Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter69


__ADS_3

Perjalanan tersepi yang pernah terjadi sepanjang pernikahan mereka. Nina hanya fokus menatap kesamping kejalanan yang mereka lewati tanpa sepatah katapun.Pandangannya kosong. Sementara Rizon hanya fokus dengan kemudi yang dipegangnya sambil menatap lurus kejalanan yang ada didepannya.


"Adek..." panggilnya sembari menyentuh tangan Nina dengan tangan kirinya.


"Hhmmm" Balasnya tanpa menoleh


"Lihat dank..." pintanya lembut


Nina hanya diam tanpa menoleh sedikitpun. Air matanya sudah menggenang dan siap tumpah.


"Sayang, jangan seperti ini. Pasti akan ada jalan keluarnya. Adek ga boleh stres, ada nyawa didalam perut kamu sayang..." hibur Rizon


Diluar harapan, tangisnya malah semakin pecah.


Rizon menepikan mobil yang sedang dikemudikannya. Diraihnya tubuh mungil istrinya kedalam pelukannya. Menyalurkan energi baru untuk menenagkannya. Hatinya juga hancur dengan kenyataan yang ada, tapi dia berusaha untuk menutupinya.


"Kenapa cobaannya ga habis-habis dank? Kenapa harus seperti ini? Kenapa???"


"Sayang..." Ucapnya mempererat pelukannya.


Getaran ditubuh Nina sudah semakin mereda. Perlahan dia merenggangkan pelukannya. Ditatapnya wajah Nina yang memerah akibat tangis yang memilukan hatinya sendiri. Disekanya anak rambut yang menutupi wajah, mengusap air mata yang mengotori wajahnya, perlahan dikecupnya kening itu dengan lembut.


"Kita pulang sekarang?"


Anggukan Nina kembali mengalihkan tangannya memegang kemudi. Melanjutkan perjalanan yang tertunda menuju rumah.


***


Sepanjang hari setelah pulang dari rumah sakit Nina hanya berdiam diri. Duduk ditaman samping rumah. Benar-benar tak ada keinginan untuk beranjak dari tempat itu. Padahal suasana magrib sudah datang.


"Adek, mau sampai kapan duduk disini terus?" Rizon menghampiri setelah selesai menyegarkan diri.


"Mandi dulu gih, biar segar badannya. Habis itu kita keluar cari sesuatu yang bisa dimakan."


Deg


Nina teringat akan makan malam yang belum ia siapkan. Dan segara dia beranjak menuju dapur.

__ADS_1


"Maaf dank, adek sampe lupa... Sebentar ya, 30 menit makan malam sudah siap."


Tapi langkahnya menuju dapur terhalang oleh Rizon yang sudah menangkap tangannya. Segera membawanya ke kamar untuk menyegarkan diri.


"Kita keluar. Sekarang adek mandi oke!"


"Tapi dank..."


"No tapi tapi, dank tunggu!"


Tanpa protes dengan langkah yang tidak seperti biasa Nina masuk kekamar mandi.


Guyuran air menyegarkan tubuhnya, tapi sakit diperutnya benar-benar tak tertahankan. Berusaha meraih kran shower tapi tak terjangkau olehnya. Nina terjatuh menahan sakit yang luar biasa.


"Sakittt..." Berusaha berteriak sambil menahan perutnya.


"Bertahan didalam perut mama sayang. Kamu ga boleh lemah. Kita akan sama-sama berjuang..." lirih Nina pada perutnya sendiri. Seakan sedang berbicara pada janinnya.


"Dankkk...sakitttt dankkk..." teriaknya maksimal.


Suara teriakan yang terdengar hanya panggilan bisa membuat Rizon beranjak dari berbaringnya. Mendekatkan diri kepintu kamar mandi untuk memastikan.


"Dankkkk...." suara panggilan yang melemah.


Sedikit ragu ahirnya Rizon membuka kamar mandi yang kebetulan tak terkunci. Wajahnya kalut melihat Nina yang sudah jatuh tersungkur.


"Sakittt dank." Lirihnya digendongan Rizon


Dengan hati-hati Rizon membaringkan Nina di tempat tidur. Sementara hanya menutup tubuhnya dengan selimut, Rizon mengambil air hangat dan memberi obat yang diresepkan dokter tadi.


Nina hanya menurut, fokusnya hanya menahan rasa sakit yang luar biasa.


30 menit berlalu, Nina membuka mata. Sakit luar biasa itu perlahan hilang. Rizon membantunya memakai baju membuatnya sedikit malu meskipun dia adalah suaminya yang sudah melihat seluruh sisi tubuhnya.


"Adek bisa sendiri dank."


"Ga usah bandel. Mulai sekarang nurut sama dank." ucap Rizon masih dengan serius dengan pekerjaan memakaikan pakaian Nina.

__ADS_1


"Dank, maafin adek ya..."


"Ga ada yang perlu dimaafin. Kita Jalan bersama sayang..."


"Makasi dank selalu ada buat adek."


Rizon memeluk erat sang istri, memberikan kekuatan. Pada dasarnya dia juga sama rapuhnya, tapi berusaha tegar demi sang istri yang lebih membutuhkan support.


"Dank ga berfikir seperti yang disarankan dokter Dian kan?"


"Jangan bahas itu untuk saat ini. Biarkan dank peluk adek, jangan lepaskan. Dank hanya ingin peluk adek buat saat ini."


Dalam waktu yang cukup lama Rizon memeluk Nina tanpa ingin melepasnya. Kegalauan hatinya benar-benar dia benamkan. Dia hanya ingin memberikan kekuatan pada istrinya, pada wanita yang sudah menjadi tulang rusuknya. Wanita yang sudah terikat sehidup semati dengan janji pernikahan.


"Dank, cobaan apa lagi yang Tuhan kasi buat kita? Seharusnya saat ini kita sangat bahagia. Adek benar-benar hanya beban buat kamu."


"Jangan bicara seperti itu sayang. Bagaimanapun keadaannya adek adalah yang terbaik buat dank. Jangan pernah merasa jadi beban buat dank. Kita akan lewati masa sulit ini sama-sama."


"Dank..."


"Hmmm..."


"Apa dank akan ninggalin adek?"


"Heiii... Adek bicara apa? Jangan pernah adek katakan pertanyaan bodoh itu. Sampai mati pun, hati dank hanya untuk kamu." Rizon melepas pelukannya dan menatap dalam pada mata yang sendu didepannya.


"Kalau adek dipanggil Tuhan duluan, berjanjilah dank akan hidup dengan bahagia. Dank boleh kok menikah lagi dengan wanita yang sayang sama dank."


"Ga lucu dek. Dank ga suka pembahasan ini. Cukup jangan dilanjut lagi." Ucap Rizon sembari meninggalkan Nina yang masih berbaring.


Nina hanya mampu memandangi punggung lelaki itu hilang dibalik pintu. Hatinya benar-benar kacau. Perasaannya bercampur, fikiran kalut bak benang kusut yang harus darimana untuk mengurainya.


***


Rizon kembali dengan nampan berisi makanan dan minuman. Setelah memesan makanan dari luar. Duduk ditepi ranjang, tangannya masih bergerak tanpa bicara sepatah katapun.


"Dank, maafin adek. Adek ga akan bicara kayak tadi lagi..." Nina berucap sembari memegang kedua telinganya.

__ADS_1


"Sekarang makan dulu, tadi adek makannya cuma sedikit"


Tanpa banyak protes Nina menuruti apa yang diminta Rizon. Lebih baik nurut daripada nanti berujung tidak baik.


__ADS_2