Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Pertemuan.


__ADS_3

"Jadi ...?"


Mereka semua menatap Aisyah penuh tanda tanya. Rasanya jantung Aisyah akan lepas dari tatapan ke-kepoan mereka.


Mereka sekarang berada direstorant lantai atas khusus VVIP yang dipesan oleh Ratna.


Ratna yang sering bertemu Aisyah saja tidak tau, apalagi mereka yang bahkan bertemu Aisyah setelah sekian lama itu sudah keajaiban dari ilahi.


"Sebenarnya ... Aku sudah lama menikah,'' tutur Aisyah pelan.


"Apa!!" Kejut mereka.


"Sejak kapan?" tanya Celsie.


"Sekitar enam sampai tujuh bulan lalu kayanya deh," ucap Aisyah berpikir-pikir ia kurang ingat kapan ia menikah.


Crsss!


Semua mata langsu tertuju pada Jessica yang menumpahkan air minumnya.


"Jes!" pekik mereka.


Jessica langsung berdiri dan melihat pakaiannya.


"Hanya terciprat," kekehnya pelan.


Ekspresinya langsung berubah serius ia berucap pelan sambil menatap mata Aisyah, "Saat kita reuni itu kamu sudah menikah?"


Aisyah mengangguk pelan yang disambut kehebohan dari mereka.


"Wah gila sih! Masa gak ajak-ajak, Fiks kayanya kita gak dianggap!" Sahut Raina kesal.


"Rat, Kok lo diam aja?" tanya Celsie.


"Lagi mikir," ucapnya singkat.


"Suami lo tau apa yang lo kerjain?" tanya Ratna menebak-nebak.


Aisyah menggeleng pelan yang mendapat sambutan sorakan dari Jessica.


"Wah parah nih!!!"


"Udah dulu Jes!" ucap Raina ingin mendengar kelanjutan ucapan Ratna.


"Hufth, Jadi saat itu tak lama kemudian kamu menikah. Tak mengatakan apapun padaku ... Jangan mengatakan bahwa kau takut dan tak ingin berbagi bebanmu?"


Rasanya tertusuk hingga keulu hati Aisyah. Benar, yang dikatakan Ratna sangat benar.


Mereka semua seketika menjadi diam. Persahabatan mereka kembali diuji lagi dan lagi.


"Syah, Kami tau pasti berat untuk berbagi. Tapi saat kau butuh teman bicara, aku akan siap mendengarmu," ucap Raina memegang bahu Aisyah.


Aisyah tersenyum haru, mungkin ia juga yang terlalu egois untuk berbagi cerita dengan mereka.


"Nah, sekarang ayok ceritakan," seru Celsie.


......................


"Aisyah, ada baiknya lain kali kamu cerita, yah. Apalagi sekarang usaha yang kita rintis bukan hanya usaha kecil-kecilan. Gak mungkin juga selamanya akan tersembunyi,'' nasehat Ratna membuat Aisyah berpikir memang ia harus jujur pada keluarganya.

__ADS_1


"Hanya Aku yang beda," ucap Jessica menjatuhkan kepalanya dimeja.


"Iya makanya kalau udah sukses balik sini nanti kita perluas bisnis kita kebidang perumahan,'' ucap Aisyah tersenyum lebat.


Plak.


Satu templengan dari Ratna membuat Aisyah kesakitan.


"Gak usah!" ucap Raina cepat.


Jessica menatap mereka kemudian tertawa.


"Kalian jangan begitu juga, gak ada salahnya Aisyah bilang gitu. Aku juga sudah mulai capek terus jadi artis."


Mereka semua menghela napas panjang.


"Jangan bahas itu lagi, mari kita bahas hal yang lebih menyenangkan!" ucap Celsie bosan membahas bisnis.


...----------------...


Aisyah duduk dikamar sambil menyisir rambutnya yang panjang. Ia cukup kepikiran apa yang dibilang oleh ratna. Tidak lama lagi mereka akan buka cabang di paris, satu peningkatan terhadapan bisnisnya. Mungkin tak lama lagi rencana bisnis perumahannya akan segera tercapai. Sebagai satu-satunya investor biaya yang dimilikinya mungkin tak akan cukup, ia juga harus bersiap akan kerugian agar mereka tidak harus memulai dari jika mengalami kebangkrutan.


Aisyah jadi teringat awal mula mereka merintis usaha meraka saat itu ketika Ratna dan Raina baru saja lulus, mereka merintisnya sambil kuliah. Betapa beratnya itu, enam bulan dari itu mereka bangkrut. Kebangkrutan itu membuat Ratna dan Raina benar-benar hancur. Hati Aisyah menjadi kelu melihat mereka, kerugian yang ia terima mungkin hanya uang yang selama ini ia kumpulkan hilang, tapi ia masih bisa hidup seperti sebelumnya. Dari situ ia belajar bahwa disitu bukan hanya ia yang berperan tapi juga mereka. Aisyah belajar banyak tentang bisnis, mempelajari segalanya agar saat keruntuhan, sahabatnya tak akan menderita.


Meski mereka berdua berbohong pada Aisyah. Aisyah pernah melihat Raina berlari kesana kemari menawarkan desainnya pada mereka. Ia melihat Ratna ditengah hujan dengan wajah lebam. Kleinnya tidak suka dengan hasilnya.


Suatu hari Aisyah menemukan mereka tidur dijalanan. Enggan untuk mengatakan kepada orang tua kegagalan mereka, tidak dapat bercerita dan menyusahkan orang lain.


Plak!


"Kenapa kalian gak cerita sama Aisyah! kalian pikir Aisyah apa?! Aisyah juga bagian dari usaha ini!!!"


Greb!


"Maaf Syah. Kami tau kami yang mengajakmu, kami gak mau kamu semakin kesulitan," ucap Ratna pelan.


"Gak! Aku gak mau mendengarnya, bila kalian hancur aku juga akan ikut bersama!"


Saat itu ia mempertaruhkan segala yang ia punya. Barang yang bisa ia jadikan uang ia jual, bahkan saat hari ulang tahunnya ia menjual hadiah yang diberikan padanya.


"Pfft."


Aisyah terkekeh kecil saat itu haruskah ia bersyukur kakaknya tidak memberinya hadiah malah sebuah kartu yang berisi uang.


Mereka kembali merintis usaha yang hancur, memulai dengan lebih baik dari sebelumnya. Belajar lebih banyak tentang bisnis.


Jessica memulai karirnya sendiri. Celsie dan beberapa orang mulai masuk dari saran Ratna.


Puk.


Aisyah tersadar dari lamunannya. Kenan menatapnya dengan bingung.


"Pikirin apa?"


Aisyah tersenyum dan menggeleng pelan.


"Kak Ai-"


Drtt.

__ADS_1


"Bentar."


Kenan keluar mengangkat handphonenya. Aisyah hanya dapat menghela nepas dan menatap dengan sedih


'Lain kali saja aku beri tahunya.'


...----------------...


Aisyah menatap kedua laki-laki yang ada didepannya. Ia sendiri bingung kenapa ia bisa sampai disana.


''Ren?''


Rendy tersenyum melihat tatapan penuh tanya Aisyah.


Saat pulang dari kampus ia diajak oleh Rendy untuk mampir sebentar tapi Aisyah menolaknya. Dan dengan segala paksaan akhirnya ia tetap berakhir disana.


''Katanya ada yang bertemu denganku.''


"Yap! Ini Bilal ... ingetkan?"


Aisyah tampak berpikir namun tak mengingat apapun.


"Biasa Syah. Kamu pungut dijalan terus dilempar ke Aku," ucap Rendy memutar bola matanya malas.


"Ho'oh."


"Yang mana?" tanya Aisyah membuat Rendy jadi gemes.


"Sebelum loh Nikah!"


Akhirnya Aisyah ingat, ia mengangguk paham sambil melihat Bilal yang gugup.


"M-MAKASIH!!" ucapnya dengan keras.


Aisyah cukup mematung melihat responnya yang sepertinya ia benar-benar tegang bertemu penyelamatnya.


"Hahahahh! Santai aja!" ucap Rendy tertawa terbahak-bahak.


Wajah Bilal seketika memerah setelah tersadar telah berteriak dengan kencang.


"Saya ketoilet bentar," ucap Rendy beranjak dari sana.


Bilal mengangguk begitupun Aisyah.


"Silahkan dinikmati makanannya," ucap Seorang pelayan yang membawakan makanan.


Ternyata makanannya sudah dipesan lebih dulu. Semua menu dipesan tanpa terkecuali.


"Si-silahkan dimakan. S-saya yang bayat,'' ucapnya setengah gugup.


Aisyah tersenyum dan mengangguk pelan. Ia mencoba makanan yang ada didepannya. Rasanya memang luar biasa.


"Kalian sedang apa disini!!''


Degh!


Aisyah menelan ludahnya berat. Ia tidak mungkin salah dengar, suara yang setiap hari didengar. Suara ini, suara suaminya.


"Kenan?!"

__ADS_1


__ADS_2