
Pak Efendi yang merupakan orang kepercayaan keluarga ahirnya berangkat mewakili perusahaan ke Bali. Proyek yang ditunggu-tunggu ahirnya tak bisa dihadirinya karena keadaan yang membuatnya tak bisa berangkat sebelum Nina ditemukan.
Kemana lagi aku harus mencarimu sayang... Rizon meremas rambutnya merasa frustasi.
Drrrttt...drrrrttt...
"Halo Don..." sapanya setelah menscroll tombol hijau
"Bul, kalo memang hilangnya Nina adalah motif penculikan, apa ada orang yang ga suka sama dia? ga suka sama kamu?" tanya Doni penuh harapan
"Musuh? aku ataupun Nina ga pernah merasa punya musuh Don..."
Rizon mulai memikirkan ucapan Doni.
"Ayu!!! Apa mungkin Ayu? Lirih Rizon tiba-tiba menyebutkan nama itu.
"Bisa jadi, soalnya dia sedikit agak berubah sejak kalian menikah" Doni antusias.
"Aku jemput sekarang, kita harus ketemu Ayu..."
Rizon langsung memutuskan sambungan telpon. Segera menyambar kunci mobilnya setelah berpamitan pada mbok Inah yang sudah datang kemarin sore.
***
Wajah Ayu terlihat pucat melihat kedatangan Rizon ditemani Doni dan Nissa. Mereka berdua sangat merasa bertanggung jawab karena posisi hilangnya Nina pada saat menghadiri acara mereka.
"Kakkalian...??? Ada angin apa membawa kalian kamari? Ujar Ayu masih dengan wajah terkejutnya.
"Tentu kamu udah tau tentang hilangnya Nina, segala cara akan aku lakukan Yu untuk mencarinya."
"Terus apa hubungannya kalian bertanya padaku? Atau kamu sedang menuduhku atas hilangnya istrimu?" ujar Ayu sinis
"Bukan seperti itu, kamu pasti hadir kan waktu acara resepsi nikahan Doni dan Nissa?"
"Iyaaa aku datang keacara itu..." jawabnya jujur
"Tapi Yuu..."
Kalimat Doni tertahan saat Rizon memberinya kode untuk diam.
Perubahan wajah Ayu tampak jelas saat Rizon menahan Doni untuk bicara. Sepertinya dia terlepas kontrol dalam menjawab pertanyaan Rizon.
"Jam berapa kamu berada disana Yu? siapa tau kamu sempat bertemu Nina..."
"Aku hanya sebentar disana, belum sempat bertemu Doni ada yang menelponku jadi aku langsung pulang"
Ada kejanggalan Ayu menjawab diluar petanyaan Rizon. Tapi mereka ga bisa langsung menuduh Ayu.
"Makasi waktunya Yu, tadinya berharap kalo kamu bertemu Nina di acara itu, kami masih mau melanjutkan mencari orang-orang yang datang pada saat acara Doni. Maaf sudah mengganggu..." ucap Rizon sembari pamit
"Iyaaa sama-sama, semoga Nina lekas ketemu..."
Ketiganya melangkahkan kaki menuju mobil. Masih mencerna setiap kalimat-kalimat Ayu.
"Kok kayak ada yang aneh sama Ayu ya? Apa cuma perasaanku aja ya?" ucap Doni
__ADS_1
"Aku juga merasa ada yang aneh yank, dia kayak gugup gitu" tambah Nissa
Rizon yang memengang kemudi tiba-tiba menghentikan mobilnya diujung jalan.
"Aku juga punya feeling yang sama. Kalo memang dia terlibat, dia pasti akan bertindak lebih cepat."
"Bukannya kita mau pulang, kenapa kita diam disini dank..." tanya Nissa
"Kita tunggu sebentar..." Jawab Rizon membuat keduanya masih bertanya.
Hampir satu jam mereka menunggu, mata Rizon tak lepas dari persimpangan jalur rumah Ayu.
"Sudah hampir satu jam kita mau ningguin siapa Bul?"
"Itu...Itu yang aku tunggu..." Sambil menunjuk pada sedan hitam yang tak lain adalah mobil Ayu.
"Dasar licik. Perhitungan yang cukup matang"
Sambil menjaga jarak Rizon terus mengikuti kemana arah Ayu membawa mobilnya. Dengan harapan dia akan menemukan titik terang.
Sedan hitam itu berhenti di sebuah kawasan apartment mewah di lingkungan itu. Seorang Pria seumuran mereka dan dua orang yang bertubuh layaknya bodyguard memasuki mobilnya.
"Kamu kenal yang bersama Ayu, Don?"
"Wajahnya ga asing..."
Mobil yang mereka ikuti melaju sangat kencang saat kemudi sudah ditangan salah satu pria bertubuh besar yang bersama Ayu.
Kawasan itu cukup jauh, dan sudah memasuki luar kota. Dengan rasa penasaran dan kecurigaan Rizon masih tetap mengikuti.
"Don, aku akan ikuti mereka. Kalian tunggu disini. Panggilan telpon ini jangan terputus. Kalo ada yang mencurigakan kalian hubungi pihak polisi."
"Tapi Bul???"
"Ga mungkin Nissa menunggu sendirian dimobil..." Rizon
"Ga papa dank... Lebih aman kalo kalian berdua... Percaya aku akan baik-baik aja sayang..." ucap Nissa meyakinkan.
"Baiklah, mobil jangan dimatikan. Menjauh dari tempat ini kalo ada yang mencurigakan. Kunci lock semua pintu. Sambungan telpon jangan sampai terputus. Ingat hubungi nomor ini kalo aku kasi kode ya...Kamu paham Nissa???"
"Iya dank..."
"Kamu hati-hati sayang, I love You..." Doni sedikit kuatir.
"Iya sayang, kalian hati-hati..."
Rizon dan Doni pelan mengikuti jejak Ayu dan orang-orangnya. Tampak gubuk tua didepan mereka, dan mereka masih mengintai memastikan apa yang dilakukan Ayu di tempat seperti ini.
***
Sosok Nina masih bertahan sambil meringkuk menahan segala kesakitannya. Wajahnya pucat, bibirnya kering. Tiga hari tanpa makan dan minum membuatnya semakin lemah. Inilah yang diharapkan Ayu, menderita dan mati perlahan.
"Aaiirrr, too...lloon...ng aaairr..."
"Apaaa? kamu mau air gadis lumpuh??? Ini aku kasi air..." Ayu menungkan air kemasan botol tepat dihadapan Nina.
__ADS_1
Tawa kepuasan keluar dari mulut Ayu, membuat Rizon dan Doni tidak sulit menemukan posisi mereka.
Dengan susah payah Nina berusaha meraih air yang mengucur dihadapannya dengan sisa tenaga yang dia miliki.
"Too...lloooonngggg aaaiiirrr..." Nina semakin melemah.
Ddduuugghhhh...
Jantung Rizon berdegup sangat kencang, menahan amarah dengan apa yang terpampang dihadapannya.
Doni dengan sigap menahannya, sadar akan amarah sahabatnya itu diubun-ubun.
"Jangan gegabah Bul... Jangan sampai nyawa Nina jadi taruhannya."
"Sayang, hubungi nomor yang dikasi tau Rizon tadi. Segera share location padanya ya..." Perintah Doni pada Nissa yang sambungan telpon tak terputus.
Rizon yang tak bisa lagi menahan diri melihat istrinya tersiksa dalam keadaan lemah segera menghampiri dan dengan sigap orang suruhan Ayu menahannya.
"oww oowww ada pahlawan kesiangan nieee..." suara Ayu sinis
"Kurang ajar kamu" Teriak Rizon emosi
Ayu malah tertawa semakin keras mendengar teriakan Rizon.
"Lepaskan istriku, atau kau akan menyesal Ayu..."
"Kamu mengancamku??? Rasakan ini... Plaaakkk..." tangan Ayu terayun kewaja Nina yang lemah.
"Sayangggg...." Teriak Rizon seketika
Air mata Rizon tak tertahan melihat orang yang disayanginya di pukul dalam keadaan tak berdaya.
"Sakit melihatnya??? Kamu tau hatiku lebih sakit dari tamparan itu..." teriak Ayu dengan emosi memuncak tepat didepan wajah Rizon
"Dendammu ga beralasan Yu... Nina ga bersalah apa..."
"Kamu bilang dia ga bersalah hahhh??? Bertahun-tahun aku mencintaimu, rela mengikuti kemanapun kamu melangkah, berusaha dekat denganmu. Tapi hanya dalam hitungan bulan harapanku hancur. Dia merebutmu dariku, Kau menikahinya karna alasan ibumu... Apa itu bukan kesalahan ???"
"Kamu tidak mencintaiku, kau hanya teropsesi Ayu... Aku sudha menganggapmu seperti saudaraku..."
Tawa Ayu semakin tak terkontrol disela-sela kemarahannya.
"Ayuuu, maafkan aku yang sudah hadir diantara kalian. Tolong jangan sakiti suamiku. Aku yang salah, kau bisa melenyapkanku agar tak ada penghalangmu." lirih Nina yang semakin lemah
"Wooowww... Dengar itu Rizon sayang, istrimu saja sudah merelakanmu dan siap mati untukmu..."
"Baiklahhh, siapkan dirimu" Ucap ayu sembari membuka tutup botol air mineral dan memasukkan serbuk putih kedalamnya..."
"Ayuuuuu...."Rizon mulai meronta berusaha melepaskan ikatannya...
Ayu mendekati Nina yang sudah tak bertenaga.
"Ini ga akan menyakitkan Nina sayang... Ini akan mengantarkanmu bertemu ibu mertua yang sangat menyayangimu itu..."
Dan dia mulai mengucurkan air yang sudah beracun itu kemulut Nina dibantu Romi memaksa mulut Nina untuk terbuka, Pria muda yang besamanya.
__ADS_1