Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Jalan yang rumit


__ADS_3

ini awal kisahnya yaghhh...


mencoba menulis lagi..


semoga ceritanya bisa menjadi inspirasi๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Lulus dari bangku SMA yang membuatku "Nina" harus berfikir keras antara ingin bekerja atau melanjutkan kuliah seperti yang bapak inginkan. Niat hati ingin bekerja dan mungkin tahun berikutnya bisa kuliah sambil bekerja. Tapi niat itu benar-benar ditentang oleh bapak.


"kamu juga anak bapak dan ibu, masa kamu beda dengan kakak-kakakmu" ujar pria 50 tahun itu yang mana dia adalah bapak dari 5 orang anak. Aku adalah ana ke 4 dari 5 bersaudara.


Memang benar ketiga kakaku sudah menyelesaikan kuliahnya, dan keadaan perekonomian orang tuaku tidak sebaik semasa mereka menjalani pendidikan.


Bisa dibilang keuangan orang tuaku lagi mengalami resesi yang membuatku mengurungkan niat untuk melanjutkan pendidikan. Padahal aku hanya meminta untu menundanya.


"aku mau kerja dulu pak, nanti sambil kerja kan bisa sambil kuliah"


aku masih berusaha meyakinkannya. berusaha mencari jalan terbaik buat kedepannya. Memaksakan diri sama dengan mencari masalah. Ketakutanku akan putus ditengah jalan.


Beberapa kali aku mengulang permintaan yang sama untuk menunda rencana kuliah, namun usaha sia-sia dan aku harus mengikuti perintahnya.


Dengan segala usaha mereka, menuntutku untuk belajar dengan giat. Meski hanya belajar dirumah tanpa ikut bimbingan belajar seperti kebanyakan teman-temanku.


Belajar juga tanpa semangat, malahan aku ogah-ogahan. Karena memang niatnya biar ga lulus. Hanya sekedar mengikuti kemauan mereka.


***


Singkat cerita dalam perjalanan panjang aku "Lulus" dalam seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri tapi lulus pada pilihan ke 3 dan itu berada di luar provinsi dimana aku tinggal.


"Universitas Bengkulu"


karna tempatnya yang jauh, aku memutuskan untuk tidak mengambilnya.


Aku merahasiakan kelulusanku, pura-pura melupakan melupakan kalo aku sudah mengetahui hasilnya. Dan seorang teman ga sengaja sedang mengucapkan selamat padaku dimana ada bapak sedang bersamaku.


"selamat ya Nin, kamu lulus. Aku kayaknya ngulang tahun depan" ujar siska


Bapak yang mendengarnya langsung komentar

__ADS_1


"udah pengumuman ya??"


"udah pak...Nina belum lihat ya??


Aku cuma bisa cengengesan menghadapi bapak yang mulai mengomel.


Dan mulailah drama, bapak bersikeras untuk aku tetap berangkat.


Mempersiapkan segala sesuatunya dalam waktu yang singkat dan ahirnya perjalanan panjang dimulai menuju kota yang benar-benar aku tidak punya bayangan sama sekali. Hanya bermodalkan alamat kampus yang aku searching di Google.


***


Dugaanku benar, kota yang sangat asing bagiku. tak ada alamat yang akan dituju, karna memang tidak ada siapa-siapa yang aku dan keluargaku kenal di kota ini.


Tujuannya hanya satu, Universitas Bengkulu.


Syukurnya aku bersama ibu yang mengantarkanku. Mengurangi sedikit rasa takutku.


Sesampainya disana yang pertama aku dan ibu lakukan adalah mencari rumah kos. Tanpa banyak berfikir disaat melihat tulisan "terima kos putri" kami langsung masuk mencari informasi. Dan kebetulan tidak jauh dari kampus. "yang penting ketemu dulu buat tinggal, nanti kalo kamu kurang suka bisa sambil nyari tempat lain" ujar ibu dan aku hanya nurut apa yang dikatakannya.


Ibu kos dan bapak kosnya kesan pertama sangat ramah dan baik (namanya juga promo yaghhh๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜)...


hanya ada 5 kamar dan hanya tersisa 1 yang kosong" ga begitu ramai okelah" fikirku dalam hati.


"haii... Fitri" sapa seseorang yang ternyata salah satu penghuni rumah kos tersebut.


"Nina" sambil aku menyambut uluran tanganya.


orang pertama yang aku kenal setelah calon ibu dan bapak kosku.


"Aku juga baru kemarin kok tinggal disini, kebetulan mahasiswi baru juga...nie baru dari kampus buat nyelesain daftar ulang" jelas Fitri tanpa ditanya.


Kesan pertama yang ramah, dan makin membulatkan tekad untuk ambil kamar yang masih tersisa dan itu berada tepat di sebelah Fitri.


Setelah ibu berbincang panjang lebar dengan ibu dan bapak kos ahirnya kunci kamar aku terima dan langsung membuka kamar yang kebetulan sudah bersih dan tertata rapi.


meski baru ada kasur dan lemari kecil disampingnya. Maklumlah kos-kosan biasa bukan yang elite. Dengan segala keterbatasan yang terpenting kenyamanan.

__ADS_1


***


setelah menaruh koper dan tas yang berisikan barang keperluanku setelah istirahat sebentar ibu dan aku mencari pasar untuk membeli perlengkapan yang aku perlukan. Bukan kota besar seperti kota Medan tempat asalku. Sebuah kota kecil,yang masih dalam tahap berkembang.


Tempatnya ga begitu jauh, tapi kalau jalan kaki lumayan juga. Ahirnya ibu kos memberitahu ada angkot dengan tujuan pasar.


5 menit ahirnya nyampe juga. Aku dan ibu berjalan menyisir pertokoan sambil melihat lihat tempat yang mau kita tuju.


Petualangan dipasar yang benar-benar baru.


***


Pulang ke rumah ehhh rumah kos setelah beberapa jam mencari keperluan anak kos.


"capek---sangat dan sangat capek"


Fitri yang lagi asik merapikan kamarnya tampak tersenyum menyadari aku dan ibu sudah pulang.


"begini ya nasib jadi anak kok, apa-apa harus dikerjakan sendiri" keluhnya


"dinikmati aja Fit...lagian cuma ngurus diri sendiri juga."


"iya sie... tapi tetap aja bikin kangen rumah. biasanya apa-apa tinggal minta dibuatin." masih dengan keluhannya.


Dari bicaranya Fitri anak yang manja, anak yang sudah siap terima jadi.


Nasib memang menjadi anak kos. Disini akan mulai melakukannya apapun sendiri, bertanggung jawab pada diri sendiri, mengatur segala hal sendiri.


Selama aku ngobrol bersama Fitri ternyata ibu keluar mencari sesuatu untuk kami makan malam. Karena kondisi dapur masih belum lengkap, jadi diputuskan membeli makanan jadi dari luar.


Setelah makan malam, tampak ibu benar-benar sangat lelah. Membaringkan tubuhnya dikasur.


"ibu tidur duluan aja, Nina masih nanggung buat beresin isi koper" ucapku menyuruh ibu tidur duluan.


Tanpa banyak protes wanita yang sudah menunjukkan garis-garis halus diwajahnya tertidur. wajahnya tampak sudah tak bertenaga. Seharian perjalanan yang cukup panjang. Mulai dari mencari setiap kerluaku. Bahkan sampai urusan sabun tetap dingatkannya.


Ibu orangnya cukup detail. Segala sesuatu apapun itu harus benar-benar tuntas. Tak jarang dia selalu membuat catatan sebelum dia melakukan perjalanan.

__ADS_1


Dan itu menurun kepadaku. Terkadang jadi orang yang perfectionists. Apa-apa harus rapi, harus selesai tepat waktu. Mungkin bagi kebanyakan orang itu baik adanya, tapi aku merasa kadang-kadang hal itu membuatku tidak begitu disukai beberapa kalangan orang. Tepat waktu, salah satu kebiasaan yang diajarkan wanita yang sangat aku sayangi itu.


Hal yang paling dibencinya dan yang pasti yang paling aku tidak suka adalah tidak menghargai waktu, tidak ontime. Bagiku lebih baik menunggu daripada di tunggu. Hal kecil sebenarnya, tapi itu sudah tertanam dalam dalam diriku.


__ADS_2