
"Kenapa Syah?" tanya Celsie.
Sekarang mereka berada ditempat Celsie. Tokohnya sudah tutup tinggal Celsie dan beberapa pekerjanya yang membersihkan restoran.
"Aku cuma penasaran. Katanya kamu berencana memperluasnya hingga ke luar negeri?" tanya Aisyah tersenyum lebar.
"Ho'oh, itu benar banget nona investor. Tapi masalahnya bukan cuma dibiaya tapi juga situasi dan selera mereka. Kita sebagai pendatang baru gak bisa main gitu aja masuk-masuk. Perlu memahami pasar hingga minat masyarakat dari berbagai usia untuk merencanakan bisnisnya. Karna terget kita adalah pelanggan bukan pemasaran."
Aisyah mengangguk setuju, mereka telah banyak belajar dari proses jatuh bangun yang menyakitkan.
"Tapi Syah kamu gak pengen jadi investor ditempat lain. Meski kami semua berada dibawah naunganmu tapi Ratna juga pasti pernah berpikir hal yang sama,'' tutur Celsie.
Aisyah menatap susu coklat manis yang ada didepannya. Sebenarnya mereka tau apa jawabannya mungkin hanya butuh kepastian dari Aisyah sendiri.
''Karna kalian adalah sahabatku."
Celsie tersenyum dengan menawan, jawaban sederhana yang membuat kehilangan akal dan kehabisan kata-kata untuk menentang.
"Arsie ... " gumam Celsie pelan.
...
Aisyah duduk dimeja makan, menyantap makanan yang ia masak untuk sang suami.
Aisyah tidak mau bila makanab yang ia buat sepenuh hati malah berakhir pada mas sampah.
Aisyah memakan semuanya tanpa menyisahkan apapun.
Jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Aisyah lelah menunggu dan akhirnya naik kekamar.
Pagi harinya ia tidak mendapati Kenan, ia pergi begitu cepat tanpa mengatakan apapun atau menunggu kehadirannya untuk bangun.
Hari-harinya berlalu begitu saja. Kenan akan pulang larut dan berangkat ketika ia sudah bangun, Aisyah juga mulai sibuk dengan kegiatan ekstranya. Sesekali Aisyah akan bervidio call dengan sahabatnya.
"Kak Kenan beneran marah," gumam Aisyah disela makannya.
Aisyah tak lagi menunggu Kenan, ia memasak dan makan untuk dirinya saja.
Hari-harinya terasa sepi, seolah ia tinggal sendiri. Pergi kuliah dan tiba dirumah yang kosong. Haruskah ia senang atau sedih karna tak ada lagi Kenan yang terus memanjakannya.
"Kalau sudah begini mending aku jalan aja deh," ucap Aisyah girang.
...----------------...
"Lo mau ikut?" tanya Hafsah.
Aisyah mengangguk mengiyakan. Ia memang berencana jalan-jalan tapi ia tidak tau terlalu banyak tempat yang bisa ia kunjungi dan untunglah Hafsah mengajaknya ke acara makan-makan angkatan.
Harusnya Aisyah merenung, tapi karna terlalu banyak pikiran dan sulitnya berkomunikasi akhirnya Aisyah menyerah dan tidak nau memikirkannya lagi.
Bila pernikahannya kandas karna hal itu ... Aisyah tidaj memikirkannya hingga kesana.
...----------------...
Aisyah tengah bersiap dengan Hafsah ditoilet, mereka sepekat akan langsung pergi seusai kuliah mapel mereka.
''Inget Syah jangan pulang terlalu larut,'' nasehat Hafsah mengingat Aisyah telah bersuami.
''Santai aja. Ia juga selalu pulang malam kok. mana tau ia apa yang Aisyah kerjakan,'' elak Aisyah santai.
Mereka keluar dari toilet dengan berjalan pelan menuju bagasi. Mereka akan pergi naik mobil Hafsah.
Tiga puluh menit waktu yang mereka tempuh hingga sampai digedung mewah yang bertingkat-tingkat tersebut.
__ADS_1
Sidut bibir Aisyah melengkung sempurna. Ia menanti apa yang ada didepannya.
Saat sampai dilantai yang telah mereka pesan khusus untuk acara mereka.
"Ayok Syah!" ajak Hafsah.
Mereka menghampiri para ciwi-ciwi yang sibuk mengobrol hingga tertawa terbahak-bahak.
Tanpa terasa Aisyah mengobrol terlalu asik hingga melupakan waktu. Mereka bercerita dengan seru hingga mereka semua heboh dengan kisah meraka sendiri.
"Mau ke mall?" ajak Hafsah dan diangguki antusias oleh Aisyah.
Mereka tiba di Mall tanpa butuh waktu lama. Seperti perempuan pada umumnya mereka berbelanja tanpa kenal akan waktu.
"Mau nonton Gak?" ajak Aisyah.
Sudah lama ia tidak jalan berdua dengan sesamanya.
"Gak deh, udah malam banget nih."
"Ayolah, gak lama banget kok dua jam doang," bujuk Aisyah.
Akhirnya Hafsah mengangguk. Keduanya larut dalam cerita yang ditayangkan.
...----------------...
"Mau pulang?" tanya Azka.
"Hm."
Kenan tersenyum kecil melihat foto yang ada handphonenya. Beberapa hari ini ia sibuk dan selalu pulang malam, ia kangen dengan istrinya yang hanya bisa ia pandangi saat istrinya telah tertidur lelap.
Kenan tidak tau apa yang akan menantinya dirumahnya. Saat tiba, rumah telah sepi dan sunyi.
20:53.
Tapi tak ada tanda Aisyah pulang. Kenan mengecek handphonenya yang tidak memiliki pesan apapun.
Kenan membuka kulkas dan tidak ada makanan apapun. Ia mencari keseluruh dapur namun tak menemukan makanan sama sekali.
Ekspektasinya ia akan disambut hangat oleh istrinya dengan masakan yang baru diangkatnya dari panci penggorengan.
Seperti pepatah mengatakan semakin tinggi harapan semakin sakit jatuhnya.
Jangankan masakan hangat yang dinanti Kenan, rumahnya saja seperti tidak terurus.
Menit berganti jam Kenan mulai habis kesabaran. Kemana istrinya pergi di jam larut yang seharusnya ia di rumah bukannya keluyuran gak jelas diluar sana.
...
"Syah, mau es krim?"
Aisyah mengangguk dan mereka berjalan kepenjual es krim, duduk dibangku mall sambil menikmati es krim ditangannya.
"Main kelantai empat yuk. Wahana games!" seru Hafsah.
"Besok ada mapel kuliah gak?" tanya Aisyah khawatir dengan kampusnya tapi melupakan yang lebih penting 'suami.'
"Enggak ada, jadi ayok main!" Hafsah menarik tangan Aisyah berlari kearah lift yang terbuka.
...
"Makasih, Hafsah," ucap Aisyah pada Hafsah yang mengantarnya pulang.
__ADS_1
"Iya, hati-hati."
Aisyah menatap kepergian mobil Hafsah yang kian menjauh.
Aisyah membuka pintu gerbang rumah dengan senyum mengambang diwajahnya.
"Kenapa pulang larut?"
Degh.
Aisyah tersentak. Dari kejauhan Kenan menatapnya dengan tajam. Ia berdiri tepat dibelakang pintu rumah sambil melipat kedua tangannya. Rambutnya berantakan, ia masih memakai pakaian kantornya, lengannya tergulung hingga ke siku.
Aisyah terpukau sejenak sebelum tersadar sepenuhnya.
"Kamu dari mana!" bentak Kenan di depan wajah Aisyah.
Aisyah tersadar dari lamunannya. Kenan sudah berdiri di depannya, menatapnya matanya dengan garang.
Aisyah buru-buru mencari handphonenya untuk melihat jam berapa sekarang.
00:09
Glek.
Aisyah menelan ludahnya susah payah. Ia mengangkat Wajahnya perlahan menatap mata suaminya.
Saat mata mereka bertemu, kening Kenan berkedut.
Set.
Tanpa mengatakan apapun Kenan menarik tangan Aisyah masuk kedalam rumah.
"K-kak! Aisyah bisa jelasin!"
Kenan tak menghiraukan ucapan Aisyah sama sekali.
Kenan terus menarik tangan Aisyah sampai ke kamar mereka.
"Kak!" pekik Aisyah berusaha menahan tangannya yang ditarik.
"Diam!"
Degh.
Aisyah menunduk, matanya berair. rasanya sesak dibentak seperti itu.
Set.
Kenan masuk kedalam kamar mandi manyalakan shower menyeret Aisyah terguyur air.
"Akh! hiks, sakit Kak," keluh Aisyah melihat tangannya yang memerah ditarik oleh Kenan.
Kenan hanya diam menatap Aisyah yang terisak.
Kenan berbalik kemudian menutup pintu menyisahkan Aisyah yang berada dalam kamar mandi.
...
Aisyah keluar dengan jubah mandi, rambutnya basah dengan mata sembab.
Kenan yang duduk ditepi ranjang sambil memainkan handphonenya melirik sekilas.
Aisyah duduk disebelah Kenan sambil menunduk, air matanya masih mengalir. Kini ia takut dengannya.
__ADS_1