Takdir Aisyah

Takdir Aisyah
Saya mau liat cucu saya


__ADS_3

set.


Tangan Abby Aisyah bergerak perlahan. Aisyah segera melihat mata ayahnya yang perlahan terbuka.


''Ayah!''


Mata Abby Aisyah telah terbuka sepenuhnya. Ia melihat kesekitar mencari suatu sosok. matanya menangkap istrinya tidur disofa dengan lelap, ia dapat melihat jelas mata panda dibawah mata istrinya.


Matanya beralih pada putrinya yang khawatir.


"S-aya t-idak a-pa, N-nak.''


Aisyah tersenyum lega mendengarnya. Aisyah mengambil segelas air lalu memberikannya pada Abbnya.


Abby Aisyah meminumnya hingga menyisahkan setengah gelas. Ia melirik manantunya yang menatapnya, matanya tak lagi menampakkan kekhawatiran.


"Chandara," gumam pelan umi Aisyah. Ia bangun terduduk melihat kearah mereka sejenak sebelum benar-benar tersadar.


"Papa!"


Umi Aisyah langsung bangun menghampiri suaminya.


"Kamu ... ," Umi Aisyah tak dapat mengatakan apapun.


Ekspresi Hamara tiba-tiba berubah garang.


"Tuh,kan! Saya sudah bilang berapa kali! jaga kesehatan! kamu gak mau dengar sih! lihat sendirikan?! Darah tinggi naik gula juga ikutan naik?! Gak coba naik keakhirat, Hah!!!" omelnya dengan kesal.


Hamara sama sekali tak dapat membayangkan kepergian suaminya akibat hak tersebut, ia pasti akan menangis sejadi-jadinya bila kehilangan belahan jiwanya.


Chandra cuma dapat terkekeh pelan. Sepertinya ia memang harus menjaga kesehatannya, ia terlalu sibuk dengan bisnisnya sampai melupakan dia juga sudah tua dan butuh menjaga tubuhnya yang lemah. Dia bukan lagi pemuda yang kuat hingga dapat membuat semua orang terpana.


"Tapi umi tetap sayang sama, Papah?"


Blush.


Meski tak lagi muda, pernikahan yang telah lama mereka tetap seperti awal mereka menikah. Hamara tetap malu bila Chandra menggodanya.


"Ekhm," deheman Aisyah.


Sepertinya ia menemukan hal baru didepannya. Baru kali pertama ia melihat ibunya tersipu seperti itu.


"Istriku yang paling cantik."


"Chandra!" pekik Hamara. Ia malu sekali didepan putri juga menantunya.


Chandra terkekeh pelan tak lama ia batuk-batuk dan mendapatkan omelan lagi dari Hamara.


Melihat hal tersebut, Kenan mengenggam tangan Aisyah untuk menyingkir secara perlahan.


Kenan menutup pintu ruangan tersebut secera hati-hati. Ia menatap Aisyah yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Beri mereka waktu, Syah."


Aisyah mengangguk setelah itu ia duduk dikursi samping pintu.

__ADS_1


"Apa kita akan seperti itu saat tua nanti?" tanya Aisyah tiba-tiba.


"Gak."


Tung.


Aisyah langsng melepas genggaman Kenan sambil menatapnya garang.


"Kamu gak suka aku yang tua?!"


"Bukan itu maksudku, Syah!" ucap Kenan cepat.


"Lalu?" Aisyah menaikkan alisnya.


"Saya akan pastikan kita berdua gak akan sakit."


Aisyah mengangguk, namun ia malah kepikiran dengan ucapan Kenan.


"Tapi sakitkan gak ada yang tau," ucap Aisyah menatap Kenan dengan pasti.


"Tapi, sakit bisa kita cegah. Abby sakit karna kurang peduli kesehatan.''


''Bagaimana kalau sakitnya karna Allah?"


"Memang, sakit itu dari Allah agar manusia sadar. Contoh sederhananya bila tidak ingin sakit perut jangan makan sembarangan," ucap Kenan mencubit hidup Aisyah pelan.


"Bener, sih."


Aisyah menatap lurus kedepan. Apakah pekerjaan ayahnya begitu berat hingga jatuh sakit.


'Andau saja kakak tidak pergi, mungkin sesuatu yang berbeda akan terjadi ... Tapi kalau kakak tidak pergi apakah saya akan menikah dengan Kenan?'


"Kurasa tidak."


"Begita,yah.''


''Karna kita akan menikah setelah ta'aruf.''


Seketika senyum Aisyah mengambang. Ia mencubit Kenan pelan yang hanya dibalas kekehan olehnya.


Umi Aisyah keluar dari kamar dengan muka garang. Ia menengok pada mereka lalu tersenyum.


"Aisyah sama Kenan bisa masuk," ucap Umi Aisyah, detik berikutnya ekspresi wajahnya terlihat sangar dan pergi begitu cepat.


Aisyah berdiri dan menarik tangan Kenan masuk kedalam. Terlihat Ayah Aisyah terkekeh kecil hingga matanya menyipit.


''Ayah bilang apa sama mama?'' tanya Aisyah duduk disebelah ayahnya.


''Mama cantik tapi bau.''


Aisyah menahan tawanya, sementara Abby Aisyah tertawa lepas.


''Ayah gak perlu terlalu terus terang juga,'' ucap Aisyah terlihat memerah karna menahan tawanya. Kenan berekspresi datar, ia tidak boleh menertawai mertuanya. Melihat mertuanya sebelas dua belas istrinya kesalahan fatal kalau ia tertawa, akan ada perang keempat antara ia dan mertuanya.


''Soalnya mamamu gak peka,'' ucap Chandra terus terang.

__ADS_1


Aisyah mengangguk mengiyakan. Aisyah memperhatikan wajah yang dulunya berseri itu telah terlihat kerutan, rambutnya tak lagi hitam pekat terdapat rambut putih yang memperlihatkan usianya yang tak lagi muda.


"Saya mau liat cucu saya."


"Cucu Ayah yang mana?" tanya Aisyah membuat kedua laki-laki disebelahnya menahan tawanya.


"Maksud Ayah anak kamu, Syah," jelas Kenan terkekeh kecil.


"Tapi Aisyah belum punya anak."


"Kamu sama aja mamamu, Nak," ucap ayah Aisyah memalingkan wajahnya.


"Ayah pengen kamu cepet punya anak.''


Ayah Aisyah berbalik lalu mengangguk.


''Aisyah pasti bakal cepet punya anak, Aisyahkan sudah lama menikah,'' tutur Aisyah menenangkan ayahnya dengan wajah polosnya.


''Hugh!''


Ayah Aisyah langsubg terbatuk-batuk mendengar jawaban putrinya.


Kenan tak kalah terkejutnya mendengar jawaban istrinya. Ia memalingkan wajahnya sambil mengusap wajahnya kasar.


Ckelk.


Pintu kamar terbuka menyelamatkan kedua pria yang tak tahu harus berbuat apa.


''Umi sama Aisyah pergi beli buah dulu, yah?'' ucap Ayah Aisyah pada Hamara.


''Tapi Umi sudah be ... li?''


Melihat suasama diantara meraka dan hanya Aisyah yang sepertinya tidak paham.


''Baiklah, buahnya kurang jadi mari beli lagi.''


''Aisyah temani Umi pergi beli,'' ucap Ayahnya setengah mengusir.


Aisyah mengangguk dengan keheranan, namun ia tetap keluar bersama Uminya.


Setelah keduanya pergi, atmosfer ruangan menjadi dingin. Kenan menghela napas panjang lalu duduk disebelah mertuanya.


"Pasti sulit mengaturnya."


"Tidak, Ayah. Saya tidak perlu mengaturnya, Aisyah sendiri sudah tau apa yang harus dilakukan dan tidak."


"Hahah, Menantuku memang luar biasa ... Saya tidak sepertimu, Nak. Aisyah manja dan sulit diatur, ia banyak mau dan kadang suka keluyuran dan hilang begitu saja. Tapi Aisyah gak tau banyak dunia luar, hal itu membuat saya posesif dengannya. Karna ia polos saya jadi sering memarahinya, apalagi bila menyangkut laki-laki. Ia tidak tau apa-apa selain ada dua jenis orang didunia, lelaki dan perempuan."


Kenan mengangguk pelan, memang benar apa yang dikatakan oleh mertuanya tapi pada kenyataannya ia memang tak terlalu kesulitan menjaganya karna Aisyah sudah lebih dewasa. Mungkin mertuanya selalu teringat Aisyah masih kecil sehingga ia selalu protektif pada putrinya.


''Aisyah pasti tidak tau apa yang ia katakan,'' ucap mertuanya lalu mengenggam tangan menantunya.


Kenan tidak dapat berbohong, ia mengangguk pelan sambil memalingkan wajahnya.


''Nak, pasti berat. Ajari ia, karna ia tidak mengerti apa-apa. Gantikan saya untuk mengajarinya, lalu maafkan putri saya.''

__ADS_1


Kenan menarik napas panjang lalu membuangnya.


''Ayah tenang saja. Saya tak akan mengecewakan Ayah.''


__ADS_2