
Setelah berpamitan dengan bi Inah dan menghubungi bunda Caca, Theo berangkat meninggalkan kota Bengkulu menuju kota Manna dimana asal keluarga besarnya.
Sambil menikmati perjalanan, Theo cukup stabil mengemudikan kendaraannya.Menikmati perjalanan sambil sesekali ikut melantunkan lagu dari audio mobilnya. Sebelum hari-harinya disibukkan dengan urusan pekerjaan, maka sebelum hari itu dia ingin menikmati waktu senggang yang masih tersisa.
Wangi bunga segar masih tercium dari makam sang mama. Buket mawar merah yang masih tampak segar tergeletak indah disamping nisan bertuliskan nama Nina Agatha. Sepertinya baru ada yang datang.
"Mama, maaf Theo baru datang berkunjung. Theo baru pulang dan baru menyelesaikan studi Theo ma. Seandainya mama ada, pasti mama akan bangga dengan pencapaian Theo. Papa masih sama dinginnya terhadap Theo. Entahlah ma, apa sebesar itu kebencian papa terhadap Theo. Mungkin Theo adalah anak yang tidak diharapkan oleh papa. Hati Theo sakit ma."
Theo mengeluarkan seluruh beban hatinya pada kubur yang terawat indah itu. Benar-benar melepas beban yang bertahun-tahun menumpuk dipundaknya. Seperti anak kecil yang sedang mengadu, tangis Theo pun pecah. Sesak yang selama ini tertahan ia tumpahkan yang memberikannya kelegaan.
Dari bunga yang dia temui, yang ada dalam fikirannya adalah papanya.
"Apakah tadi papa mengunjungi mama???"
"Hhughhh... Bahkan dia tidak mengajak Theo ma." Theo tersenyum kecut.
Cukup curhat-curhatan dikubur sang mama, Theo ahirnya dengan hati lega meninggalkan makam. Tujuannya rumah kakek yang sudah lama dia tidak kunjungi.
***
Rumah tua itu tampak sepi ketika Theo memasuki halaman yang begitu tampak asri. Beberapa buah yang sedang berbunga dan buah mangga yang sedang menggoda untuk minta dipetik. Rumah yang begitu mendamaikan hati penghuninya.
Langkah kaki Theo terhenti ketika sebuah suara menyapanya.
"Kamu mau cari siapa?" Sapa seorang gadis yang Theo tidak kenal menyambutnya dirumah kakek.
"Saya Theo, cucu dari pemilik rumah ini. Kamu sendiri siapa? Dan kenapa kamu ada dirumah kakek."
__ADS_1
"Oohhh cucu kakek tah... Mari silahkan, kakek baru aja masuk kedalam rumah." Jawab sang gadis tanpa menjawab pertanyaan Theo.
Theo sejenak mengabaikan gadis manis yang tadi menyambut kedatangannya. Memberikan salam pada kakek yang tersenyum hangat menyambutnya.
"Wahhh, cucu tampan kakek sudah pulang..."
"Iya kek, gimana kabar kakek?"
"Kabar kakek baik... Kapan Theo sampai di Indonesia?"
"Kemarin kek... Siapa gadis itu kek?" Tanya Theo pada ahirnya.
"Oohhh, dia perawat yang di suruh papamu untuk mengurus kakek. Maklumlah kakekmu ini sudah tidak sesehat dulu Theo.
"Disuruh papa?" Batin Theo
"Tidak ada..." Balas kakek
"Dimakam mama ada yang barusan jiarah, bunganya masih baru banget"
Kakek hanya tersenyum menanggapi kalimat sang cucu.
"Itu pasti papamu. Tanpa mampir kerumah inipun kakek yakin itu pasti dia. Puluhan tahun dengan setianya mengunjungi makam mamamu. Bahkan sering tanpa mampir dia hanya mengunjungi tempat itu saja. Entah lah, mungkin dia perlu dibawa ke psikiater."
Yaghh, laki-laki yang sangat mencintai istrinya, bahkan mengabaikan anaknya sendiri. Tapi pria sedingin es itu sangat perduli terhadap segala hal. Bahkan bisa dibilang kehidupan yang Theo dapatkan sangat sangat sangat layak. Perbandingan fasilitas yang Theo dapatkan dengan apa yang papa pakai bagaikan bumi dan langit. Rumah Karang Tinggi yang lebih tepat dibilang Villa sangat jauh dengan rumah yang ditempati sang papa di Kenari yang hanya rumah sederhana minimalis modern.
"Sebesar itu cintanya pada sang mama yang sudah lebih dulu meninggalkan mereka."
__ADS_1
"Namanya Prisa... Selain merawat kakek dia bekerja di klinik dokter Darmawan."
Dokter Darmawan, teman dari papanya.
"Oohhh..."
"Ngomong-ngomong bagaimana rencana kamu? Akan stay di Indonesia atau akan balik lagi?"
"Kayaknya Theo mau berkerja di sini aja kek"
"Diperusahaan papa kamu?" selidiknya
"Iyahhh, Theo mau coba dulu..."
"Kakek tau niat kami sebenarnya bukan bekerja tapi untuk dekat dengan papa kamu, benar kan?"
Theo tersenyum menanggapi kalimat kakek yang menebak 100% benar akan niat hatinya.
"Sebenarnya papa kamu itu sangat sayang sama kamu. Tapi dia tidak bisa mengungkapkannya karena rasa hatinya yang terlalu terluka kehilangan mama kamu."
"Iya kek. Theo sadar akan hal itu. Theo juga awalnya tidak terima dengan sikap papa. Tapi lama berpisah dengannya membuat Theo merenung sikap papa yang begitu dingin pada Theo. Theo sadar dia tidak bisa mengungkapkan rasa sayangnya dengan sikap selayaknya seorang papa. Tapi apa yang sudah Theo dapatkan, fasilitas yang papa berikan, kehidupan yang sangat layak."
"Kamu harus sabar. Perlahan papa kamu pasti bisa mengerti apa maunya kamu."
"Iya kek. Mungkin dengan sering berada di dekatnya papa bisa membuka hatinya. Mudah-mudahan papa bisa mengiklaskan kepergian mama. Bisa melihat keberadaan Theo."
Percakapan serius pun terjadi antara dua generasi yang berbeda. Theo dengan lepas bercerita pada kakeknya dan sebaliknya kakek banyak bercerita tentang masa lalu keluarganya terutama tentang sang mama yang sangat baik dimata kakeknya itu.
__ADS_1