepalanya.


Tak.


Brak.


''A-Aisyah!!''


Aisyah jatuh pingsan. Ratna begitu panik terlebih disana ia tidak tau mengenai daerah sana.


"Aish!!"


...----------------...


Shut.


Ratna duduk disamping Aisyah. Ia tampak begitu frustasi.


'Apa yang harus kukatakan padamu ... Ais.'


''Ke-kenan ....''


Ratna menunduk dalam.


'bahkan disaat seperti ini kamu masih menyebut namanya.'


Aisyah membuka matanya, ia melihat Ratna yang menatapnya.


''A-ku pi-ngs-an ....''


Ratna mengangguk pelan, ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


''Aisyah kuharap kamu bersiap mendengar apa yang akan kukatakan.''


Aisyah menatap Ratna. Ia mengangguk pelan, apapun nantinya ia sudah siap.


Degh!


''A-aku h-amil?''


''iya.''


Ratna mengigit bibir bawahnya menahan rasa bersalah dihatinya. Ratna melirik Aisyah, ia tersentak Aisyah menangis dengan senyum diwajanya.


''A-is a-akan ja-di ib-ibuu?''


Ratna mengangguk lalu memeluk Aisyah.


''Selamat.''


Aisyah mengangguk pelan, ia memegang perutnya yang masih rata.


'didalam perutku ada seorang malaikat.'


Aisyah tiba-tiba tersadar.


'Sekarang apa yang harus kulakukan. Yaa Allah cobaan apa yang kau berikan. Anakku hadir ketika kami tidak lagi harmonis. Bila saja aku dan Kenan tidak bertengkar ... Ayahmu pasti akan senang sekali mendengarnya. Apa ini jawaban agar aku tidak berpisah dengannya. Anak tanpa ayah ....'


''Ais ... Sekarang kau mau bagaimana?''


Aisyah menatap langit kamarnya. Sekarang yang harus ia pikirkan bukan cuma dirinya tapi juga bayi yang ia kandung.


''Aku butuh waktu ... Mungkin juga ini pilihan terbaik agar Ais bisa jaga bayi Aisyah. Agar Aisyah tidak stress dan hanya memikirkan hal-hal baik.''


''Hufft ... Baiklah.''


Ratna mengantar Aisyah sampai dipondok.


''Aisyah gw pulang dulu, jaga kesehatan. Bilang kalau mau pulang.''


Aisyah mengangguk, ia melihat kepergian Ratna secara perlahan. Setelah benar-benar hilang Aisyah menarik kopernya untuk masuk.

__ADS_1


Aisyah jadi teringat dengan kakek dna neneknya. Sayangnya mereka telah tiada beberapa tahun yang lalu.


''Assalamualaikum.''


''Wa-Waalaikumussalam!''


''Aisyah! Kenapa gak ngabarin!!''


''Heheh maaf tante.''


Aisyah menyalam tangan tantenya lalu memeluknya dengan erat.


''Aisyah kesini sama siapa?''


''Sama sahabat Aisyah. Tapi sudah pulang.''


''Suami Aisyah mana?''


''Di-dia sibuk. Aisyah kesini buat refresing dari kota. Cari suasana baru.''


''Yaudah, Aisyah masuk gih.''


Aisyah masuk kedalam rumah, ia masuk kedalam kamar yang dulu ia tempati saat masih kecil.


Puk.


Aisyah merebahkan tubuhnya dikasur lalu ia mengusap perutnya pelan.


'Tumbuh dengan baik, Nak.'


...


Aisyah meminta izin pada tantenya untuk belajar mengajar para santri. Beberapa hari ia mengajar dirinya menjadi populer dikalangan santriwati.


''Ustadzah! Kapan masuk kelasku lagi.''


Aisyah terkekeh pelan lalu melihat para santri yang mengelilinnginya


''Nanti kalau ada waktu.''


Aisyah memegang buku-buku catatannya untuk mengajar dimasjid. Ia tidak mengajarkan banyak hal, salah satu yang ia ajarkan adalah membaca al-qur'an bagi yang tidak tau sama sekali.


''Haruf yang punya mangkok dengan tiga titik itu tsa. penyebutannya agak susah karna ujung lidah bertemu ujung gigi bagian atas.''


''Susah ustdzah.''


''Saya juga dulu susah banget sebutnya, ta'udz saja butuh berhari-hati. Bismillah apalagi satu minggu lebih gak kelar-kelar.''


''Ternyata susah yah belajar mengaji.''


Aisyah tersenyum mendengar mereka mengeluh. Pepatah lama mengatakan, bila terasa berat dan sulit artinya kita belajar karna bila mudah dan gampang itu namanya mengulang.


''Baiklah, kalian pelajari baik-baik. Diulang-ulang terus, kalau mau cepet bisa didepan cermin. Kalau masih kurang dirasa ulangi teras hingga penyebutannya sudah dirasa benar. Al-qur'an itu bacanya pakai hati, kalau hati bilang ada yang salah pasti ada yang kurang tepat.''


''Baik ustadzah. Terima kasih.''


Aisyah mengangguk lalu berdiri. Rasa mual tiba-tiba menyelimuti perutnya.


Aisyah buru-buru ketoilet memuntahkan isi perutnya.


''Huekkk!!''


Lama Aisyah dikamar mandi hingga rasanya ia lemes sekali setelah keluar dari kamar mandi. Isi perutnya keluar semua, rasanya ia tak punya tenaga lagi buat bisa berjalan.


Aisyah duduk sejenak, ia takut membahayakan bayinya. Setelah merasa baikan Aisyah segera pulang.


Aisyah mencari obat penghilang rasa mualnya dengan suplemen vitamin serta penambah berat badan.


''Nak, tumbuhlah dengan baik.''


Aisyah duduk ditepi ranjang. Ia telah menata hatinya dengan baik, berusaha memaafkan segalanya. Tapi Aisyah belum bisa memutuskan pilihannya.


Aisyah memblokir nomor yang dapat bersangkutan dengan kenan. Nomor kenan ia blokir, mertua, sepupunya, sekertarinya, bahkan ia hampir memblokir nomor jessica karna kakaknya teman kenan.


Drtt.


Aisyah mengambil handphonenya lalu melihat siapa yang menelponnya.

__ADS_1


momy call


__ADS_2