
''Aisyah, bangun!!!''
Aisyah mengucek matanya dan menatap jam disamping kasurnya.
''ASTAGFIRULLAH!!! AISYAH BELUM SIAP!!!'' teriak Aisyah menggelengar dan buru-buru masuk kekamar mandi. Karna terlalu malam dia tidur akhirnya setelah sholat shubuh aisyah tidur lagi.
''Hah ... Yaa allah, anakku satu ini apakah bisa jadi istri orang,'' pikir ibunya melihat Aisyah yang sangat teledor.
30 Menit kemudian.
Abbi Aisyah menatap jam ditangannya dan menghela napas berat.
Brak.
Aisyah keluar dari rumah dengan mengangkat koper besar. Dia masuk kemobil dengan meletakkan kopernya disebelahnya.
''Tidak ada yang ketinggalan?''tanya Abbinya.
''Tidak ada!!!'' kompak Umi dan Aisyah.
Abbi Aisyah mengangguk dan menjalankan mobilnya melaju dengan cepat. Karena pernikahan mereka tinggal tiga hari, keluarga mereka memutuskan untuk tinggal dirumah Umi fatimah, sebab acaranya ada disana.
Rumah Umi fatimah.
"Mah ... kenapa Kenan harus diginiin sih?!!!'' tanya Kenan risih.
''Yaiyalah ... calon istrimu mau datang!!! Kalau anak mama gak ganteng nyambutnya, bisa-bisa rumah tangga anak mama bisa terancam punah. Sudahlah jangan banyak ngomong!!!'' ucap Umi Fatimah terus saja memperbaiki penampilan Kenan.
Akhirnya diam dan menurut saja, bahkan rambutnya itu sudah diacak-acak oleh ibunya. Padahal pagi tadi dia sudah rapi ingin kekantor, tapi ibunya menariknya dan merusak style-nya.
''Dah siap!!! Anak mama ganteng bangetkan?'' ucap Umi Fatimah menggeser tubuhnya membiarkannya melihat hasilnya.
Deg.
''I-iya ba-bagus ... ,'' ucap Kenan kaku. Itu bukan seperti dirinya, malah terlihat seperti style ayahnya. Apakah standar kegantengan ibunya itu adalah ayahnya?
''Sudah sana pergi, nanti takutnya mantu mama udah datang duluan!!!'' ucap Uminya mendorong Kenan keluar.
''Hah~'' Kenan menghela napas dan pergi keluar.
"Kenan kau sudah si ... ap?'' Abbi Kenan menatap Kenan dari bawah hingga keatas.
Kenan yang ditatapi secara insten, memalingkan wajahnya. Dia malu ditatapi seperti itu, apalagi oleh ayahnya.
''Pfttt.'' Abbi Kenan berusaha menahan tawanya, dia kenal jelas siapa style itu dan siapa yang telah membuat putranya menirukannya.
''Bagus gak?!!'' tanya Umi Fatimah yang nonggol dibelakang Kenan.
''Iya bagus,'' ucap Abbi Kenan memalingkan wajahny, menutup mulutnya.
Tiiin.
Suara klakson mobil menandakan keluarga Aisyah sudah datang. Mereka segera keluar untuk menyambut mereka, bukan sebagai sahabat, tapi sebagai besan.
''Assalamualaikum,'' sapa keluarga Aisyah.
__ADS_1
''Waalaikumussalam,''jawab keluarga Kenan.
'Ughh ... berat banget sih nih koper,'dumel Aisyah. karna terlalu serius tidak ada yang memperhatikannya yang kesusahan mengangkat kopernya.
''Sini saya bantu,''ucapnya mengambil koper Aisyah. Aisyah menatapnya lekat-lekat dan tersenyum ramah.
''Makasih ... Abbi,''ucap Aisyah membuat dia menjadi pusat perhatian.
''Pfffttt.'' Abbi Kenan dan Aisyah memalingkan mukannya menahan tawanya.
''Eh ... .''Aisyah menenggokkan kepalanya, ternyata Abbinya Kenan ada disebalah Umi Fatimah. Jadi yang didepannya itu ...
Kini wajah Kenan sangat merah, betapa malunya dia harus menggunakan style ayahnya bahkan sampai tidak dikenali.
''Ganteng gak anak mama?''tanya Umi Fatimah dengan senyum menggambang diwajahnya. Umi Fatimah sepertinya tidak sadar bahwa Aisyah dan Kenan sedang dalam situasi yang tidak mengenakkan.
Mengetahui fakta bahwa dia salah sangka, Aisyah menjadi sangat malu. Apalagi dia ditertawai oleh ayahnya dan juga ayah mertuanya.
''G-ganteng ... ,'' ucap Aisyah pelan. gak mungkin dia bilang jelek!!! Apalagi itu style mertuanya!!!
Kenan semakin malu mendengar jawaban Aisyah, rasanya dia ingin terbang saja keluar negeri sekarang juga. Mereka saling memalingkan muka. Ketika mereka melirik, mata mereka bertemu, sontak wajah mereka menjadi merah padam. Aisyah dan Kenan sama-sama menunduk, situasi mereka benar-benar memalukan.
''K-kenan bawa kopernya kedalam,'' ucap Kenan segera pergi.
Dhuakk.
Karna terlalu malu Kenan tidak memperhatikan jalan hingga menabrak pintu masuk.
''Pffftttt,'' Kini bukan hanya Ayah aisyah dan papanya yang tertawa tapi juga Aisyah, ibu dan mertuanya.
Karna terlalu malu, Kenan segera masuk kerumah setengah berlari. Dia ingin mengubur wajahnya dalam-dalam.
''Sudah mari masuk,'' ucap Umi Fatimah mempersilahkan mereka masuk.
-----
''Oiii ... Muka lo kenapa merah?''tanya Azka.
Beberapa hari menjelang pernikahannya, Kenan jarang kekantor. Karna bosan dan terlalu banyak kerjaan yang memusingkan, sesekali Hamzah akan menelpon membuat laporan.
''Kagak!!!'' elak Kenan.
''Ada apa?''tanya Kenan ketus.
''Owh proyek yang disuruh abbimu itu udah selesai,''ucap Azka dengan senyum bangga.
''Makasih,'' ucap Kenan singkat.
''Hah? What?? Your crazy?'' ucap Azka membuat Kenan mengernyitkan alisnya.
''Kau mau apa? naik gaji?''tanya Kenan menghela napas berat.
''Niatnya sih begono ... tapi gak deh, gaji gw dah naik berkali-kali lipat gara-gara lo gak ada. Kasih gw libur aja!!'' ucap Azka dengan smrik.
''Kapan?''tanya Kenan malas.
''Kalau boleh sih pas loh nikah ... kasih gw satu bulan,'' ucap Azka menlunjak.
__ADS_1
''Hah?!!! lo sinting yah? gw gak ada, lo juga gak ada ... perusahaan bisa hancur!!!!'' ucap Kenan memijit kepalanya.
''Yah habis lo ninggalin gw sendirian menjomblo ... siapa tau kan bisa dapat jodoh dinikahan lo gitu,'' ucap Azka cemberut.
''Gak!!!'' ucap Kenan cepat.
''Yaelah ... ayolah!!!''bujuk Azka.
''Gak!!!''
''Yaudah kalau gak boleh,'' ucap Azka. menyerah.
''Tahun bar-''
''Besok aku kerumahmu, mau nengok bini lo,'' ucap Azka cepat memotong ucapan Kenan.
''Si-''
Tutt.
''Hufttt,'' Kenan menghela napas dan mengirim Azka pesan bahwa tahun baru dia bisa libur sepuasnya.
Kenan keluar dari kamarnya melihat kearah ruang tamu. Terlihat Keluarga Aisyah dan keluarganya bercakap-cakap dengan riang. Kenan ingin kesana, tapi terlalu malu dengan penampilannya.
Puk
Kenan merebahkan tubuhnya dikasur, memandang seluruh isi kamarnya. Tak lama lagi dia akan memiliki seseorang yang harus dijaganya, dia akan segera memiliki keluarga sendiri. Menikah adalah hal terakhir yang pernah dipikirkannya sejak dulu.
Jodoh tidak akan kemana, mungkin dialah jodohmu. Cuma cara dia datang berbeda, cinta bisa muncul seiring waktu. selama ini kau tidak tertarik dengan siapapun, mungkin inilah saatnya.
Kenan teringat kata pamannya, seutas senyum merekah diwajahnya.
''Istri yah ... ,'' ucap Kenan pelan.
Sejak kecil ibunya seperti panutan untuknya. Akan tetapi dia terlalu sibuk menimba ilmu hingga jarang memperhatikannya.
''Jika istriku seperti ibu ... apa aku akan seperti ayah?''
Kenan terus berpikir, dia bahkan sudah seperti remaja yang baru puber. Umurnya yang sudah tua itu tak luput dari kata sibuk. Sibuknya membuatnya tidak bisa menjadi anak seusianya dari dulu. Anak satu-satunya menjadikannya memiliki beban dari seluruh keluarganya dari dulu.
Disisi Aisyah.
''Menikah ... ,'' ucap Aisyah pelan.
Menikah diumur yang mesih ingin meraih mimpi itu bukanlah keinginananya. Siapapun pasti tidak ingin menikah sejak dini. Dia masih ingin meraih mimpinya, bersinar dibawah gemerlap cahaya. Aisyah juga ingin merasakan masa-masa kuliah, masa-masa bertemu dengan teman-temannya, bercanda dan tertawa bersama-sama.
Jika dia menjadi istri, dia akan tinggal dirumah, mengurus keluarganya. Lalu memiliki anak, dia bukan benci anak-anak hanya terkadang takut akan masa depan.
Keluarganya tidaklah terlalu harmonis, buktinya, kakaknya pergi meninggalkan rumah.
''Aku tidak ingin keluargaku hancur,'' ucap Aisyah.
''Aku akan menjaga keluargaku dan membahagiakannya,'' ucap Kenan.
Pikiran mereka tidaklah selaras, Kenan berpikir keluarga mungkin hal sulit, namun ada kebahagiaan di dalamnya, dia akan membahagiakan keluarganya. Sedangkan Aisyah, dia takut akan sebuah keluarga ketika mengingat masa lalunya.
__ADS_1