
Setelah pulang dari paris, Kenan tiba-tiba sibuk hingga tidak pulang kerumah. Hari itu juga ia mendadak pulang sehari lebih cepat. Padahal Aisyah ingin ikut pembukaan toko cabangnya.
Sudah satu bulan berlalu dari kepergian mereka keparis. Lalu sudah tiga hari Kenan tak pulang kerumah.
Aisyah menatap meja makan yang berisi makan malam yang sudah dingin. Sepertinya Kenan juga tak akan pulang malam ini.
''Assalamualaikum.''
Mendengar suara, Aisyah langsung bergegas kepintu rumah. Ia melihat Kenan pulang dengan sedikit berantakan.
''Kakak mau makan atau mandi dulu?''
''Saya sudah makan.''
Degh!
Aisyah yang mengambil tas Kenan langsung tersenyum kecut.
''Kalau gitu saya siapkan air mandinya.''
''Hnm.''
Entah mengapa Aisyah merasa Kenan semakin dingin dengannya atau itu hanya perasaannya.
Aisyah menyiapkan air mandi suaminya dengan cepat lalu turun kebawah membersihkan meja makan.
Tes.
Air mata Aisyah terjatuh. Apa ia memiliki kesalahan hingga situasi rumah tangganya menjadi seperti itu.
Drtt, drttt.
Aisyah melihat handphone Kenan yang berbunyi. Karna tidak ingin macam-macam Aisyah tidak memperdulikannya. Handphone Kenan terus berbunyi membuat Aisyah yang membersihkan meja makan menjadi risih.
Aisyah pergi kemeja ruang tamu melihat siapa yang terus menelpon suaminya.
'Hadijah.'
Degh!
Aisyah enggan berpikiran buruk, namun hatinya juga bisa sakit. Kenan sudah makan, padahal Kenan selalu makan dirumah dan saat kenan melewatinya, Aisyah mencium bau parfum perempuan yang jelas bukan parfumnya.
Aisyah berusaha berpikir positif mungkin itu parfum rekan bisnisnya atau mertuanya, bisa juga kerabatnya.
Aisyah jadi teringat 2 minggu lalu Kenan pulang dengan sebuah bercak merah dijasnya. Aisyah pikir itu cuma noda tapi setelah dipikir-pikir kenapa harus dikerah bajunya.
satu minggu lalu Aisyah melihat sebuah gelang dijas kenan. Aisyah pikir untuknya, jadi ia pakai. Tapi kenan memarahinya dan mengatakan itu milik temannya yang akan menikah.
Drtt.
Aisyah tersadar dari lamunannya. Ia berusaha berpikir positif bahwa hanya ia yang terlalu sensitif karna kenan jarang pulang.
Aisyah menekan ikon hijau itu keatas lalu mendekatkan telinganya.
Kenan gw takut disini ... Tolong temenin gw lagi, lo tau sendirikan gw penakut.
Deg!
Aisyah buru-buru menutup panggilannya dan menghapus riwayatnya. Aisyah meletakkan handphone kenan seperti semula. Napas Aisyah tersenggal-senggal, ia tidak menduga akan menerima kenyataan pahit seperti itu.
Jadi selama ini Kenan sering kesana sementara istrinya menunggu dirumah.
Nyutt.
Aisyah meremas dadanya yang terasa nyeri.
''Ais!! Apa yang kau lakukan!!'' teriak Kenan ditangga melihat Aisyah berada didepan handphonenya.
Tes.
Aisyah segera mengusap air matanya kemudian berbalik dan tersenyum pada suaminya.
''Saya pikir Kakak lupa bawa HP-nya jadi Ais pengen bawain.''
''Tadi ada yang menelpon?'' tanya Kenan menghela napas lega.
''Tidak ada, Kak. Memang siapa yang akan menelpon?'' tanya Aisyah pura-pura tidak tau.
__ADS_1
''Bukan siapa-siapa,'' ucap Kenan cepat dan mengambil handphonenya.
Kenan mengecek apa yang diucapkan oleh Aisyah benar adanya.
'Segitunya kamu tidak percaya denganku. Kepercayaan yang telah kubangun, cinta yang telah kutanam, pengorbananku semua hancur dengan satu panggilan itu saja.'
Aisyah memalingkan wajahnya menatap sendu nasibnya yang ia duga akan bahagia namun tertimpa nasib yang ia benci. Dirinya diduakan oleh orang yang ia anggap begitu berharga.
''Ais kenapa?'' tanya Kenan khawatir.
Kenan menangkup wajah Aisyah, melihat mata yang akan segera menangis.
''Ais kangen ... Kakak sering-sering pulang, yah?'' ucap Aisyah setengah berbohong. Tapi yang ia katakan adalah benar. Penyebab ia ingin menangis adalah karna dirinya yang ada dihadapannya.
''Kakak beneran gak mau makan buatan Aisy?''
Kenan menatap istrinya yang terlihat begitu sedih juga kecewa.
'Maaf, Aisyah.'
Kenan memeluk Aisyah erat. Aisyah membalas pelukan suaminya, hatinya perih-perih merasakan pelukan hangat yang ia rasakan juga menusuknya hingga berdarah-darah.
Kenan melepaskan pelukannya lalu menghapus sebulir bening yang berhasil lolos dari pelupuk mata istrinya.
''Kalau gitu kita makan sama-sama.''
Aisyah tersenyum lebar, ia segera membuka kulkas dan memanaskan masakannya. Aisyah dan Kenan makan bersama, Aisyah membalut luka hatinya untuk mempertahankan kebahagiaannya juga kebahagiaan keluarganya.
...
Drtt, drtt.
Aisyah terbangun mendengar suara getaran handphone. Aisyah melihat kontak yang menelpon.
Hadijah Call.
Aisyah harus merasakan luka yang kembali tergores. Hatinya belum ia tata tapi ia harus berlapang dada.
'Ais sabar ... Mungkin ini ujian dalam rumah tanggamu agar kamu menuju tingkatan yang lebih tinggi.'
Aisyah berusaha membangunkan suaminya.
''Ais kenapa?'' tanya Kenan.
''Telepon kamu bunyi dari tadi, Ais kebangun jadinya,'' keluh Aisyah manja. Ia harus bersikap seolah tidak tau.
Kenan buru-buru mengambil handphonenya dan tersenyum pada istrinya.
''Ais ... Bobo lagi yah?''
Aisyah mengangguk patuh lalu kembali merebahkan tubuhnya.
Tes.
Aisyah menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan tangis.
Kenan sama sekali tak menyadarinya yang ia khawatirkan adalah panggilan tersebut.
Aisyah merasakan kepergian Kenan keluar dari kamar. Ia melirik jam yang menujukkan jam dua malam. Suara mobil yang terdengar keluar dari kediaman tersebut membuat Aisyah menangis sejadi-jadinya.
Aisyah tak lagi tidur, ia hanya merenung hingga pagi mendatang. Padahal ia ada mapel tapi matanya bengkak sekali. Mau tidak mau Aisyah harus memakai kacamata untuk menutupi matanya yang bengkak.
...
''Kenan penyakitku kambuh ... Hiks tolong Ken. Aku gak punya siapa-siapa disini.''
Kenan yang mendengar suara keputus-asaan itu menjadi gusar. Ia melirik Aisyah yang tertidur, kalau ia pergi Aisyah bisa kebangun dan lagi ia tidak tega dengan Aisyah.
''K-ken ....''
Prak!
...
''Aisyah!'' sapa Hafsah pada Aisyah.
Aisyah berbalik secara perlahan lalu tersenyum kaku. Tenaganya terasa terkuras karna menangis semalaman.
__ADS_1
''Kenapa pakai kacamata?''
''Enggak apa-apa.''
''Yakin?''
''Heheh ... Yakin.''
''Yaudah ayuk.''
Hafsah menarik tangan Aisyah untuk pergi kekelas mereka. Tiba-tiba tangan Aisyah ditarik oleh Umar.
''Aisyah!''
Melihat tangan Aisyah dipegang oleh laki-laki lain selain suaminya Aisyah langsung menepisnya.
''Aku ingin memberitahumu sesuatu.''
Aisyah membuang muka, ia tidak mau Umar melihat matanya yang bengkak karna laki-laki itu sangat jeli.
''Aku tau kamu gak ingin ada yang salah paham,'' ucap Umar terlihat sangat khawatir.
''Tapi dosenku kita sudah membuat orang lain salah paham,'' ucap Hafsah menaikkan alisnya dengan wajah songgong.
''Aisyah kumohon dengarkan aku!''
''Kam-''
''Baiklah, apa yang ingin kau katakan.''
''Bisa kita bicara ditempat lain?''
Aisyah tampak menimbang tapi Hafsah tiba-tiba angkat bicara.
''Disini saja! Memang apa yang ingin kau katakan!''
Aisyah melirik Hafsah yang juga menatapnya.
''Dak apa-kan, Syah?''
Aisyah menghela napas lalu mengangguk pelan.
Umar melihat sekitar dan khawatir dengan apa yang akan diucapkannya.
''Katakanlah.''
''Kau yakin disini?'' tanya Umar lagi.
''Iya,'' ucap Aisyah singkat.
''Aku lihat suamimu pergi dengan seorang perempuan.''
Degh!
Umar berucap pelan hingga hanya mereka yang dapat mendengarnya. Hafsah ikut terkejut, ekspresinya langsung pucat pasih.
''Kita pindah,'' ucap Aisyah pergi dengan cepat.
Aisyah duduk dengan Hafsah sedangkan Umar duduk didepannya.
''Jadi ... '' ucap Aisyah menunggu kelanjutan ucapan Umar.
''Beberapa hari yang lalu aku melihatnya pergi kebutik membawa seorang perempuan. Saat itu aku sedang bersama momyku yang juga sedang belanja ... Tapi hari ini aku melihatnya bergandengan masuk kerumah sakit.''
Nyutt, nyuutt.
''Mungkin keluarganya-kan, Syah?'' tanya Hafsah untuk menghilang pikiran negatifnya.
Aisyah diam seribu bahasa. Kepercayaannya benar-benar runtuh.
''Aisyah ... Kalau dia tidak baik, ceraikanlah.''
Degh.
Aisyah memalingkan wajahnya. Ia telah memperlihatkan ketidak harmonisan rumah tangganya didepan orang yang ia sukai dulu.
''Aku mencintaimu.''
__ADS_1