Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Pulang kekosan


__ADS_3

Atas ijin dokter, ahirnya diperbolehkan pulang setelah menginap beberapa hari di tempat yang tidak mengenakkan itu


"Ini atm adek, bisa pake buat debit kok kak, pinnya adek kirim chat yah." Ucapku seraya menyerahkan kartu pada Rizon untuk menyelesaikan administrasi. Sebenarnya udah ada kartu BPJS, tapi buat jaga-jaga kalo ada yang harus dibayar.


Dia mengambil kartu itu dari tanganku.


"Kakak ke sana dulu yah" ucapnya meninggalkanku dengan Endah yang membantuku.


Sekitar 45 menitan dia meninggalkan ruangan ahirnya kembali dengan beberapa lembar kertas beramplop ditangannya. Tanpa memberitahukan apa itu, dia langsung memasukkan kedalam tasku yang ada diatas ranjang. Tidak lupa dengan kartu BPJS dan atm dia selipkan di dalam dompet.


"Kita berangkat sekarang?" Ujarnya sambil mendekatkan kursi roda yang dibawa masuk oleh perawat.


"Ga usah pake kursi roda kak, kayak sakitnya udah akut aja" tolakku


"Ga papa, lumayan loh ke lobby" paksanya. Tanpa banyak protes aku menurut sembari duduk manis menuju lobby rumah sakit. Di sampingku Rizon dengan tentengan di ikuti oleh Endah kami menuju pulang.


***


Lega rasanya sampai dirumah. Kembali menghirup hawa kamar yang memberiku kenyamanan. Rizon masih sibuk menggangkat barang-barang bawaan dari rumah sakit. Memilah dan merapikan, pakaian kotor dia masukkan kedalam kantong plastik hitam dan yang lainnya dia tata dengan rapi. Kagum dengan keapikannya, benar-benar rapi. Dan semua dia lakukan tanpa banyak bicara.


"Makasi ya kak" ucapku saat dia sudah duduk disebelahku yang sedang setengah berbaring. Yang hanya dibalas dengan senyuman olehnya.


"Banyak istirahat, jangan banyak berfikir yang aneh-aneh. Dokter bilang sakit adek efek kelelahan."


Didepan pintu mami sudah berdiri dengan semangkok sup hangat yang harus segera aku makan.


"Sini bu..." ucap Rizon sembari mengambil nampan yang dibawa mami.


"Makasi lohhh nak Rizon udah banyak membantu"


"Iyaa bu, ga papa." Jawabnya singkat


Mami tersenyum lega melihatku.


"Jangan bikin mami panik lagi yah!" Ucapnya lembut penuh kasih sayang.


"Sekarang makan dulu, abis itu lagsung istrirahat ya. Mami tinggal dulu."

__ADS_1


Rizon mengiakan mami yang segera bangkit dan meninggalkan kami berdua.


Setelah selesai makan dan minum obat mataku mulai terasa ngantuk. Efek obat yang mengandung obat tidur kali yah.


"Adek, sebentar kakak pulang mau membersihkan diri dulu yah. Setelah itu kakak balik lagi. Sekarang adek istirahat" ucapnya sebelum aku tertidur pulas.


"Kakak istirahat juga, nanti kecapean ikutan sakit lagi"


"Ga papa, nanti kan ada adek yang ngerawat kakak" ucapnya mulai bercanda


"Jangan ihhh..." balasku sedikit manja


***


Ga bisa di pungkiri lelah Rizon tampak dari wajahnya yang lusuh. 3 malam berturut-turut tidurnya ga karuan.


Dengan berat hati dia meninggalkanku yang sudah tertidur.


"Ibuu...saya tinggal sebentar ya, mau mandi dan ganti baju dulu" pamitnya pada mami.


"Iya nak, kamu hati-hati ya"


Sebenarnya aku belum benar-benar tidur. Cuma aku pura-pura tidur biar dia cepat pulag dan bisa istirahat. Aku mendengar semua obrolan mami dan Rizon, sampai suara mesin mobilnya menjauh masih jelas aku mendengarnya.


Sejauh ini dia memang cowok idaman para kaum hawa. Tapi entah kenapa masih banyak hal yang masih membuatku ragu dan berkata "ya"


***


Di rumah Rizon


Ada Raisya atau yang akrab dipanggil Caca, adik perempuannya yang baru beberapa jam yang lalu pulang dari kota Manna kampung halaman mereka.


"Gimana keadaan mbak Nina" ujarnya pada Rizon yang sedang membuka jaketnya.


"Udah mendingan" jawabnya singkat


Hubungan Rizon dan Raisya benar-benar sangat dekat. Tidak ada rahasia diantara mereka, bahkan soal hati. Banyak yang mengira kalau mereka bukan kakak adik. Karena umur mereka juga tidak begitu jauh. Raisya seumuran dengan Nina, gadis yang sedang digilainya.

__ADS_1


Raisya sangat mengetahui perasaan kakaknya itu yang tumben-tumbennya jatuh cinta. Bisa dibilang ini cinta pertamanya.


"Ibu dan ayah ga papa setelah aku tinggal" tanyanya pada adiknya itu


"Sedikit bingung sih, tapi udah caca jelasin. Dan ibu bilang kalo nanti pulang di suruh ajak Nina. Ibu pengen kenal sama cewek yang udah buat anaknya galau." Ceritanya memancing tawa Rizon.


"Bisa aja kamu"


"Beneran, kalo ga percaya telpon aja. Ehhh iya, kalo udah ga sibuk ibu suruh kamu hubungin dia." Ujarnya menyampaikan pesan sang ibu.


Saat itu juga Rizon mengambil handphonenya. "Ibu sayang" itulah nama yang tertera dilayar ponselnya, dan ga butuh waktu lama panggilan tersambung.


"Halo bu... maaf baru nelpon yah.."


"Iya ibu paham. Gimana kabar Nina? Tanya ibu yang tau nama itu dari cerita adiknya Caca.


"Semakin membaik bu. Udah pulang dari rumah sakit. Ini baru pulang kerumah habis nganterin ke kosannya dulu."


"Ingetin banyak istirahat ya, salam dari ibu"


Ibu yang luar biasa bagi Rizon dan Caca, sosok itu sangat mengerti dengan apapun keadaan anak-anaknya. Tidak pernah menunjukkan amarah, semua diselesaikan selalu dengan kepala dingin dan keluarga Rizon sangat-sangat terbuka terhadap apapun. Ibu dengan segala kelemah lembutannya dan ayah dengan segala ketegasannya dan rendah hati, Itulah dua sosok yang sangat menjadi teladan bagi mereka berdua.


Sekitar 30 menit lebih anak dan ibu itu bercerita panjang lebar. Benar- benar tidak ada batasan antara keduanya.


"Ntar sore mau jengukin Nina boleh?" Pinta Caca pada Rizon.


"Skalian kenalan sama calon kakak ipar yang bisa-bisanya bikin kakakku kepincut setengah mati." Godanya


"Belum Ca, masih belum fix..." jawab Rizon asal


"Whatttzzz, ternyata kakakku belum di kasi status tahhh" ejeknya tak berenti menggoda kakaknya


"Tapi ga papa, siapa tau setelah kenal dan ketemu Caca bisa meneguhkan hatinya."


"Boleh aja... tapi sekarang dia lagi istirahat, ntaran aja" ujar Rizon sedikit menghalangi Caca.


"Iyaaa tau..." balas Caca sewot sembari berlalu masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2