Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Hukumannya?


__ADS_3

"Tumben pulang cepat," sindir Kenan.


"Kamu juga pulang cepat!" sinis Aisyah.


Kenan melipat kedua tangannya kemudian mengalihkan pandangannya.


"Kamu sudah bersih-bersih?"


"Ah ... Saya pikir Kenan akan mengundang asisten rumah tangga?" ucap Aisyah saking kesalnya.


"Tumben kamu tidak merengek panggil 'K.A.K'"


"Terserah saya!" ucap Aisyah berbalik untuk pergi.


"Mau kemana?"


"Kamu gak liat?" tanya Aisyah tersenyum paksa.


"Keatas," singkat Kenan yang membuat darah tinggiAisyah naik.


"Kalau begitu kenapa bertanya?"


Kenan mengidikkan bahunya, ia asal tanya saja.


"Kita keluar makan."


"Hm?"


Aisyah berbalik untuk memastikan apa yang diucapkan Kenan.


"Kita makan diluar."


"Oh, padahal tadi ada yang bilang saya harus masak."


Kenan menghela napas. Sepertinya Aisyah tersinggung dengan apanya yang ia kirim.


"Kita dinner."


"Enggak!"


"yaudah," ucap Kenan berbalik pergi.


'Loh! kok gitu?! harusnya,kan Aisyah dibujuk!' ucap Aisyah dalam hati cemberut.


Tak.


Aisyah menghentakkan kakinya sebel.


'Dasar gak PEKA!'


Langkah Kenan terhenti ia berbalik menatap Aisyah.


"Bercanda. Ayok dinner," ucap Kenan mengulurkan tangannya pada Aisyah.


"Begini?" tanya Aisyah memperlihatkan pakaiannya.


"Istri saya pakai apapun tetap cantik."


Aisyah tersipu malu mendengarnya.


"Dari lubang sedotan," lanjut Kenan.


Aisyah menggembungkan pipinya kesal. Tak bisakah Kenan memujinya dengan benar, kalimat awal mungkin sudah benar tapi kalimat selanjutnya membuat semuanya tak berarti pujian lagi.


Aisyah naik ke atas dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal.


...----------------...


"Saya belum putusin akan apain kamu," ucap Kenan disela Kehinangan perjalanan mereka.


Aisyah mengerutkan keningnya dengan apa yang diucapkan oleh Kenan.


"Hukumannya,'' jeles Kenan kepada Aisyah.


Kenan melirik Aisyah kemudian mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


Aisyah merinding melihat kedipan Kenan. Ia tidak terpukau malah seperti akan diterkam.


Aisyah berhati-hatilah pada orang yang bernama pria. Mereka seperti hewan buas yang akan menerkammu -Jessica.


Aisyah memalingkan wajahnya. Ia menatap jalanan kota yang gelap namun bercahaya layaknya bintang dilangit karna cahaya kota yang bersinar terang.


Aisyah dan Kenan sampai didermaga, keduanya turun dari mobil. Aisyah menatap kapal pesiar yang begitu besar.


''Kita akan naik kapal?" tanya Aisyah mendekati Kenan.


"Hm."


Kenan hanya bergumam pelan, tangannya menarik Aisyah untuk naik kedalam kapal.


Sepanjang perjalanan yang mereka lewati kapal dihias dengan indah, beberapa kelopak mawar bertaburan disepanjang jalan.


'Perasaanku saja atau memang ... tidak ada orang lain selain kita.'


''Tuan makanannya sudah siap.''


Aisyah melihat seorang pelayan yang memiliki stelan yang benat-benar rapi bahkan tidak ada anak rambut yang menjungkal dikepalanya.


''Pasti bintang lima.''


''Apa?'' Kenan berbalik untuk melihat apa yang akan Aisyah katakan karna ia tidak mendengarnya dengan jelas.


"Tidak bukan apapun."


Aisyah kembali melihat kedepan, benar saja tempat ini hanya ada mereka.


Aisyah terus berjalan mengikuti Kenan tanpa menyadari mereka telah sampai.


Bugh.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Kenan didepan wajah Aisyah.


Aisyah mengusap jidatnya kemudian melihat wajah Kenan.


Mata itu selalu terlihat tajam atau memang tidak pernah terlihat lembut. Aisyah memandangi manik mata Kenan tanpa menyadari Kenan tersenyum sedikit malu dibuatnya.


Blush.


Wajah Aisyah memerah, bagaimana bisa Kenan menggodanya didepan wajahnya tanpa rasa malu.


Aisyah menjauhkan wajah Kenan dan menunduk malu kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kenan memalingkan wajahnya sejenak melihat keatas langit dimana bintang bersinar terang, malam dengan langit terang begitu indah.


Syuttt.


Wajah Kenan terterpa angin laut, terlihat guratan merah dipipinya walah hanya sepersekian detik. Bukannya Kenan tak malu, ia hanya tak menunjukkannya.


Shhhhhyytttttt.


Kapal telah berlayar, terasa pijakan Aisyah bergetar. Kenan menganggam tangan Aisyah menariknya untuk duduk didepan meja makan.


Meja mereka dihiasi bunga mawar merah yang indah, wanginya begitu harun hingga tercium oleh mereka.


Aisyah memotong daging steak susah payah membuat Kenan terkekeh pelan.


"Nih, makan," ucap Kenan memberikan steak yang telah ia potong kemudian mengambil piring Aisyah.


Setelah selesai makan, Aisyah menatap perkotaan yang terlihat cantik dari kejauhan. Karna kapal telah berlayar jauh, cahaya kota menjadi terlihat seperti bintang yang berkalap-kelip benar-benar cantik dengan warnanya.


Thuk.


Sebuah kotak kecil menubruk tangan Aisyah. Perhatian Aisyah langsung teralihkan padanya.


"Buka."


Aisyah membuka kotak tersebut, terlihat gelang yang indah dengan sepasang merpati yang saling melilit, terdapat permata ditengah keduanya.


Sret.


Kenan berdiri didepan Aisyah kemudian berlutut secara perlahan, ditangannya terdapat bungan mawar besar.

__ADS_1


"Saya jatuh cinta dengan seorang ciptaan tuhan yang begitu indah. Ia permata dunia yang tidak akan ketemukan lagi, ia suka bersikap manja dan juga cerewet. Tapi saya bersyukur dipertemukan olehnya. Saya menikah dengannya tanpa mengenalnya, tapi cintaku padanya terjalin bahkan sebelum aku mengenalnya. Saya punya banyak kekurangan, kuharap permata itu mau menarima saya. Akan kuhiasi dirinya dengan senyuman, akan kuberikan yang terbaik untuknya, akan kusayangi ia karna ia titipan tuhan yang paling berharga. Dan saya Muhammad Kenan Irsyad bin Adnan Hasan berjanji akan terus mencintai Annisa Aisyah Putri bin Albiy Chandara dengan sepenuh hati. Saya akan menerima kekurangannya, keluh kesahnya, manjanya sampai tuhan memisahkan kita menuju akhirat. Saya juga berharap kita akan menuju surganya bersama-sama."


Tes.


Betapa terharunya ia mendengar sebuah lamaran yang tak pernah bisa ia bayangkan. 'Takdir kita kenapa begitu indah.'


Saat dipertemukan olehmu banyak hal yang tidak kusukai darimu, tapi kamu mengenggamku dan tidak melarangku. Kamu suamiku memberiku nasihat tanpa menyakitiku, memberiku kehangatan dan rumah yang nyaman. Kamu yang didepanku berlutut menyatakan cinta yang tak berani kukatakan padamu secara langsung.


Kenan tersenyum melihat air mata Aisyah yang terjatuh.


"Apa kamu bersedia hidup bersamaku sampai mau memisahkan?"


Aisyah mengangguk kemudian memeluk Kenan dengan erat.


"Saya juga mencintai Kenan!"


Detik itu Aisyah baru menyadari rasa sukanya kini membludak dan semakin dalam hingga ia takut akan hancur. Aisyah benar-benar telah jatuh cinta padanya, hidupnya telah terikat sepenuhnya olehnya.


"Hukumannya ... ," ucap Kenan menggantung.


"Apapun akan kulakukan!"


Kenan mencubit pipi Aisyah yang mengatakan akan melakukan apapun.


"Jangan! Nanti saya tidak bisa menjaga kamu lagi."


Aisyah memiringkan kepalanya bingung.


"Nanti kamu ... ," Kenan menggantungkan kalimatnya. Dirinya tau Aisyah tidak tau sama sekali dan ia tidak tau harus mengajarinya dari mana.


Jangankan pacaran kenal laki-laki saja hanya ayah dan kakaknya.


"Hukumannya apa?" tanya Aisyah tanpa sadar mengalihkan topik.


"Hidup denganku."


Beberapa saat kemudian keduanya terkekeh. Kenan manarik kursinya duduk lebih dekat dengan Aisyah. Tangannya menarik Aisyah untuk duduk dipangkuannya. Kenan menunjuk kearah bintang yang bersinar.


Aisyah melihat bintang tersebut kemudian tersenyum. Disaat itu Kenan memakaikan gelangnya ditangan Aisyah.


"Kenan kapan persiapin ini?" tanya Aisyah berbalik.


Kenan menatap Aisyah yang wajahnya benar-benar dekat dengannya.


Kenan menutup mulutnya untuk menyembunyikan guratan merah di wajahnya.


"Saat saya sibuk."


"Kukira Kakak marah," ucap Aisyah cemberut.


"Tidak, saya gak marah. Meski cemburu saya gak bisa marah terlalu lama."


Kenan menenggelamkan wajahnya ditengkuk Aisyah. Ia malu mengakuinya tapi ia masih saja cemburu sampai sekarang.


"Namanya bilal, sebenarnya ada rendy tapi ia pergi ketoilet dulu. Ia hanya mengucapkan terima kasih. Jadi, jangan cemburu," ucap Aisyah menangkup wajah Kenan.


"Bukannya itu yang datang pas kamu menikah."


"Kakak juga menikah disitu," ucap Aisyah terkekeh pelan.


"Sama siapa?"


"Sama suamiku yang ganteng ini," ucap Aisyah tersenyum begitu lebar.


"Terima kasih apa?" tanya Kenan semakin mengeratkan pelukannya.


Aisyah sedikit malu karna kedekatannya dengan Kenan.


"Karna saya menolongnya yang merupakan penyanyi jalanan. Saya merekomendasikannya," tutur Aisyah memalingkan wajahnya yang memerah.


Kenan terkekeh kemudian merengangkan pelukannya.


"Saya gak peduli sebenarnya," ucap Kenan membuat Aisyah tertawa lepas.


"Baiklah, saya cemburu," jujur Kenan, kemudian ia tertawa beriringan dengan kekehan Aisyah.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2