Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter77


__ADS_3

Dear suamiku terkasih...


Ketika dank membaca tulisan ini itu artinya adek sudah tidak bersamamu lagi. Tapi percayalah, harapan adek kebahagiaan selalu bersama dank.


Terlebih lagi pasti anak kita pasti sangat menggemaskan. Apakah dia merepotkan dank??? Ahh harapan adek itu tidak akan terjadi. Dia pasti akan menjadi anak yang penurut dan akan menjadi anak kebanggan keluarga kita. Kasih sayang dank akan satu-satunya menjadi miliknya.


Oh iya, adek sudah siapkan nama sebenarnya buat anak manis kita. "Theo Saguna wiradnyata" Artinya Anugrah Tuhan yang memiliki sifat baik. Tapi kalo dank punya pilihan nama, dank boleh kok menggantinya. Maaf adek belum sempat bahas soal nama sebelumnya.


Ya sudah Tuan Rizon Adria wiradnyata, rasanya ga perlu panjang-panjang. Satu pesan adek, hiduplah bahagia karena adek akan sedih melihat kesedihan dank.


Dan iya satu lagi, semua barang-barang dikotak ini berikan pada gadis yang akan menjadi pendamping Theo kelak. Pesankan padanya "Maaf jika mama mertuanya tidak bisa memberikan secara langsung. Sayangi Theo dan berikan cinta yang banyak buatnya"


Selamanya cinta adek buat dank, buat Theo kita. Selamat bahagia cintaku...


Peluk & Cium


istrimu


Mata indah yang diselimuti mendung yang siap untuk tumpah. Rizon benar-benar menahan sesak dengan segala kenyataan yang ada.


"Theo Saguna wiradnyata" Lirihnya


"Yaghh, sesuai nama yang adek minta."


Setelah memasukkan kembali barang-barang milik sang istri, Rizon berjalan keluar menuju kamar bayi. Tampak bi Inah sedang memberikan susu pada bayi mungil itu.


"Nak Rizon..."

__ADS_1


"Apa dia menyusahkan bibi?" Tanyanya sembari duduk disamping bayinya


"Ga dank, dari tadi dia hanya tidur. Baru terbangun saat popoknya basah dan dia haus."


Rizon menjamah lembut tangan mungil itu. Bibirnya tersenyum tapi itu tidak lama. Seketika dia melepaskannya, seolah-olah enggan berlama-lama dikamar itu.


"Bi, Theo Saguna wiradnyata. Bisa dipanggil Theo. Nama itu pemberian terakhir mamanya." Ucap Rizon sembari meninggalkan kamar


Bi Inah yang paham betul kondisi Rizon hanya bisa tersenyum nanar. Setelah itu dia buru-buru beranjak.


"Theo, nama yang bagus sayang. Yaghh kamu adalah anugrah dari Tuhan. Mungkin saat ini papa masih sedih dengan kepergian mama, tapi satu saat papa Theo akan sadar kalo kamu adalah anugrah terindah dari Tuhan." ucap bi Inah pada baby Theo yang masih dengan manisnya mengisap ****** botolnya


***


Keadaan yang membutuhkan waktu beradaptasi dengan kondisi sepeninggalan Nina. Rumah itu terasa asing bagi Rizon. Selalu ada rasa yang kurang. Setiap pulang dari kantor sering tanpa sengaja dia selalu memberikan salam dengan memanggil nama Nina. Ya, nama itu masih menguasai rumah itu. Tersadar dan itu kembali membuatnya murung.


Yaghhh, Theo hidup dengan segala fasilitas yang premium. Tapi bukan kasih sayang papanya. Apapun itu yang menjadi keperluannya tidak pernah terlambat dan selalu terpenuhi.


Menjadi lelaki yang dingin dan bisa terbilang Rizon menjadi sosok yang kaku bahkan menjadi lebih pemarah dengan emosi tingkat tinggi. Sedikit kesalahan itu bisa berbuntut panjang. Karyawan dikantornya sangat merasakan perubahan sosok hangat yang sangat peduli pada saat istrinya masih hidup.


"Emang cinta bisa merubah seseorang ya" ujar Mita yang merupakan salah satu karyawan yang terbilang sudah cukup senior bercerita disela-sela makan siang mereka di kantin.


Mereka sedang membicarakan sosok Rizon yang menjadi atasan plus pemilik perusahan dimana mereka mencari nafkah penyambung hidup yang sedang duduk sendiri disudut kantin sambil menikmati kopi dan sesekali menyesap rokok yang terselip di antara jarinya.


Sejak kematian sang istri entah kenapa benda itu bisa bersahabat dengannya. Bahkan terkadang dia mabuk. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelum kepergian sang istri yang meninggalkan hidupnya.


"Lihat atasan kita itu" Lanjut Mita tanpa menoleh kearah Rizon

__ADS_1


"Kenapa emang mbak Mita?" ujar Clara yang baru bergabung selama 5 bulan


"Cintanya yang besar terhadap istrinya menjadi racun bagi hidupnya juga"


"Ya ialah, atasan galak gitu. Kalo bukan karena gaji yang lumayan sebenarnya saya malas di perusahaan ini mbak." lanjut Clara yang tidak tau masa lalu seperti apa


"Dulu pak Rizon sangat ramah, baik, peduli pada karyawan, apalagi istrinya. Mereka sangat dekat pada bawahannya. Dulu dikantor ini antara bos dan bawahan seperti keluarga."


Beberapa dari mereka yang belum lama bergabung dengan perusahaan antusias mendengar cerita Mita. Karena sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka lihat.


"Setelah istrinya meninggal setelah berjuang berbulan-bulan dirumah sakit mempertahankan bayi yang dikandungnya."


"Kalo cerita itu kita dah pada tau. Istri atasannya itu meninggal karena melahirkan"


"Itu hanya sepenggal cerita saja. Sebenarnya ibu Nina ada sakit. Saat dia hamil sebenarnya sudah tidak di ijinkan dokter. Tapi yang namanya perempuan. Dia nekad mempertahankan kehamilannya yang sebenarnya menyiksa dirinya sendiri. Ahirnya dia harus Bed rest di rumah sakit. Dulu kita sering melakukan aktifitas kantor dari rumah sakit. Karena pak Rizon ga mau meninggalkan istrinya. Waktunya benar-benar dia dedikasikan untuk merawat sang istri. Dia sangat terpukul sekali dengan kematian istrinya. Setelah bayinya lahir, kondisi ibu Nina mengalami penurunan dan ahirnya tak tertolong."


"Adughhh kok saya yang termehek ya" Ucap Sardiah sambil mengusap sudut matanya


"Itu hanya sepenggal kisahnya."


"Bener-bener suami idaman ya mbak. Jadi yang kedua juga aku mau " Clara menimpali dengan kepolosannya


Seketika semua mata melotot padanya membuat dirinya keki sendiri.


Beragam tanggapan serta rasa disaat beberapa dari orang baru yang sudah merasakan kekejaman seorang Rizon sedikit paham. Mereka merasakan apa yang dirasakan oleh sang pemilik perusahaan yang memberikan mereka kehidupan. Ternyata selama ini mereka salah menilai sang atasan.


Begitulah hidup seorang Rizon semenjak sosok tercinta meninggalkannya. Hidupnya hanya untuk bekerja. Menghabiskan waktu untuk bekerja. Hanya pekerjaan yang ada difikirannya. Selebihnya menghanyutkan diri dengan segala kenangan bersama sosok yang sudah membawa separuh jiwanya pergi.

__ADS_1


END


__ADS_2