Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Season 2 part3


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Theo menahan hati yang panas dalam dinginnya pagi. Dia memejamkan mata, tapi bukan berarti dia tidur. Masih dengan kesal pada sikap dingin sang papa yang tidak pernah berubah. Terkadang dia merasa menyesal menjadi anak yang sangat penurut, menyesal menjadi anak yang memikirkan untuk membanggakan orang tua yang notabennya pencapaiannya tak dianggap sama sekali.


Hati kecilnya ingin menjerit, ingin mengadu tapi mamanya juga begitu kejamnya meninggalkan dirinya tanpa sempat memberinya kasih sayang.


Wajah Bi Inah menyambutnya seperti biasa dengan penuh cinta kasih seorang ibu yang tidak dia dapatkan dari mamanya ketika sampai dirumah mewah dengan fasilitas bak hotel bintang lima.


"Theooo..." Senyum bibi yang tak lepas dari wajahnya


"Iya bi... maaf ga ngabarin, kemarin Theo langsung ke rumah kenari."


Beberapa pelayan dirumah itu membantu membawakan serta membereskan koper Theo.


Bak ibu dan anak keduanya langsung menuju ruang makan, dimana Theo benar-benar merasa lapar. Karena malam sebelumnya dia melewatkan makan malam karena ketiduran, dan pagi ini mood sarapannya sudah dirusak oleh sang papa.


Masih cerita dan keluhan yang sama mengenai papanya. Bi Inah memposisikan diri sebagai pendengar yang baik. Tak hanya sekali wajah lelaki muda tampan itu menunjukkan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sekarang kamu sudah lebih dewasa menanggapi sikap papamu nak." senyum Bi Inah


"Tapi Theo benar-benar sakit dengan sikap papa yang sepertinya sangat membenci Theo bi"


"Mungkin ada ribuan kali bibi katakan padamu, papamu tidak membencimu, dia sangat mencintai kamu. Coba kamu lihat, emang ada kalo seorang papa membenci anaknya tapi memberikan kelayakan hidup yang jauh sangat jauh dari kata terlantar. Dari kamu lahir dia sudah memikirkan masa depanmu Theo. Bersyukurlah nak. Itu akan lebih membuatmu untuk tidak tamak."


"Theo bukan ingin tamak bi, tapi Theo merindukan kasih sayang papa. Hanya dia yang Theo miliki"


"Sudah lah nak, kamu sudah buktikan kewajiban kamu sebagai anak dengan segala prestasi yang kamu raih, tunjukkan kedepannya tanggung jawab kamu sebagai pria yang dewasa. Sebentar lagi kamu sudah akan 21 tahun. Hadapi papa dengan memberikannya kasih sayang, bibi yakin dia pasti akan luluh."


"Maksud bibi...???" Theo


"Bibi tega ngatain Theo lemot..."rajuknya


"Theo, papamu itu seperti yang sudah sering kita bahas. Dia sangat sangat terpukul dengan kematian mama kamu. Dia benar-benar kehilangan semangat hidupnya nak. Cobalah lebih sabar membuat papamu sadar jika kamu adalah sosok pengganti mamamu yang selama ini dia abaikan."

__ADS_1


"Theo harus mulai dari mana bi? Theo masih belum tau."


"Mulai dengan ikut dengan papa ke perusahaan, bantu papamu. Tunjukkan kepedulian kamu. Karena diperusahaan dia akan lebih sering bertemu dengan kamu"


"Memang tadi dia sudah bilang, Minggu depan dia akan mengajak Theo untuk mulai memegang perusahaan"


"Itu kan bagus. Pergunakan waktu yang ada dikantor untuk kalian semakin dekat. Anggap lah kamu lagi membujuk pacar kamu"


"Hahhahh..." Theo tertawa


Pantesan dia tidak bisa mendapatkan hati papanya, ternyata mendekatinya sama seperti mendekati hati wanita. Hal yang selama ini tidak pernah dia lakukan. Jangankan punya pacar, berhubungan dengan yang namanya wanita saja tidak pernah. Kecuali bibi Inah dan bunda Caca.


Banyak yang berusaha mendekatinya tapi niatnya membanggakan sang papa mengalahkan semuanya.


"Ya sudah makan dulu gih. Keburu dingin makannya" Bi Inah melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Theo yang sudah lapar maksimal ahirnya melanjutkan makannya tanpa ditemani sang Bibi lagi. Benar-benar makan tanpa banyak bicara lagi.


Terbesit hatinya untuk mengunjungi makam mamanya yang sudah lebih dari 5 tahun tidak dia kunjungi. Yaghh, hari ini dia akan ke kota dimana hati papanya terbawa dan terkubur disana. Sekalian dia akan mengunjungi kakek dan banyak kerabat yang tinggal di kota itu.


__ADS_2