
"Kamu dari mana?" tanya Kenan melihat Aisyah datang, bahkan ekspresinya datar dan tak mengucapkan sepatah katapun melaluinya begitu saja.
Kenan memincingkan matanya melihat sebuah jas pria bertaut dipundak sang istri.
''Kamu pergi sama siapa?''
Deg.
Aisyah mematung dianak tangga terakhir dilantai dua.
''Kenan gak jemput Aisyah?'' satu pertanyaan itu membuat perang dingin dimata mereka.
''Sa-''
Brak!
Kenan menatap pintu kamar yang baru saja dibanting oleh Aisyah.
...
Kenan masuk kedalam kamar, tapi tak melihat keberadaan Aisyah disana. Ia kembali menghela napas kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Tak, tak.
Suara langkah kaki yang menuruni tangga membuat Aisyah menghela napas. Kesal dan marah bercampur aduk dihatinya, kegelisahaan serta kekhawatiran membuatnya tak nyaman.
Aisyah bergegas pergi saat melihat Kenan turun dengan pakaian tidur dengan rambut basah.
Kenan hanya dapat melihat kepergian istrinya tanpa ingin mengatakan apapun. Ia marah karna Aisyah tak mau menjelaskan apapun dari mana jaket itu yang bertaut di pundaknya.
"Besok aku diantar sopir aja."
Kenan memincingkan matanya. Tapi belum sempat ia menolak Aisyah sudah naik kekamar.
Puk.
Aisyah menjatuhkan tubuhnya keatas kasur yang lebar tersebut.
Puk!
Puk!
Aisyah memukul bantal dengan kesal.
Kenapa juga ia harus marah untuk hal sepele. Berpikir positiflah ia tidak dijemput karna hujannya deras atau Kenan kira ia sudah pulang.
"Tapi tetap saja mengesalkan!"
"Dari mana jas itu? Dari siapa lagi?! Tentu saja dari Kakak!" Aisyah berucap dengan menggebu-ngebu. Tapi dirinya terlalu malas untuk menjelaskan segalanya.
Aisyah menghela napas panjang.
"Bentar... Tapi kita gak punya sopir!''
Aisyah baru sadar dan malu sendiri.
"Akhhh, mengesalkan!!"
Ia terus memukul bantal untuk melampiaskan amarahnya. Detik berikutnya ia tertidur dengan nyenyak tanpa beban sama sekali.
Cklek.
__ADS_1
Kenan masuk kedalam kamar, ia melihat istrinya yang sudah tertidur dengan penampilan keacak-acakan.
"Aisyah ... ." Kenan berucap pelan sambil mengusap kepala Aisyah dengan lembut. Kenan menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah sang istri.
"Besok kamu diantar jemput sama sopir, jadi gak bakal kehujanan lagi ... Ma-af saya gak tau kamu masih menunggu ... Jujur saya cemburu melihatnya, membayangkan laki-laki lain melihat tingkah manjamu."
Cup!
Sebuah kucupan mendarat diatas dahi Aisyah, Tapi Aisyah sama sekali tidak akan pernah tau hal tersebut.
Kenan membaringkan tubuhnya disamping sag kekasih.
"Jangan marah lagi ... " Kenan berucap pelan sambil tersenyum.
...
Aisyah bangun dengan perlahan. Rasanya menganjal karna ia bangun sendiri yang biasanya akan dibangunkan oleh sang suami. Tapi Aisyah sama sekali tidak melihat batang hidungnya dari sejak bangun.
Mungkin ini juga pertama kalinya Aisyah sholat shubuh sendirian.
Aisyah menatap nasi goreng yang ada diatas meja makan. Tangannya tak henti-hentinya mengaduk nasi goreng tersebut. Sepanjang pagi ia tidak melihat wujud sang suami, Kenan pergi begitu pagi dengan menyisahkan nasi goreng buatannya dengan secarcik kertas.
Dimakan.
Benar-benar singkat. Aisyah menghela napas begitu panjang, ia tidak tau harus bahagia atau sedih. Dirinya malah merasa tidak enak entah dibagian mananya.
''Nona mau singgah kesuatu tempat?"
Lamunan Aisyah langsung buyar mendengar suara sopir yang baru saja dipilih oleh Kenan. Dirinya terus berdiri didepan pintu mobil tanpa niat untuk masuk.
"Tidak, kita segera kekampus!"
Saat dimobil Aisyah melihat pantulan dirinya dicermin depan mobil. Dulu dia duduk disamping Kenan, sesekali bercerita. Tapi kini ia duduk dibelakang diantar oleh orang lain.
"Ini salah Kenan! Siapa suruh ia gak jemput! Gak akan ketemu kak umar kalau dia jemput! Kakak juga gak akan khawatir! Dasar laki-laki, semua laki-laki sama saja!''
Tanpa sadar dirinya mengoceh sendiri. Detik berikutnya ia tertawa dengan kalimat terakhirnya.
''Gak deh, ada yang beda ... Suamiku banyak uang, juga wajah diatas rata-rata,'' Aisyah berucap dengan bangga. Lalu dia tersadar bahwa disana masih ada orang lain selain dirinya. Yaitu sopir yang mengantarnya.
"Ekhm!"
Aisyah berdehem untuk menetralkan ekspresinya yang perlahan terasa panas dipipinya karna malu.
Setelah sampai Aisyah bergegas keruang kelasnya. Ditengah jalan ia bertemu Umar.
'Aduh kok ketemu sih pas banget lagi pengen buka pintu kelas,' batin Aisyah. Namun ia tetap tersenyum.
''Bapak masuk duluan saja.''
Umar tersenyum dan mempersilahkan Aisyah masuk lebih dulu. Tanpa berpikir dua kali ia masuk duluan.
Aisyah menghela napas begitu panjang hingga membuat kening hafsah berkerut.
''Loh kenapa?''
''Enggak apa-apa.''
''Assalamualaikum.''
''Waalaikumussalam,'' serempak semuanya.
__ADS_1
Kelas dimulai dengan tenang tapi Aisyah malah terus melamun.
Dugh.
Hafsah menyenggol lengan Aisyah yang masih saja melamun walau kelas sudah berakhir.
''Kenapa?'' tanya Aisyah membuat Hafsah mengusap dadanya.
Berkali-kali sudah dipanggil tapi sang empunya sibuk dengan dunianya.
''Pulang!''
''Pulang?'' Aisyah memiringkan kepalanya kurang paham.
''Pulang, Syah! mau tinggal disini sama hantu?!''
Aisyah melihat sekitar yang telah sepi, perasaan tadi baru mulai kelas.
"Iya, kita harus pulang!'' ucap Aisyah agak canggung. Ah dia tidak pernah fokus dari sejak awal turun dari mobil, pikirannya hanya berpacu pada Kenan.
'Haruskah aku minta maaf dan berdamai? atau bersikap layaknya tidak terjadi apa-apa? kenapa juga aku harus memikirkan hal itu sepanjang hari tanpa memperhatikan mata kuliahku!!' Aisyah menghela napas begitu panjang. Rasanya ia capek sendiri dengan pikirannya.
Brak!
"Aduh, sakit yaa Allah!'' keluh Aisyah.
"Buahahah, lawak banget loh Aisyah. Masa tembok yang segede gini aja gak liat!" tawa Hafsah pecah melihat dari tadi Aisyah terus melamun. Hingga muncul sikap jailnya untuk membiarkan Aisyah terus jalan, apakah ia akan tersadar atau kepalanya malah tertabrak tembok.
''Sakit tau Hafsah!'' sebel Aisyah.
''Makanya jangan kebanyakan melamun. Kaya mau perang dunia aja tau muka kamu tuh kaya bilang tiada masalah yang paling berat selain masalahku,'' ledek Hafsah membuat Aisyah jadi mencubitnya.
"Awh! bercanda cantik!''
Aisyah langsung melepaskan cubitannya dan kembali menghela napas panjang. Ia teringat Kenan, pagi ini ia tidak melihatnya. Apa Kenan marah besar padanya, tapi Kenan masih berbaik hati membuatkannya makanan untuk sarapan bahkan menurutinya untuk meminta sopir.
''Mulai lagi deh wajah-wajah bilang, ah masalahku begitu berat,'' ucap Hafsah mendramatis.
''Mau refresing gak?'' ucap Hafsah memegang pundak Aisyah.
Aisyah melihat Hafsah dengan tatapan 'Aku tertarik.'
''Let's Go!''
Hafsah menarik Aisyah dengan cepat entah kearah mana.
''Tara!!!''
Aisyah manatap Hafsah seolah bertanya-tanya ada apa dengan tempat ini.
Dengan senyum menawannya Hafsah menariknya masuk kedalam sebuah tempat makan tersebut dengan antusias.
''Kita makan bakso larva!''
Degh.
''E-ng-''
''Ayo Syah! Enak loh! bikin kepala jadi mencair rasanya karna pedasnya, rasanya masalah hidup akan hilang karna pedasnya membahana!'' ucap Hafsah menggebu-ngebu.
Glek.
__ADS_1
''Baiklah.''