Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter64


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku yang entah sudah berapa lama aku terlelap. Terlalu nyaman aku berada dipelukan pria yang masih terlelap memelukku. Wajahnya teduh jika sedang tertidur. Benar-benar anugrah Tuhan memberiku suami sesempurna dia.


Terimakasih sudah mencintaiku sebesar ini sayang. Aku yang bukan apa-apa tanpamu. I love you more than you love me.


"Jangan lama-lama dipandangnya sayang, mending di kiss..." ucapnya sambil memajukan bibirnya.


Aku merasa wajahku memanas. Seperti maling yang ketangkap basah sedang melakukan pencurian. Sementara Rizon mempererat pelukannya.


"Kak... Bagaimana keadaan kak Ayu dan kawan-kawannya?"


"Jangan rusak fikiranmu dengan mengingatnya dek. Biarkan pihak yang berwajib melakukan tugasnya. Dia harus membayar apa yang sudah diperbuatnya. Berani berbuat, harus berani mempertanggung jawabkan."


"Tapi kak..."


"Kenapa harus membahas hal itu sayang?"


"Semua itu karena rasa cintanya padamu kak..." ucapku perlahan


"Cintaaa??? Itu hanya obsesi dek. Tapi tungguuu, adek???"


"Ada hal yang adek syukuri dengan musibah ini kak. Hari disaat adek bertemu dengannya ada rasa marah, benci yang sangat. Tapi disaat melihat wajahnya beberapa ingatan adek kembali. Adek ingat bagaimana dia membuat salah paham antara kita, adek ingat bagaimana dia cintanya pada kakak yang terang-terangan dia ungkapkan, dan banyak hal lainnya adek ingat. Bahkan sempat adek tiba-tiba berdiri saat adek benar-benar marah padanya. Emosi yang dibuatnya membuat adek spontan bisa bangkit kak..."


"Adek serius mengingat segalanya???" Seru Rizon dengan mata berbinar


"Meski belum semua, yang pasti adek yakin pasti bisa kak... Lihat, kaki adek bisa digerakkan" ucapku sambil berusaha menggerakkan kakiku meski masih terasa ngilu.


"Sayang... Ini iniii..." Dia menggantung kalimatnya dan memelukku dengan sangat erat.

__ADS_1


"Kakak akan telpon dokter untuk kemajuan ini. biar dilakukan pemeriksaan lebih lanjut..."


Pancaran kebahagian tampak jelas dari sorot matanya.


*Biarkan mata itu selalu tampak indah Tuhan...


***


Bukan Rizon namanya jika apa yang sudah ada difikirannya tidak langsung dilakukan. Setelah menelpon dokter Fajar yang menangani Nina dari awal kecelakaan sampai saat ini.


Masih harus menunggu sebentar karena dokter Fajar harus melakukan operasi dadakan setelah tadi membuat janji.


Tak lama yang ditunggu datang. Setelah masuk kedalam ruangannya dia mempersilahkan kami masuk.


"Gimana kabarnya Nina?" Sapanya ramah


Tanpa banyak basa-basi aku menjelaskan keadaanku. Dan dokter Fajar langsung melakukan pemeriksaan. Wajahnya tampak serius terutama dengan kakiku. Entah apa yang sedang difikirkannya denga wajah seserius itu.


Senymnya mengembang setelah selesai dengan cek and riceknya.


"Ini jauh dari apa yang saya bayangkan"


"Maksudnya dok?" Rizon mulai kurang sabar


"Ekspektasi saya, penyambungan ini akan berhasil sempurnya memakan waktu lebih dari satu tahun, dan ini benar-benar mujizat.


"Saya akan bisa jalan lagi dok?" Ucapku penuh harap.

__ADS_1


"Yahhh... Dengan melakukan terapi dengan rutin, itu akan segera terjadi..." jawab doktet mantab


"Kak...!!!"


Rizon memelukku yang sedang menangis bahagia. Berita ini sungguh membuatku bertambah semangat 1000%.


"as you wish honey..."


"Untuk jadwal terapinya nanti saya akan atur. Segera kita akan lakukan. Nina harus semangat ya..."


"Iya dok, saya benar-benar semangat..."


Setelah merasa semua beres kami beranjak dari rumah sakit. Ada beban yang terlepas setelah mendengar apa yang dijelaskan dokter Fajar.


Aku akan segera bisa berjalan normal. Aku akan bisa beraktifitas seperti semula. Menjalani hari-hariku sebagaimana mestinya. batiku dalam hati.


"Adek ada pengen kemana lagi? Atau pengen sesuatu?"


"Ga ada kak, Adek mau pulang aja."


"Kok ga semangat gitu???"


"Semangat kok. Cuma adek ga mau terlalu banyak berharap, biar nanti ga kecewa..."


"Sayang... yakin semua akan baik-baik saja..." Rizon menggenggam tanganku memberiku kekuatan.


Aku hanya bisa tersenyum berusaha menutupi kegalauanku.

__ADS_1


Aku harus semangat. Suamiku sudah banyak berkorban untuk kesembuhanku. Aku ga boleh membuatnya kecewa. Aku harus sembuh dan kembali deperti dulu lagi.


__ADS_2