
Separuh jiwanya pergi terbawa Nina yang sudah pergi meninggalkannya. Semua menyisakan kenangan yang membuat Rizon sangat belum siap dan belum ikhlas sepenuhnya dengan kepergian sang istri untuk selamanya. Semenjak pulang dari pemakaman sosok jangkung itu masih berdiam diri dikamar di rumah Manna. Yang mana banyak menyisakan kenangan jika mereka berkunjung kerumah orang tua Rizon.
Merebahkan diri di sofa kamar berbantalkan kedua tangannya. Matanya tertutup, tapi bukan tidur. Fikirannya masih berkelana dengan semua situasi yang datang secara tiba-tiba. Yaghh, dia belum ikhlas sepenuhnya.
"Dank, hayo makan dulu. Dari kemarin dank belum makan apa-apa" Suara Caca membuyarkan lamunannya.
"Nanti kalo lapar dank akan makan Ca..." Jawabnya tanpa membuka mata dan melihat kearah Caca.
"Jangan seperti ini dank. Ini namanya dank menyiksa diri. Aku rasa Nina juga akan marah melihat dank seperti ini." Jelas Caca
"Dank lebih memilih dia marah dari pada meninggalkan dank seperti saat ini Ca"
"Dank, ingat masih ada yang perlu kamu fikiran. Bayi kalian yang masih berjuang dirumah sakit."
Mendengar kalimat Caca, bibir Rizon diam terkunci seribu bahasa.
"Keluarlah... Biarkan dank sendiri." pintanya pelan tapi cukup membuat Caca mengerti dan meninggalkan kamar yang tampak remang-remang itu.
***
Masih dikota Manna dipemakaman yang sebelumnya ramai, hari ini tampak sosok jangkung itu kembali duduk disamping makam menatap nisan yang terukir dengan tinta berwarna emas. Yaghh, Rizon mengunjungi makam sang istri yang masih dipenuhi taburan bunga yang wangi. Dan hari ini pun seikat mawar yang indah kembali menjadi buah tangan Rizon. Karena bunga mawar adalah bunga kesukaan sang istri semasa hidupnya.
"Apa adek sudah bahagia disana?" ucapnya bicara sendiri
"Kalo dibilang kejam, adek orang yang paling kejam. Adek pembohong, ingkar janji pada dank" Marahnya
__ADS_1
Meluapkan segala beban hatinya dengan menumpahkan semua kalimat-kalimat yang tidak akan terjawab satupun. Rizon teramat patah hati. Niat hidup seakan hilang dari dirinya.
Selama di Manna hampir setiap hari dia mengunjungi tempat dimana dia bisa meluapkan segala rasa dihatinya. Dan hari ini dia harus kembali ke ibu kota untuk melanjutkan rutinitas yang sempat tertunda.
Mengingat bayi kecil yang sudah menjadi piatu sejak kelahirannya masih berada dirumah sakit.
Karena mendapat telpon dari pihak rumah sakit, dimana bayi mereka sudah bisa dibawa pulang kerumah.
Untuk sementara bi Inah dan suaminya akan ikut bersama Rizon. Karena bagaimanapun dia tidak punya pengalaman dalam mengurus bayi.
Perjalanan yang cukup melelahkan dimana macet yang melanda. Tanpa pulang ke rumah, mereka langsung kerumah sakit untuk menjemput bayi yang bahkan namanya sendiri belum terpikirkan.
Sedikit canggung dan tampak wajah Rizon menyimpan kesedihan saat menggendong bayi mungil tanpa dosa itu. Bagaimana tidak, melihatnya seakan mengingatkannya pada sosok istri yang telah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Bi Inah dengan hati-hati menerima sang bayi dari gendongan perawat.
Setelah menyelesaikan administrasi, mereka pulang dalam fikiran masing-masing. Tak ada yang memulai pembicaraan hanya bi Inah yang tampak sibuk dengan bayi manis itu.
***
Kamar bayi yang sudah disiapkan oleh Rizon sesuai dengan permintaan sang istri tampak indah dengan warna yang dominan biru. Di kamar inilah bayi piatu itu akan memulai hari-hari nya tanpa sang mama yang akan menemaninya.
Setelah memasukkan segala perlengkapan yang mereka bawa Rizon langsung meninggalkan kamar itu tanpa menoleh sedikitpun pada bayi tak berdosa itu. Tapi sebelumnya dia menyerahkan sebuah kartu ATM pada bi Inah.
"Bi... Ini bisa bibi gunakan untuk segala keperluan anak itu."
__ADS_1
bi Inah hanya menerima dan sangat terkejut dengan kalimat yang barusan didengarnya.
"Anak itu"
Seolah-oleh bayi mungil itu bukan bayi Rizon.
Tapi tanpa banyak bicara bi Inah hanya mengikuti apa yang menjadi keputusan sang pemilik kuasa rumah. Bi Inah sangat paham betul karakter majikannya itu. Tanpa membantah dia hanya menurut melanjutkan aktifitasnya.
Lelah hati yang dialaminya membuatnya ingin beristirahat sejenak. Pelahan Rizon memasuki kamar yang sebelumnya ia tempati bersama Nina. Hatinya terasa kelu saat langkah pertama memasuki kamar itu. Figura foto yang menunjukkan senyum Nina yang indah tanpa beban berukuran besar menambah kesedihan yang teramat dalam.
"Dank merasa sesak sayang" ujarnya seolah-olah ada Nina dikamar itu sembari menutup matanya sambil bersandar menengadahkan kepalanya disofa.
Bayangan Nina memenuhi seisi kamar. Tak lama dia sadar dan membuka matanya. Sudut matanya kembali mengalirkan air yang benar-benar membuatnya sesak.
Lama Rizon terhanyut menikmati kenangan bersama Nina. Tak sekali dia menyeka air yang tak diminta itu.
"Anak kita, apakah dank bisa membesarkannya sendirian sayang? Apa yang harus dank jawab saat dia menanyakan mamanya? Bahkan namanya saja adek belum kasi." Lagi-lagi dia berbicara pada foto yang terpajang. Lagi-lagi dia tak mendapatkan jawaban membuatnya semakin frustasi.
Rizon bangkit dan melangkahkan kakinya. Berniat untuk menyegarkan diri. Saat dia membuka lemari berniat mengambil handuk baru. Matanya penasaran dengan kotak yang biasanya Nina menyimpan barang-barang berharga miliknya.
Dengan tangan gemetar Rizon mengambil kotak yang berukuran sedang itu, membawanya sembari duduk ditepi ranjang. Melupakan sejenak tujuannya untuk mandi.
Satu persatu dia memperhatikan benda-benda yang menjadi kesayangan sang istri. Beberapa merupakan pemberiannya mulai dari mereka pacaran sampai dia benar-benar meninggalkan Rizon untuk selamanya.
Tak kuasa tangisnya pecah, sampai sesenggukan. Sepertinya dia melupakan sejenak dia adalah seorang lelaki yang seharusnya tidak cengeng. Didalam kamar itu dia seolah-oleh menjadi sosok yang rapuh. Setiap benda memiliki cerita.
__ADS_1
Sebuah kertas berwarna putih yang terlipat rapi berada di bagian bawah kotak membuatnya sedikit penasaran. Masih dengan tangan dan hati yang bergetar dia meraih dan membukanya. Perlahan matanya membaca setiap rangkaian kata yang tertulis di kertas putih itu.