Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Cemburu


__ADS_3

Pagi yang baru, menyambut segala kesibukan hari dengan semagat. Aku tersenyum membaca balasan chat tadi malam yang ga sempat aku buka.


Me : smangat pagi sayang...'ve a nice day...love u😘😘😘


Pesan hanya centang dua, tapi masih belum dibuka.


"Palingan masih tidur" fikirku segera bersiap untuk berangkat ke kampus.


"Kamu ga dianter Na??" Tanya Endah sambil memakai sepatunya


"Ga... jalan kayak biasa aja... ga akan ada yang berubah Ndah, meski status udah berubah." Ucapku sambil menunggunya.


Seperti biasa perjalanan menuju kampus pasti akan banyak cerita. Itu membuat perjalanan 15 menit itu ga terasa.


"Na, kok bisa ya kamu ngambil keputusan sebesar itu.. padahal masih banyak pilihan yang terbaik ada didepan mata kamu.." Tanya Endah masih seputar pernikahanku


"Awalnya ga yakin Ndah... itu permintaan terahir ibunya dan ga akan pernah tau batas umur manusia itu sampai mana. Aku hanya memposisikan gimana kalo itu terjadi pada orang tuaku."


"Tapikan menjadi pacarnya aja kamu belum bilang IYA, masa iya kamu mau di ajak menikah?"


"Aku belum bilang IYA, bukan berarti aku menolak pada saat itu hanya belum begitu yakin. Hubungan itu kan ga harus selalu dengan kata IYA. Seperti yang kamu lihat, aku jalani perlahan rasa itu datang."


"Intinya aku belajar iklas menjalaninya Ndah... aku percaya disaat aku menyerahkan semuanya pada Tuhan, rasa sayang itu akan semakin kuat."


"Aku salut dengan pemikiran kamu Na, rasa iklasnya luar biasa. Padahal bisa aja kamu menolaknya"


Aku hanya tersenyum menaggapi kalimatnya.


"Ini namanya sudah takdir" batinku dalam hati.


***


Kelas pertama hari itu berjalan dengan sangat baik. Tanpa beban aku melangkahkan kaki menuju gedung jurusan tak ketinggalan Endah dan Yani juga ikut bersamaku. Karna kuliah selanjutnya di gedung itu.


Tampak Rizon sedang berada di sana bersama teman-temannya.


Wajah yang dua minggu terahir tampak murung dan bingung itu, kini tampak cerah dan tampak semangat dari matanya.


Dia menghampiriku yang sedang melihat papan pengumuman.


"Selamat pagi sayang" bisiknya dekat dengan telingaku.


"Kakak, apa-apaan siihhh...banyak orang tau..."


"Emang kenapa? Sama istri sendirii juga..."


"Kakakkk..."


"Jam selesai kuliah? Lanjutnya bertanya


"Jam 12 kak, jadwal praktikum belum keluar"


Melihat dosen sudah menuju keruangan. Aku segera beranjak meninggalkan Rizon.


"Adek masuk dulu kak, dosennya sudah datang tuh..."


"Hati-hati tangganya licin" ucapnya menunjuk tangga besi yang bentuknya melingkar.

__ADS_1


"Iya kak... adek kesana dulu ya" seraya berlari kecil meninggalkannya.


***


Selesai juga jam kuliah hari ini. Pelan-pelan aku menuruni tangga yang lumayan mengerikan.


"Heii dek... gimana kabarnya?" Suara kak Andar menyapaku


"Iyaa kak, baik-baik aja... kakak apa kabar?"


"Baik seperti yang kamu lihat. Jeda semester kemarin kemana?" Tanyanya


"Maen aja..." jawabku singkat


"Selamat mulai bersibuk-sibuk lagi dah..."


"Iya kak, tapi dinikmati aja... kayak kemarin ga terasa kalo udah tengah semester aja."


Deringan telpon ditasku menghentikan pembicaraan kami. Dan ternyata itu dari suamiku.


"Kakak ada di parkiran lagi nungguin adek, ngobrolnya jangan lama-lama ya." Ucapnya langsung menutup telpon. Sehabis telpon terputus, aku lagsung pamit pada kak Andar.


"Kak, Nina duluan ya... udah di tunggu"


"Okee... hati-hati ya..."


Dengan berlari kecil aku menghampiri Rizon yang menungguku di parkiran.


"Udah selesai ngobrolnya" ucapnya dengan nada kesal


"Ngobrol apaan? Cuma pas ketemu, nyapa sebentar aja..."


"Kakak kok ngomongnya gitu???"


"Adek jangan dekat-dekat sama dia, kakak ga suka." Ujarnya to the point


Aku tertawa kecil menaggapi kalimatnya. Kalimat yang menunjukkan kecemburuan. Marahnya menunjukkan ga rela sang istri ngobrol bersama pria lain.


"Iyaaa sayang, adek ga akan dekat-dekat lagi sama kak Andar"


"Maaf yahhh..." ucapku seraya mencubit hidung mancungnya.


"Adek ihhh... nanti kakak cium lohhh"


Mobil melaju meninggalkan gedung jurusan menuju pulang.


"Dek, kita kerumah dulu ya, dompet kakak ketinggalan...abis itu kita belanja keperluan adek dan kakak juga ada yang mau dibeli."


"Kan atmnya di adek bisa di pake."


"Itukan untuk keperluan adek sendiri"


Tak lama kami tiba di rumah dengan model minimalis yang terawat sekali. Pertamakalinya aku menginjakkan kaki dirumah milik suamiku. Dia menarikku masuk kedalam rumah yang banyak tanaman hijaunya. Terasa nyaman dan sejuk.


"Caca kapan balik kak?"


"Diakan diasrama dek, kadang-kadang kalo ga pulang ke Manna dia pulang kesini."

__ADS_1


Aku hanya duduk sembari menunggunya yang masih mencari dompetnya. Tapi sudah 10 menit tak kunjung keluar juga. Aku memutuskan untuk melihatnya.


Masih terlihat wajah dengan pencariannya.


"Belum ketemu juga?" Tanyaku didepan pintu


"Iya dek, kakak lupa naruh dimana"


"Coba di ingat-ingat lagi terahir kakak pegang dimana"


Sambil mengingat-ingat ahirnya dia berjalan menuju laundry room. Dan dengan tersenyum dia masuk ke kamar dengan dompet ditangannya.


"Tuh ketemu..."


"Iya kakak lupa dikantung jaket yang kemarin kakak pake, tadi malam langsung taroh di tempat baju kotor."


Tanpa menunggu lama, kami meninggalkan rumah menuju tempat dimana kami bisa menemukan keperluan kami.


Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari makanan untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Sebuah rumah makan "Nasi ayam Hainan" menjadi pilihan kami.


Seperti biasa pada saat makan tak banyak yang kami bicarakan. Itu menjadi satu kebiasaan baru bagiku.


***


Semua yang kami perlukan ahirnya didapat. Tanpa menunda lagi ahirnya memutuskan untuk pulang.


Dikosan tampak sepi. Pintu kamar Endah dan Fitri tampak masih tertutup rapat. Jendelanya juga masih benar-benar tertutup, yang artinya belum pada pulang. Sementara mami juga kelihatannya sedang keluar.


Rizon membantuku membawakan belanjaan kedalam kamar. Membuka tirai dan jendela...


Aku langsung kekamar mandi mengganti pakaian kuliah dengan pakaian rumah yang santai.


"Lumayan capek kak" keluhku sambil duduk disampingnya yang sedang membuka laptopnya.


"Ada tugas?"


"Bukan sayang... lagi ngecek laporan keuangan POM sama minimarketnya ibu. Setelah ibu ga sehat, kakak punya tanggung jawab untuk itu."


Sembari berbaring dikasur rasanya badanku enak sekali. Masih sambil memandangi kesibukannya.


Seketika dia berhenti dari aktivitasnya dan mendekatiku.


"Kakak mau apa?" Ujarku sedikit menjauh


"Kangen sama istri tercinta" ucapnya nakal


"Katanya ngecek laporan??"


"Nanti aja..." jawabnya santai


Lelaki itu menatapku penuh arti. Sambil sesekali dia memainkan rambutku. Perlahan mendekatkan wajahnya sampai nafasnya terasa hangat.


"Kak..."ucapku menghentikannya


"Ga boleh ya" ujarnya sedikit kecewa


Aku merubah posisi tidurku untuk duduk. Kalo dilanjutkan akan jadi bahaya. Dimulai dari hal kecil. Kita berdua adalah dua makluk yang normal apalagi dengan status yang sudah halal.

__ADS_1


Dengan memendam perasaan masing-masong Rizon melanjutkan dengan laptopnya. Sementara aku mengalihkan dengan membaca buku yang baru selesai setengah bagiannya.


__ADS_2