Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Harus dirawat


__ADS_3

Beda sekali rasanya malam ini dengan malam-malam sebelumnya. Rasa dinginnya benar-benar menusuk sampai ke tulang. Padahal sudah pakai sweeter tapi dinginnya masih terasa.


"Fit, rasanya kayak ga enak badan. Aku masuk deluan yah" pamitku pada Fitri dan Endah yang masih asik dengan buku di meja depan tempat biasa kami melakukan aktivitas belajar, ngobrol bahkan sampai makan.


"Kenapa Na" tanya Endah memastikan keadaanku.


"Ga tau... kok rasanya meriang , terus rasa dingin banget...aku masuk yah"


Seraya meninggalkan mereka berdua.


"Pintunya jangan di kunci Na" teriak Endah


Kutarik selimut berharap rasa dinginya akan hilang. Beberapa menit masih saja malah semakin membuatku menggigil. Dengan kepala yang terasa sakit aku berusaha mencari yang namanya kaos kaki.


Masih melawan rasa dingin yang semakin, dan sakit kepala yang semakin menjadi dan badanku yang terasa kaku. Samar aku lihat ada mami dan teman-teman kosku, entah apa yang mereka lakukan. Sampai benar-benar pandanganku gelap segelap gelapnya.


***


Perlahan kubuka mata, ruangan yang serba putih. Seketika aku sadar kalo ini bukan di kamarku. Ingin bangkit dari baringku tapi rasanya tubuhku mati rasa. Dan sesuatu yang terasa nyeri di punggung tangan kananku. Dan itu infus yang menggantung. Masih serasa bermimpi aku belum yakin dengan keberadaanku.


"Tadi kamu pingsan" suara mami disebelahku menyadari aku membuka mata.


"Aku dimana mami???"


"Kamu di rumah sakit sayang"


Aku berusaha membuka Mataku yang terasa ditimpa beban ber ton-ton.


"Istirahat aja dulu nak, kondisi kamu masih lemah banget."


Kembali kututup mata menahan sakit kepala luar biasa.

__ADS_1


"Kenapa harus sakit sieee" gerutuku dalam hati.


***


Penghuni kos bergantian menjagaku yang masih terbaring lemah. Bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik yang peduli. Nasib jauh dari rumah sendiri.


Mami sudah pulang ke rumah setelah memastikan sudah aman untuk ditinggal. Ada Fitri yang masih menemaniku.


"Fit, handphone aku dimana ya?"


Tanpa menjawab pertanyaanku, Fitri mengambilkanya dari dalam tas yang berada di lemari kecil dekatku berbaring.


Dalam mode silent, ada banyak panggilan tak terjawab. Yang paling banyak adalah dari Rizon yang sedang pulang kampung sehari sebelum aku drop dan berbaring di tempat ini. Ga cuma panggilan tak terjawab, ada banyak chat juga.


R-b : Adek kakak udah sampai dirumah ya (+foto selfie di rumahnya)


R-b : adek dah tidur yaghhh... ya dahh selamat tidur yaghh. Mimpi indah😍😍😍


R-b : belum bangun yagh???di telp kok ga d angkat. Chat kk juga ga ada yang di baca.


R-b : adek dimana siiee, jangan buat kuatir. Setidaknya kabarin kk, angkat telponnya.


Baru berniat menelponnya, orangnya udah nongol di depan pintu bersama kak Ayu. Dengan wajah kuatir dia mendekatiku.


"Kok bisa sampai kayak gini???" Sesalnya


"Ga papa kok kak. Ini sudah mendingan" jelasku


"Tadi pagi kakak ke kosan kamu, karna Rizon ga bisa ngubungin kamu dari kemarin, chat juga cuma centang tapi ga di baca. Ketemu ibu kos kamu, dibilang lagi dirawat."jelas kak Ayu


"Iya kak, baru aja habis lihat handphone. Baru mau telpon kakak udah datang"

__ADS_1


"Gimana acara di rumah?? Memangnya sudah selesai kak? Harusnya kan kakak pulang besok" aku merasa bersalah dengan kedatangannya.


"Ga usah mikirin di rumah. Gimana ceritanya sampai drop kayak gini? Kamu mulai bandel telat makan, kurang istrirahat, ...." omelnya panjang lebar


"Maaf udah buat kuatir" hanya itu yang bisa aku ucapkan tanpa membantah satu kata pun, sembari memalingkan wajahku dan masih menahan sakit kepalaku.


"Maaf kakak langsung ngomel yah, kakak cuma kuatir" ucapnya lirih dengan nada halus menyadari aku menjauhkan pandangan darinya. Tanpa menatapnya aku hanya mengangguk pelan dan memejamkan mata.


***


Entah berapa lama aku tertidur, efek sakit kepala yang tak tertahankan mungkin dokter memberiku penenang. Dan sekarang Rasanya mataku sangat berat. Rasanya sangat haus. Perlahan aku berusaha memiringkan badan dan menjulurkan tangan untuk meraih botol minum yang ada diatas meja kecil di sampingku yang ternyata mengusik Rizon dari tidurnya sambil duduk menungkupkan kepalanya di samping ranjang.


"Adek mau apa?" Serunya sigap sembari merapikan rambutnya yang berantakan.


"Mau air kak"


Segera dia meraih botol itu dan membantuku untuk meneguknya.


"Malam ini kakak yang nemenin adek. Kasian mereka udah begadang sebelumnya."


"Makasi kak..."


"Sama-sama..."ujarnya tanpa ada sedikitpun nada kesal.


"Adek harus cepat sembuh yah. Kenapa ga ngasi tau kakak sebelumnya kalo adek udah merasa ga enak badan?"


"Adek mikirnya cuma sakit kepala biasa aja kak. Ternyata malamnya malah rasa dingin luar biasa. Adek ga tau kalo dibawa kesini... tau-tau bangun udah ada di sini" jelasku pelan.


Tak banyak pertanyaan darinya, menyadari kondisiku masih begitu lemah. Dengan tatapan sendu dia menatapku sembari menggenggam tanganku. Ada kehangatan yang dialirkan dari genggaman itu. Aku yang merasa risih perlahan berusaha melepasnya.


"maaf" ucapnya sembari melepaskan genggamannya.

__ADS_1


"sekarang adek tidur yaghhh..." sembari menarik selimut dan merapikan menutup sampai ke dadaku.


Memang mata masih terasa berat, tapi badan sudah semakin enakan dan akupun tertidur.


__ADS_2