Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Membuka hati


__ADS_3

Tidak memberitahukan pada ibu dan bapak tentang aku masuk rumah sakit adalah pilihan yang tepat. Terkadang rasa kuatir mereka terlalu berlebihan dan itu tidak baik untuk kesehatan mereka. Selagi masih bisa aku tangani sendiri, itu lebih baik.


Mami juga sudah setuju untuk tetap keep silent. Sejauh itu untuk kebaikan semua.


"Adekkk..." panggilan di depan pintu membuyarkan lamunanku.


"Kakak..."seruku sambil mengubah posisi berbaringku untuk duduk.


Tapi Rizon ga sendiri. Sosok putih, semampai, rambut lurus sebahunya terurai cantik membuatku tanda tanya sebelum dia menyapa menyebutkan namanya.


"Heeiii, aku Raisya...adiknya Rizon" ucapnya ramah sembari mengulurkan tangan.


"Nina" balasku masih ga yakin kalau itu adalah adiknya Rizon.


"Pantesan ada yang klepek-klepek, ternyata..." Caca mulai menggoda kakaknya dan melirik nakal ke arahku.


"Caca, jangan melanggar perjanjian sebelum kemari..." kakaknya itu mulai molotot.


"Ada salam dari ibu Na, katanya pulang ke Manna berikutnya kamu wajib ikut. Iya kan kak???" Ujar Caca sambil menyiku kakaknya menyampaikan pesan ibunya sebelum Rizon.


Rizon hanya pasrah dengan celoteh adiknya itu semakin menjadi.


Dua karakter yang berbeda. Adiknya yang manja, cerewet, ceria, dan yang pasti berbanding terbalik dengan Rizon.


"Caca kuliah dimana?"


"Aku di Kesehatan Na, gagal masuk kedokteran paling ga masih di kesehatan lahh.."


"Ooo..."jawabku menimpali penjelasannya


"Sering-sering maen ke rumah ya... aku sering sendirian di tinggal sama Rizon. Mungkin kalo Nina yang maen ke rumah dia bakalan betah di rumah" lagi-lagi dia meledek kakaknya.

__ADS_1


Tanpa terasa obrolan panjang. Saat itu Rizon lebih memilih jadi pendengar setia celotehan adik perempuannya.


***


"Adek udah minum obat" tanyanya setelah Raisya meninggalkan kami berdua. Gadis itu memilih pulang duluan meninggalkan kakaknya masih menemaniku.


Aku hanya menggeleng. Tanpa aku minta Rizon menyiapkan obat-obat yang harus aku minum.


"Yang itu nanti aja kak" tunjukku pada obat yang membuatku ngantuk tak lama setelah aku meminumnya.


"Sekalian aja kenapa?"


"Adek langsung ngantuk kali abis minum itu."


"Bagus dong..."ujarnya ga mengerti


" ya sudah kakak pulang aja sekarang" ujarku membuatnya bingung.


"Kok tiba-tiba nyuruh pulang???"


Dia yang baru ngehhh dengan ucapanku ahirnya tersenyum penuh makna.


"Emang perempuan yaghhh," ujarnya tertawa kecil.


***


Dalam keadaanku yang banyak masalah dia datang dalam kehidupanku. Dalam kondisiku yang masih lemah, dia hadir seperti malaikat yang memberiku cahaya.


Terlalu cepat mungkin, tapi yang namanya hati tak bisa dipungkiri kalo rasa nyaman yang diberikannya membuka hatiku. Ada rasa selalu ingin bersamanya. Ada yang hilang saat dia pergi tak berkabar.


"Entahlah,,,aku galau dengan rasa ini..."

__ADS_1


***


"Kak..." panggilku padanya yang sedang fokus menatap laptop, dengan tugas-tuganya


"Iyaaa..." jawabnya tanpa menoleh ke arahku.


Lama aku terdiam sebelum melanjutkan ucapanku. Hal itu langsung menghentikan jari jemarinya menari di atas keyboard laptopnya.


"Kenapa??" Tanyanya lembut sambil menatapku


"Serius sayang sama adek? Ucapku memberanikan diri.


"Ga ada alasan kakak buat main-main dek...kalo adek masih ragu, jalanin seperti saat ini aja, kakak ga mau memaksa... jangan pernah berfikir kalo kakak melakukan kebaikan hanya untuk menarik simpati adek. Kakak melakukan semua ini dengan iklas dan ga meminta balasan apapun... Kecuali memang hati adek memang terbuka buat nerima kakak..." ucapnya tampak tulus.


"Dan kakak ga mau ada keterpaksaan..."


"adek nyaman sama kakak, tapi adek malu"


"malu kenapa?"


"ga taulah, ada rasa kalo adek ga pantas buat kakak... adek minder dengan keadaan adek sendiri... karena banyak hal yang kakak ga tau"


"banyak hal yang kakak ga tau??? yahhh karena adek ga mau cerita... berbagilah dalam setiap apa yang adek rasakan...jangan menutupi apapun... kakak belajar terbuka tentang hal apapun..." tegasnya membuatku terdiam.


Aku hanya bisa diam memandangi langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Fikiranku masih belum sanggup menerima responnya yang sangat keras dan tegas.


"maaf dek, ga seharusnya kakak sekeras itu..."ucapnya merasa bersalah


"ga papa kak, memang benar adanya..." sambil menahan butiran hangat yang hampir tumpah di mataku.


" ga usah dilajutin yah, adek fokus buat pulih dulu... tanpa adek menjawab kakak sudah bisa merasakan kalo adek masih berusaha membuka hati... adek ngasi kakak kesempatan untuk ada di sini kakak sudah terimakasih"

__ADS_1


"sekarang adek istirahat...tenangkan fikiran... adek tidur nanti kakak pulang yah" ucapnya pamit sebelum aku tertidur.


Benar adanya sehabis meneguk obat terahirku, selang beberapa menit saja mataku sudah mulai berat. Benar-benar dosis tinggi... Entah pukul berapa Rizon pulang, aku sudah ga sadarkan diri...


__ADS_2