
Sepeninggalan Rizon ke kantor, Nina kembali merebahkan tubuhnya. Rasa sakit kembali menyerang. Membuatnya hanya bisa meringkuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Setelah menelan obat yang sudah diresepkan dokter sedikit bisa membantu.
Suara panggilan pada ponselnya membuatnya terbangun dari tidur yang sudah susah payah.
"Hallo dank, ada apa?" suara Nina sedikit lemah
"Kok suaranya gitu, adek baik-baik aja kan?"
"Iya, adek baik-baik aja. Tadi ketiduran dank..."
"Dank cuma mastiin adek ga kenapa-kenapa. Ini dank masih di kantor. Sebentar lagi mau ada meeting."
"Iya sayang, selamat bekerja ya... Love u" ucap Nina
"Love u too sayang...bye"
"Byeee ..."
Nina menutup panggilan sambil meringis menahan sakit yang semakin terasa.
"Kita kuat sayang" ucapnya pada janin yang sedang berjuang di rahimnya.
Dengan semangat dan kekuatan dari tekadnya Nina berusaha melawan rasa sakit yang menyerang. Perlahan matanya mulai bisa diajak kompromi dan tertidur.
***
Pukul 3 sore hari Rizon sengaja pulang lebih awal karena rasa kuatir. Beberapa kali menelpon sang istri tapi panggilannya selalu diluar jangkauan. Dengan bermacam fikiran dia memutuskan untuk pulang dan mewakilkan meeting yang seharusnya dia harus hadiri.
Rasa lega ketika melihat Nina masih tertidur setelah tadi rasa sakit yang melanda.
Tanpa membangunkan Nina, Rizon mendekati dan mengecup lembut kening wanita terkasihnya. Kedua sudut bibirnya terangkat sembari memerhatikan sosok Nina yang tertidur dengan tangan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Saat tidurpun kamu masih menjaga benih yang ada dirahimmu" Lirih Rizon sembari menyentuh tangan Nina.
"Sudah pulang dank? jam berapa ini?" ucap Nina yang terbangun merasakan sentuhan tangan suaminya sembari melihat jam di ponselnya yang ternyata mati.
"Maaf, dank membangunkan adek"
"Kok dank udah pulang? Bukannya meeting hari ini sampai sore?"
"Seharusnya, tapi dank sudah wakilkan. Ponsel adek ga bisa dihubungi. Dank kuatir."
"Iya maaf, adek ga tau hapenya mati ternyata. Tadi habis minum obat adek ngantuk bawaannya"
"Ya udah ga apa-apa. Tapi apa tadi perutnya sakit lagi?" selidik Rizon
"Ga kok, cuma adek sedikit capek aja" ucap Nina berbohong
"Syukurlah. Ya sudah, sekarang kita makan. Pasti adek belum makan dari tadi kan?"
"Dank udah beli sebelum pulang. Sekarang kita makan ya..."
Tanpa menjawab Nina perlahan bangkit dari tidurnya dibantu oleh Rizon. Karena memang rasa lapar sudah mulai terasa.
"Adek duduk dulu, dank siapkan makanannya."
"Biar adek aja yang..."
"Ga, biar dank aja. Adek duduk dulu"
Nina hanya bisa menuruti perintah suaminya. Percuma saja karena tetap harus nurut dan tidak boleh ada sangkalan.
Makanan dimeja cukup menggugah selera. Dari aromanya seharusnya sudah meyakinkan kelezatannya. Tapi aroma rendang yang biasanya menjadi favoritnya tiba-tiba merusak mood makannya. Perutnya terasa mual. Buru-buru Nina menuju kamar mandi.
__ADS_1
Rizon yang sudah menyendok makanan dipiringnya spontan mengikuti Nina.
"Dank makan aja. Perutnya rasa mual. Tolong jauhkan rendang yang ada diatas meja ya dank. Baunya bikin adek mual" pintanya lemah.
Rizon yang masih bingung segera membuang rendang yang sudah dia beli tadi, bahkan yang sudah ada di piringnya segera ia singkirkan.
Merasa semua sudah bersih, Rizon membantu Nina untuk kembali ke meja makan.
"Maaf dank..."
" Ga apa-apa sayang. Kok tiba-tiba adek ga suka rendang? Bukannya itu kesukaan adek?"
"Adek juga ga tau dank. Mencium aromanya saja adek benar-benar jijik."
Rizon mulai berfikir akan hal itu.
"Nanti saja aq tanya dokter Dian" Batin Rizon
"Adek mau telur mata sapi aja dank..."
"Haahhh...?"
"Iya, mata sapi. Tapi kuningnya jangan sampai pecah dan jangan terlalu Mateng yah..."
Lagi-lagi membuat Rizon tercengang. Telur mata sapi adalah makanan yang sangat Nina tidak suka, apalagi dengan kuning telur yang tidak Mateng sempurna. Dan sekarang istrinya menginginkan makanan itu.
Dengan masih menyimpan pertanyaan soal perubahan mood makan Nina, dia menuju dapur dan membuat sesuai keinginan sang istri.
Seolah mendapatkan kesenangan baru, mata Nina terlihat senang dengan makanan yang dibuat oleh Rizon. Tanpa banyak bicara dia makan seolah telur mata sapi itu seperti dia melahap rendang.
Hanya memandang Nina, Rizon melanjutkan acara makannya yang tertunda akibat tragedi rendang.
__ADS_1