
Beberapa waktu kemudian....
Gelar sarjana sudah disandang Rizon dengan predikat cumlaude. Bahagia dengan keberhasilannya. Dengan nilai nyaris sempurna yang diraihnya.
Perjalanan rumah tanggaku tidak semulus dengan jalan tol yang bebas hambatan. Pertengkaran kecil sering terjadi, orang ketiga sepertinya enggan melihat hubunganku baik-baik saja. Sosok Ayu masih belum bisa melupakan suamiku. Bahkan terkesan memanfaatkan segala situasi untuk mendapatkan hatinya.
Aku masih menunggu Rizon keluar dari gedung setelah acara selesai dengan duduk di salah satu bangku panjang yang ada disekitar halaman gedung.
"haiii Na... Rizon belum keluar?" suara kak Baim menyadarkannku
"belum kak Im. Selamat ya kak, ahirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga"
"Makasi Na. Ditunggu pengangguran besar-besaran" balas Baim dengan tertawa
"kakak kesana dulu ya" ucapnya berlalu menghampiri kerabatnya yang berkumpul.
Bahagianya mereka, coba ibu masih ada pasti akan bahagia dengan pencapaian kak Rizon. Salah satu keinginan ibu yang tidak bisa dia lihat. Tapi aku percaya, dari atas sana ibu melihatnya dengan bahagia dan bangga pada Rizon. Dan sayang sekali ayah berhalangan, dan Caca juga tidak bisa datang. Iri rasanya melihat wisudawan/i menikmati bahagia bersama-sama. Sementara aku masih menunggu suamiku yang masih belum keluar juga dari gedung.
Aku sedikit menjauh dari pemandangan orang-orang yang sedang bahagia. Rasanya risih ketika bertemu dengan orang-orang yang aku kenal dengan keberadaanku sepertinya terlupakan oleh suamiku sendiri.
Aku tunggu dikantin aja, nantikan juga bakalan ditelpon sama Rizon. Batinku berusaha berdamai dengan keadaan sembari melagkah kekantin yang berada tidak jauh dari gedung.
Sambil memainkan ponselku, melihat-lihat IG yang hari ini dipenuhi postingan bertema Graduation ceremony oleh beberapa kakak kelas yang berteman denganku disosmed. Sambil memberikan selamat pada kolom komentar mereka.
me : sayang, km dmn? adek tunggu di kantin samping gedung
Mencoba mengirimkan pesan dan hanya centang satu yang artinya ponsel Rizon sedang tidak aktif.
__ADS_1
satu jam berlalu tidak menunjukkan tanda-tanda dia akan datang. Aku beranjak menerobos keramaian kembali kedalam gedung yang masih ramai. Mataku berkeliling mencari sosok Rizon, tapi tak juga aku temukan.
"Kenapa harus merusak moment ini sie yank" batinku mulai kacau.
Aku menyerah mencarinya diantara ribuan orang. Aku memutuskan pulang saat itu juga. Rasa kecewa dan sedih yang sangat dalam. Berusaha menahan air mataku yang sangat ingin tumpah. Langkahku semakin cepat, ingin segera menghilang dari keramaian yang membuatku terluka dan bbbrrraaakkkk.... hari yang terik perlahan gelap dan aku tak merasakan apa-apa.
***
Keramaian wisuda tiba-tiba berpindah kearah suara sepeda motor yang terjatuh. Tiga korban yang terkapar dua diantaranya sudah tak sadarkan diri. Salah satunya adalah sosok Nina yang terkapar dengan benturan yang sangat keras membuatnya terpental dan berdarah cukup banyak.
Beberapa orang ditempat itu membawa korban ke klinik terdekat. Nina dengan kondisi yang kritis membutuhkan peralatan medis dibawa kerumah sakit. Ponselnya yang hancur menyulitkan untuk mencari keluarga dan orang terdekatnya. Sementara masih dalam keadaan kritis.
Arman seorang dosen muda yang membawa Nina kerumah sakit bingung untuk mencari kerabatnya.
"lakukan yang terbaik dok" pinta Arman sedikit bimbang.
Dirumah...
Kakak juga nyari kamu sayang. Hari ini benar-benar rusak karena ponsel tertinggal. geram Rizon.
Setelah ganti pakaian Rizon masih menunggu istrinya dengan perasaan bersalah. Beberapa kali menghubungi tapi ponselnya mati.
cepat pulang sayang, maafin atas kesalahpahaman ini.
Flashback on
Setelah selesai acara Rizon yang hendak keluar keluar gedung dihentikan oleh suara yang menyapanya.
__ADS_1
"Selamat ya Zon..." suara pak Rektor yang menghentikan langkahnya.
Sosok yang kebetulan dikenalnya, yang mana berteman dekat dengan ayah dan ibu. Selain itu Rizon yang aktif dalam BEM membuatnya sering berkomunikasi dengan rektor.
"terimakasih pak..."
"apa rencana selanjutnya..."
"Sejauh ini saya mau mengurus usaha yang sudah berjalan dulu pak. Untuk yang lainnya masih saya fikirkan"
Obrolan panjang berlangsung membuat Rizon gusar. Berfikir istrinya sudah menunggu. Tapi pak rektor masih saja tidak menghentikan pembicaraannya.
Ahirnya sekretarisnya menghampiri dan meminta pak rektor untuk kegiatannya menyelamatkan untuk Rizon bisa keluar.
Matanya mencari sosok kesayangan yang dia yakin dalam mode marah saat ini. Tapi tak juga temukan. Malahan teman-teman yang wisuda pada hari itu yang bertemu dan mengajaknya mengabadikan momen terahir mereka dikampus.
"Tadi ketemu, tapi aku ga tau kemana perginya bul" ucap Baim
Berusaha mencari tapi tak juga ketemu. Rizon memutuskan untuk pulang berharap dirumah sudah ada Nina.
Tidak seperti harapannya, pintu gerbang masih terkunci dengan cantik.
Flashback off
Dirumah sakit...
Arman memposting kejadian kecelakaan beserta foto korban di sosmed dan grup chat di ponselnya. Berharap ada yang mengenalnya. Wajah Nina yang bersimbuh darah membuat wajah itu tidak begitu jelas.
__ADS_1
Satu dua tiga jam berlalu masih belum ada titik terang. Tapi dia tidak patah semangat. Sementara Nina masih berjuang diruang operasi karena benturan dikepalanya.
Sambil menunggu Arman ga habis akal. Dia meminta rekannya untuk membuat pengumuman, meminta menempelnya disetiap jurusan. Berharap akan ada yang menghubunginya.