
Luka kakiku sudah mengering. Perbannya sudah dibuka. Masih ada sisa-sisa sakit karna luka dalamnya memang belum begitu kering. Tapi untuk berjalan sudah ga bermasalah lagi.
Rizon masih menyelesaikan pembayaran dan aku memilih menunggunya dimobil.
Tak lama dia keluar dengan paper bag kecil yang mungkin berisi obat atau salap. Meninggalkan tempat itu dengan suasana hening didalam mobil. Aku memang sudah berbaikan tapi masih enggan untuk bicara dengannya.
"adek mau ke rumah..." ucapku saat jalan menuju rumah sudah kelihatan dari jauh.
Tanpa banyak bertanya Rizon mengikuti kemauanku. Mobil berbelok menuju rumah.
Seperti biasa rumah itu terawat dengan tanaman yang sangat asri. Rizon memarkirkan mobil digarasi. Sementara dia menutup gerbang aku langsung masuk kerumah dengan kunci yang aku pegang. Menaruh tas diatas dan menuju dispenser untuk mengambil segelas air.
Rizon merebahkan tubuhnya disofa menatap langit langit rumah yang putih bersih. Entah apa yang sedang difikirkannya.
"lagi mikirin apa kak??"ucapku sembari duduk lesehan. Diapun memiringkan tidurnya sehingga tangannya yang besar bisa memelukku.
"lagi mikirin adek..." jawabnya sembari mencium lembut kepalaku.
"adek akan tinggal sama kakak..." lanjutku membuat raut0p wajahnya benar-benar berubah bahagia.
"adek serius???" Rizon memandangku sangat dalam. Bahkan dia duduk menatapku penuh makna.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk membalas segala ucapannya. Dia memelukku lebih erat. Menciumku dengan lembut. Tidak menunjukkan nafsu yang menggebu, padahal aku tau dia berusaha menahan kerinduannya.
***
Setelah menikmati makan malam yang aku siapkan dengan punuh cinta walau makanan yang sederhana, Rizon mengajakku kekosan. Ingin memberitahu mami atas kepindahanku.
"Itu keputusan yang tepat sayang... Kalian akan lebih menikmati kehidupan berkeluarga itu dengan tinggal bersama. Bisa saling mengenal satu sama lain tanpa batasan."
"Sebenarnya dari awal kalian menikah mami ingin bilang, tapi kembali lagi keputusan kalian pasti ada alasannya."
"iyaaa mami... sekarang Nina udah lebih siap..."
"ga mungkin dong mi...kalian adalah keluargaku disini..."
Satu kosan berduka dengan kepindahanku. Padahal hanya pindah rumah aja...
"Kalian harus sering-sering main ke rumah ya...Aku pasti kesepian tanpa kalian" ujarku pada dua makluk yang sangat bawel dan selalu ceria kali ini menampakan tampang sedih.
***
Hari yang melelahkan. Setelah melewati obrolan yang cukup panjang, kami pamit untuk pulang.
__ADS_1
Setelah ritual malam yang sangat penting bagi seorang perempuan, membersihkan wajah dan kawan-kawanya aku melangkah ketempat tidur, merebahkan tubuhku yang lelah. Rasanya ringan setelah seharian beraktifitas.
Rizon berbaring disebelahku setelah cek semua gerbang dan lainnya sudah terkunci. Kebiasaannya sebelum memasuki kamar, memastikan segala sesuatunya sudah aman.
Tangannya meraih tubuhku, melingkarkan tangannya di perutku dan kubalas dengan pelukan yang sama. Berbaring didada bidangnya sampai aku merasakan degup jantungnya yang terpacu sangat cepat.
Masih dengan memelukku, matanya terpejam. Menahan hasratnya yang tak mau mengangguku. Aku menengadahkan wajahku hingga benar-benar dekat dengan wajahnya. Nafasnya yang hangat membuatku ingin disentuhnya.
"kak, kamu menahannya?" lirihku membuatnya membuka mata
"kaki adek masih sakit... kakak ga mau lihat adek sakit... ga papa, bisa peluk adek aja kakak udah bahagia sayang."
Aku menegerti dia tak mau melihatku kesakitan, tapi aku kasihan melihatnya menderita. Aku berinisiatif memberikannya ciuman dibibirnya, pelan namun dalam. Balasan yang diberikannya juga tak kalah lembut dan memeberiku kenyamanan. Pelukannya yang sangat erat bisa membuatku merasakan miliknya yang sudah menegang. Masih dengan bibir yang terpaut aku memberanikan diri merabanya, membuatnya mendesah dan semakin bergairah menghujaniku dengan ciumannya. Sambil melepas satu persatu yang aku kenakan kali ini dia sudah berada diatasku. Tubuhnya yang atletis sudah polos tanpa sehelai benangpun. Miliknya yang sudah tegang menggantung dan sesekali menyentuh kulitku, membuat aku tak kuat menahan hasratku.
Rizon yang paham denganku yang memegang miliknya segera mengambil pengaman dan memasangkanya lalu mengikuti arah tanganku membawanya. Desahan dan rintihan hangat yang mengairahkan senada dengan gerakan lembutnya memberikan kenikmatan. Semakin cepat dan semakin panas. Lelakiku terkulai lemas disampingku dengan senyumnya yang mengembang menunjukkan kepuasannya.
"Makasiii sayang..." bisiknya seraya memelukku.
Dia selalu mengucapkan terimakasih setiap kali sehabis melakukannya. Dia sangat menghormatiku sebagai pasangannya membuatku luluh tak ingin melihatnya menderita. Selalu minta ijin apapun yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Padahal dia sangat berhak atas itu semua, dan itu kewajibanku untuk melayaninya. Tapi cintanya bukan hanya nafsu, tapi cintanya tulus tak ingin menyakitiku.
Dengan tanpa beban aku tertidur dipelukan lelakiku yang masih memelukku dengan eratnya hingga hangat tubuh kami menyatu dalam malam.
__ADS_1