Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter74


__ADS_3

7 Bulan berlalu...


Masih dikamar yang sama, rumah sakit yang sama, usaha yang sama, yakni berjuang demi anak dan istrinya.


"Dank, kapan kita akan pulang ke rumah?" suara Nina yang sangat lemah tapi cukup untuk didengar oleh Rizon.


"Sabar sayang, kita akan pulang setelah kondisi adek benar-benar kuat"


"Adek kangen rumah, adek kangen pulang ke Manna, Adek kangen ke makam ibu"


"Sabar ya, semua akan membaik seperti dulu..."


" Dank..." panggil Nina sembari menatap mata Rizon dengan intens


"Kenapa sayang?" Balasnya sembari menggenggam tangan Nina


"Kalo dank harus memilih salah satu diantara kami , siapa yang akan dank pilih?"


"Kenapa bertanya seperti itu?" hati Rizon perih mendengar pertanyaan yang bukan hanya sekali terlontar dari bibir kesayangannya itu


"Sampai kapanpun jawaban dank ga pernah berubah sayang. Kalian berdua sangat berharga buat dank. Kita sudah melewati banyak cobaan. Sedikit lagi akan memetik buah kesabaran kita


"Tapi kondisinya harus memilih?" Nina mengulang pertanyaannya


"Adek,anak kita, sama berharganya. Kalian adalah segalanya buat dank. Jangan paksa dank untuk memilih."


Lama Nina terdiam,memejamkan mata, air matanya menetes begitu saja disudut matanya.


"Entahlah apakah adek akan sanggup bertarung sampai akhir nanti." lirihnya pelan tapi cukup untuk bisa didengar oleh Rizon


"Hei heiii...adek ga boleh bicara seperti itu. Adek sudah janji akan kuat. Jangan buat dank lemah sayang. Dank kuat seperti sekarang demi kamu, demi anak kita. Tanpa kalian dank tidak ada apa-apa sayang, jadi plis jangan bicara seperti tadi..."


Rizon memeluk sang istri dengan sangat erat. Nina menumpahkan tangis didada bidang milik suaminya itu. Rizon mengusap air matanya sebelum dia melepaskan pelukannya.


"Lihat dank. Jangan buat dank kecewa. Adek sudah janji" Tegasnya membuat Nina memeluknya kembali.

__ADS_1


***


"Tidak...tidak...tidakk, jangan bawa, jangan dibawa...aku mohon jangan jangannnnnn..."


Teriakan Nina membuat Rizon yang tertidur di sofa buru-buru bangkit menghampiri Nina yang terlihat ngos-ngosan dan keningnya tampak berpeluh. Sepertinya sang istri sedang mimpi buruk.


"Kenapa dek...?"


"Dank...auugghhh sakitttt"


Tiba-tiba merintih sakit


"Dankkk..."


Rizon menyibakkan selimut dan ada banyak darah mengalir dari ************ Nina.


Rizon langsung menekan panggilan darurat dari kamar melihat kondisi Nina yang semakin lemah.


Tak lama dokter Dian bersama perawat datang memasuki ruangan dimana Nina dirawat.


"Kondisi ibu Nina semakin lemah pak. Kita harus melakukan operasi. Bayinya harus segera diangkat.


"Tapi dok, inikan masih belum bulannya..."


"Dengan segala resiko bapak harus bisa terima. Ini menyangkut 2 nyawa. Salah satu atau tidak ada sama sekali."


"Maksud dokter apa? Mohon selamatkan istri dan anak saya dok. Saya mohon lakukan yang terbaik."


"Biarkan kami melakukan yang terbaik pak. Selebihnya serahkan pada Tuhan sang empunya nafas kehidupan "


Wajah ketakutan tampak jelas diwajah Rizon. Chaca yang baru datang tampak bingung dengan keadaan kamar dimana Nina mulai dipersiapkan untuk menjalani operasi.


"Apa yang terjadi dank?" tanyanya bingung


"Kondisi Nina memburuk Ca, tadi sempat pendarahan, dan pendarahannya cukup banyak"

__ADS_1


Chaca yang seorang lulusan ahli kesehatan tanpa dijelaskan detail mengerti maksud ucapan kakaknya itu.


"Yakin semua pasti akan baik-baik aja dank. Kamu harus semangat. Sebentar lagi anak kamu akan hadir kedunia ini. Ingat perjuangan kalian sampai ketitik ini." Chaca berusaha memberikan semangat pada kakaknya


Rizon hanya mengangguk sembari keduanya berjalan mengikuti brankar yang membawa Nina menuju ruang operasi.


"Ijinkan saya menemani istri saya dok" pinta Rizon sebelum memasuki ruangan operasi.


Dokter Dian yang paham dengan riwayat kehamilan Nina ahirnya mengijinkan Rizon untuk ikut menemani sang istri.


Setelah berpakaian lengkap yang steril ahirnya Rizon masuk kedalam ruangan. Rizon duduk disamping Nina. Bibirnya mengecup lembut kening sang istri memberikan kekuatan. Doa terindahnya menggema ditelinga Nina yang tampak lemah. Sementara dokter dan beberapa perawat sedang melakukan pembedahan yang hanya terhalang kain berwarna biru.


Tak lama terdengar tangisan bayi yang memenuhi ruangan itu. Rizon tak hentinya mengucap syukur dan menciumi wajah Nina. Meski kondisinya lemah, Nina masih menyunggingkan senyum kebahagiaannya.


Seorang perawat tak lama membawa bayi mungil itu kepada Rizon dan Nina.


"Selamat ya pak ,Bu, bayinya sehat dan lengkap dan dia pasti akan tampan seperti papanya"


Nina mengecup lembut makluk terindah ciptaan Tuhan yang diijinkan menjadi putranya.


"Maaf pak, karena bayinya lahir prematur untuk saat ini kami akan membawanya dulu untuk diobservasi."


Dengan sedikit tidak rela Rizon mengiakan dan hanya memandang sang perawat membawa bayi mereka. Sementara Nina masih dalam proses penanganan dokter. Dan tiba-tiba diruangan itu mendadak panik dengan kondisi Nina yang drop.


Tampak nafasnya seperti sesak. Hal itu membuat Rizon panik ga karuan.


"Yang kuat sayang. Kamu pasti kuat!!" Bisiknya dengan suara bergetar.


Dokter Dian masih berusaha dengan maksimal dengan pendarahan yang terjadi.


"Dokter, ada apa dengan istri saya???"


Pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban membuat Rizon tampak gusar. Sedangkan didepan mata istrinya sedang berjuang.


Layar monitor menunjukkan garis yang mulai tidak stabil. Denyut jantung yang semakin melemah. Panik, takut menjadi satu.

__ADS_1


__ADS_2