Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Hidup tanpa kehadiranmu,sakit.


__ADS_3

...Sayangilah mereka yang disisimu, sebelum mereka meninggalkanmu. Bila yang maha kuasa telah berkehendak seorang hamba tidak dapat berbuat apapun....


Aisyah teringat sebuah kata-kata yang pernah dilewatinya begitu saja disosial medianya.


5 menit sebelumnya.


''Ke-kenan!!!'' Aisyah segera berdiri hendak pergi.


''Aisyah tunggu dulu!!! Ini penting!!!'' ucap Kenan dengan cepat.


Tap.


Aisyah berhenti dan berbalik tidak berucap sepatah katapun. Membiarkan Kenan berbicara dan memastikan apa itu benar penting.


''Ini tentang orang tuamu ... ,'' ucap Kenan pelan.


Aisyah memegang tasnya dengan kuat, jika hal berikutnya tidaklah penting, dia akan segera pergi.


''M-mamamu m-masuk rumah sakit ... ,'' ucap Kenan menunduk.


Deg.


Brak.


Seperti tersambar petir kata Kenan berhasil membuat Aisyah kehilangan keseimbangan. Dia menjatuhkan tasnya tanpa disadari.


''M-mama sakit apa?'' tanya Aisyah pelan berharap itu tidaklah parah.


''A-aku tidak tahu ... Tapi Mama kritis,'' ucap Kenan dengan mata yang menampakkan kesedihan. Hal ini menjadi bumerang untuk keluarganya juga. Mamanya yang mendengar itu langsung pingsan dan tak sadarkan diri.


''Umiku juga masih belum sadarkan diri karna shock,'' ucap Kenan pilu. bahkan terlihat warna gelap dimatanya.


Deg.


Jantung Aisyah berpacu dengan cepat. Disaat dia menikmati ketenangannya, keluarganya menderita akan kepergiannya.


''Ayahmu belum makan selama 2 hari ini, abbi mulai terlihat frustasi ... ,'' Kenan memberhantikan kalimatnya menatap Aisyah.


Brak.


''Pulanglah Aisyah!!! Aku bisa kehilangan ibuku!!! Dan ibumu juga bisa meninggalkan kita semua!!!!'' Kenan berlutut dihadapan Aisyah memintanya pulang. Dia bisa kehilangan ibunya, dan juga seorang yang berarti dikeluarganya. Kenan sudah tidak tidur selama 3 hari, tidur pun tidak nyenyak. Apapun caranya dia harus membawa Aisyah pulang.


Tes.


Kenan mendongkakkan wajahnya. Kenan melihat jelas air mata Aisyah yang turun dengan deras. Kenan segera bangkit, sepertinya Aisyah akan setuju pulang.


Syuttt.


Brakk.


Aisyah pingsan, bayangan hidupnya yang mula telihat bercahaya menggelap.


''Aisyah!!!''


Kenan segera menangkap Aisyah dan menggendongnya pergi.


Nyitttt.


Dengungan dari kepalanya membuatnya menggelengkan kepala.


''Tidak, jangan sekarang!!!'' Kenan berusaha menstabilkan pandangannya yang memburuk.


Srett.


Srett.

__ADS_1


Kenan buru-buru mencari obat yang dapat membuatnya sadar. Selama lebih satu minggu dia minum obat tidur, namun semua itu tidak bertahan lama. Rasa sakit dimatanya dan dikepalanya berguncang hebat. Kenan terus mencari hingga menemukan sebuah botol minuman kopi hitam. Kenan meminum semua kopi itu sebanyak tiga botol.


Bughh.


''Tidak!!! Tidak boleh!!! Aisyah butuh kerumah sakit sekarang!!!''


Kenan membanting setir mobilnya berusaha menetralkan pandangannya. Kenan menjalankan mobil dengan kondisi yang tidak stabil, beberapa kali dia hampir menabrak pembatas jalan. Kopi yang diminumnya tidak membawa pengaruh terlalu banyak, setidaknya tidak membuatnya pingsan.


3 Jam berlalu.


Kenan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, perjalanan dengan jarak 6 jam dia balap dengan waktu cuma setengahnya. Kenan yang kalang kabut bahkan membawa Aisyah kerumah sakit tempat uminya dirawat, bukan dirumah sakit terdekat.


Brakkk.


Kenan membuka pintu rumah sakit dengan kasar dan membawa Aisyah yang pingsan. Para perawat dan dokter bergegas membawa teroli pasien.


Deg, deg.


Jantung Kenan memompa dengan cepat, tubuhnya seketika lemas.


Brakk.


Kenan terjatuh pingsan membuat rumah sakit itu menjadi heboh. Disatu sisi Abbi Kenan yang melihat sosok yang dikenalnya itu dibawa keunit darurat terkejut bergegas melihatnya.


''Aisyah!!! Kenan!!!'' ucapnya dan mundur beberapa langkah karna shock.


Abbi Kenan bersandar dikursi tunggu menunggu hasil sambil berdoa semua ini berlalu dengan cepat.



Drap.


Drap.


''Aisyah kenapa?!!!!'' tanyanya dengan wajah yang pucat.


Abbi Kenan terdiam, dia tidak tahu apapun. Dan bukan cuma Aisyah, tapi juga putranya. Mereka seperti dilanda bencana, mungkinkah ini harga karna keegoisan mereka.


Tingh.


Ruangan itu terbuka, mereka segera berdiri menghampiri sang dokter.


''Keluarga pasien?''


''Iya!!!'' mereka berucap bersamaan dengan cepat.


''Kondisi pasien wanita sudah stabil tinggal menunggu sadar ... sementara kondisi pasien pria, dia butuh istirahat total tubuhnya telah bekerja melebihi batas kemampuannya,'' ucap sang dokter kemudian berlalu pergi.


Aisyah dan Kenan dibawa keruang rawat. Mereka memutuskan untuk menyatu ruangankan mereka berdua.



Srett.


Abbi Aisyah menaruh bunga disamping Aisyah. Dia menatap putrinya dengan rasa bersalah yang begitu besar. Dia mengenggam tangan Aisyah erat dan menciumnya dengan penuh rasa bersalah.


''Maaf, maaf, Nak.''


Tap.


Suara langkah kaki membuat dia menoleh.


''Aku datang menjenguk anakku,'' ucapnya pergi kesebelah ranjang Aisyah. diruangan itu mereka dipisahkan oleh gorden rumah sakit.


''Nak, kamu hebat yah ... demi wanita yang bahkan kau tidak cintai, kau rela mengorbankan tubuhmu. Papa sudah dengar dari dokter ... katanya jika terlambat ditangani saraf-sarafmu bisa lumpuh ... ,'' ucap Papa Kenan mengenggam tangan putranya.

__ADS_1


Ayah Aisyah segera berdiri dan berbalik.


Sret.


Ayah Aisyah menggeser sedikit gorden itu melihat kondisi Kenan.


''Kau benar, putriku beruntung mendapat Kena,'' ucapnya dengan tersenyum.


''Mungkin jika orang lain, aku akan membenci putrimu ... tapi aku tidak bisa membencinya, dia terlalu polos untuk segalanya, terlalu rapuh untuk menerima keegoisan kita, dia begitu barharga bagi keluarga kita dan dimasa depan,'' ucap Papa Kenan menatap sahabatnya itu dengan sedih.


Mereka saling menatap dan tersenyum. Persahabatan mereka tak mungkin putus hanya karna hal ini. Terlalu banyak kesulitan yang dilalui bersama. Susah senang mereka saling berbagi, entah apapun itu mereka bahkan lebih kental dari darah.


Drap.


Drap.


Langkah kaki yang terburu-buru membuat mereka segera menenggok kearah pintu.


Brak.


''Menantu!!! Anakku!!!'' Teriaknya menggema.


''Fatimah!!! Kau sudah sadar?!!!!'' tanya Abbi Kenan terkejut sekaligus senang.


Umi Fatimah tak menghiraukan itu, dia segera menghampiri kedua pasien itu dan mengenggam tangan mereka satu persatu.


''Huh!!! yang satu begitu lembut!!! yang satu sok kuet!!!! Dasar kalian bikin aku panik saja!!!'' Cerocosnya membuat kedua pria itu saling memandang.


''Fatimah tau d-''ucap Abbi Aisyah terpotong.


''Aku dengar waktu sih sialan itu lagi curhat,'' ucapnya santai. Yang dimaksud adalah suaminya, Abbi Kenan.


''Ekhmm, jadi kau sudah sadar tapi gak mau bangun-bangun?''tanya Abbi Kenan tajam.


''Kalau iya kenapa?!!!'' ucap Umi Kenan menaikkan alisnya.


''Kalian jangan bertengkar ini dirumah sakit!!!'' ucap Abbi Aisyah khawatir.


''Diam!!!'' ucap mereka berdua kompak.


''Ughhh ... .''


Mereka semua terkejut dan segerra menghampiri Kenan.


''Nak, kau tidak apa-apa?'' tanya Abbinya.


Kenan membuka matanya secara perlahan. Dia menggedarkan pandangannya kesegala arah.


Deg.


Kenan langsung teringat tentang Aisyah.


''Aisyah?!!!'' ucap Kenan langsung bangun.


''Aisyah ada disebelah ... ,'' ucap Abbi Aisyah menggeser gorden itu, memperlihatkan Aisyah yang masih belum sadarkan diri.


Kenan menatap Aisyah dan terdiam, dia menunduk, larut dalam pikirannya.


''Mah ... mama baik-baik saja?'' tanya Kenan khawatir.


Umi Fatimah tersenyum dan memeluk Kenan hangat.


''Mama tidak kenapa-kenapa, istirahatlah, Nak.''


Kenan berbaring kembali dan menutup matanya, dia sudah bisa tidur dengan nyenyak melihat ibunya yang sudah terlihat sehat.

__ADS_1


__ADS_2