Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter65


__ADS_3

Dua tahun berlalu...


Aku bahagia, aku benar-benar menjadi wanita paling beruntung dibumi ini.


Menjalani kehidupan yang normal setelah aku benar-benar pulih dari semua cobaan yang aku hadapi.


Tuhan begitu baik, masih memberikan kesempatan bagiku. Kecelakaan yang aku alami membuatku harus hilang ingatan, hidup dalam kekosongan tanpa memori. Penculikan yang berujung dengan trauma dan ketakutan yang berkepanjangan.


Tapi karena dia. Yahhh, dia suamiku yang dengan tanpa lelah mendukungku sampai aku merasakan kesembuhan. Dia yang dengan tulus memberikan cintanya untukku bisa pulih kembali.


"Udah selesai sayang?" suara yang menyadarkanku dari segala lamunanku


"Udah cantik..." kecupan lembut mendarat dipucuk kepalaku.


Yahhh, hari ini aku akan diwisuda. Setelah tertinggal dari teman-teman seangkatanku akirnya aku bisa menyelesaikan pendidikanku. Meski tidak predikat Cumloude aku berbangga masih dalam predikat sangat memuaskan. Hal yang sama dengan suamiku yang hebat, mampu menyelesaikan strata duanya masih dengan nilai sempurna.


Tidak ada perayaan khusus, kami hanya ingin pulang mengunjungi ayah dan makam ibu di kampung halaman suamiku.


***


Sebelum menuju rumah, kami langsung kemakam ibu. Tampak masih ada bunga segar yang menunjukkan ada yang baru datang berkunjung.


"Ibu... kami datang..."


Aku masih tidak bisa menahan airmataku ketika berkunjung. Padahal sudah beberapa tahun berlalu. Rasanya ibu masih ada bersama kami.


"Hanya doa yang bisa aku titipkan, lihat kami dari tempatmu disana bu... Doakan kami akan bahagia seperti yang ibu harapkan" lirihku dipusaranya


Rizon merangkulku, memberiku energi agar tetap kuat.


***


Dirumah masih sepi, ayah tampaknya belum ada dirumah. Hanya ada mbok Inah yang menyambut kedatangan kami.


"Apa kabar mbok?" Sapaku sambil memeluknya


"Baik non..."


"Ayah mana mbok?" tanya Rizon


"Tadi bilangnya mau keluar aja. Mbok juga ga nanya kemana detailnya

__ADS_1


"Ya udah mbok, kita mau istirahat dulu..."


"Ga makan dulu non, dank?"


"Nanti aja Mbok..."


Ucapku dan Rizon hampir bersamaan. Dan kami hanya tersenyum dan berlalu menuju kamar.


Aku langsung mengambil handuk. Rasa gerah dan lengket dibadanku sudah tak tertahan.


Guyuran air menyegarkan tubuhku. Segar, itu yang aku rasakan.


"Dek, kakak masuk ya?"


"Jangan kak, adek udah selesai kok..."


"Kok udah selesai sie???" gerutunya sewot disaat aku keluar dari kamar mandi.


Tiba-tiba dia memelukku yang hanya dengan handuk yang melilit.


"Kakak apaan sie... mandi dulu sana..."


"Dasar mesum ihhh..."


Dengan snyum nakal dia masuk kekamar mandi. Terdengar suara gemericik air menadakan dia tidak menunda untuk mandi.


Aku mengeringkan rambutku yang basah ketika Rizon sudah menyelesaikan ritual mandinya. Hanya dengan handuk yang melilit dipinggangnya memamerkan tubuh kotak-kotaknya. Rambutnya yang basah menambah aura keseksiannya.


"Sayang..." Bisiknya sambil memelukku dari belakang.


Tanpa menunggu jawabanku kebisaannya menyerang sudah kuduga.


Dia melahap leherku yang dia tau daerah sensitifku. Tanpa penolakan aku menerima setiap sentuhannya. Bibir kami bertaut saling membalas ciuman. Ada gejolak gairah yang aku rasakan menikmati setiap kecupannya.


Tanpa melepas ciumannya, Rizon membawaku keatas ranjang dan dengan leluasa menjelajah setiap inci tubuhku.


Satu persatu dia melepaskan yang aku kenakan dan masih menyisakan bra berenda dan celana dalam. Satu tangannya meremas pusaka kembarku dan yang satunga meraba-raba lembah dibalik celana dalamku sambil bibirnya tak lepas menghujaniku dengan ciumannya.


"Sayannggg...ahhhh"


Aku mulai tak bisa mengontrol desahanku dengan setiap sentuhannya.

__ADS_1


"Jangan ditahan sayang, kakak suka mendengarnya..."


Kami benar-benar polos. Handuk yang melilit ditubuh Rizon sudah terlepas begitu saja. Juniornya sudah menggantung degan gagahnya.


Aku menyentuh pusaka itu degan hati yang berdebar. Mengelusnya degan lembut. Seperti tombol yang terkoneksi hingga desahan terdengar dari mulut Rizon.


"Ahhhh...mainin dulu juniornya sayang..." pintanya sambil mata terpejam meikmati sentuhaku.


Aku yang mulai terbiasa melakukan keinginannya. Kenikmatan yang tak bisa disembunyikanya.


"Ayooo sayang, kamu diatas duluan..."


Tubuh kami bersatu.


"Ahhh....uhhh..."


Desahan saing berbalasan. Gerakan tubuhku diikuti geraka tubuh Rizon yang menunjukkan irama yang saling berbalasan. Sampai aku merasakan sesuatu yang hangat menjalar keseluruh tubuhku. Rizon yang menyadari itu memperlambat gerakanya, meberiku jeda tanpa melepas penyatuan kami dan kembali melanjutkanya. Aku merasakan terbang. Dia dengan lembut membalik tubuhku dengan dia sebagai pimpinannya.


"Sayanggg auuhhhh...."


Berbagai gaya berganti dan beberapa kali aku dibuanya terbang, dan aku benar-benar hampir kehabisan tenaga.


"Sayanggh, aakuuu mau keluarrr..."teriaknya


Cairan hangat terasa meyembur kedalam rahimku dan Rizon masih menahannya. Pertama kalinya dia melepaskan benihnya didalam.


"Makasi sayang..." kecupan lembut dikeningku, Sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh kami yang polos


"Adek ga marah kan kakak keluarkan didalam."


Aku menggeleng mejawabnya menandakan tidak ada protes. Karena selama ini kami melakukan hak dan kewajiban dengan pengaman. Status mahasiswa membuat kami memutuskan menunda. Tapi untuk saat ini, setelah kami menyelesaikan pendidikan, memiliki momongan sudah masuk dalam list prioritas.


"Semoga kita segera diberi kepercayaan sayang." ucapku berharap


"Kakak juga berharap seperti itu."


"Sekarang prioritas kakak untuk adek, untuk anak-anak kita nanti."


Rizon mempererat pelukannya, dan meberikan kenyaman padaku yang bersandar didadanya.


Rasa lelah yang nikmat mebawa kami kedalam tidur yang kesorean.

__ADS_1


__ADS_2