Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Aku lelah, bawa aku pergi.


__ADS_3

Cafe.


''ngapain?''


''enggak ada apa-apa ... ,'' santai.


''Kenapa sih lo jauh-jauh kesini? Kupikir lo bakal sibuk karna proyek baru,'' ucap Aisyah cemberut.


''Yah gak gimana-gimana sih cuma iseng aja,'' ucapnya santai sambil meminum Jus pesanannya.


''Santailah Syah, lagian akukan cuma perwakilan, sisanya dikerjain sama bawahan,'' ucapnya santai. Yah dia adalah Ratna, dan entah apa yang terjadi dia ingin bertemu Aisyah dan itu didekat rumahnya Aisyah.


''Btw, Lo gak berencana kesana gitu, gw pastiin lo terkagum-kagum,''ucapnya dengan serius.


''Gak!!''ucap Aisyah cepat.


''Ilih kenapa sih gw kerja sama, sama orang kaya lo syah ... ,'' ucapnya mengehela napas.


''Terus yang ngajak siapa? bukannya kalian yang datang yah keaku? lagian kalau bukan karna aku mana mungkin kalian menepaki jalan ini,'' ucap Aisyah membuat Ratna menampilkan seutas senyum.


''Serius deh kenapa sih Gw harus ketemu lo disini!!!''


Mereka berdua menengokkan kepalanya.


''Kana ... ,'' mereka berdua berucap dengan pelan.


''Hem ... Lo gak berubah yah Syah, apa lo masih jadi sok suci buat narik laki-laki,'' Kana berucap dengan tajam.


Deg.


''Kana!!!'' bentak Ratna tak senang.


''Sudah ratna, aku gak apa-apa ... kita pergi ketempat lain saja,''ucap Aisyah menahan Ratna dan mengambil tasnya untuk pergi.


''Yah lebih baik kita pergi dari sini, aku gak mau makan dengan orang yang suka iri,''ucap Ratna menahan emosinya.


''Kamu!!!'' Terlihat diwajahnya memerah karna marah.


''Ck ... Dasar perempuan tidak tahu malu, kamu masih menjerat umar sampai sekarang!!!!'' ucapnya menatap Aisyah dengan tajam.


Deg.


Deg.


''Apa maksudmu!!!!'' tanya Ratna berbalik.


''Heh?!! Kau tidak tahu, Temanmu itu berduan dengan umar dikafe ini,'' ucapnya dengan sombong seolah menemukan kelemahan lawannya.


''Ratna ... ,'' ucap Aisyah pelan menarik tangan Ratna.


''Hah?!!! Jangan menyebarkan Fitnah!!!''ucap Ratna menggempalkan tangannya.


Orang yang didepannya ini tiada hentinya membuat berita buruk untuk sahabatnya. Hanya karna dia tidak bisa menggalahkan Aisyah dalam apapun, pelajaran, cinta, prestasi, bahkan kekayaan yang bukan milik mereka seutuhnya.


''Kenapa?! Kau takut ketahuan bahwa sahabatmu memang biadap?''tanyanya dengan menyunggingkan senyum mengejek.


''Sialan kau!!!'' teriak Ratna ingin menampar mulut Kana.


Tap.


''Tidak-tidak, jangan Ratna!!!'' ucap Aisyah menahan Ratna.


''Huh ... Aisyah ayo kita segera pergi,''ucap Ratna berbalik pergi.


''Kenapa? Kau takut semuanya terbongkar? Orang tuamu pasti kecewa punya anak sepertimu ... Atau itu didikan orang tuamu, pfttt,'' dia tertawa cekikikan dengan begitu santai.


Deg.


Drap.


Drap.


Aisyah mendekati Kana dan mengayunkan tangannya.


Plak.


''Ka-kaparat?!!!!'' Dengan cepat dia menerjang Aisyah.

__ADS_1


''Aisyah!!!!'' ucap Ratna terkejut dan berusaha memisahkan mereka.


''Beraninya kau menamparku!!!''


''Apa hakmu mengatakan sesuatu tentang orang tuaku!!!!''ucap Aisyah terbawa emosi.


''Kalian jangan bertengkar disini!!!!'' ucap pemilik kafe yang datang karna mendengar keributan.



Kantor polisi.


''Saya sudah menelpon kedua orang tua kalian,'' ucap Pak polisi.


Aisyah terdiam, dia bahkan sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. dia menyuruh Ratna untuk pulang, dia tidak ingin ini menjadi masalah untuknya.


Drap.


Drap.


Suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar begitu keras.


Brak.


''Putriku!!! Kau tidak apa-apa, Nak,'' Seorang wanita datang membuka pintu begitu keras. Dia ibu Kana, terlihat dia bergitu menyayangi putrinya.


''Nak, apa yang terjadi dengan pipimu?'' tanya Ayah Kana yang khawatir.


Mereka melirikku dan menatapku dengan tajam. Mereka keluarga bahagia, aku bahkan sudah siap menulikan telingaku mendengar caci makian mereka.


''Da-'' ucapnya terpotong saat seseorang datang.


''Saya minta maaf akan kesalahan putri saya!!!'' ucapnya cepat.


Aku tau suara ini, dia ayahku, dan lagi-lagi ayahku menunduk meminta maaf.


''Heng!! ...Aku akan memaafkan putrimu jika kau melakukan apa yang putrimu lakukan pada anakku!!!'' ucap Ayahnya dengan angkuh.


Ayah aisyah menelan ludahnya berat, dia memajamkan mata sejenak kenudian membukanya dengan pasti.


Drap.


Langkah kaki yang pelan membuat jantung Aisyah berdetak dengan cepat. Aisyah mendongkakkan wajahnya menatap wajah ayahnya, terlihat dimatanya sebulir bening yang menyilaukan.


Plak.


Tamparan itu tidaklah keras, namun tetap berbekas dan menyayat hatinya.


''Biaya perwatan anak saya juga harus diganti!!!'' ucap Ibu Kana.


''Baiklah, ini kartu nama saya,'' ucap Ayah Aisyah memberikan kartu namanya.


Kana dan keluarganya segera pergi meninggalkan Aisyah yang terus memegang pipinya yang terasa panas.


''Ai-'' ucapan Abbi aisyah terpotong karna Aisyah sudah bangkit dan melangkah pergi.


Selama diperjalanan pulang tidak ada percakapan diantara mereka. Abbinya sibuk menyetir dan Aisyah yang tidak ingin bicara dengan ayahnya terus menatap kejendela.


Dratt.


Mobil berhenti tepat didepan rumahnya.


''Aisyah ab-''


Brak.


Aisyah langsung turun tanpa mendengarkan ucapan abbinya sama sekali.


Drap.


Drap.


Aisyah berlari kekamarnya, hatinya sakit, hancur, dia kecewa. Tidak ada yang berubah, dia tetap lemah dan dia tetap tidak bisa membela dirinya. Abbinya masih saja sama, dia tidak menanyakannya.


''Hik, hik, kenapa ... aku tidak tahan lagi,'' ucap Aisyah mengambil handphonenya dan menekan satu persatu sebuah nomor.


Tak.

__ADS_1


Tak.


Drtttt.


''H-''


''Bawa aku pergi!!! Aku ingin pergi dari sini!!! Hiks ... b-bawa aku pergi!!!!'' Tangis pilu Aisyah membuat jantungnya berdetak dengan cepat.


''Baiklah, aku kesana ... tunggu aku. Jangan keluar rumah, tetaplah dikamar, jangan buka pintu kamar jika itu bukan aku,'' ucapnya lembut menenangkan Aisyah.


Brakk.


Aisyah terjatuh dibalik pintu kamarnya, meringkuk dan menangisi segalanya. Hidupnya tidaklah seindah dongeng yang sering didengarnya, pangeran, cinta, istana, peri, itu semua tidaklah nyata.


2 Jam kemudian.


Brummm.


Suara mobil yang khas membuat Aisyah segera keluar kamarnya dan berlari turun.


Drap.


Drap.


Aisyah melihat sosok pria yang terlihat berantakan dengan keringat membasahi tubuhnya. Pria itu menatap Aisyah dengan senyuman lembut. Aisyah segera berlari berhambur kepelukannya.


''Huaah!!!'' Tangis Aisyah pecah dipelukannya, semua segala keluh kesahnya keluar begitu saja.


Dia memuluk Aisyah dengan hangat, membiarkan Aisyah menangis sepuasnya.


Deg.


Jantung Umi Aisyah berdetak dengan cepat, dia membuka tirai kamarnya.


Syuttt.


''T-tidak ... A-aisyah!!!!'' ucapnya terkejut setengah mati melihat pemandangan yang ada didepan rumahnya.


Syuttt.


Laki-laki itu menyadari sepasang mata yang menatapnya dengan tajam, dia segera menarik Aisyah masuk ke mobilnya.


''Kita pergi sekarang!!!''


Drapp.


Drap.


Brummm.


Umi Aisyah keluar dari rumah dengan cepat. Akan tetapi ketika dia keluar mobil itu sudah melaju pergi.


Brakk.


Umi Aisyah langsung terjatuh seketika, kakinya terasa lemas melihat putrinya pergi.


''Tidak!!!! A-aisyah!!!!'' teriaknya histeris. Para pelayan yang mendengar teriakan itu segera menghampiri Umi Aisyah.


''Nyonya ... .''


Tes.


Dengan tangan gemetaran dan air mata yang mengalir deras, dia menelpon suaminya.


''Um-''


''APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAKKU!!! AISYAH PERGI!!!! A- aisyah pergi ... Aisyah pergi, Mas.'' Kemarahannya yang memuncak perlahan menjadi sebuah tangisan yang begitu pilu.


Deg.


''Huk, Huhhuh ... A- aisyah pergi.''


Jantungnya memompa dengan cepat hingga menjatuhkan handphonenya.


Brakk.


Trakk.

__ADS_1


__ADS_2