Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Kakak


__ADS_3

Drtt, drrt.


Kenan melihat handphonenya yang berbunyi.


Hadijah call.


Kenan mematikan handphonenya lalu melanjutkan rapatnya.


''Ish!''


Hadijah berdecak sebal. Ia mengigit kuku jarinya. Apa ia salah? Apa Kenan membohonginya? Ia mulai bertanya-tanya, apa panggilan pada pagi hari itu dari annisa?


Drtt, drrt.


Kenan melihat handphonenya tapi layarnya hitam, pandangannya mencari asal suara tersebut.


''Azka? handphonemu bunyi,'' ucap Kenan menengok kesamping.


Azka segera mengambil handphonenya lalu mengangkatnya. Kenan mengernyitkan dahinya.


''Kenapa kau angkat? Kita sedang rapat!''


''T-tapi in-''


''Matikan!''


'Aku tak ingin berbicara dengan dijah.'


''Berikan pada Kenan.''


Azka menempelkan handphonenya pada Kenan.


''Apa-''


''Aisyah mau kerumah mama Aisyah.''


Degh.


Kenan langsung mengambil handphone Azka lalu keluar dari ruang rapat.


''Ais kenapa?''


Glek.


Kenan menelan salivanya berat. Aisyah tak mungkin meninggalkan-nya, kan? Ia dan Aisyah bukannya sudah baikan? apa Aisyah masih marah? Apa Aisyah akan k-kepengadilan! Pulang kerumah orang tua!


Kenan menghentikan langkahnya dirinya terlalu terkejut.


Degh, degh.


''Gak, gak kok. Ais ... cuma ... kangen bunda.''


Kenan menarik napas dalam-dalam. Tapi ia tetap khawatir.


''Saya antar ke-''


''Gak usah! Ais ... Diantar kakak.''


Degh.


Kakak? apa muslim sudah tau? Apa ini awal dari perpisahan mereka?


Jaga Aisyah baik-baik. Jangan sampai menyakitinya.


Kenan teringat dengan ucapan muslim yang mengandung ancaman didalamnya. Bila kakak Aisyah benaran tau, ia tak akan memiliki kesempatan apapun lagi.


''Tadi Ais lagi dijalan gak sengaja ketemu kakak. Katanya ia ada tuga disana ... Jadi Ais ikut saja.''


'Untuk menenangkan diri dari kenyataan tentang perbuatanmu ... Suami sempurna itu telah menyakitiku begitu dalam.'


''Ais ....''


Kenan tidak dapat mengatakan apapun, bibirnya kelu hanya untuk sekedar bertanya. Karna pertanyaan dapat memicu pertengkaran mereka.


''Ais ... Beneran cuma kerumah bunda?''


''Iya cuma kerumah bunda.''


'Bohong ... Ais kesana buat mencari pekerjaan.'


''Aisyah kapan pulang?''


''Kata kak muslim setelah urusannya selesai baru kita akan pulang.''


''Baiklah ... Hati-hati.''

__ADS_1


Tut.


Aisyah menghela napas panjang lalu melirik kakaknya yang dengan santai mengemudikan mobil.


...


Aisyah turun dari taksi, ia duduk ditaman sambil berpikir tentang kedepannya. Yang Ratna katakan benar, mungkin saja saat ia benar-benar lelah ia akan mengikhlaskan segalanya lalu memilih bercerai.


Tes.


Air mata yang kering kembali berair. Aisyah rasa ia menjadi lebih sensitif.


Seorang laki-laki yang baru saja keluar dari gedung pintu raksasa mengerutkan dahinya melihat sosok yang dikenalnya.


''Adek kenapa kemari?''


Muslim melangkah ke arah taman depan perusahaannya. Ia tiba-tiba melihat sebuah balon juga kembang gulali tak jauh dari tempatnya berjalan saat ini. Kakinya berhenti melangkah lalu berbalik menatap sekertarisnya yang dati tadi bingung kemana Ceo mereka akan pergi.


''Saya ada tugas penting buat kalian!''


Para sekertarisnya saling memandang lalu menantikan apa yang akan diucapkan lagi olehnya.


''Saya pilih ... Kamu!''


Tunjuk Muslim pada sekertaris perempuan yang baru saja ia angkat.


''S-saya?''


''Ia kamu!''


Sekertaris itu membungkuk lalu mengatakan, ''Saya akan melakukan tugas penting yang anda serahkan dengan baik!!''


Muslim tersenyum lebar mendengarnya. Mungkin beberapa orang taunya ia dingin lalu cuek, tapi nyatanya ia tetap seorang kakak yang paling menyayangi adiknya.


''Kau liat penjual balon dan gulali itu?''


Para sekertarisnya melihat mereka lalu mengangguk.


'Apa akan ada rencana baru di kepalanya?' isi kepala sekertaris pertamanya.


'Ceo kita tak akan mengusir mereka,kan?' pikir sekertaris pribadinya.


'Apa ia akan memberi mereka sesuatu? uang misalkan?' Sekertaris perempuan Muslim tersenyum lebar dan berpikir ceo mereka sangat baik.


''Kamu pergi beli semuanya lalu susun dengan baik disekitar taman dan jangan sampai ketahuan! Lalu suruh buat gulali yang paling menarik sebanyak-banyaknya.''


Muslim menunjuk sekertarisnya juga sekertaris pribadinya untuk ikut kesana.


''Kalian pegangkan gulalinya. Lalu nanti balonnya yang pink itu kasih padaku. Paham?!''


''Paham!''


''Oh iya ... Gunakan uang yang ada didompetku.''


Muslim melemparkan dompetnya lalu berjalan dengan cepat kearah taman. Muslim bersembunyi dibalik pohon melihat Aisyah.


Aisyah tidak sadar ia berada disana. Ia hanya menyuruh sopir taksi membawanya kemana saja lalu ia tanpa berpikir turun saat melihat sebuah taman.


''Ini balon pinknya, Pak.''


Muslim mengambilnya lalu segera kesana setelah semua yang ia suruh telah dikerjakan oleh sekertarisnya.


Langkah muslim terhenti, ia berbalik lalu menunjuk mereka satu persatu. ''Kalian baris yang rapi dibelakangku.''


Muslim langsung tersenyum begitu lebar. Ia mengambik balon pink lalu menutup wajahnya. Muslim berdiri dibelakang Aisyah lalu memunculkan kepalanya disamping kepala Aisyah.


''Astagfirullah!! Kaget Ais!''


Muslim menggeser balon yang ada didepan wajahnya lalu tersenyum sumringan.


Aisyah buru-buru berbalik menghapus air matanya.


''Aya kenapa?''


''Kelilipan, Kak.''


Muslim duduk disamping Aisyah lalu menepuk bahunya. ''Sini kakak lihat.''


Aisyah berbalik lalu tersenyum begitu lebar.


''Aisyah udah gak apa-apa.''


''Tapi mata Aya merah tuh.''


Aisyah tersenyum kikuk namun sebisa mungkin ia mempertahankan senyumannya agar kakaknya tidak mengetahui apapun.

__ADS_1


''Ya-kan kelilipan.''


Muslim mengangguk setuju. Ia mengenggam tangan Aisyah lalu menenggok melihat sekertarisnya yang berbaris kebelakang.


'Aduh bukan begitu.'


Muslim melotot pada mereka. Para sekertarisnya saling memandang tetapi tidak mengerti sama sekali.


Muslim menggeleng pelan lalu mengunakan isyarat mat untuk berbaris berbentuk shaf.


''Kakak kenapa?''


Aisyah melihat arah mata Muslim.


Puk.


''Aduh! Kak! Kok mata Aya ditutup!!''


Muslim menatap garang pada sekertarisnya lalu menggunakan isyarat tangan satunya untuk berbaris dengan benar.


Para sekertarisnya langsung berbaris dengan benar secepat kilat.


Tuk.


Tangan Muslim disingkirkan oleh Aisyah, ia menatap kakaknya meminta penjelasan. Mata Aisyah melihat kearah ia ingin lihat tadi.


''Wah ... Itu buat Aya?''


Muslim mengangguk, ia menunjuk disebelah kiri lalu mengatakan, ''Itu beruang, yang tengah gajah dan yang dipinggir kanan ....''


''Hati!'' ucap mereka bersamaan.


Muslim menggunakan isyarat tangannya memanggil mereka. Aisyah mengambil hati lebih dulu lalu memakannya.


''Manis.''


''Kaya Aisyah.''


Aisyah terkekeh mendengar perkataan Muslim.


''Aisyah kenapa kemari?''


Degh.


''A-aisyah ....''


''Kangen Muslim?'' pedennya.


''Gak kok.''


Muslim tersenyum masam. Aisyah terkekeh pelan lalu kembali memakan kembang gulalinya.


Tes.


Tanpa Aisyah sadari ia kembali menangis. Kehangatan muslim membuat mata Aisyah memanas. Katakanlah ia sangat sensitif sekarang bahkan untuk hal kecil saja.


''Aisyah gak apa-apa?!!'' khawatir Muslim.


Ia memandang sekretarisnya dengan tajam.


''Perut Aisyah sakit? Atau ada yang sakit?!''


'Kak ... Hati Aisyah yang sakit ... Aisyah tidak bahagia kak. Aisyah hancur ... Setiap hari Aisyah harus makan hati melihat-nya, mengingatnya, memakluminya. Mungkin Aisyah memang tak ditakdirkan bersamanya. Kak ... Bagaimana aku bisa mengatakannya ... Didepanmu yang khawatir denganku. Bahwa ia yang kau percayai menjagaku adalah laki-laki yang menusuk hatiku.'


''Aisyah ....''


Muslim memeluk Aisyah yang tak mengatakan apapun tapi Air matanya tak henti-hentinya turun.


''Aisyah kangen mama ... Aisyah kangen mama!!!''


Aisyah memeluk muslim dengan erat, menangis sejadi-jadinya. Ia melampiaskan segalanya dan juga berbohong.


Aisyah tidak menangis karna rindu akan ibunya tapi ia memang benar-benar butuh seorang ibu untuk mendukungnya sekarang. Disaat dirinya begitu rapuh, ia butuh rumah untuk kembali, untuk bersandar. Dan ibu adalah yang terbaik dari setiap masalah dunia yang kita hadapi untuk bersandar.


Orang-orang dapat pergi, kasih sayang dan cinta dapat hilang. Tapi kasih sayang sang ibu tak akan pernah habis, tak akan pernah usai. Banyak lagu yang mengisarkan kasih sayang ibu tapi hanya beberapa orang yang benar-benar memahaminya ... seperti sebuah lagu lama.


Kasih ibu kepada beta


Tak terhingga sepanjang masa


Hanya memberi tak harap kembali


Bagai sang surya menyinari dunia.


Kasih sayang ibu tak pernah habis ataupun usai, tak ada yang bisa mengukurnya karna terlalu banyak ... Dari kita dalam kandungan sampai besar. Prioritas seorang ibu adalah anaknya, baru dirinya. Tatkala ia lebih menyayangi anaknya dibanding dirinya. Sering dijumpai anak yang cantik jelita dengan ibu yang tak lagi elok dipandang. Baju cantik untuk sang anak dengan daster yang ditambal seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2