Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Hari yang aneh 2


__ADS_3

Rizon yang terbagun ditengah malam tidak mendapati Nina dikamar. Dia bangkit dari ketidurannya mencari sosok terkasihnya itu. Sedikit penyesalan melihat istrinya itu tertidur disofa dengan matanya yang sembabnya. Rizon tau, bukan karna marahnya membuat Nina sedih tapi diamnyalah yang membuat wanita itu menangis.


Sepanjang malam Rizon terjaga tanpa berniat membangunkan Nina yang sedang tertidur di sofa.


Azan subuh seperti biasa membangunkanku dipagi yang masih sangat dingin. Bergegas mencuci wajahku dengan air yang dingin seperti es. Sepintas mataku menoleh kearah kamar yang pintunya tidak tertutup. Sosok itu masih terlelap seperti tadi malam terahir dia melihatnya.


Beberes dipagi hari, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Masih dengan beban dihati yang masih mengganjal perasaanku.


Aku menuju kamar yang setelah menyiapkan segalanya. Rizon kedengarannya sedang mandi. Aku menuju kamar mandi satunya karena pagi ini aku ada kuliah.


Benar-benar diluar dugaanku, kemarahannya sangat besar. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kamar mandi, suara sepeda motor sudah meninggalkan rumah. Dan dia pergi tanpa sepatah katapun. Sarapan yang sudah aku siapkan dimeja makan tak tersentuh sama sekali. Air mataku benar-benar tak bisa dibendung. Rasanya dunia akan runtuh


***


Sampai selesai jam kuliah tak ada kabar dari Rizon. Dari tadi aku berharap dia mengkuatirkanku.


Perpustakaan menjadi tujuanku, karena ditempat itu bisa memberiku ketenangan. Seperti biasa lantai dua dan dipojok perpustakaan menjadi tempat favoritku.


Masih menunggu dia mengabariku, sambil terus menatap ponsel yang ada didepanku.


"Drrtt...ddrrtt..."


Getaran yang menandakan ada panggilan masuk menyadarkanku. Harapanku pupus ketika "Andar" muncul dilayar ponsel...


Semenjak kejadian itu baru kali ini kak Andar menelponku.


"Halloo Na..." sapanya setelah tersambung


"hallo kak, apa kabar???"


"kakak baik, kamu apa kabar...?"

__ADS_1


"baik...ada apa tiba-tiba telpon kak?"


"kakak ada acara syukuran besok malam dirumah. Perayaan kecil-kecilan gitu... Kalo ada waktu datang ya, ajak suami kamu juga..."


"ohh iyaaa, selamat atas wisudanya ya kak..." ucapku mengingat acara wisuda dua hari yang lalu.


"Makasi ya... Harus datang ya dek, soalnya bisa beberapa tahun lagi mungkin bisa ketemu... karena kakak dapat beasiswa ke Singapura lanjut S2"


"wahhh selamat untuk yang kedua kalinya kak...semoga lancar ya... Nanti Nina usahakan datang ya, mudah-mudahan suami ga sibuk..." ujarku berusaha menunjukkan semangat atas pencapaian lelaki yang pernah menaruh hati padaku.


"iyaaa... makasi yahhh" serunya sembari mematikan telpon.


Menaruh ponselku begitu saja, sambil memandang keluar gedung. Begitu banyak aktivitas diluar sana, dengan panas matahari yang sangat terik.


***


Aku memilih pulang dengan berjalan kaki. Dibawah pepohonan yang rindang langkahku perlahan menuju rumah yang terbilang lumayan bila dengan berjalan kaki, dua kali perjalanan dari kampus ke kosan sebelumnya. Sebelumnya Rizonlah yang selalu mengantar dan menjemputnya atau dengan ojek. Tapi kali ini aku memilih jalan sendiri.


"benar-benar tega..."lirihku dalam hati memendam sedih.


"kakak ambil ini..." Aku menyerahkan atm yang sebelumnya diberikannya padaku.


"Aku ga akan menggunakan uang kamu sepeserpun sampai terkumpul 15 juta kembali ke rekening ini. Aku hanya ingin membantu adikmu, aku ga mau adikmu kenapa-kenapa, hanya itu tujuanku"


"Aku akan terima tawaran kerja dari mbak Elva." kesalku sembari meninggalkannya.


Dengan marah dia membuang kartu atm yang ada dimeja, sontak membuatku menghentikan langkahku.


"Ini tujuan kamu menginginkanku tinggal dirumah ini, biar aku bisa melihat watak aslimu... ini bukan suamiku yang aku kenal" suaraku semakin parau tangisan yang tak bisa kutahan. Hatiku benar-benar hancur menerima perlakuan dinginnya.


Lelah hariku semakin terasa dengan lelah hatiku. Pada siapa aku mengadu semua ini.

__ADS_1


"kuatkan hatiku Tuhan..."


Menikmati kekacauan hati sendiri, hanya kupendam sendiri. Melihatnya tidur disofa membuatku merasa keberadaanku dirumah sangat mengganggunya. Seperti Tom & Jerry yang ga bisa menyatu. Disaat aku diluar, dia memilih dikamar. Disaat aku dikamar, sebaliknya dia diluar.


Rizon masih tertidur pulas disaat aku memutuskan berjalan kepantai sore yang masih panas. Berharap bisa mengalihkan fikiranku dengan melihat pemandangan diluar.


Menyusuri jalanan yang dikelilingi hutan bakau. Tak sekali dua kali aku menyeka air mataku yang mengalir tanpa diundang.


Duduk dibawah pepohonan yang rindang, memandang kearah laut dengan suara ombaknya yang sangat keras. Banyak kegiatan orang-orang yang menjadi tontonanku. Dari berbagai kalangan ada ditempat itu dengan tujuan yang berbeda-beda.


Tak terasa entah sudah berapa lama aku duduk menikmati sore yang semakin dingin. Matahari mulai tenggelam, satu persatu orang melangkahkan kakinya untuk pulang.


***


Ada Caca dirumah ketika aku sampai dirumah. Aku merasa asing diantara suami dan iparku sendiri. Mereka seolah-oleh tidak perduli dengan kedatanganku. Caca yang masih bicara pada Rizon tidak menyadari aku yang baru datang.


"kamu kapan datang Ca???" ucapku menyapanya.


"kamu kalo ga iklas ga usah pake bantu aku Na, begini jadinya salah paham sama Dank..." bentaknya dengan suara meninggi


"Maksud kamu apa?" masih dengan nada senetral mungkin.


Rizon membuang pandangannya menjauh dariku seolah-olah dia jijik melihatku.


Aku beranjak meninggalkan mereka dengan masuk kedalam kamar. Berusaha menenangkan hatiku. Semakin aku berusaha semakin air mataku mengalir dengan derasnya.


"aku ga mengerti apa yang harus aku lakukan, jangan hukum aku dengan semua keadaan ini Tuhan..."


"niatku cuma ingin yang terbaik, aku ga ingin menyakiti siapa pun" doaku penuh pengharapan.


Aku bersimpuh memohon kekuatan dari sang penciptaku. Aku benar-benar lelah...

__ADS_1


__ADS_2